Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Keadaan Baru


__ADS_3

Gitta memijat pangkal hidungnya sambil dengan siku menumpu pada meja di ruang makan. Dia tidak pusing, hanya saja masih sedikit mual sisa-sisa tadi.


Flashback on.


Tadi pagi saat Gitta membangunkan Ken, dia sempat bertanya kepada Ken.


"Mau sarapan apa Mas?" Tanya Gitta setelah meletakkan kembali gelas tadi di atas nakas.


Seketika Ken menoleh menatap Gitta. Air liurnya tiba-tiba mengalir dengan deras saat membayangkan sesuatu.


"Aku ingin makan belut" Jawab Ken dengan antusiasnya. Wajahnya juga terlihat sangat berbinar membayangkan dia bisa menikmati hewan bertulang lunak itu.


Namun, hal berbeda justru dialami oleh Gitta. Begitu mendengar permintaan sang suami, seketika perutnya terasa bergejolak. Seolah ada dorongan yang sangat kuat pada perutnya untuk mengeluarkan semua isinya. Gitta segera berjalan tergesa-gesa menuju kamar mandi. 


Ken yang melihatnya langsung menyusulnya. Ken membantu Gitta membersihkan sisa-sisa aktivitasnya di kamar mandi. Setelahnya, Ken membantu Gitta kembali ke tempat tidur. Mereka merebahkan diri di sana bersama. 


Ken segera mengambil ponselnya dan menghubungi sang mommy. Beberapa saat kemudian, mommy datang bersama daddy. Mommy membantu membuatkan sarapan untuk Gitta. Daddy meminta supirnya untuk mencarikan makanan belut goreng untuk Ken.


Pagi itu mommy juga meminta mereka pindah ke rumah utama nanti siang. Mau tidak mau akhirnya Ken dan Gitta mengiyakan permintaan mommy, mengingat kondisi mereka yang cepat sekali berubah-ubah.


Flashback off.


Setelah Ken berangkat bekerja, Gitta segera membereskan beberapa pakaian Ken dan pakaiannya sendiri untuk dibawa ke rumah mommy. Dia dan Ken tidak bisa menolak permintaan sang mommy untuk tinggal bersamanya selama Gitta hamil. 


Gitta segera mengistirahatkan tubuhnya setelah selesai membereskan pakaiannya. Entah mengapa saat mengingat kata-kata belut, perutnya langsung bergejolak hebat. Hal itu juga yang membuat Gitta memijit pelipisnya beberapa kali.


Saat sedang memijit pelipisnya, tiba-tiba Gitta mendengar bunyi ponselnya. Teleponnya yang diletakkan di mini bar dapur berbunyi sangat keras. Gitta beranjak untuk mengambilnya dan segera menerima panggilan telepon tersebut.


"Hallo Mas." Sapa Gitta.ya, Ken lah yang menelepon Gitta saat itu.


"Yang, nanti ada orang suruhanku mengantar bed baru. Kamu langsung saja suruh mereka untuk memasang di kamar kita ya." Kata Ken di seberang sana.


Gitta mengerutkan keningnya. Bed baru? Buat apa. Batin Gitta. Dia memang tidak tahu seberapa menderitanya Ken tadi malam.


"Mas Ken beli tempat tidur baru? Buat apa Mas?" Tanya Gitta.


"Eh, anu, itu ya buat tidur, Yang." Jawab Ken. Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaan Gitta. Daddy bilang jika istri hamil itu mood nya akan sangat cepat berganti. Satu menit yang lalu bisa senang, satu menit kemudian bisa langsung sedih, bahkan bisa langsung mengeluarkan air mata.


Ken benar-benar harus belajar untuk berhati-hati saat ngomong.


"Mas Ken tidak mau tidur satu tempat tidur denganku? Mas ken sudah tidak sayang lagi padaku? Hiks hiks hiks." Entah mengapa cadangan air mata Gitta mendadak penuh. Ibarat ember airnya sudah penuh saja, jadi gampang meluber.

__ADS_1


Benar yang ditakutkan oleh Ken. Seketika Ken menjadi panik. Dia segera mengalihkan panggilan teleponnya menjadi panggilan video.


"Sayang, hei dengarkan aku dulu. Bukan begitu maksudku." Kata Ken. Wajahnya terlihat sangat panik. "Sayang dengar. Bukan aku tidak mau tidur denganmu, aku hanya tidak ingin anak kita kesulitan di dalam sana. Aku tidak mau dia menderita. Jadi aku beli tempat tidur baru. Satu untuk rumah kita, dan satu lagi di rumah mommy." Kata Ken.


Gitta yang mendengar perkataan Ken langsung mengusap air mata yang sempat keluar dari ujung matanya. Dia menatap wajah Ken yang berada pada layar tepat di depannya. Sambil memanyunkan bibirnya, Gitta mengangguk mengiyakan jawaban sang suami.


"Beneran Mas Ken, itu bukan karena tidak mau tidur satu tempat tidur denganku?" Tanya Gitta.


"Tentu saja, Sayang. Mana ada hal seperti itu. Aku bahkan sangat mau tidur satu tempat tidur denganmu." Jawab Ken.


Seketika wajah Gitta kembali berbinar bahagia. Dia merasa sangat senang saat suaminya mengatakan hal itu barusan. Setelahnya, Ken segera menutup panggilan teleponnya. Gitta menunggu orang suruhan Ken untuk mengantarkan tempat tidur barunya.


