Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Eksekusi Landasan 1


__ADS_3

Dengan tangan gemetar, Al menggeser foto-foto itu ke bawah. Hingga netra matanya menatap pesan di bagian bawah foto tersebut.


Landasan sudah siap untuk mendarat. Aku menunggumu di atas ranjang. ~ Tulis Khanza.


Al langsung membulatkan mata dan mulutnya saat membaca pesan Khanza. Dia berusaha menelan salivanya dengan susah payah. 


Ini landasan maksudnya apa? Apa dia memakai pakaian seperti itu untuk menggodaku? Atau mungkin dia sudah mempersiapkan malam ini untuk pecah balon? Batin Al. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Dia tidak mau berharap terlalu besar.


Al menoleh menatap wajah para laki-laki yang tengah bersendagurau di pos ronda tersebut. Dia terlihat gelisah. Al memberanikan diri untuk segera pamit. Dia beralasan ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Pekerjaan menggarap sang istri. Huuusssttt ini hanya reader lho yang tahu, jangan sampai bapak-bapak itu tahu dan ikutan pulang ke rumah masing-masing dan ikut menggarap sang istri. 🤫🤭


Al melangkahkan kakinya dengan cepat menuju rumah. Jantungnya bergemuruh sangat cepat mengiringi langkah kakinya.


Beberapa saat kemudian, Al sudah sampai di teras depan rumahnya. Dia segera membuka kunci pintu rumahnya. Al melihat sekeliling dan memastikan semua pintu dan jendela sudah dalam posisi terkunci. Setelah mematikan lampu, Al segera berjalan menuju kamar tidurnya.


Al melirik jam dinding yang tergantung pada dinding di dekat tangga. Pukul 21.40. Al melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar tidurnya.


Al menarik nafas dan membuangnya dengan cepat. Dia melakukannya berkali-kali untuk menenangkan jantungnya yang mulai berdetak tak berirama. 


Setelah cukup tenang, Al segera mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Al mencoba untuk menggeser kenop pintu kamarnya. Klik. Pintu tidak terkunci dan terbuka. 


Al melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Remang-remang. Itu yang dilihat Al. Wangi dari aromaterapi juga langsung menyusup ke dalam indera penciumannya. Seketika membuat tubuhnya juga semakin menegang.


Al mendorong pintu tersebut agar bisa terbuka lebih lebar dan dirinya bisa masuk ke dalam kamar. Al mengedarkan pandangannya ke atas tempat tidur, sofa dan bagian-bagian kamar yang lain. Namun, dia tidak menemukan sang istri.


Demgan berjalan pelan-pelan, Al menuju tempat tidurnya. Namun, tiba-tiba dia merasakan tubuhnya ditabrak.


Grep.


Seseorang menubruk dan memeluknya dari belakang. Dua buah tangan melingkar pada perutnya dan memeluknya dengan sangat erat. Al juga dapat merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh pungunggunya. Bahkan, Al bisa merasakan benda-benda kecil menonjol pada punggungnya. 

__ADS_1


Seketika tubuh Al langsung kaku. Kedua tangannya bahkan seperti mati rasa sehingga sulit bergerak. Otaknya seakan lumpuh hanya dengan membayangkan pakaian yang dipakai sesorang yang tengah memeluknya sehingga dia bisa merasakan benda-benda kenyal nan menonjol itu dengan sangat terasa di punggungnya.


"Kha-Khanza? Kau kah itu?" Tanya Al. Entah dia gugup atau apa. Sudah pasti istrinya yang saat itu tengah memeluknya. Memangnya siapa lagi yang akan berada di dalam kamarnya malam-malam begini. Masa iya bi Ros.


Khanza tidak menjawab pertanyaan Al dan tidak pula melepaskan pelukannya. Yang dia lakukan malah semakin mengeratkan pelukannya dan menggerak-gerakkan tubuhnya, hingga benda-benda kenyal itu bergesekan dengan punggung Al.


Bagaimana perasaan Al? Jangan ditanya lagi. Sekujur tubuhnya panas dingin. Otaknya seolah lumpuh gara-gara merasakan benda kecil menonjol yang nemplok di punggungnya. Apalagi si empunya dengan semangat empat limanya terus menggerak-gerakkan tubuhnya hingga benda-benda itu semakin bergesekan dengan punggungnya.


Darah di tubuh Al seolah mengalir pada satu pusat. Seluruh tubuhnya terasa berpusat pada satu titik di bawah perutnya. Dengan gerakan cepat, Al segera melepaskan dekapan tangan Khanza. Secepat kilat dia segera berbalik untuk menatap wajah sang istri.


