Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Persiapan Wedding Day


__ADS_3

Keesokan harinya, keluarga Khanza dan Al sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan pernikahan yang akan dilangsungkan satu minggu lagi. Mereka sepakat jika acara pernikahan, baik ijab qobul dan acara resepsi akan dilakukan di hotel mommy.


Keluarga Al tidak mengundang banyak orang, mengingat acaranya sangat mendadak. Mereka hanya mengundang beberapa orang kerabat dekat mereka.


Al, juga memutuskan mengundurkan diri dari rumah sakit dokter Winar. Al mempertimbangkan permintaan dokter Winar kepadanya waktu itu, dan dia merasa tidak bisa melakukannya. Akan sangat tidak nyaman baginya nanti jika dia memaksakan untuk menerima permintaan dokter Winar saat itu. Selain itu, daddy Vanno juga meminta Al untuk bekerja di rumah sakitnya. Dua tahun lagi dokter Yudith akan memasuki masa pensiun menjadi kepala rumah sakit. Jadi, tanggung jawab itu akan dilimpahkan kepada Al.


Selama beberapa hari ini Khanza dan Al memang dilarang bertemu, istilahnya melakukan pingitan. Namun, mereka juga sesekali keluar rumah untuk mengurus keperluan pernikahan mereka. 


Dua hari menjelang pernikahan, rasa gugup mulai menyelimuti Khanza dan Al. Al sudah sejak beberapa hari yang lalu menghafalkan lafadz ijab qobul yang akan diucapkannya nanti. 


Malam itu, hujan turun tidak begitu deras. Khanza baru saja keluar dari kamar Gitta. Selama beberapa hari ini, dia sering sekali bertanya beberapa hal kepada Gitta. Dia bertanya tentang bagaimana cara menyenangkan suami, cara memperlakukan suami, dan cara melayani suami. Hampir semua ditanyakan oleh Khanza. Dia malah dengan tidak tahu malunya menanyakan bagaimana malam pertama sang kakak. Tentu saja Gitta tidak akan menceritakannya. Dia saja merasa malu jika mengingatnya. Apalagi, saat itu Gitta lah yang, ah sudahlah.


Setelah cukup lama berada di kamar sang kakak, Khanza terpaksa keluar dari kamar mereka. Siapa lagi yang akan berani mengusirnya dari kamar jika bukan karena Ken. Khanza keluar kamar dengan bersungut-sungut. Dia merasa belum cukup puas bertanya kepada sang kakak ipar, namun kakaknya justru malah mengusirnya keluar kamar. Ken mau bernostalgia dengan calon anaknya. Entah apa maksud Ken, Khanza juga tidak mengerti. Mungkin para reader yang tahu maksud Ken. 🤔


Khanza segera masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri. Setelahnya, dia segera beranjak menuju tempat tidurnya. Saat dia hendak merebahkan diri, terdengar suara ponselnya berdering. Khanza segera meraih ponselnya dan melihat id penelepon. Seketika jantungnya berdegup sangat kencang saat melihat siapa yang meneleponnya tengah malam tersebut.


"Hallo Kak." Sapa Khanza setelah menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Al. Ya, dialah yang tengah menelepon Khanza tengah malam itu.


"Ti-tidak Kak, aku belum tidur kok." Jawab Khanza.


Hening


Hening


Hening


Tidak ada yang bersuara setelahnya. Entah mengapa mereka menjadi secanggung itu saat mereka sudah memutuskan untuk menikah. Khanza yang biasanya sangat bocor saat menggoda Al, sekarang menjadi sangat malu.


"Kak?" Kata Khanza. Dia merasa tidak nyaman dengan keheningan itu.


"Hhhmmm?"


Lhah, ini orang mau apa sih sebenarnya. Masa iya telepon cuma diem-dieman gini. Dikira ujian anteng-antengan (diam-diaman), batin Khanza.


"Kok diam?" Tanya Khanza memberanikan diri.


"Aku sedang berkonsentrasi untuk mengukir wajahmu pada angan-anganku." Kata Al.

__ADS_1


"Hhaaahh?" Khanza begitu terkejut saat Al mengucapkannya. Pipinya terasa panas. Ujung bibirnya tertarik sehingga membentuk senyuman. Jantungnya tak kalah mengusik. Dia sudah ikut ribut menyalurkan rasa bahagia di dalam hatinya. "Ke-kenapa harus begitu?" Tanya Khanza. 


"Aku kangen." Jawab Al.


Duoorrrr. Jantung Khanza terasa akan meledak saat mendengar jawaban Al. Ingin rasanya dia berteriak sekeras-kerasnya untuk menyalurkan rasa bahagianya. Namun, hal itu tidak mungkin dia lakukan. Khanza tidak ingin jika momen bahagianya ini berakhir secepatnya. Hal yang bisa dilakukan Khanza hanya mengambil bantal yang ada di sampingnya dan menggigitnya sekeras mungkin agar suara teriakan bahagianya tidak sampai di dengar oleh Al dan orang lain di rumahnya.


