Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Penjelasan


__ADS_3

"Hallo Vit. Ini aku Gitta." Sapa Gitta setelah panggilan teleponnya terhubung.


"Git, kamu dari mana saja sih. Aku sudah berusaha menghubungimu dari semalam tapi ponselmu nggak aktif terus." Kata Vita.


"Maaf, aku lupa menyalakan ponselku. Aku di Surabaya sekarang." Jawab Gitta.


"Apa?! Kamu si Surabaya?"


"Iya, aku ada di Surabaya. Hari ini wisuda sekolahnya Khanza. Jadi kami berkumpul semua disini." Jawab Gitta. "Ehm, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Gitta.


"Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan, Git. Aku akan menceritakan semuanya." Jawab Vita.


Vita pun mulai menceritakan semua kejadian yang terjadi di rumahnya tadi malam hingga berujung pada pamannya yang menelepon om Andreas, papanya Al, dan memutuskan perjodohan antara Al dan Vita.


Flashback on


Hari itu, kebetulan Vita pulang ke rumahnya. Sejak pagi, Gilang sudah berpamitan kepada Vita untuk pergi ke Bogor. Ada acara di rumah keluarga kakaknya. Jadi, Vita memutuskan kembali ke rumahnya sendiri. Saat sampai di rumah, ternyata paman, bibi dan anaknya yang hampir seusianya ternyata juga tengah berada di sana.


Entah mengapa sejak dulu Vita tidak merasa nyaman dengan suami dan anak bibinya itu. Pandangan mata mereka seolah tidak menyukainya. Namun, Vita selalu menepis perasaan itu. Dia selalu berusaha untuk menghormati keluarga bibinya.


Saat makan malam pun tiba. Vita yang tengah membantu ibunya menyiapkan makan malam pun mendengar suara ribut di luar. Vita dan ibunya terlihat saling pandang. Ada suara ribut apa itu? Batin keduanya. Vita dan ibunya memutuskan untuk keluar dari ruang makan dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Vita dan ibunya terkejut saat melihat seorang perempuan muda tengah duduk di kursi ruang tamu rumah mereka. Dan, sepertinya perempuan muda tersebut tengah hamil. Wajahnya juga sedikit sembab.


"Kamu siapa?" Tanya ibunya Vita.


"Saya Lala, pacarnya Alfaro. Saat ini saya tengah mengandung anaknya Alfaro." Jawab perempuan itu sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Mungkin usia kandungannya sekitar lima bulan.


Seketika Vita dan ibunya terkejut dengan berita yang baru saja mereka dengar. Vita, meskipun sedikit merasa bahagia karena merasa ada jalan untuk membatalkan perjodohan ini, namun tetap saja dia tidak merasa tenang. Vita yang sedikit mengetahui sifat dan kepribadian Al dari Gitta, merasa tidak terlalu percaya dengan berita yang baru saja di dengarnya.


Paman Vita yang saat itu berada di sana langsung marah. Dia segera mencerca perempuan itu dengan berbagai macam pertanyaan. Hingga akhirnya perempuan itu memberikan bukti foto jika dia dan Al pernah melakukan hubungan suami istri di sebuah hotel. Foto yang ditunjukkan memang agak gelap, tapi wajah yang ada pada foto tersebut sangat mirip sekali dengan Al.


Setelah mendapatkan foto yang ditunjukkan oleh perempuan tadi, paman Vita langsung mengusir perempuan itu. Berbekal foto yang diperoleh, paman Vita segera menghubungi papa Al dan segera memberitahu masalah ini. Paman Vita juga memutuskan perjodohan Vita dan Al secara sepihak. Hal itulah yang menyebabkan kondisi papa Al langsung ngedrop.


Flashback off


Setelah mendengarkan semua penjelasan Vita, Gitta langsung menutup teleponnya. Vita juga mengirimkan bukti foto yang ditunjukkan oleh perempuan itu. Setelahnya, Gitta segera menceritakan semua yang telah diceritakan oleh Vita kepada Ken.


