Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Wejangan


__ADS_3

Keesokan paginya setelah sarapan, Khanza dan Al segera pamit untuk pergi ke rumah baru yang telah disiapkan oleh mommy Retta. Cukup lama mereka baru sampai ke rumah karena jalanan sangat macet.


Khanza begitu antusias saat mereka sudah tiba di depan rumah yang akan mereka tempati. Khanza segera masuk dan mulai untuk berkeliling. Sementara Al langsung menyusul Khanza setelah memarkirkan kendaraannya.


Di rumah itu, sudah ada seorang asisten rumah tangga yang akan membantu Khanza mengurus rumah, bi Ros. Beliau sudah cukup lama ikut mommy Retta. Meskipun kini usia beliau hampir mendekati kepala lima, namun tenaga beliau masih sangat cekatan. 


Khanza masih terlihat sibuk bercengkrama dengan bi Ros, sementara Ken juga mulai mengelilingi rumah yang baru pertama kali ini disinggahi. Khanza yang melihat sang suami tengah pergi ke teras belakang, segera mengikutinya. 


"Bagaimana rumah yang disiapkan mommy Mas? Suka?" Tanya Khanza sambil melingkarkan kedua lengannya pada lengan Al.


Al segera menoleh menatap wajah sang istri. Dia tersenyum sambil mengacak-acak rambut istrinya.


"Bagaimana aku nggak suka dengan rumah ini. Ini sangat luar biasa." Kata Al.


Khanza yang mendengarnya pun langsung tersenyum lebar. 


"Terima kasih Kak. Aku juga sangat menyukai rumah ini. Dulu, rumah ini rencananya akan ditempati oleh kak Ken dan kak Gitta. Tapi, mommy melarang mereka tinggal jauh dari rumah mommy. Saat itu kan aku masih ada di Surabaya." Kata Khanza menjelaskan.


Al hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ya, dulu memang Ken pernah bercerita tentang hal itu. Al juga tahu betapa frustasinya dia dan Gitta saat awal-awal pernikahan karena mommynya sering datang ke rumahnya karena jarak rumah mereka hanya terpaut beberapa puluh meter.


Hari itu, dihabiskan oleh Khanza dan Al untuk mengatur dekorasi rumah mereka. Tak lupa juga mereka membuat beberapa catatan barang-barang yang masih dibutuhkan untuk mengisi beberapa bagian yang kurang di dalam rumah tersebut. 


Setelah makan malam, Al dan Khanza duduk lesehan di atas karpet yang terhampar di ruang tengah rumah mereka. Mereka mulai mempersiapkan persyaratan untuk pendaftaran kuliah gelombang kedua yang akan berakhir dua minggu lagi.


Cukup lama Al dan Khanza berdiskusi tentang rencana kuliah mereka. Hingga jam dinding pun menunjukkan pukul 23.10. Al dan Khanza memutuskan untuk beristirahat. 


Tidak ada acara cicil mencicil malam itu. Al dan Khanza merasa sangat lelah setelah aktivitas yang mereka lakukan seharian untuk mendekorasi rumah.


Sementara di kediaman mommy, Ken dan Gitta baru saja selesai melakukan olahraga malam. Ken bersikeras ingin menjenguk sang putra di dalam sana. Dia ingin memastikan jika sang putra tidak kurang satu apapun. Enang dipastikan bagaimana sih bang Ken 🤦


"Kamu nggak kira-kira banget sih Mas. Capek banget aku." Kata Gitta sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Aku kan sudah pelan-pelan tadi Yang. Tapi tadi siapa yang nyuruh lagi mas, terus, iya, lebih, ho oh, iya. Nggak sabaran banget." Kata Ken.


Gitta yang mendengar jawaban sang suami langsung menutup wajah Ken dengan bantal yang ada di sampingnya. Dia benar-benar merasa malu dengan apa yang baru saja di katakan oleh Ken. 


Memang benar apa yang dikatakan oleh Ken. Entah mengapa sejak pulang dari dokter Evita kemarin, Gitta menjadi sangat agresif. Bahkan yang lebih parah, tadi siang dia terus-terusan menelepon Ken untuk segera pulang. Hingga setelah makan malam, mereka langsung ngerong ke dalam kamar dan mulai melakukan pemanasan hingga tubuh mereka benar-benar merasa panas dan terjadilah apa yang sudah seharusnya terjadi.


Keesokan paginya, Ken dan Gitta sudah terlihat sarapan bersama dengan mommy dan daddy. Hari ini, mommy berangkat ke hotel bersama dengan daddy.


Setelah sarapan, Ken berniat ingin berangkat ke kantor. Seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, dia akan memberikan beberapa kecupan pada perut Gitta sambil mengajak ngobrol calon putranya.

__ADS_1


"Hey Boy. Daddy berangkat kerja dulu ya. Jangan buat mommymu kesusahan. Baik-baik di rumah. Cup cup cup." Ken memberikan beberapa kecupan pada perut Gitta. 


