
Retta mendekatkan wajahnya pada wajah Vanno. Entah dapat dorongan dari mana Retta berani mendekati bibir Vanno.
Cup.
Retta memberikan sebuah kecupan disana sekali. Dilihatnya lagi wajah yang tengah terlelap itu dari jarak yang sangat dekat. Retta mendaratkan bibirnya lagi pada bibir Vanno.
Cup. Cup. Cup.
Ketika Retta hendak mengangkat bibirnya dari bibir Vanno, Vanno sudah terlebih dahulu menahan tengkuk Retta dengan tangan kirinya yang masih terpasang infus.
Cuupphhhhh hhhh cuuppphhhh hhhmmmm cuupphhh hhmmm
Ditengah-tengah ciumannya, Retta membulatkan mata dengan lebar. Dilihatnya Vanno juga tengah menatapnya.
Aaaahhhhhhhhh.
Retta segera melepaskan diri dari Vanno. Dia segera menegakkan diri dan sedikit menjauh dari tempat tidur Vanno. Malu, itu yang dirasakannya.
Selama menikah, Retta belum pernah sekalipun memulai terlebih dahulu untuk mencium Vanno. Meskipun, Retta selalu berusaha untuk membalas setiap ciuman yang dilakukan oleh Vanno. Ya, memang hanya sebatas ciuman dan sentuhan yang mereka lakukan selama menikah. Mereka berjanji untuk tidak melakukan kewajiban suami istri sebelum ujian nasional. Mereka tidak ingin fokus belajar mereka terpecah dengan aktifitas lain yang lebih menguras energi fisik mereka. Toh, ujian nasional juga tinggal sebentar lagi, pikir mereka waktu itu.
Vanno memperhatikan tingkah Retta yang canggung. Dia tahu jika istrinya tengah merasa malu karena ketahuan mencuri ciuman pada suaminya yang tengah tidak sadarkan diri. Vanno menarik ujung bibirnya hingga seulas senyum terlukis disana.
"Kenapa?" tanya Vanno. "Malu, karena ketahuan mencuri ciuman suami?" ledek Vanno.
Blush.
Wajah Retta semakin merah. Kini, wajahnya terlihat seperti sedang memakai blush on di seluruh wajah. Melihatnya Vanno semakin terkekeh.
__ADS_1
Retta melirik suaminya yang tengah terkekeh itu. Seketika bibirnya mencebik. "Mas ih, kenapa nggak bilang jika sudah sadar. Mas mau aku, mommy dan daddy khawatir terus?" kata Retta sambil mencubit pinggang kirinya dengan pelan.
Vanno masih terkekeh pelan. Tangan kirinya yang masih terpasang infus menarik Retta agar mendekat.
"Aku sudah sadar ketika tanganmu menyentuh wajahku. Aku hanya ingin melihat seberapa berani istriku ini menggoda suaminya." kata Vanno sambil mengedip.
Blush. Lagi-lagi wajah Retta memerah.
Vanno terkekeh semakin keras melihat Retta. "Lihat, wajahmu sudah seperti memakai blush on, merah sekali." ledek Vanno sambil terus terkikik geli.
Retta memukul lengan suaminya dengan sedikit keras.
Aauuwwww!. Teriak Vanno yang pura-pura kesakitan.
Retta panik melihat Vanno kesakitan. Dia mendekatkan diri kepada Vanno. "Maaf-maaf Mas, tidak sengaja. Mana yang sakit?, perlu dipanggilkan suster atau dokter?" tanya Retta khawatir.
Vanno menggeleng. Dia menarik Retta dengan tangan kirinya hingga wajahnya semakin dekat dengan wajah Retta.
Retta segera menjauhkan diri dari Vanno. Jika tidak, bisa-bisa dirinya akan di lahap terus-terusan oleh Vanno.
Retta segera memberitahu dokter jika Vanno sudah siuman. Setelah memeriksa kondisi Vanno, dokter menyatakan jika hasil operasi sangat baik. Vanno bisa beristirahat dulu sekitar tiga hari di rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang.
Setelah dokter keluar dari kamar perawatan, Vanno meminta Retta untuk tidur disampingnya. Retta menuruti keinginan Vanno setelah sebelumnya mengunci pintu kamar dan memberitahu mommy jika Vanno sudah siuman dan dalam keadaan baik-baik saja. Mommy bahkan melakukan panggilan video untuk memastikan kondisi Vanno.
Retta merebahkan diri di samping kanan Vanno dengan hati-hati agar tidak mengenai bekas operasi Vanno. Karena tempat tidurnya lumayan sempit, mereka tidur dengan saling menempel.
"Ta, ini yang nempel di siku kananku apa?" tanya Vanno sambil sedikit menggerakkan sikunya pelan karena masih sakit.
__ADS_1
Retta membuang wajahnya ke samping, malu. "A-aku tidur di sofa saja ya Mas, disini sempit." kata Retta.
"Jangan! Tidur disini saja. Itu tadi b*a kamu?" tanya Vanno yang dijawab anggukan oleh Retta.
"Cepat buka!, biasanya juga tidak pakai." perintah Vanno.
Retta mendelik dengan segera. Bagaimana mungkin dia melepas b*a nya, ini di rumah sakit, pikirnya.
"Sudah cepat buka. Itu pintu sudah terkunci. Tidak ada yang berani masuk." kata Vanno seolah mengetahui apa yang dipikirkan Retta.
Retta pun segera mendudukkan diri dan mulai melepas b*a nya. Sementara Vanno yang melihatnya tersenyum smirk. Setelah terlepas, Retta berbalik dan memandang Vanno yang tengah tersenyum smirk. Retta semakin malu dibuatnya.
"Karena kedua tanganku sedang tidak bisa bekerja, malam ini biarkan mulutku yang bekerja." kata Vanno.
"Haahhh. Mak-maksud mas Vanno apa?" tanya Retta.
"Aku mau nyusu sampai pagi"
.
.
.
.
.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Kasih dukungan dong, biar semangat up nya..