
Vanno mendekat ke arah Retta yang masih diam mematung. Dia melingkarkan tangan kirinya di punggung Retta. Sementara tangan kanannya menarik tengkuk Retta.
Vanno mel*um*at bibir Retta dengan penuh gairah. Suara yangbkeluar dari bibir keduanya bahkan sudah menggema di seluruh kamar. Kedua tangan Retta mencengkeram erat kerah kemeja Vanno hingga tak sengaja menariknya agar sedikit membungkuk.
Retta melepaskan cengkraman kedua tangannya pada kerah kemeja Vanno. Dia juga sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Vanno. Retta ngos-ngosan mengatur napasnya, begitu pula dengan Vanno.
"Bersih-bersih dulu Mas, nanti dilanjut" kata Retta dengan napas tersengal-sengal.
Vanno mengangguk dan segera berbalik menuju kamar mandi. Dia bahkan sembarangan menjatuhkan tas punggungnya di lantai. Retta hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Vanno. Apakah sebegitu besarnya keinginan mas Vanno sehingga dia harus terburu-buru, batin Retta.
Lima menit kemudian, terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka. Retta yang bahkan belum selesai meletakkan barang-barang Vanno pada tempatnya segera menoleh.
"Cepat sekali," cebik Retta. "Jangan mandi bebek Mas, ndak bersih" lanjut Retta.
Vanno keluar kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. Dia berjalan ke arah Retta dengan tatapan yang sudah bisa di artikan oleh Retta. Ya, suaminya sangat bergairah saat itu.
Retta menelan salivanya dengan kasar. Entah sudah berapa kali dia melihat tubuh polos suaminya, namun otaknya masih tidak pernah berfungsi dengan benar. Bahkan, ketika Vanno hanya bertelanjang dada.
Sambil berjalan ke arah Retta, dengan senyum smirknya Vanno melepas handuk yang melilit pinggangnya hingga terjatuh. Retta membulatkan mata dan mulutnya dengan lebar saat melihat tubuh polos suaminya yang tengah berjalan ke arahnya.
Buughh.
Retta melempar bantal yang ada di sampingnya. Secepat kilat Vanno segera menangkapnya.
"Mas ih, itu handuknya kenapa dilepas," kata Retta sambil merengut. "Pakai lagi gih," lanjutnya.
__ADS_1
Vanno tidak memperdulikan perkataan Retta. Dia mendekati Retta dan segera membalik badannya.
"Aku tidak tahan Ta," kata Vanno sambil mendekap tubuh Retta.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Vanno segera menyambar bibir Retta dengan penuh nafsu. Hasratnya sudah terasa sampai ubun-ubun. Vanno menekan tengkuk Retta sambil bibirnya bergerak pada bibir Retta dengan rakus.
Retta yang sudah ikut terbawa arus permainan Vanno hanya bisa membalas perlakuan Vanno. Kali ini bibir Vanno sudah mulai turun menjelajah leher Retta dan meninggalkan banyak karya seni alami di sana. Retta yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih hanya bisa menelusupkan jari-jari tangannya pada rambut Vanno dan sesekali mencengkeramnya.
Suara lenguhan tak luput dari bibir Retta. Dia menggigit bibir bawahnya untuk menahan suaranya agar tidak keluar. Menyadari tidak adanya suara yang keluar dari mulut Retta, Vanno menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Retta.
"Jangan ditahan, sayang" kata Vanno sambil mengusap pipi Retta. "Aku sangat suka mendengarnya" lanjut Vanno sambil mengedipkan matanya.
Retta mencubit pinggang Vanno dengan keras, hingga membuat si empunya meringis kesakitan.
"Aauuww, sakit sayang" kata Vanno sambil mengusap bekas cubitan Retta. "Ini KDRT lho sayang" kata Vanno sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mau lanjut atau tidak, nanggung ih" kata Retta sambil tersenyum jahil kepada Vanno.
Mendengar perkataan Retta, seketika Vanno melupakan sakit akibat cubitan Retta. Dia segera membawa Retta ke atas ranjang mereka.
"Kau yang pimpin sayang, buat dirimu senyaman mungkin." Kata Vanno sambil merangkak naik ke atas tempat tidur. "Aku akan tetap menikmatinya," lanjut Vanno.
Retta mengangguk paham. Vanno membantu Retta melepaskan seluruh pakaiannya. Vanno benar-benar tak kuasa menahan gejolak yang ada di dalam dirinya ketika melihat squishy Retta bertambah ukurannya. Dia bahkan menelan salivanya dengan keras.
Tanpa menunggu lama, Vanno langsung melahap squishy yang menantang di depannya. Sementara tangan kanannya mer*em*as dan memelintir put*ing squishy yang sudah terlihat sangat tegang.
__ADS_1
"Aauw Mass, pelan. Itu milik baby, jangan di gigit. Kamu harus bisa belajar berbagi dong," kata Retta di tengah aktifitasnya.
Vanno mendongak menatap Retta sambil memanyunkan bibirnya.
"Awas saja jika baby sudah lahir, kamu lupain aku Ta," kata Vanno sambil merengut kesal. Seketika hasratnya mulai surut jika mengingat hal itu.
Retta yang melihat suaminya tengah kesal segera mengusap kedua pipi Vanno dan mencium bibirnya dengan rakus. Retta tidak ingin membuat Vanno berpuasa lebih lama lagi. Mendapat perlakuan Retta Vanno langsung on lagi. Tangan Vanno tak tinggal diam. Tangannya sudah bergerilya kesana kemari hingga membuat Retta menahan suaranya.
"Mas, aku capek hhhh, gantian ih," kata Retta.
Vanno yang mendengar rengekan Retta hanya tersenyum smirk sambil menyambar bibir Retta. "As you wish honey" kata Vanno sambil memposisikan selang alaminya pada gua lokal Retta.
Retta menggigit bibir bawahnya dengn kuat untuk menahan semua suara dari mulutnya.
Vanno memperlakukan Retta dengan sangat lembut. Dia memberikan kesempatan kepada Retta untuk mereguk kenikmatan. Retta meracau sambil bergerak kesana kemari karena gelombang dahsyat yang akan keluar dari bagian intinya. Vanno membiarkan Retta melepaskan semua ledakan dari dalam tubuhnya hingga berkali-kali. Hingga beberapa saat kemudian, Vanno juga melakukan pelepasan.
Vanno dan Retta saling berebut oksigen. Napas mereka terengah-engah setelah kegiatan panas yang mereka lakukan. Vanno segera bangkit dan melepaskan selang alaminya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Retta masih mengatur napasnya.
Beberapa saat kemudian, Vanno terlihat keluar dari kamar mandi. Dia sudah membersihkan diri. Vanno berjalan menghampiri Retta yang masih bersandar pada kepala ranjang. Pelan-pelan Vanno mengangkat tubuh Retta dan membawanya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
.
__ADS_1
.
.