Setelahnya, dia berpindah kepada Gitta. Ditatapnya wajah sang istri yang tengah cemberut itu. 


"Kenapa dimanyun-manyunkan gitu ih bibirnya. Mau adu mulut ya." Goda Ken.


Seketika Gitta langsung memukul lengan Ken. 


"Apaan sih." Jawab Gitta sambil memasang wajah kesalnya. "Nanti cepet pulang ya. Kalau perlu makan siang di rumah." Kata Gitta.


Ken langsung mengerutkan keningnya bingung.


"Lhah, habis makan siang harus balik lagi ke kantor dong?" Tanya Ken.


"Ya, nggak usah balik. Di rumah saja." Jawab Gitta sambil menunduk dan menggigiti bibir bawahnya. 


Ken yang sudah mengerti maksud Gitta pun langsung memeluknya.


"Aku usahakan pulang cepet nanti." Jawab Ken sambil mengusap-usap punggung Gitta.


Gitta hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya, Ken segera pamit untuk pergi ke kantor.


Al dan Khanza mengendarai kendaraan sendiri-sendiri. Mereka tidak berada pada jalur yang sama. Rumah sakit Al berada lebih dekat dari kampus yang akan mereka tuju.


Hingga menjelang makan siang, Khanza sudah berada di rumah sang mommy. Dia terlihat membantu sang kakak ipar untuk menaiki tangga teras samping. Ya, setelah melakukan pendaftaran, Khanza langsung ke rumah mommy. Dia ingin bicara dengan kakak iparnya itu untuk mengorek informasi tentang pernikahan. Apalagi jika bukan tentang masalah seputar ranjang.


"Makanan apa yang paling kakak benci selama hamil?" Tanya Khanza sambil menyantap makan siangnya.


"Ehm, aku paling tidak suka makan daging ayam, baik itu di buat sup, di goreng, atau di kreasikan oleh apapun aku tidak suka." Jawab Gitta sambil bergidik ngeri.


Khanza melihat ekspresi sang kakak ipar hanya bisa mengernyitkan keningnya. Pasalnya, dulu dia sering melihat Gitta memasak ayam jika sebelum hamil.


Setelahnya, mereka kembali mengobrol ringan sambil melanjutkan makan siangnya. 


Saat ini, Khanza dan Gitta tengah berada di teras samping rumah mommy. Khanza masih menikmati potongan buah yang disiapkan oleh asisten rumah tangga mommy. Sementara Gitta, dia tengah asik mengupas buah jeruk. Bagi Gitta, tiada hari tanpa buah jeruk.


"Kak, boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya Khanza.


Gitta yang sudah bisa menebak arah pembicaraan Khanza pun langsung menoleh dan tersenyum.


"Kamu mau tanya bagaimana rasanya saat pertama kali iya-iya kan?" Goda Gitta.

__ADS_1


Khanza yang merasa digoda sang kakak ipar pun langsung merona. Entah mengapa kakak iparnya itu bisa langsung menebak ke arah sana. Apa sangat mudah kelihatan ya, batin Khanza.


"Ehm, iya Kak. Aku khawatir dengan hal itu." Jawab Khanza dengan jujur.


"Apa yang kamu khawatirkan?" Tanya Gitta.


"Aku khawatir bagaimana memulainya Kak. Aku takut kak Al menganggap istrinya sangat agresif." Kata Khanza. Eh, emang selama ini Al tidak berpikir begitu ya, sudah dari dulu mbakyu. "Belum lagi rasa sakitnya. Aku baca di artikel-artikel rasanya sangat sakit Kak, saat melakukan 'iya-iya' pertama kali." Lanjut Khanza.


Gitta meletakkan kulit jeruk yang berhasil dikupasnya di atas meja. Setelahnya, dia menggeser tubuhnya menghadap Khanza.


"Dengar Za, menurut pengalamanku, saat melakukan iya-iya pertama kali rasanya memang sangat sakit. Tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, karena kita yang mengalaminya. Tapi, rasa sakit itu akan berangsur-angsur berkurang nanti. Rasa sakit itu akan berganti dengan rasa yang sangat sulit untuk di ungkapkan." Kata Gitta.


Khanza yang mendengarnya pun sudah mulai mengerti. Beberapa artikel yang dia baca juga menjelaskan hal itu.


"Lalu, kira-kira apa yang harus aku lakukan Kak, maksudku apa yang harus aku lakukan untuk memulainya?" Tanya Khanza.


Gitta mengerutkan keningnya berpikir. Kemudian dia menoleh menatap wajah sang adik ipar sambil tersenyum.


"Kamu harus menyiapkan sesuatu. Kemarilah, aku akan memberitahu sebuah rahasia."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote. Beri tips dan hadiah juga boleh kok 🤗🤗


*ngarep boleh kan 🤭


Sambil menunggu up, silahkan mampir ke ceritaku satunya "the ceo's proposal"


Untuk informasi up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor di @keenandra_winda


Thank you 🤗

__ADS_1


__ADS_2