
Hansen melirik notifikasi di gadgetnya yang memberitahukan jika lokasi penelepon sudah ditemukan. Vanno yang paham dengan hal itu segera mengangguk kepada Hansen.
"Katakan apa maumu!" kata Vanno dengan tegas.
"Hahahaha… Mauku?" tanya laki-laki itu dengan suara meremehkan sambil terus tertawa. "Anda yakin bisa memenuhi semua keinginanku?" lanjutnya.
Vanno mendengus kesal. "Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini!".
Tut tut tut.
Vanno memutus sambungan telepon secara sepihak. Dia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya. Otot-otot pada tangannya sampai terlihat dengan jelas. Hansen hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah tidak sabaran Vanno.
"Jalankan mobilnya lebih cepat, aku ingin segera menghajar orang itu." Kata Vanno.
"Sabar Den, sebentar lagi kita akan mengetahui semua informasi secara detail," jawab Hansen dengan nada menenangkan. "Visual, dan keadaan di sekitar lokasi pun akan terlihat. Kita hanya harus bersabar sebentar lagi. Anak buah saya dan teamnya masih menyelesaikannya" lanjut Hansen.
Vanno menoleh ke arah Hansen yang terlihat sedang tersenyum tipis. Dia mengangguk setelah mendengar penjelasan Hansen.
Beberapa menit kemudian, terdapat beberapa notifikasi pada gadget canggih Hansen yang berbunyi cukup keras. Hansen segera meraih benda pipih tersebut dan mengetukkan beberapa kata sandi disana. Seketika muncul visualisasi sebuah bangunan tua yang dikelilingi banyak pohon.
Vanno menyipitkan mata untuk ikut memperhatikan apa yang dilihat Hansen. Menyadari Vanno juga ikut memperhatikan, Hansen segera menyerahkan gadget canggih tersebut kepada Vanno.
__ADS_1
Vanno menerimanya sambil mengernyitkan dahi. "Dimana lokasi ini?" tanya Vanno.
"Di pinggir kota Den" jawab Hansen. "Anak buah saya sudah berhasil mendekati lokasi tersebut" lanjutnya.
Vanno mengangguk dengan cepat dan segera mengalihkan pandangannya lagi pada gadget Hansen.
Ketika Vanno mengamati sesosok laki-laki yang keluar dari pintu samping bangunan tersebut, matanya membulat dengan sempurna.
"Inikan, " perkataan Vanno terpotong oleh suara dering ponselnya.
Vanno melirik ponselnya sebentar sebelum menggeser ikon hijau pada layar ponselnya.
"Hallo Mom,"
Vanno sedikit menjauhkan ponselnya ketika sang mommy mulai memberikan pertanyaan.
"Vanno!" teriak mommy lagi. "Kebiasaan ini anak, jangan di jauhkan ponselnya. Cepat jawab mommy!" lanjutnya.
Vanno menghela napas berat sebelum mendekatkan kembali ponselnya. "Retta belum ketemu Mom. Ini Vanno lagi menuju ke tempat Retta berada dengan Hansen. Mommy jangan khawatir, Retta akan baik-baik saja. Vanno nggak akan biarkan Andi menyentuh Retta meski seujung rambut" jawab Vanno.
"Andi?" tanya mommy. "Andi bawahan daddymu?" lanjut mommy setengah berteriak.
__ADS_1
"Iya,"
"K*r*ng *j*r, laki-laki tidak tau diri," kata mommy geram. "Jangan biarkan dia lolos Van, mommy dan daddy sudah berada di bandara sekarang. Tunggu kami sampai, biar mommy kuliti itu si Andi jika sampai berani macam-macam dengan menantu kesayangan mommy," kata mommy dengan penuh amarah.
"Iya, mommy dan daddy hati-hati. Vanno tutup dulu teleponnya"
"Oke, kamu juga harus hati-hati Van. Jaga Retta baik-baik. Mommy ingin punya cucu segera," kata mommy.
"Iya"
Tut tut tut. Vanno menutup telepon sambil menggerutu. Bisa-bisanya mommynya membicarakan masalah cucu dalam situasi seperti ini.
Setelah Vanno meletakkan ponselnya, dia kembali mengamati gadget Hansen yang sedari tadi di pegangnya.
"Apa ada penjelasan tentang ini, Han?" tanya Vanno kepada Hansen.
.
.
.
__ADS_1
.
.