
Sudah tiga hari Vanno dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Retta dengan setia menemani Vanno. Dia dengan telaten menyuapi Vanno ketika makan, membantu Vanno ketika Vanno ingin buang hajat dan juga menuruti permintaan Vanno yang kadang rada gesrek.
Seperti hari ini, Retta yang tengah mengemasi keperluan Vanno karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang, dipanggil oleh Vanno.
"Ada apa sih Mas?" tanya Retta sambil berjalan mendekat. "Mau pipis lagi?" lanjutnya.
"Tidak," jawab Vanno sambil bergerak-gerak. "Ini punggungku bagian belakang kenapa gatal sekali, tanganku nggak sampai ini Ta. Tolong garukkan." lanjut Vanno sambil masih bergerak-gerak.
Retta memelototkan matanya. Dia tidak ingin kena tipu lagi. Kemarin Vanno juga melakukan hal yang sama.
Kemarin Vanno meminta Retta membenahi sarungnya yang melorot tapi ternyata hanya modus. Tangan kirinya yang masih terpasang infus sudah menarik Retta ke sampingnya. Dan tanpa aba-aba tangannya sudah menelusup ke dalam baju Retta dan mencari squishynya. Dia segera memainkan tombol alami Retta hingga suara l*kn*t itu keluar dari mulut Retta.
Parahnya, bukannya menghindar Retta malah ikut menikmati apa yang Vanno lakukan. Hingga kekehan lirih Vanno terdengar di telinga Retta dan menyadarkannya. Retta segera mencubit paha Vanno hingga tangan Vanno terlepas dari tubuhnya. Entah kenapa, dari hari ke hari Vanno semakin gesrek otaknya.
Retta menggelengkan kepala melihat Vanno yang masih bergerak-gerak. "Kamu mau modusin aku lagi ya Mas?" dengus Retta kesal.
Vanno menoleh memperhatikan Retta. "Tidak!, lihat ini gatal sekali." katanya sambil sedikit miring agar Retta bisa melihatnya dari belakang.
__ADS_1
Dan benar saja, Retta sedikit menyingkap selimut dan baju Vanno. Kulit Vanno merah-merah di bagian bawah punggungnya. "Ini kenapa Mas?" tanya Retta.
"Ya mana aku tau." Jawab Vanno kesal.
Retta segera keluar dari ruang rawat Vanno untuk meminta obat gatal kepada petugas. Setelah mendapatkan salep anti gatal, Retta segera kembali dan mengoleskannya pada bagian yang merah-merah di tubuh Vanno.
Retta juga memberikan sedikit pijatan pada punggung bagian bawah Vanno agar bisa sedikit rileks. Bukannya merasakan rileks tapi Vanno malah merasa semakin panas.
"Kamu ingin membantuku apa menyiksaku Ta?" tanya Vanno sambil menoleh ke arah Retta.
Retta bingung dengan pertanyaan Vanno. "Apa maksud Mas Vanno?" tanyanya. "Aku hanya memberikan pijatan kecil agar mas Vanno sedikit rileks." lanjutnya.
Paham maksud perkataan Vanno, Retta segera menarik tangannya dari tubuh Vanno. Dia melirik sekilas yang dimaksud Vanno kemudian membuang muka.
"Itu, otak mesum jangan dipelihara Mas," kata Retta sambil mengerucutkan bibir. "Dan, bilangin itu si paralon air jangan gampang berontak." lanjut Retta sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Vanno mendengus kesal. "Bagaimana aku bisa mengontrol Vj agar tidak berontak. Kamu setiap saat selalu menggodanya." teriak Vanno agar Retta yang berada di dalam kamar mandi mendengarnya.
__ADS_1
"Dibungkus plastik Mas, terus di ikat pakai karet agar tidak mudah berontak." jawab Retta dari dalam kamar mandi.
"Kok kiro mbrosong buah ning wit? (Kamu pikir seperti membungkus buah dipohonnya?)" kata Vanno dengan menggunakan bahasa Jawa.
Vanno sedikit banyak sudah bisa memahami bahasa Jawa dari bi Mar yang memang asli Jawa. Sedangkan Retta yang memang berasal dari Jawa, juga bisa memahami perkataan Vanno langsung tertawa dari dalam kamar mandi.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen ya 🤗🤗