Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 16


__ADS_3

Setelah menceritakan semuanya, Ken menatap wajah pak Wisnu dan bu Risma lekat-lekat. Kedua pasang netra mata mereka tampak berkaca-kaca menatap Gitta yang kini masih menunduk.


"Hiks hiks hiks huuaaaaaa"


Tiba-tiba baby Z yang sedang berada di pangkuan bu Risma menangis dengan keras. Semua orang yang ada di sana terkejut saat mendengar tangisan baby Z. Gitta segera beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah bu Risma untuk mengambil alih baby Z.


"Bawa ke kamar tamu saja. Sepertinya dia mengantuk." Kata bu Risma.


Gitta menoleh menatap Ken yang dibalas dengan anggukan. Gitta berjalan mengekori bu Risma yang menunjukkan letak kamar tamu.


"Coba tidurkan di sini, siapa tahu bisa terlelap." Kata bu Risma sambil tersenyum hangat kepada Gitta.


Gitta segera mengangguk mengiyakan. Dia berjalan mendekati tempat tidur dan segera membaringkan baby Z di sana. Gitta mencoba menenangkan baby Z yang masih menangis dengan mencoba untuk memberikan ASI. Dan benar saja, baby Z langsung tenang.


Bu Risma memperhatikan Gitta dan baby Z yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Hatinya merasa hangat saat melihat pemandangan itu. Bu Risma berjalan pelan-pelan untuk keluar kamar. Beliau juga perlahan-lahan menutup pintu kamar tamu tersebut agar tidak mengganggu baby Z.


Setelah dari kamar tamu, bu Risma segera kembali bergabung dengan Ken dan suaminya. 


"Kami sangat terkejut mendengar cerita pak Ken. Memang benar putri kami hilang saat berada di stasiun waktu itu. Saat terjadi kecelakaan, kami percaya jika putri kami meninggal karena menjadi korban saat itu. Hal itu yang membuat kami tidak melakukan pencarian." Kata pak Abi dengan mata berkaca-kaca.


Bu Risma yang baru saja bergabung dengan mereka pun langsung mengusap-usap lengan sang suami. Dia tak kalah terkejutnya dengan cerita yang disampaikan oleh Ken. Air matanya bahkan sudah mulai jatuh ke pipi.


"Kalau boleh kami tahu, apa yang terjadi dengan Gitta waktu di bawa ke panti asuhan?" Tanya pak Abi. Beliau terlihat berusaha menahan tangis.


Ken kembali menceritakan jika Gitta tidak ingat apa-apa setelah sadar dari pengaruh obat tidur. Dia hanya bisa menangis dan menangis terus. Saat ditanya oleh para pengasuh dia selalu bingung. Dia menjawab tidak tahu kenapa menangis. 


Hingga berbulan-bulan dia seperti itu sampai akhirnya dia diangkat anak oleh seseorang hingga SMA. Saat Gitta SMA, ibu angkatnya meninggal dunia. Sejak saat itu Gitta harus hidup sendiri dan bekerja keras untuk membiayai kuliah dan hidupnya.


Pak Abi san bu Risma langsung menangis. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi setelah mendengar perkataan Ken.


"Sebenarnya, saat melihat Gitta tadi, saya sudah merasa dia adalah putri kandung saya, pak Ken. Tapi saya masih meyakini jika putri saya sudah meninggal. Namun, setelah mendengar perkataan anda, keyakinan saya menjadi goyah. Saya jadi ragu jika yang kami makamkan waktu itu bukan putri kandung saya." Kata pak Abi dengan air mata masih berderai.


Bu Risma bahkan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Beliau terlihat mencengkeram lengan pak Abi dan meremasnya dengan kuat.


"Pa, segera lakukan pemeriksaan DNA. Kita adakan tes, Pa. Mama yakin dia adalah putri kita. Hu hu hu hu." Kata bu Risma sambil menangis tergugu.


Pada saat bersamaan, Gitta terlihat keluar dari kamar tamu. Rupanya baby Z sudah tertidur di dalam kamar. Gitta membiarkan pintu kamar tamu tersebut terbuka, jadi ketika baby Z bangun dia akan bisa melihatnya.


Gitta segera berjalan untuk bergabung bersama sang suami. Dia segera mendudukkan diri di sampingnya. Gitta menatap wajah pak Abi dan bu Risma yang sudah dipenuhi air mata. Gitta menoleh menatap wajah sang suami sambil menggigit bibir bawahnya. Dia terlihat cemas.