Ken melihat foto yang dikirimkan oleh Vita. Dia mengernyitkan dahinya saat mengamati gambar itu.


"Ini bukan Al. Wajahnya memang hampir mirip Al, tapi aku yakin ini bukan dia." Kata Ken. "Aku akan meminta om Arya untuk menyelidiki masalah ini." Kata Ken sambil meraih kembali ponselnya.


"Om Arya sahabatnya daddy itu Mas?" Tanya Gitta.


"Hhhmmm"


Belum selesai Ken menghubungi om Arya, terdengar suara Khanza yang memanggil-manggil namanya memberitahukan jika papanya Al sudah siuman. Ken dan Gitta segera berjalan menuju ruang perawatan om Andreas. Disana sudah ada Al, mamanya dan juga seluruh anggota keluarga Ken.


Wajah om Andreas terlihat sangat lelah. Mungkin karena beliau terlalu memikirkan permasalahan yang menimpa putra semata wayangnya itu. Al berada di sebelah kanan om Andreas, sementara mamanya berada di sebelah kirinya.


Om Andreas terlihat memindai wajah-wajah yang berada di sekelilingnya. Senyum terbit pada bibirnya saat melihat wajah daddy.

__ADS_1


"Ah, pak Vanno anda ada di sini?" Kata om Andreas dengan suara seraknya.


"Iya Pak. Kebetulan kami tadi sedang berada di dekat rumah sakit ini, sekalian mampir." Jawab daddy. "Bagaimana kondisinya Pak, sudah baikan?" Tanya daddy.


"Alhamdulillah sudah mendingan Pak Vanno. Sesaknya juga sudah berkurang, malah sudah tidak terasa sama sekali." Jawab om Andreas sambil mengulas senyumannya.


Semua orang yang ada di dalam ruang rawat inap tersebut langsung mengucap syukur.


Om Andreas kembali mengarahkan matanya pada Ken dan Gitta yang tengah berdiri tak jauh dari daddy Vanno.


"Ah, Nak Ken apa kabar?" Tanya om Andreas.


"Alhamdulillah baik Om. Lama nggak ketemu nih. Om cepet sehat dong, biar bisa main catur lagi." Jawab Ken sambil tersenyum


"Hahahaha. Iya, sudah lama ya kita tidak main catur bareng. Nanti bisa di agendakan jika Om sudah kembali ke Jakarta." Jawab om Andreas masih dengan suara seraknya. Semua yang ada di sana tampak lega mendengar semangat om Andreas.


Mata om Andreas menatap Gitta yang tengah berdiri menempel pada lengan Ken. Om Andreas memang belum tahu jika Ken sudah menikah.


"Siapa dia Ken? Pacar kamu?" Tanya om Andreas sambil melihat ke arah Gitta.


Ken tersenyum sebentar sebelum menjawab pertanyaan papanya Al.


"Dia Gitta Om, istri saya." Jawab Ken.


Gitta tidak berani mendekat. Dia hanya bisa menyapa om Andreas sambil mengangguk dan tersenyum.


"Waahh, kamu sudah menikah Ken. Selamat pak Vanno, anda sudah mempunyai menantu. Semoga sebentar lagi segera mempunyai cucu." Kata om Andreas sambil menatap wajah daddy Vanno.


"Terima kasih pak Andreas. Semoga Bapak juga segera menyusul." Kata daddy.


"Pa," suara mama Al terdengar sangat khawatir. Om Andreas yang mendengar suara istrinya langsung menoleh. Dia sedikit memaksakan senyumannya untuk menenangkan hati sang istri.


"Papa nggak apa-apa Ma, jangan khawatir." Kata om Andreas berusaha kuat. Namun, semua yang ada di sana tahu jika om Andreas berusaha untuk menahan rasa sakitnya.


"Al, papa ingin tahu kebenarannya. Jika memang kamu yang melakukannya, kamu harus bertanggung jawab." Kata om Andreas sambil menatap wajah sang putra semata wayangnya.