Karena Khanza tidak merespon, Al sedikit khawatir jika Khanza menutup panggilan teleponnya.


"Honeyyy?" Panggil Al dengan lembut.


Sontak mata Khanza semakin membulat mendengar panggilan Al. Dia langsung menutup mulutnya seketika.


"Ho-honey?" Gumam Khanza. Dia masih sedikit terkejut dengan panggilan itu.


"Kamu mau dipanggil apa? Sayang, Honey atau apa?" Tanya Al. Rupanya dia juga tidak ingin pembicaraan itu segera berakhir.


"Honey saja. Iya, aku suka." Jawab Khanza dengan cepat.


"Baiklah, mulai sekarang kita bisa mulai membiasakan diri untuk menggunakan panggilan itu." Kata Al.


Khanza pun segera mengangguk. Namun, setelah sadar jika Al tidak bisa melihat anggukannya, dia segera menjawabnya.


"Eh, kok panggil Kak lagi?" Goda Al. 


Seketika Khanza menutup mulutnya. Entah mengapa dia masih merasa malu memanggil Al dengan sebutan itu. Padahal saat di rumah sakit waktu itu, dia dengan lantang sudah memanggil Al dengan sebutan itu.


"Eh, ma-maksud saya ho-honey." Kata Khanza sambil menggigit bibir bawahnya. Dia masih berusaha untuk menahan malu. Pipinya pun masih terasa panas.


Al yang mendengar perkataan Khanza langsung tersenyum. Hatinya merasa hangat dan jantungnya berdebar sangat cepat.


"Baiklah, sudah dini hari segeralah tidur. Bawa namaku dalam tidurmu." Kata Al.


"I-iya." Cicit Khanza.


"Selamat malam honey. Sweet dream. Sampai bertemu dua hari lagi dalam ikatan halal." Kata Al sambil tersenyum di seberang sana dan menutup panggilan teleponnya.


Tak berapa lama kemudian, ponsel Khanza kembali berbunyi. Sebuah pemberitahuan pesan masuk terdengar dari sana. Khanza segera membuka ponselnya untuk melihat pesan tersebut. Seketika senyum lebar muncul pada bibirnya. Dia melihat foto selfie Al di layar ponselnya.


__ADS_1


Setelah melihat foto sang calon suami, Khanza langsung berguling-guling diatas tempat tidur. Kedua kakinya ditendang-tendangkan ke udara untuk mengekspresikan rasa bahagianya. Dia juga menenggelamkan kepalanya di bawah bantal untuk meredam teriakan bahagianya. Khanza tidak berani membalas atau pun mengirim balik fotonya. Dia masih merasa malu.


Hingga beberapa menit kemudian, setelah merasakan nafasnya sudah ngos-ngosan karena tingkah absurdnya, Khanza langsung merebahkan diri diatas tempat tidur. Dia berusaha memejamkan matanya agar bisa segera tidur. Tak lama setelahnya, Khanza benar-benar tertidur.


Keesokan harinya, Khanza bersama sang mommy pergi ke butik untuk melakukan fitting baju terakhirnya. Dia mencoba baju yang akan digunakan pada saat acara akad nikah dan acara resepsinya besok lusa. 


"Kak Al sudah fitting baju Mom?" Tanya Khanza di sela-sela aktivitasnya mencoba baju.


"Sudah. Kemarin dia sudah kesini." Jawab mommy.


Khanza mengerucutkan bibirnya setelah mendengar jawaban sang mommy. Dia menggerutu setelah mendengar jawaban mommynya.


"Kenapa nggak sekalian saja hari ini fittingnya Mom, aku kan bisa barengan." Gerutu Khanza.


Mommy menoleh menatap wajah sang putri. Dia menyentil kening Khanza sambil mendelik.


"Kalian ini sedang dipingit, tidak boleh bertemu dulu. Besok lusa baru boleh. Silahkan dipuas-puaskan besok lusa kangen-kangenannya." Kata mommy.


Khanza mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan sang mommy. Setelahnya, dia mengikuti perintah mommy untuk mencoba baju yang satunya.


Setelah selesai fitting baju, Khanza dan mommy pergi ke hotel sebentar untuk memeriksa persiapan pernikahan. Tidak lama mereka berada di sana. Setelahnya, mereka segera kembali ke rumah. Mommy sangat cerewet kepada Khanza agar tidak terlalu capek. Dia akan lebih capek nanti setelah acara pernikahan. 🤔


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Habis part ini wedding day ya. Jangan lupa dukungannya. 


Sambil menunggu up, jika berkenan silahkan mampir di novelku satunya, "the ceo's proposal" masih slow up ya untuk yang itu, masih mau tamatin cerita keluarga Vanno.


Untuk visual cast nya, silahkan mampir di ig othor, @keenandra_winda

__ADS_1


Thank you 🤗


__ADS_2