
Sore itu, mommy, daddy dan Khanza terlihat tergesa-gesa turun dari kendaraan yang sudah terparkir di depan rumah sakit tempat Gitta dirawat. Mereka berjalan cukup cepat agar segera sampai di ruang rawat inap Gitta.
Ken sebenarnya sudah memberitahukan kepada keluarganya jika Gitta dan calon anaknya baik-baik saja. Namun, sang mommy tidak akan cukup puas jika tidak melihat mereka secara langsung.
Ceklek.
Mommy langsung membuka pintu kamar perawatan Gitta tanpa mengetuk terlebih dahulu. Gitta yang sedang tiduran sambil mengusap-usap rambut Ken yang tengah terlelap di sampingnya pun segera menoleh. Mommy, daddy dan Khanza pun langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Bagaimana calon cucu mommy?" Tanya mommy Retta saat sudah berada di dekat Gitta.
"Eh, alhamdulillah kami baik Mom." Jawab Retta sambil meraih tangan kedua orang mertuanya untuk dikecup.
"Tidak ada masalah kan, tidak ada keluhan lain?" Tanya daddy Vanno yang berdiri di samping mommy.
"Sekarang sudah tidak ada Dad. Hanya kemarin itu sempat kram di perut." Jawab Gitta.
Khanza yang berdiri di sisi lain brankar Gitta langsung menjahili sang kakak yang tengah tertidur. Dia mengambil satu helai rambut Ken dan mencabutnya tiba-tiba. Ken yang merasa tidurnya terganggu pun segera mengerjap-ngerjapkan matanya. Ken langsung mengucek-ngucek matanya agar segera dapat melihat dengan jelas.
Saat matanya sudah terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah kedua orang tuanya.
"Uuhhmmm, mommy dan daddy sudah datang." Kata Ken sambil menggeliat.
"Kamu ini benar-benar Ken. Harusnya kamu yang jagain Gitta dan calon anak kamu. Lha ini kebalik malah Gitta yang jagain kamu." Kata mommy sambil mendelik tajam ke arah Ken.
"Aku ngantuk tadi Mom." Jawab Ken sambil beranjak dari tempatnya. Dia menoleh menatap sang adik yang ada di sampingnya. "Kamu yang jahili kakak barusan ya Za?" Tanya Ken sambil menatap tajam ke arah sang adik.
"Habisnya kak Ken tidur pulas banget. Nggak kasihan apa sama kak Gitta." Jawab Khanza.
Ken hanya bisa mendengus kesal mendapat jawaban dari sang adik. Dia segera turun dan merenggangkan ototnya. Dia tidur lumayan nyenyak hari itu. Ken menoleh menatap sang daddy.
"Dad, bisa bicara sebentar?" Tanya Ken.
Daddy Vanno yang sudah bisa menebak apa yang akan dibicarakan sang putra hanya bisa mengangguk mengiyakan. Mereka segera beranjak keluar kamar perawatan Gitta untuk pergi ke cafe tak jauh dari rumah sakit. Mereka perlu kopi untuk menemani obrolan mereka.
Sementara mommy dan Khanza menemani Gitta di dalam kamar perawatannya.
Mommy bercerita tentang kehamilannya dulu kepada Gitta. Mommy menceritakan tentang banyak hal yang merupakan pengalamannya dulu. Saat itu, tiba-tiba ponsel mommy bergetar. Ada sebuah pesan singkat dari daddy yang memberitahukan jika dirinya dan Ken akan pergi ke suatu tempat. Mommy dan Khanza diminta untuk menjaga Gitta sementara Ken pergi.
__ADS_1
Khanza juga minta izin keluar sebentar. Tenggorokannya terasa kering. Dia berniat hendak membeli minuman.
Khanza berjalan menyusuri lorong rumah sakit hari itu. Waktu senja menjelang Maghrib terlihat banyak keluarga pasien yang hilir mudik di sana. Khanza berjalan cukup cepat untuk menuju masjid rumah sakit yang terletak di sebelah kiri bangunan utama rumah sakit tersebut. Sepasang mata menangkap pergerakan Khanza dan mengawasinya hingga masuk ke area tempat wudhu wanita. Khanza melaksanakan sholat maghrib setelah mengambil air wudhu.