Al menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Pa, aku bersumpah jika aku tidak pernah melakukannya. Aku juga tidak kenal perempuan itu, Pa." Jawab Al dengan penuh keyakinan.


Om Andreas yang melihat keyakinan di wajah putra semata wayangnya menjadi yakin jika putranya itu tidak melakukan hal yang di tuduhkan oleh paman Vita. Namun, dia tidak semudah itu percaya. Dia harus benar-benar membuktikannya sendiri.


Ken yang melihat masih ada keraguan pada wajah om Andreas segera bersuara.


"Om tenang saja, saya sudah meminta om Arya, temannya daddy untuk menyelidiki masalah ini. Om jangan terlalu banyak pikiran. Fokus saja pada pemulihan kesehatan Om." Kata Ken.


Om Andreas yang tahu siapa Ken dan Vanno hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih nak Ken, pak Vanno. Maaf kami telah merepotkan keluarga anda." Kata om Andreas.


"Pak Andreas ngomong apa, kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Bapak dan keluarga sudah kami anggap seperti keluarga kami sendiri." Jawab daddy Vanno.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Pak Vanno."


"Sama-sama Pak Andreas. Kami berharap bapak segera pulih dan bisa kembali lagi ke rumah." Kata Vanno.


"Minta doanya Pak, Bu, dan semuanya." Kata om Andreas.


Setelah cukup lama berada di sana, Ken dan keluarganya minta ijin untuk pamit. Mereka langsung kembali ke rumah melupakan rencana makan siang mereka. Hingga menjelang sore mereka tiba di rumah papa Evan.


Malam itu, Gitta dan Ken bersiap-siap untuk pergi ke Malang. Sebenarnya, Ken tidak harus berangkat kesana untuk mengecheck proyek pembangunan villa sendiri. Namun, dia ingin mengajak istrinya berlibur. Kerja sambil liburan, mungkin itu yang ada di pikiran Ken.


Gitta kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas jus jeruk dan potongan buah melon. Dia meletakkan semuanya di atas nakas di samping tempat tidurnya sambil menunggu sang suami membersihkan diri. Gitta duduk bersila di tengah tempat tidur sambil menonton drama korea kesukaannya.


Ceklek.


Ken keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan boxer dan kaos tipisnya. Dia berjalan menuju tempat tidur dan merangkak mendekati sang istri. Ken langsung menempel pada tubuh sang istri dari belakang dan mulai mendekatkan wajahnya pada tengkuk leher Gitta yang terekspose sempurna karena Gitta menggelung rambutnya ke atas.


Ken langsung mulai menjalankan aksinya. Dia menyusuri tengkuk dan leher Gitta sambil sesekali memberikan kecupan kecil di sana. Gitta, jangan ditanya lagi. Seluruh tubuhnya mulai meremang akibat perlakuan Ken.


"Mas ih hentikan. Tuman kamu Mas. Aku masih nonton drakor ini." Kata Gitta sambil berusaha menjauhkan wajah Ken dari lehernya. 


Grep.


Dengan gerakan yang sangat cepat Ken berhasil memindahkan tubuh ramping Gitta hingga kini berada pada pangkuannya.


"Biarin, nonton begini saja." Kata Ken sambil masih memangku tubuh Gitta.


"Aduh Mas turunin ih. Yang ada juga mereka nanti yang nonton kita Mas, bukan kita yang menonton mereka." Gerutu Gitta.


Akhirnya, mau tidak mau Ken segera menurunkan tubuh Gitta dari pangkuannya dan membiarkan sang istri untuk menonton drakor kesayangannya. Meskipun, dia sudah sangat nyut-nyutan menahan keinginannya.




Mungkin begitu ekspresi Ken saat pusing kali ya 🤔




Gitta mah pasrah ae


.


.


.


.


.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Masih mengetik ya, mohon bersabar 🤗


__ADS_2