Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Kejutan 2


__ADS_3

"Aku sudah menemukan tulang rusukku yang akan menjadi makmumku, Pa. Aku siap menghalalkannya minggu depan." Kata Al saat melihat Ken dan Khanza yang sudah berdiri tak jauh di depannya.


Seketika papanya Al langsung menoleh menatap wajah Al dengan tatapan terkejut. Ken dan Khanza yang mendengarnya pun tak kalah terkejutnya. Khanza segera menurunkan tangannya yang tadi hendak menyapa Al. Hatinya berdenyut nyeri, seolah tengah diremas dengan sangat kuat. Khanza berpikir jika Al sudah memiliki calon pendamping hidup.


"Apa maksudmu Al?" Tanya om Andreas, papanya Al.


Al masih menatap wajah Khanza di tempatnya duduk. Tatapan matanya tak berkedip langsung menghunus netra mata Khanza. Om Andreas tidak mengetahui kedatangan Ken dan Khanza, karena posisinya yang membelakangi keduanya.


"Khanza. Aku siap menghalalkannya minggu depan Pa." Jawab Al dengan penuh keyakinan.


Deg.


Seketika jantung Khanza rasanya seperti berhenti berdetak saat mendengar perkataan Al. Namun, seketika langsung berdetak sangat cepat. Seolah jantung itu ingin membobol dadanya hingga terlepas.


"Kak, ap-apa maksudnya?" Tanya Khanza yang masih bisa didengar oleh Al dengan jelas.


Seketika om Andreas memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang bertanya.


"Khanza Geraldy?" Tanya om Andreas kepada Al.


"Iya." Jawab Al sambil masih menatap Khanza.


"Ka-kak Ken. Ra-rasanya aku mau oleng." Cicit Khanza.


Ken yang mendengarnya langsung membawa adiknya untuk segera duduk. Bisa-bisa dia yang akan kesulitan nanti jika Khanza beneran akan pingsan. Al yang melihat hal itu langsung berdiri. Dia membantu Ken memegangi lengan Khanza dan mendudukkannya pada kursi di dekatnya.


Wajah Khanza masih pucat karena terkejut. Dia masih belum bisa mengatur denyut jantungnya yang masih berdegup sangat cepat. Al yang melihat wajah Khanza sangat pucat merasa khawatir.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Al sambil masih memandangi wajah Khanza.


Khanza mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sambil menoleh menatap Al.


"Jantungku yang tidak baik Kak. Rasanya seperti mau melompat keluar saking cepatnya. Rasanya juga nyeri." Kata Khanza dengan tatapan memelasnya. 


Al yang mendengarnya pun merasa kasihan. 


"Apa yang dapat aku lakukan?" Tanya Al.


"Mungkin sedikit pelukan bisa menyembuhkannya." Jawab Khanza.


Al yang mendengarnya langsung membuka mulutnya. Dia benar-benar terkejut dengan jawaban Khanza. Dia tidak habis pikir setelah mendengar jawaban ajaib Khanza. 


Ken yang mendengar jawaban Khanza pun langsung mendengus kesal. Secepat kilat dia menarik tubuh Khanza dan memeluknya.

__ADS_1


Grep.


Ken membenamkan kepala Khanza pada dada bidangnya. Dia juga mengusap-usap kepala Khanza. Al dan papanya yang melihat hal itu hanya bisa diam. Mereka benar-benar kaget dengan tingkah ajaib kakak beradik itu.


Khanza yang mendapat pelukan tiba-tiba dari Ken pun langsung mendongak dan mendorong tubuh Ken. Dia mendengus kesal dengan perlakuan sang kakak.


"Iihh, kak Ken apaan sih." Gerutu Khanza. "Ngapain main peluk-peluk begitu ih." Lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Ken yang mendapat gerutuan sang adik pun langsung menoleh.


"Lhah, tadi kata kamu jantungnya tidak baik dan butuh pelukan agar baik-baik saja. Kenapa marah?" Tanya Ken dengan cengonya. Dia memang sedang menggoda sang adik.


"Bukan pelukan kak Ken yang aku maksud." Jawab Khanza kesal.


"Lha, mau di peluk om Andreas memangnya?" Goda Ken.


"Iiiihh, nyebelin. Aku maunya dipeluk sama kak Al!" Jawab Khanza sedikit berteriak. Namun, seketika dia menutup mulutnya. Dia merasa malu saat ketiga laki-laki di depannya menatapnya tak percaya. Apa lagi om Andreas menatapnya dengan tatapan terkejut.


Aduuuhhh, ini mulut lemes banget dah. Itu ada calon mertua Khanza. Rutuk Khanza dalam hati, eh.