Duaarrrrr


Jantung Al seperti mau meledak. Dia begitu kaget melihat penampilan sang istri yang sangat menggoda. Al sampai terduduk kaget di tepi tempat tidur sambil membulatkan mata dan mulutnya saat melihat pemandangan di depan matanya. Baju tidur merah yang sangat transparan dengan tali tipis yang menyangganya. Ditambah lagi bagian bawah yang sangat menggoda. Al bersusah payah mempertahankan kesadarannya. Dia menelan salivanya dengan bersusah payah. Al bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh sang istri meskipun hanya ada lampu remang-remang.


"Ka-kamu menyiapkan ini semua, berarti sudah….?" Al tidak menyelesaikan pertanyaannya. Namun, Khanza sudah dapat memahami maksud dari pertanyaan Al. 


Khanza langsung mengangguk sambil tersenyum manis. Dengan gerakan cepat dia langsung melompat dan menindih tubuh sang suami. Khanza langsung menyerang Al. Dibungkamnya bibir sang suami dengan bibirnya dengan rakus. Kedua tangannya segera melucuti pakaian Al. 


Khanza yang sudah nangkring pada tubuh sang suami bahkan tidak menyadari 'gada' sang suami sudah on fire siap tempur. Dia bahkan sudah sangat siap mendarat pada landasan.


Hhmmpphhh eeuugghhhh eemmpphhh zzaaaaammpphhh eeueegghhhh


Al terus berusaha mendorong tubuh Khanza karena dirinya merasakan sesak di bagian bawahnya. 'Gadanya' masih terbungkus rapi oleh sarang dan celana pendeknya. Ditambah lagi tekanan tubuh Khanza mengenai gesper ikat pinggangnya. Bukanya merasa nikmat yang dirasakan Al, tapi kepalanya terasa nyut-nyutan merasakan sakit.


Al mendorong bahu Khanza agar melepaskan pagutannya. Keduanya langsung ngos-ngosan saat bibir mereka saling lepas. Khanza sedikit merengut kesal karena sang suami menghentikan aktivitasnya.


Al yang menyadari tingkah sang istri yang tengah kesal langsung menggulingkan tubuh Khanza di atas tempat tidur. Kali ini, dirinyalah yang tengah menindih sang istri.


"Aku tidak tahu kamu menyiapkan ini semua malam ini. Aku sungguh terkejut dan bahagia. Sudah cukup kamu bertingkah tadi. Sekarang, giliran aku yang memegang kendali." Kata Al dengan tatapan sayunya. 

__ADS_1


Al segera melepas ikat pinggangnya. Namun, tidak dengan celana pendeknya. Dia masih membiarkan tubuhnya memakai pakaian komplit. Dia ingin Khanza yang meminta dan merintih untuk eksekusi akhirnya nanti. Dia ingin membalas sang istri yang sudah membuatnya panas dingin sejak di pos ronda tadi.


Secepat kilat Al langsung membungkam mulut Khanza dengan bibirnya. Dia mulai me*lu*mat dan me*nye*cap bibir ranum sang istri. Al sedikit menggigit bibir bawah Khanza agar terbuka. Begitu terbuka, Al tidak tinggal diam. Dia langsung menjelajah dan saling merasakan. Pertukaran saliva pun tak bisa di hindari lagi.


Kedua tangan Al bahkan dengan ahlinya menarik tali yang menyangga baju tidur bagian atas sang istri. Sret. Sekali sentakan dua benda kenyal itu langsung bergoyang karena tidak ada yang menyangga lagi. Secepat kilat Al langsung meraihnya dan memainkan benda kecil yang sangat menggoda di ujungnya itu.


Aakkkhhhh eemmpphhh Kkaaaakkhhh aaahhhh.


Khanza seketika meracau tidak jelas saat Al mulai memainkan benda di kedua tangannya itu. Khanza hanya bisa melenguh dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Melihat Khanza yang sudah meracau tidak jelas, Al segera menarik tali yang berada pada kedua pinggul sang istri. Sret sret. Dan, terlepaslah sudah pelindung bagian bawah Khanza.


Al segera bangkit dari tubuh Khanza dan mulai bekerja keras lagi di bagian bawah.


Aaakkkkhhhh Kaaakkkk, biyuuuhhhh linuuuuu.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Mohon maaf jika tidak sesuai ekspektasi

__ADS_1


Jika terlalu 'horor' nanti ada yg laporkan lagi. 🙏


Masih ada lanjutannya. Tapi othor msh ada deadline, jadi nyicil dulu ya ini. Jangan bilang sedikit ya, seribu lebih ini, nanti othor sentil ginjalnya biar ginjal-ginjal 🤗


__ADS_2