
"Pakai apa?" Tanya Ken saat melihat Gitta tengah terdiam sambil mengerucutkan bibirnya disana. Dia sedikit tersenyum saat berhasil menggoda sang istri.
"Mas ih, pikirannya selalu itu terus." Jawab Gitta sambil memalingkan wajah karena malu.
Ken tergelak semakin keras saat melihat sang istri tengah malu. Beberapa saat kemudian, ada seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahunan menghampiri Ken dan Gitta.
"Nak Ken?" Sapanya saat sudah berada di dekat meja Ken dan Gitta.
Seketika Ken mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya. Seketika senyum terbit di ujung bibirnya.
"Om Raharja. Apa kabar Om?" Kata Ken sambil mengulurkan tangannya.
"Baik, Om sangat baik. Kamu apa kabar? Daddy dan mommy kamu sehat?" Tanya om Raharja sambil menyambut uluran tangan Ken. Mereka berjabat tangan sebentar sebelum melepaskannya.
"Alhamdulillah, kami sehat Om." Jawab Ken.
"Oh iya, ini siapa?" Tanya om Raharja saat melihat Gitta.
"Oh ini, Gitta. Istri saya Om." Kata Ken. Gitta langsung mengulurkan tangannya yang di sambut oleh on Raharja.
"Kamu sudah menikah Ken? Kapan? Kenapa daddy kamu tidak ngabari Om?"
"Kami baru menikah satu minggu yang lalu kok, dan acara kami memang sederhana. InsyaAllah nanti kami akan mengundang semuanya jika waktunya sudah pas." Kata Ken. Om Raharja mengangguk mengerti.
"Ayo, ikut Om ke depan. Nanti kamu yang mewakili daddy kamu memotong tumpengnya." Kata om Raharja.
Ken mengangguk mengiyakan. Dia segera menarik tangan Gitta agar mengikutinya. Beberapa pasang mata mengamati Ken dan Gitta saat berjalan menuju bagian depan. Tak terkecuali keluarga paman Gitta. Mereka tampak bingung dengan situasi yang ada di depan mereka saat itu.
Ken membawa Gitta untuk duduk di barisan bagian depan. Sementara om Raharja, penyelenggara acara tersebut segera naik keatas panggung untuk memberikan beberapa kata sambutan sebelum acara tersebut-benar dimulai.
Setelah cukup berbasa basi dan menyapa beberapa kolega, om Raharja segera menjelaskan maksud dari acara tersebut.
"Terima kasih kepada semuanya yang telah menyempatkan hadir di acara ini. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, bahwa hari ini kita akan meresmikan sebuah yayasan untuk anak-anak kurang mampu di kota Bandung. Besar harapan kita, dengan adanya yayasan yang kita dirikan ini akan bisa membantu mereka untuk mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang lebih baik, sekaligus bisa kita jadikan sebagai ladang pahala kita di kemudian hari. Aamiin."
__ADS_1
"Acara kali ini juga merupakan perkenalan bagi para pengusaha muda yang sangat luar biasa. Mereka sudah mulai bisa mengembangkan bisnisnya hingga bisa dikenal dan menjalin kerjasama baik di dalam maupun luar negeri."
"Baiklah, tanpa menunggu lebih lama lagi, kita segera memulai acara peresmian yayasan kita. Saya panggilkan putra donatur terbesar pada yayasan ini, Ken." Kata om Raharja sambil mempersilahkan Ken untuk naik ke atas panggung. Ken segera berdiri dan berjalan menuju panggung.
"Dia adalah putra pertama dari Greyvanno Alexander." Kata Om Raharja memperkenalkan Ken kepada beberapa orang yang hadir di sana. Om Raharja tidak memberitahu jika Ken adalah cucu pendiri GC, karena memang tidak banyak yang tahu tentang hal itu. Bagi kebanyakan para pelaku bisnis, memang tidak tahu siapa pemilik GC. Yang mereka tahu adalah beberapa orang yang hanya menjadi kepercayaan dan cukup hanya mengetahui kinerja GC saja.
Vanno memberikan beberapa sambutan dan ucapan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah membantu mewakili sang daddy. Setelahnya, dia juga menyampaikan harapannya agar yayasan ini dapat membantu banyak orang.