"Pak Ken, apa sebaiknya kita melakukan tes DNA untuk memperjelas semuanya?" Tanya pak Abi setelah berhasil menguasai diri.


Ken menoleh menatap wajah pak Abi, bu Risma dan Gitta bergantian. Dia juga ingin agar semua segera ada kejelasannya. Gitta mengangguk setuju saat Ken menatapnya.


"Benar, Pak. Kita memang sebaiknya melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenarannya." Kata Ken.


"Iya, pak Ken. Lalu, kapan sebaiknya kita bisa melakukan tes DNA? Dan, sebaiknya dimana kita melakukannya?" Tanya pak Abi.


"Kalau bisa secepatnya Pak. Untuk tempatnya, silahkan pak Abi bisa memilih sendiri." Kata Ken. Dia memberi kebebasan kepada pak Abi memilih rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Ken tidak mau dianggap melakukan manipulasi hasil tes DNA.

__ADS_1


"Ehm, bagaimana jika di rumah sakit pak Vanno saja. Rumah sakit itu memiliki standar terbaik. Jadi saya pikir, hasilnya pasti bisa sangat akurat." Kata pak Abi.


Ken dan Gitta saling pandang. Selanjutnya, mereka menyetujui untuk melakukan tes DNA akan dilakukan di rumah sakit daddy Vanno.


"Lalu, untuk harinya kapan bisa dilaksanakan?" Tanya bu Risma. Beliau terlihat sangat tidak sabar menunggu hari itu.


"Semakin cepat semakin baik, pak Ken." Kata pak Abi menimpali.


"Benar, Pak. Bagaimana jika besok kita kita melakukan tes tersebut. Saya akan segera menghubungi adik ipar saya untuk mempersiapkan semuanya." Kata Ken.


Pak Abi dan bu Risma terlihat sangat bahagia mendengar perkataan Ken. Begitu juga dengan Gitta. Dia juga sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui kebenarannya. Terlepas dari apapun hasilnya nanti, setidaknya mereka sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik.


"Baik, pak Ken. Kami setuju dengan usul anda. Semakin cepat semakin baik." Jawab pak Abi.


Pak Abi dan bu Risma menatap wajah Gitta dengan penuh harap. Mereka benar-benar berharap jika Gitta memang benar putri kandung mereka. Gitta yang merasa diperhatikan merasa tidak enak. Dia masih menundukkan kepala di samping sang suami.


"Ehm, nak Gitta, boleh saya bertanya sesuatu?" Tanya pak Abi.


"A-apa Pak?" Jawab Gitta terbata. Dia masih merasa canggung berbicara dengan pak Abi dan istrinya.


"Apa nak Gitta sama sekali tidak bisa mengingat masa-masa sebelum tiba di panti asuhan?" Tanya pak Abi.


Gitta menoleh menatap wajah Ken sebelum menjawab pertanyaan pak Abi. Ken mengangguk memberikan dukungan kepada Gitta.


"Ehm, saya sama sekali tidak mengingat apapun, Pak. Saya hanya mengingat saya merasa sangat sedih dan merasa kehilangan saat itu." Jawab Gitta dengan mata mulai berkaca-kaca. Dia merasa sangat sedih jika mengingat masa-masa itu.


Bu Risma yang melihat Gitta mulai menangis langsung berpindah ke samping Gitta. Beliau langsung memeluk tubuh Gitta dan mengusap-usap bahunya dengan penuh kasih sayang. Gitta yang merasakan pelukan hangat dari bu Risma merasa sangat nyaman. Entah mengapa dia merasa nyaman berada di dalam pelukan tersebut. Gitta merasa seperti sudah pulang kembali.


Gitta hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia juga sangat berharap dengan hal itu. Sudah lama dia memimpikan bertemu dengan keluarga kandungnya. Gitta berharap kali ini memang mereka orang tua kandung Gitta.


Setelahnya, mereka banyak membicarakan hal-hal lainnya. Bu Risma memaksa mereka untuk makan siang disana. Baby Z yang sudah bangun pun ikut bergabung di sana. Pak Abi dan bu Risma bahkan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain dengan baby Z. Mereka bahkan saling berebut untuk memangku baby Z.