Ken langsung menyentil kening Khanza setelah mendengar jawabannya.


"Aawww, kak Ken apaan sih." Gerutu Khanza.


"Itu otak jangan halu mulu deh. Gara-gara drama korea yang kamu lihat bareng Gitta, otak kamu jadi ngawur." Gerutu Ken.


Ken berbalik mengahadap ke arah Al. Dia menatap wajah sang sahabat dan papanya itu bergantian.


"Apa lo yakin Al dengan perkataan lo barusan?" Tanya Ken.


Sebagai kakak, dia tidak ingin adiknya di buat baper dengan kata-kata Al seperti tadi. Al yang mendengar jelas pertanyaan Ken langsung mengangguk mengiyakan.


"Iya. Gue serius Ken. Gue serius ingin menjadikan Khanza istri gue, makmum gue, dan ibu dari anak-anak gue kelak." Jawab Al dengan penuh keyakinan.


Khanza yang mendengarnya langsung meleleh. Nyeessss. Hatinya terasa hangat. Tiba-tiba terasa seolah-olah ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Rasa bahagia membuncah di dalam dadanya. Senyum bahagia pun terbit dari bibirnya dan tak mau luruh. Yang baca apa iya juga senyum-senyum sendiri ya? 🤔


"Anak-anak? Berarti nggak hanya cuma satu anak dong?" Gumam Khanza sambil tersenyum. Otaknya sudah mulai travelling pada proses persiapannya, proses mengolah adonannya, dan ah sudahlah.


Ken yang mendengar gumaman Khanza langsung menyenggol lengan sang adik. Dia benar-benar geram dengan tingkah ajaib sang adik.


"Itu otak jangan mulai deh. Cepat kembali kalau travelling." Gerutu Ken. 


Ken benar-benar kesal. Kok bisa-bisanya sang adik memiliki otak gesrek. Benar-benar turunan dari daddynya. Eh sebentar, aku kan juga anak daddy. Gumam Ken. 🤔

__ADS_1


Ken kembali menoleh menatap Al dan papanya. Dia harus bertindak sebagai seorang kakak saat itu.


"Jika lo serius dengan perkataan dan niat lo, lakukan dengan benar Al. Minta izin baik-baik sama orang tua gue." Kata Ken.


Al langsung mengangguk menyetujui perkataan Ken.


"Iya, pasti akan gue lakukan Ken. Gue akan melamar Khanza secara resmi dengan orang tua gue nanti malam." Jawab Al dengan penuh keyakinan.


Seketika Khanza dan Ken langsung terkejut. Mereka langsung membulatkan mulut dan mata bersamaan.


"Hhhaaahh, nanti malam?!" Tanya Ken dan Khanza. Mereka benar-benar terkejut mendengarnya.


Al mengangguk dengan penuh keyakinan. Dia menoleh menatap wajah sang papa.


"Pa, aku…," belum sempat Al melanjutkkan perkataannya, sang papa sudah memotongnya.


"Papa restui Al. Papa dan mama akan merestui siapapun pilihan kamu, asal kamu bahagia. Tapi ingat, papa akan sangat marah jika kamu sampai mengecewakan anak orang. Papa sendiri yang akan menghukum kamu jika itu sampai terjadi." Kata om Andreas.


Al yang mendengar perkataan sang papa pun langsung tersenyum. Dia mengangguk penuh keyakinan kepada sang papa bahwa dia tidak akan mengecewakan semua orang. 


Namun, seketika senyum Al langsung surut saat dia menyadari jika dirinya belum bertanya secara langsung kepada Khanza. Bisa-bisa dia yang akan kecewa jika Khanza menolah menikah dengannya.


Seketika keringat dingin keluar dari pelipisnya. Kedua tangannya juga terasa basah karena kegugupan yang tiba-tiba muncul pada dirinya. Al menatap wajah Khanza dengan gugup. Entah mengapa dirinya menjadi segugup itu.


"Ehhmm, sebelumnya sa-saya mau tanya dulu. Khanza, apakah kamu…" belum sempat Al menyelesaikan pertanyaannya, namun Khanza langsung menjawabnyan.


"Iya Kak, aku mau. Aku mau banget jadi istri kakak, makmum kakak dan ibu dari anak-anak kakak kelak. Aku mauuu banget. Kalau perlu sekarang saja Kak. Aku dan kamu ke KUA." jawab Khanza dengan wajah berbinar.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Buset dah, itu Khanza kok barbar banget 🤦


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote.

__ADS_1


Biar othor e tambah semangat. Ini masih ngetik lagi, doakan nanti malam bisa cepet up.


Thank you. 🤗


__ADS_2