
Ken benar-benar meminta Gitta untuk membantunya. Dia sangat butuh bantuan sang istri saat itu. Sementara Gitta, dia bingung harus bagaimana.
"Ini akan jadi pelajara awal untuk kita kedepannya." Kata Ken sambil mengerling ke arah Gitta.
Gitta yang bingung pun hanya bisa menunduk malu. Sementara Ken langsung bergerak untuk membuka penutup atas baju Gitta. Karena merasa malu, refleks Gitta langsung memeluk suaminya. Ken langsung tergelak melihat tingkah sang istri.
Seketika Gitta melonggarkan tubuhnya agar tidak menempel pada dada bidang suaminya. Dia merasa malu. Ken yang melihat istrinya tengah malu langsung tergelak kembali. Dia merasa sangat terhibur. Ken mendudukkan Gitta pada closet yang ada dalam kamar mandi tersebut.
Gitta menunduk sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi bagian depan tubuhnya. Dia masih merasa malu.
"I need your help to do this." Kata Ken dengan tatapan mata sayunya. "So help me, please."
Gitta yang merasa tidak tega pun langsung mengangguk mengiyakan.
"Aku akan berusaha menenangkannya. Semoga dia tidak tambah berontak." Jawab Gitta sambil tersenyum menatap Ken.
Gitta belajar mengerjakan sesuatu yang baru di sana. Awalnya, dia sangat bingung bagaimana melakukannya. Ken mengajarinya 'mengetik' tak hanya menggunakan jari, tapi dengan, ah sudahlah.
Gitta merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk. Dia langsung tertidur dengan lelap setelah pekerjaannya selesai. Ken yang juga sangat lelah langsung tertidur di sebelahnya.
Kembali ke Surabaya
Sang dokter masih diam mematung mendengar gombalan pasien di depannya. Dia memang sudah sering mendapati tatapan mata lapar oleh beberapa pasien yang pernah ditanganinya. Namun, yang terang-terangan seperti ini, ya memang baru kali ini.
Khanza masih terus memandangi dokter tersebut saat sang dokter memeriksa dan menanyakan beberapa keluhan pasca operasi. Namun, bukan Khanza namanya, jika membuang kesempatan berlama-lama bersama dengan sang dokter.
"Dok, boleh tanya?" Tanya Khanza.
"Silahkan." Jawab sang dokter sambil menuliskan laporan hasil pemeriksaanya pada lembar kesehatan Khanza.
"Apakah dokter mendengar suara kembang api?"
"Haahh?" Tanya dokter tersebut sambil menoleh menatap Khanza. Ini anak sepertinya masih mengigau. Siang-siang begini mana ada kembang api. Batin sang dokter. "Siang-siang cerah begini mana ada kembang api?" Lanjutnya.
"Ada Dok, suaranya keras sekali." Kata Khanza.
"Saya tidak mendengarnya. Memang dari mana arah suaranya?" Tanya dokter tersebut sambil menyerahkan hasil laporan kesehatan yang baru di isinya kepada suster yang ikut menemaninya.
__ADS_1
Seketika Khanza memegang tangan dokter tersebut dan menempelkannya pada dada di bawah lehernya.
"Di sini Dok, suaranya terdengar sangat keras sekali sejak dokter masuk ke ruangan ini." Kata Khanza dengan santainya.
Sang dokter pun langsung membulatkan mata dan mulutnya mendapati tingkah ajaib pasien di depannya kali ini. Dia buru-buru menarik tangannya dari dada Khanza dan berusaha mengatur wajahnya yang masih terlihat shock.
Sementara itu, suster yang tengah berdiri beberapa langkah di belakang dokter langsung terkikik geli. Dia merasa terhibur saat melihat sang dokter tengah digombali oleh pasiennya. Namun, tawanya langsung berhenti saat mendapati tatapan tajam dari sang dokter.
Sang dokter berdehem untuk mengatur raut wajahnya sebelum berbicara kepada Khanza.
"Jika sudah tidak ada keluhan lagi, saya permisi dulu. Masih banyak pasien yang harus saya kunjungi." Jawab sang dokter.
"Eh, boleh kenalan dulu dong. Dan sekalian minta nomor wa sama akun ig nya juga boleh dong Dok, biar kalau kangen mudah menghubunginya," kata Khanza sambil tersenyum dan bersiap-siap mengetikkan nomor sang dokter pada ponselnya.
"Maaf, saya tidak bisa melakukannya." Jawab sang dokter. "Lagipula, saya akan segera menikah." Lanjutnya.
Deg.
Hati Khanza terasa ambyar. Senyum yang sedari tadi terlukis di wajah cerianya langsung hilang menguap tak berbekas. Ditatapnya sang dokter sambil mengerucutkan bibirnya.
Ceklek.
"Al, benarkah ini kamu?" Kata Retta sambil tersenyum bahagia.
Sang dokter pun tak kalah terkejutnya. "Tante, Om? Iya, ini Al. Tante dan Om apa kabar?" Sapa Al sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Vanno dan Retta.
"Om dan tante baik, Al. Bagaimana kabar orang tua kamu?" Kali ini Vanno yang bertanya.
"Alhamdulillah papa dan mama juga baik Om." Jawab Al. "Om dan tante disini, berarti dia?" Tanya Al sambil menunjuk Khanza.
Retta tersenyum sebelum menjawabnya. "Iya, dia Khanza adiknya Ken." Jawab Retta.
Seketika Al menoleh menatap wajah Khanza dengan tatapan tidak percaya. Dia adiknya Ken? Kok bisa? Beda sekali dengan kakaknya yang irit ngomong, judes dan dingin itu. Ini adiknya bar-bar sekali. Batin Al.
Ya, dokter tersebut adalah Alfaro Nathan Pradika, sahabat Ken sejak sekolah dasar. Mereka terpisah saat sekolah menengah atas hingga kuliah. Ken yang melanjutkan kuliah di Singapura sedangkan Al melanjutkan kuliah di Jogjakarta. Meskipun begitu, mereka masih sering berkomunikasi melalui dunia maya.
Khanza yang sudah mendengar perkataan kedua orang tuanya dan Al masih merengut. Melihat putrinya tengah kesal, Retta pun berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Kok cemberut begini, kenapa sayang?" Tanya Retta sambil menyibakkan rambut Khanza yang menutupi pipinya. "Apa ada yang sakit?" Lanjutnya.
"Iya Mom, aku sakit hati. Ternyata dokter temannya kak Ken, tapi tidak mau memberi nomor teleponnya." Jawab Khanza.
Seketika Al menjadi salah tingkah. Dia merasa tidak enak dengan Retta dan Vanno. Dia khawatir jika mereka salah paham nantinya.
"Bu-bukan begitu. Saya kan sedang bertugas. Jadi tidak mungkin membicarakan masalah pribadi sekarang." Kata Al buru-buru.
Seketika wajah Khanza berbinar. Senyum langsung terbit di bibirnya. "Baiklah, nanti jika dokter sudah tidak bertugas, mampir kesini ya. Kita ngobrol masalah pribadi." Kata Khanza dengan penuh semangat.
"Memang ada urusan pribadi apa kamu dengan dokter Al?" Kali ini Vanno yang bertanya.
"Urusan menikung perasaan."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan oleng ya 🤭🤭
Maaf jika tidak sesuai ekspektasi untuk pelajaran 'mengetiknya', takut tidak lolos review
__ADS_1
Semoga masih berkenan membaca dan memberikan dukungan
Thank you 🤗