Setelah selesai memberikan sambutan, acara pemotongan tumpeng pun segera dilakukan. Suara riuh tepuk tangan terdengar menggema siang itu. Setelah selesai, Ken beserta om Raharja pun segera turun dan segera di sambut oleh beberapa kolega bisnis yang memang sudah menunggu mereka. Ken ikut bergabung sebentar sebelum kembali kepada sang istri.
Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Gitta segera melangkahkan kakinya menuju beberapa stan makanan karena perutnya sudah sangat lapar. Dia menoleh beberapa kali ke arah suaminya yang masih berbicara dengan beberapa orang. Akhirnya, Gitta memutuskan untuk mengambil makanan terlebih dahulu.
Tiba-tiba Gitta merasakan bahunya ditepuk oleh seseorang. Gitta menoleh dan menatap disana ada bibinya dan Salsa. Gitta masih bersikap acuh pada mereka. Salsa dibuat geram karena sikap Gitta.
"Heh, nggak sopan banget sih sama orang tua." Bentak Salsa.
Gitta kembali menoleh menatap bibi dan Salsa.
Salsa mendengus kesal. Dia benar-benar sudah melihat perbedaan pada Gitta. Dulu, dia dan mamanya sudah terbiasa menghina bahkan menyuruhnya sesuka hati. Namun, setelah mereka mengusir Gitta, gadis itu sama sekali tidak memiliki rasa takut lagi. Bahkan, terkesan berani. Beberapa kali Salsa dan mamanya bertemu dengan Gitta sebelum ini pun, Gitta juga tidak menampakkan rasa takutnya.
"Kamu ini sudah semakin berani ya." Geram Salsa.
Gitta pura-pura mengerutkan dahinya. "Lhah, jelas aku berani dong, siang-siang gini kan." Jawab Gitta santai.
Bibi yang ikut geram pun segera menengahi.
"Sudah, sudah. Kalian ini semakin ngawur saja." Kata bibi. "Git, kamu kenal dimana laki-laki yang bersama kamu tadi. Dan, kalian ada hubungan apa?" Tanya bibi.
Gitta menatap wajah bibinya dengan tatapan jengah. "Dengar bu Sug, aku sudah memberitahu dari sejak kapan hari kita bertemu kan, dia temanku, teman seranjang. Jika kalian pinter, kalian pasti tahu apa maksudnya itu." Jawab Gitta.
"Kamu simpanannya?" Kali ini Salsa yang berbicara.
Gitta menoleh menatap Salsa. Dia sangat malas meladeni mulut kepo nya itu.
__ADS_1
"Ya kali simpanan di bawa ke tempat ramai seperti ini." Jawab Gitta dengan santainya. "Lagian, dia juga masih terlihat sangat muda, buat apa punya simpanan." Lanjut Gitta.
Ken yang sedari tadi memperhatikan Gitta tengah berbicara dengan bibi dan anaknya. Dia masih terus mengawasi dari tempatnya berada. Dia ingin tahu, bagaimana cara Gitta mengatasi dua orang di depannya itu.
Tiba-tiba Gunawan Wicaksono, paman Gitta mendekati Ken. Dia terlihat salah tingkah di depannya. Paman Gitta baru tahu jika Ken adalah putra dari Vanno, orang yang mengakuisisi perusahaannya. Dengan kata lain, Ken adalah pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja.
"Nak Ken, maafkan saya yang tidak mengenali anda tadi." Kata paman Gitta.
Ken menoleh menatap wajah Gunawan sebentar.
"Tidak apa-apa. Lagian, untuk apa juga bapak harus mengenali saya." Jawab Ken datar.
Paman Gitta sedikit salah tingkah. Dia merutuki dirinya sendiri yang berani memperkenalkan diri sebagai pemilik Exa Pratama di depan pemilik aslinya.
"Eh kalau boleh saya tahu, apa hubungan nak Ken ini dengan Gitta?" Tanya paman. "Sebaiknya jangan dekat-dekat dengan dia. Dia itu anak angkat. Dia tidak tahu siapa orang tuanya." Lanjut paman
Ken menoleh sebentar menatap wajah paman Gitta. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan laki-laki di depannya ini.
"Lalu, apa aku harus mendekati putrimu?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Sorry slow up ya, ada ddline kerjaan 🙏
__ADS_1