Mendadak Istri

Mendadak Istri
Side Story MI 2


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Gitta langsung beranjak menuju rumah mommy Retta untuk menjemput Zee. Jarak rumah mereka yang hanya terpisah beberapa puluh meter, membuat Gitta dengan cepat sampai di rumah mertuanya tersebut.


"Sayang, sudah pulang?" tanya Mommy Retta saat melihat Gitta berjalan memasuki rumah.


"Eh, sudah, Mom. Mommy lagi apa?" Gitta berjalan menuju dapur untuk melihat aktivitas sang mertua.


"Ini, buat bakwan jagung. Daddy kamu sejak pagi minta dibuatkan bakwan jagung. Eh, bagaimana tadi fitting bajunya? Kamu suka?"


"Kalau aku sih suka, Mom. Tapi, Mas Ken tidak." Gitta menghembuskan napas berat.


"Eh, kenapa? Bukannya itu bagus ya?"


"Menurutku juga bagus, Mom. Tapi, Mas Ken nggak suka. Menurutnya, baju itu terlalu terbuka di bagian depannya."


"Eh, terbuka? Bukannya masih ada kain penutupnya di bagian depan?"


"Iya, sih. Tapi, tetap saja Mas Ken nggak suka. Dia bilang, mau ada penutupnya juga tetap saja kelihatan. Katanya seperti ada yang melompat keluar."


Sontak saja mommy Retta tergelak. Rupanya, mommy memahami apa maksud Ken. "Hahaha, si Ken mah ada-ada saja. Rupanya, dia tidak mau kamu jadi pusat perhatian."


Gitta mengangguk-anggukkan kepala. Dia juga menyadari hal itu. Setelah itu, dia menoleh ke arah ruang tengah, tapi tidak menemukan keberadaan sang putra. "Dimana Zee, Mom?"


"Ada di dalam kamar. Tidur siang sama daddy kamu."


"Eh, masih tidur siang?" Gitta menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul dua siang.

__ADS_1


"Baru tidur dia. Sejak tadi digangguin daddy kamu terus."


Gitta mengangguk-anggukkan kepala. "Ada yang bisa aku bantuin, Mom?"


"Nggak usah, Sayang. Ini juga sudah selesai," kata mommy Retta sambil memasukkan beberapa bakwan pada sebuah wadah. "Kamu bawa pulang ya, nanti. Ken juga paling suka kan, sama bakwan jagung."


"Eh, iya, Mom. Terima kasih."


"Sama-sama, Sayang. Ya sudah, kamu pulang saja dulu. Zee nya juga masih tidur. Nanti, akan Mommy antar pulang ke rumah jika dia sudah bangun."


"Baiklah, Mom. Kalau begitu, aku akan pulang dulu."


Setelahnya, Gitta berlalu meninggalkan rumah sang mertua. Sesampainya di rumah, Gitta melihat Ken yang baru saja keluar dari dapur sambil mengambil botol minum.


"Eh, mana Zee, Yang?" tanya Ken saat melihat Gitta berjalan memasuki rumah.


Ken mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, apa itu?"


"Eh, ini ada bakwan jagung dari Mommy, Mas."


"Waahhh, mau dong." Ken hendak mencomot bakwan jagung yang masih panas tersebut. Namun, Gitta langsung memelototinya.


"Bersih-bersih dulu, Mas. Banyak kuman. Nanti, kalau mau, kamu bisa langsung habiskan bakwan jagung ini."


Mau tidak mau, Ken hanya bisa menuruti perintah sang istri. Namun, bukan Ken namanya jika tidak memanfaatkan keadaan. Dia menunggu Gitta yang masih menyimpan bakwan jagung dari mommy. Setelah melihat Gitta berjalan ke arahnya, Ken tiba-tiba langsung menggendong Gitta.

__ADS_1


"Eh, Mas! Apa-apaan ini?" Protes Gitta.


"Biasanya kamu sudah dimonopoli Zee, Yang. Sekarang, gantian aku yang memonopoli kamu."


"Eh, jangan aneh-aneh ya, Mas. Tadi pagi sudah lho."


"Memangnya kenapa jika tadi pagi sudah?"


"Ya masa iya sekarang mau lagi, Mas?"


"Nggak apa-apa, Yang. Mau pagi, siang, sore, pun juga aku masih sanggup kok. Bahkan, jika kamu minta tambah malam, aku ya ayo-ayo saja."


"Cckk, apa-apaan sih, Mas. Emang minum obat apa sehari tiga kali begitu."


"Iya lah, Yang. Obatnya berbentuk kapsul." 🤔


Gitta hanya bisa mengerucutkan bibirnya saat mendengar perkataan Ken. Hal tersebut tidak disia-siakan oleh Ken. Dia langsung menyambar bibir sang istri yang selalu menggoda imannya tersebut.


"Eemmmhhhhhh eemmhhhhhh, Mas!" Gitta mendorong wajah Ken agar melepaskan pagutannya.


"Apa-apaan sih, Mas. Masih saja nggak sabaran."


"Biarin, maklumin saja, Yang. Sudah gerah luar dalam ini." Ken segera menurunkan Gitta di dalam kamar mandi, dan mulai melakukan pemanasan.


\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak buat othor ya. Klik like, komen dan vote juga. Terima kasih.


__ADS_2