Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 70


__ADS_3

Keesokan harinya, mommy dan daddy sudah tiba di rumah sakit. Mommy langsung memeluk Retta dengan erat sambil terisak. Dia merasa tidak tega melihat kaki Retta yang penuh luka.


"Tidak apa-apa Mom, ini sudah lebih baik kok," kata Retta menenangkan mertuanya. 


"Apa masih sakit sayang?" tanya mommy.


Retta menggeleng pelan sambil tersenyum.


"Maafkan Vanno ya sayang, maafkan mommy juga karena lalai menjaga kamu," kata mommy dengan wajah sedihnya. "Jika saja kami tidak lalai menjagamu, ini semua pasti tidak akan pernah terjadi" lanjut mommy.


"Mommy ngomong apa sih. Tidak ada yang salah Mom, Mommy tidak salah. Mas Vanno juga tidak salah" kata Retta berusaha menenangkan mommy yang masih terlihat gusar. "Ini sudah menjadi takdir yang harus kita jalani, yang penting semua baik-baik saja. Retta baik-baik saja ini, Mom. Lihatlah, kakinya sudah bisa bergerak. Mungkin besok sudah bisa berjalan lagi, dan lusa sudah bisa berlari, hehehe" lanjut Retta.


Mommy mengalihkan pandangan pada kaki Retta yang penuh luka. Dia menghembuskan napas berat setelah melihatnya. Pasti terasa sakit dan nyeri, batinnya. Namun, mommy berusaha tersenyum untuk membesarkan hati Retta.


Siang itu, mommy dan daddy pamit untuk pulang sebentar. Mereka ingin mengganti baju dan beristirahat. Tadi pagi, mommy dan daddy langsung menuju rumah sakit begitu tiba di bandara.


Setelah kedua orang tuanya pulang, Vanno segera berjalan mendekati Retta.

__ADS_1


"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Vanno kepada Retta.


"Iya mas," jawab Retta sambil mengangguk. "Aku ingin mandi, gerah dan lengket semua ini rasanya, tidak nyaman"


"Kaki kamu masih sakit Ta, itu juga masih di perban bagian bawah yang robek kemarin," kata Vanno membujuk.


"Nggak apa-apa Mas. Nanti aku bisa duduk, dan kakinya bisa dinaikkan di atas closet kan," bujuk Retta. " Ayo bantu aku mandi ya mas, please. Rasanya gerah ini, lengket, pliket mas," rengek Retta.


Mendengar rengekan Retta, Vanno hanya bisa pasrah. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi Retta. Setelah semua siap, Vanno segera keluar kamar mandi dan berjalan menuju pintu kamar untuk menguncinya.


"Lhah, kenapa di kunci Mas?" tanya Retta ketika melihat Vanno tengah mengunci pintu.


Vanno segera berjalan mendekati Retta dan mengangkat tubuh Retta untuk dibawa ke kamar mandi. Dia mendudukkan Retta pada sebuah kursi yang sudah diambilnya tadi. Tak lupa juga Vanno mengangkat kaki Retta dan diletakkan di atas closet agar tidak terkena air.


Setelahnya, Vanno segera melepas baju Retta. Retta sudah tidak merasa semalu dulu ketika pertama kali polos di depan Vanno. Namun, meskipun begitu dia masih merasakan panas di kedua pipinya ketika merasakan tangan Vanno mulai menjelajahi tubuhnya untuk melepaskan penutup yang menyelimuti tubuhnya.


Setelah semuanya berhasil terlepas, Vanno yang melihat tubuh polos Retta hanya bisa menelan ludah kasar. Sementara Retta yang merasa risih dipandangi Vanno segera menutupi bagian squishynya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Mas Vanno ih, kenapa begitu melihatnya?" tanya Retta sambil memanyunkan bibirnya.


Vanno menghembuskan napasnya lagi. Dia melirik selang alaminya sudah siap tempur di bawah sana.


"Itu, squishy kamu kok tambah besar ya Ta. Kamu pompa ya, kok bisa melembung besar gitu," tanya Vanno sambil menunjuk-nunjuk squishy Retta.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya, like vote dan komen, biar tambah semangat 🤭🤭


__ADS_2