Sementara di tempat Ken, dia masih menggerutu kesal setelah menutup panggilan telepon dari sang istri. Vanno yang melihatnya masih tak berhenti tergelak. Ya, pagi itu Ken memang tengah berada di kantor daddynya. Ken yang semakin kesal karena ulah sang daddy hanya bisa semakin menggerutu.


"Apaan sih Dad, seneng banget lihat anaknya menderita." Gerutu Ken.


Vanno menghentikan tawanya sebentar saat melihat putranya tengah cemberut.


"Sorry boy. Daddy hanya tidak habis pikir kamu akan mengalami fase seperti ini. Hahahaha." Tawa Vanno kembali terdengar.


"Hhhhhffff. Memang dulu daddy tidak mengalami hal seperti ini saat mommy mengandung?" Tanya Ken.


Vanno menggeleng dengan cepat.


Ken mengerutkan keningnya, bingung.


"Maksudnya apa Dad?" Tanya Ken.


Vanno menoleh menatap wajah sang putra.


"Dulu, saat mommy mengandung kamu, dia jadi sangat agresif. Daddy sampai benar-benar kewalahan menghadapinya." Jawab Vanno sambil tersenyum saat mengingat hal itu. "Ah iya, daddy lupa satu hal. Daddy juga mengalami morning sickness seperti yang kamu alami. Bahkan, lumayan parah dulu." Lanjut Vanno.


"Benarkah?" Tanya Vanno mulai tertarik. "Lalu, bagaimana dengan mommy?" Tanya Ken.


Vanno tersenyum mendengar pertanyaan sang putra yang sepertinya tertarik mendengar cerita sang daddy.


"Mommy kamu sangat agresif pada awal kehamilan. Dia benar-benar tidak mau melepaskan daddy dengan mudah. Daddy harus mencari banyak cara agar bisa lepas diri dari mommy kamu setiap hari." Kata Vanno sambil tertawa.


"Apa yang dilakukan mommy saat itu Dad?" Tanya Ken penasaran.


Vanno menghentikan tawanya untuk menatap wajah putranya sebelum menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Tentu saja gelud di atas ring empuk. Hahahaha." Jawab Vanno sambil kembali tertawa.


Ken mendengus kesal mendengar jawaban daddynya.


"Bagaimana bisa daddy dan mommy melakukan hal itu, kandungan mommy kan masih sangat muda." Gerutu Ken. Dia sebenarnya merasa iri dengan sang daddy yang masih bisa berduaan dengan mommynya saat hamil muda. Hal itu berbeda jauh dengan yang dialaminya. Jangankan gelud, mendekat saja tidak bisa. Batin Ken.


"Itulah keahlian daddy yang bisa membuat mommy kamu tidak bisa lepas dari daddy. Itu juga yang membuat daddy punya resep rahasia andalan. Hahahaha." Jawab Vanno.


Ken semakin menggerutu kesal. Dia benar-benar kalah telak oleh sang daddy. Vanno yang melihat sang putra tengah kesal segera menghentikan tawanya dan membenahi posisi duduknya.


"Dengar Ken, dalam rumah tangga itu, kita akan menghadapi jalannya masing-masing. Kita akan mendapati lembaran soal yang berbeda dari lembaran soal keluarga yang lain. Tidak akan ada yang sama persis. Begitu juga saat menghadapi istri yang tengah hamil. Kasus kamu berbeda dengan kasus daddy, dan itu tidak bisa disamakan." Kata Vanno. 


"Dan satu lagi, sebagai seorang suami yang memiliki istri yang tengah mengandung, sudah seharusnya kamu memberikan apapun yang dia butuhkan semampu kamu. Seorang istri yang mau mengandung darah daging kita, dia adalah istri yang sangat luar biasa. Dia rela bersusah payah mengandung, menjaga darah daging kita selama sembilan bulan, menjaga asupan makannya, menjaga pikirannya agar tidak stress dan berakibat pada bayi yang dikandungnya, bahkan dia rela bentuk tubuhnya berubah total saat itu. Kita tidak bisa membayangkan seberapa berat pengorbanan yang istri kita lakukan. Disaat kita tidur nyenyak, dia merasa tidak nyaman, disaat kita bebas bergerak, dia harus berhati-hati. Jangan kamu lupakan untuk pengorbanan seperti itu Ken." Lanjut daddy Vanno.


Ken terdiam mendengar perkataan sang daddy. Benar sekali apa yang dikatakan daddynya. Dirinya bahkan belum berpikir sejauh itu.


"Kamu akan mengerti pengorbanan besar istri kamu saat dia melahirkan secara normal nanti. Semua yang kamu miliki, tak akan ada apa-apanya saat melihat pengorbanan istri kamu waktu melahirkan." Kata Vanno kembali.


Ken mengangguk mengerti penjelasan sang daddy.


"Iya Dad. Aku akan berusaha semampuku untuk memenuhi semua keinginan Gitta. Aku juga akan mulai belajar menjadi suami dan calon daddy siaga untuk calon anak kami." Kata Ken dengan yakin.


Vanno tersenyum bangga setelah mendengar perkataan sang putra.


"Daddy bangga padamu boy. Daddy yakin kamu bisa melakukannya dengan baik. Belajarlah untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini." Kata Vanno. "Tapi, daddy kurang yakin kamu bisa melakukannya untuk hal yang satu itu." Lanjut Vanno sambil tertawa mengejek.


"Maksudnya Dad?" 


"Menahan python agar tidak merengek. Hahahaha."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Setelah ini part Al ya,


__ADS_2