Gitta dan Ken yang melihat hal itu pun merasa sangat bahagia. Mereka berdo'a semoga pak Abi dan bu Risma adalah kakek dan nenek kandung baby Z.


Beberapa saat setelah makan siang, Ken dan Gitta segera pamit pulang. Mereka berjanji akan bertemu di rumah sakit daddy Vanno keesokan harinya untuk melakukan tes DNA. Pak Abi dan bu Risma terlihat sangat berat melepas kepulangan mereka. Namun, mereka meletakkan harapan yang sangat besar keesokan hari.


Sesampainya di rumah, Ken dan Gitta langsung disambut oleh mommy. Mommy bahkan tidak pergi ke butik karena merasa tidak tenang sejak keberangkatan Ken dan Gitta.


"Kalian sudah pulang?" Kata mommy sambil berjalan terburu-buru menghampiri anak dan menantunya. "Bagaimana pertemuannya? Lancar?" Lanjut mommy.


"Alhamdulillah lancar, Mom." Jawab Ken.


"Ma..ma..maa….uunn dong." Rengek baby Z saat melihat mommy berjalan mendekat ke arah mereka.


Mommy langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil alih baby Z dari gendongan Gitta.


"Biar Zee sama mommy. Kalian istirahat dulu." Kata mommy.


Ken dan Gitta segera mengangguk mengiyakan. Mereka langsung berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Mas, aku takut jika hasilnya besok tidak sesuai dengan harapan kita." Kata Gitta sambil meletakkan gendongan bayi yang dibawanya.


Ken menghentikan langkah kakinya dan menarik Gitta ke dalam pelukannya. Dia mengusap-usap pungguk Gitta dengan lembut untuk menenangkannya.


"Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Apapun hasilnya besok, kita serahkan kepada Allah. Manusia hanya wajib berusaha dan berdoa, berikhtiar. Untuk hasilnya tetap menjadi rahasia Allah. Jangan patah semangat." Kata Ken.


Gitta mengangguk-anggukkan kepalanya dalam pelukan Ken. Dia merasa sedikit tenang setelah mendengar perkataan sang suami.


"Jangan bersedih lagi. Bukannya tadi pak Abi dan bu Risma sudah bilang apapun hasilnya, mereka akan tetap menganggap kamu sebagai putri mereka. Bahkan, tadi mereka juga meminta untuk dipanggil mama dan papa, kan." Kata Ken.


Gitta melepaskan pelukannya dan menatap wajah Ken. Dia mengangguk mengiyakan. Memang benar tadi pak Abi dan bu Risma memaksa Ken dan Gitta untuk memanggil mama dan papa kepada mereka. Bagi pak Abi dan bu Risma, apapun hasil dari tes DNA esok hari, mereka akan tetap menganggap Ken dan Gitta sebagai anak mereka.


Malam itu, Ken menelepon Al untuk memberitahukan rencana pelaksanaan tes kepada Al esok hari. Al juga sudah memberitahukan jika seluruh persiapan sudah dilakukan untuk berjaga-jaga. Ken dan Gitta merasa lega mendengarnya.


Setelah cukup mengobrol, Ken segera mengajak Gitta dan baby Z untuk beristirahat. Namun, karena baby Z telah tidur sore tadi dan bangun menjelang maghrib, saat ini dia merasa belum mengantuk.


"Kalian istirahat saja. Biar Zee tidur sama daddy dan mommy nanti." Kata daddy Vanno.


"Apakah tidak apa-apa nanti, Dad?" Tanya Gitta. Dia tidak ingin merepotkan mertuanya, meskipun Zee sudah sering tidur dengan mereka.


"Tenang, nggak apa-apa kok. Daddy punya pawangnya jika Zee nangis." Jawab daddy Vanno sambil terkikik geli.


Mommy yang mendengar perkataan daddy langsung merengut.


"Tuman kamu, Mas. Jangan digangguin terus jika Zee sudah tidur. Nanti dia akan mencari sumber nutrisi agar bisa tidur lagi." Gerutu mommy.


"Lah, kamu kan punya sumber nutrisi, Yang. Nggak usah khawatir." Jawab daddy sambil menaik turunkan alisnya.


"Sudah nggak ada isinya, Mas. Kamu peres terus setiap hari." Jawab mommy sewot.


"Hahahaha"



Baby Z


Yakin nggak mau cium daddy dan oppa ku aunty?


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


Mohon bantuan like, komen dan vote ya.


Thank you


__ADS_2