
Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai di bandara tersebut sudah mulai terdengar. Para penumpang yang baru saja tiba, sudah mulai berhamburan menuju keluarga yang menjemput mereka. Tak terkecuali seorang laki-laki yang juga tengah menarik dua buah koper miliknya.
"Van!" Sebuah suara yang cukup dirindukan, langsung menarik perhatian laki-laki tersebut. Dia segera menoleh ke arah sumber suara.
Melihat senyuman seorang wanita yang sedang berdiri tak jauh darinya, laki-laki tersebut segera menghampiri. Tanpa menunggu lebih lama lagi, laki-laki berusia sembilan belas tahun itu, segera membenamkan tubuh wanita tersebut ke dalam pelukannya.
"Evan kangen banget, Ma."
Wanita tersebut masih mengusap-usap punggung putranya. Ya, laki-laki tersebut adalah Evan Alexander Geraldy, putra tunggal Jimmy Geraldy dan Ramita Ramadani.
"Mama juga kangen banget, Van." Wanita paruh baya tersebut masih mengusap-usap punggung sang putra.
Setelah merasa cukup, Evan melepaskan pelukannya kepada sang mama. Wajahnya masih menampilkan senyuman lebar. "Papa kemana?"
"Papa kamu masih di Surabaya. Nanti sore baru kembali. Ayo, kita pulang sekarang," ajak sang mama.
Evan menganggukkan kepala dan segera menarik kopernya. Tangan kirinya tak lepas memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkannya tersebut. Evan benar-benar menyayangi sang mama, hingga apapun permintaan sang mama, pasti sebisa mungkin dikabulkannya.
__ADS_1
Perjalanan dari bandara ke rumah orang tua Evan membutuhkan waktu sekitar dua jam. Tak berapa lama kemudian, mobil yang mereka kemudikan sudah memasuki halaman rumah. Evan dan sang mama segera beranjak turun dan berjalan memasuki rumah.
"Kamu bersih-bersih dulu, setelah itu makan siang. Mama akan siapkan makan siang untuk kamu."
"Bakwan jagung ada kan, Ma?" Evan benar-benar merindukan bakwan jagung buatan sang mama.
Mama Mita tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Tentu saja ada Sayang. Mama sudah tau makanan kesukaan kamu. Jika kamu pulang ke Indonesia, sudah pasti makanan wajib itu pasti ada."
"Hehehe, terima kasih, Ma. Love you," Evan memberikan kecupan pada pipi sang mama sebelum beranjak menuju kamar untuk membersihkan diri. Tubuhnya sudah benar-benar lengket setelah menempuh perjalanan selama sekitar delapan.
Tak berapa lama kemudian, Evan terlihat keluar dari kamarnya. Dia segera berjalan menuju ruang makan untuk menemui sang mama. Ternyata, sudah ada makan siang yang disiapkan untuknya. Tentu saja hal itu membuat wajah Evan berbinar bahagia.
"Sudah hampir satu tahun kamu nggak pulang, Van. Ini saja jika Mama nggak paksa kamu untuk pulang dan pindah kuliah, sudah dipastikan kamu bakal lama di luar negeri."
Evan hanya tersenyum nyengir mendengar gerutuan sang mama. "Hehehe, maaf Ma. Bukan begitu. Sebenarnya, aku juga mau pulang cepat. Tapi sayang sekali jika harus melepaskan kuliahku."
"Kamu lebih sayang Mama atau kuliah kamu, Van?" Mama menoleh ke arah Evan dan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Tentu saja lebih sayang Mama. Mama itu segalanya buatku. Mama adalah tempatku pulang. Mama tempatku bercerita. Mama tempatku bermanja-manja. Mama tempatku…," belum sempat Evan melanjutkan perkataannya, sang mama sudah menyela.
"Sudah, sudah. Mama sudah bosan tiap hari dengar omongan kamu itu, Van. Jika kamu sayang sama Mama. Kamu pasti tidak akan menolak permintaan Mama." Ucap mama Evan dengan ekspresi wajah sedih.
Evan hanya bisa menghembuskan napas berat setelag mendengar perkataan sang mama. Sepertinya, hari-hari yang penuh dengan kuliah akan segera dimulai.
\=\=\=
Mohon bantu dukung cerita ini ya. Tinggalkan jejak like, komen dan vote juga.
Up cerita ini gantian sama yang sebelah ya. 🙏
Biar tambah lancar ngehalunya, othor kasih bantuan nih booster buat halu 🤭
Evan Alexander Geraldy
__ADS_1
Nadia Veronica