Setelah selesai melaksanakan sholat Maghrib, Khanza segera keluar dari masjid untuk menuju cafe yang berada di seberang rumah sakit agak ke sebelah kanan. Dia berjalan sambil membalas pesan beberapa grup sekolahnya dulu di Surabaya. Dia tidak memperhatikan jika ada seseorang yang juga sedang berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Khanza segera menyeberang jalan dan berjalan menuju cafe tersebut. Dia segera mencari tempat duduk. Kepalanya celingak celinguk mencari tempat duduk kosong disana. Beruntung ada sebuah meja kosong di dekat pilar. Khanza segera melangkahkan kakinya menuju meja tersebut. Setelahnya, dia segera memesan minuman kepada waiter yang ada di sana.
Sambil menunggu minuman pesanannya, Khanza memainkan ponselnya. Saat itu, ada seorang laki-laki tengah berdiri di dekat meja Khanza.
"Maaf, boleh ikut bergabung di sini? Semua meja penuh." Kata laki-laki itu sambil mengulas senyumannya.
Khanza mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan mendongak menatap laki-laki yang berada di depannya.
Deg.
Seketika ujung bibir Khanza tertarik. Dia tersenyum lebar.
"Kak Rangga? Benarkah ini kamu?" Teriak Khanza tertahan.
Laki-laki yang tengah berdiri di depan Khanza tersebut mengangguk. Ya, dia adalah Rangga Erghan. Rangga sebenarnya adalah tetangga Khanza di Surabaya. Dia seumuran dengan Ken. Dia sudah jarang bertemu dengan Khanza karena melanjutkan kuliah di Jakarta. Saat ini, dia juga sedang bertugas di rumah sakit itu.
"Kakak mau pesan apa?" Tanya Khanza lagi.
"Aku sudah pesan cappucino." Jawab Rangga.
"Kok bisa kak Rangga ada di sini?" Tanya Khanza antusias.
"Aku bertugas di rumah sakit ini Za. Sudah hampir dua bulan ini alu bertugas di sini." Jawab Rangga.
Khanza yang mendengarnya hanya bisa menganggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya, mereka terlihat mengobrol tentang banyak hal. Khanza dan Rangga tidak menyadari jika ada yang tengah mengawasi mereka.
Khanza segera pamit kepada Rangga sesaat setelah sang mommy meneleponnya. Dia juga sudah bertukar nomor telepon dengan Rangga. Setelahnya, dia segera pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Sementara di tempat lain, Ken dan daddy Vanno sedang berada di bengkel Axcell. Mereka berkumpul dengan Neo dan juga Arya. Mereka membahas rencana untuk memberikan pelajaran kepada Salsa.
Pukul sepuluh malam Ken dan daddy Vanno kembali ke rumah sakit. Mereka berjalan menuju kamar perawatan Gitta. Saat sudah sampai di dekat kamar Gitta, langkah kaki Ken dan daddynya terhenti. Mereka saling lirik sebelum menghembuskan nafas beratnya. Ya, mereka sudah di hadang oleh mommy Retta.
__ADS_1
"Dari mana saja kalian? Kenapa nggak sekalian saja nginap di tempat Axcell." Ketus mommy.
Ken dan daddy saling pandang. Mereka memang pergi sejak sore dan terlalu asik mengobrol hingga larut malam.
"Maaf Sayang, tadi kami ngobrolin banyak hal, jadi lupa waktu." Kata Vanno sambil tersenyum nyengir.
"Sekalian saja kamu lupa sama anak istri kamu Mas." Kata mommy.
"Lhah, gimana bisa lupa. Aku kan pergi sama Ken." Jawab Vanno pura-pura cengo. Ya, memang menghadapi mommy Retta yang sudah marah seperti itu harus dengan cara halus, begitu prinsip Vanno.
"Tuman kamu ini Mas." Dengus mommy Retta dengan kesal.
"Iya, iya tuman. Tuman selalu buat kangen." Jawab Vanno.
"Alah embuh Mas, embuuuoohhh. Sak karepmu wis. (Sudahlah Mas, terserah. Terserah kamu)" Kata Retta sambil kembali masuk ke dalam kamar Gitta.
Setelah mommy Retta menghilang di balik pintu, Ken segera menoleh menatap sang daddy.
"Kita sudah selamat apa belum Dad?" Tanya Ken.
"Sepertinya sudah. Tenang saja, daddy punya penawar yang bisa membuat mommy kamu jinak." Jawab Vanno sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Aku dengar Mas! Emoohh aku, emoohhh." Kata mommy Retta yang ternyata masih berada di dekat pintu.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Hanya kuat ngetik seribu kata kali ini 🙏
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya like, vote dan comment
Thank you.