Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Melaksanakan Tanggung Jawab


__ADS_3

Hujan lumayan deras mengiringi kepulangan Ken dan Gitta sampai di rumah sore hari itu. Mereka mampir belanja kebutuhan rumah tangga sebentar di minimarket tadi sebelum pulang. Mereka segera membersihkan diri. Gitta segera memasak untuk makan malam setelahnya, sementara Ken segera mencuci mobil akibat kehujanan.


Malam itu, setelah makan malam Gitta menyempatkan diri membuka sosmednya dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Hal yang sama juga dilakukan Ken. Ken juga sempat menghubungi Ega, yang kecelakaan beberapa hari yang lalu. Beruntung dia sudah diperbolehkan pulang.


Ken tidur bersandar pada bahu Gitta sambil masih memainkan ponselnya. Sementara Gitta juga tengah memainkan ponselnya sambil mengusap-usap rambut Ken.


"Sayang, aku kok jadi ngantuk ya." Kata Ken.


Gitta tersenyum bahagian. Dia berpikir jika dia akan selamat malam ini.


"Istirahat yuk. Aku juga sudah capek, rasanya pegel-pegel ini badanku." Kata Gitta sambil menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.


Ken bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Gitta. Netra matanya masih menatap Gitta dengan tatapan menelisik. Gitta yang menyadari tatapan mata Ken hanya menghembuskan napas dengan kasar.


Hhhhh. Sepertinya dia tidak akan lupa dengan rencananya tadi siang. Batin Gitta. Dan, benar saja. Ken segera beranjak berdiri sambil menarik tangan Gitta dengan lembut.


"Ayo, kita selesaikan tugas yang tadi." Kata Ken.


Gitta pura-pura tidak tahu maksud perkataan Ken. "Hhaaahh, tugas apa Mas? Aku tidak ada tugas kuliah." Jawab Gitta tapi masih mengikuti langkah sang suami menuju kamarnya.


Ceklek.


Ken membuka pintu kamar tidur mereka dan membawa Gitta masuk.


"Bukan tugas kuliah, tapi tugas untuk mengetik." Kata Ken sambil menutup pintu kamar. 


"Mengetik apa?" Tanya Gitta yang masih berdiri di belakang Ken.


"Mengetik ini." Kata Ken sambil langsung menyerang bibir Gitta sambil membawanya menuju ring pergelutan.


Tangannya sudah langsung sigap melepas kancing baju tidur Gitta dan membuangnya ke sembarang arah. Bibirnya Kan tak melewatkan celah sedikitpun pada wajah Gitta.


Gitta semakin meracau tidak karuan. Sedangkan Ken tak melepaskan apa yang dilakukan bibirnya di sana.


Sebelum Gitta memprotes kegiatan sang suami, terdengar suara ponsel bergetar. Suara ponsel Gitta bergetar saat pergelutan mereka baru dimulai.


"Mas berhenti dulu. Ada telepon ih." Kata Gitta sambil menahan wajah suaminya. Namun, bukannya berhenti, tapi Ken malah semakin menjadi.


Gitta mendengus kesal karena tidak bisa menghentikan kegiatan suaminya. Dia meraih ponselnya dan segera melihat ID pemanggil.


"Mas, berhenti sebentar ih. Mama telepon." Kata Gitta.


Ken mendongakkan kepalanya sebentar, tapi kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya. Gitta benar-benar geram dengan tingkah sang suami.

__ADS_1


"Kamu itu mau mengempeskan apa menggemboskan balon tiup sih Mas." Gerutu Gitta sebelum menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Hallo Ma." Sapa Gitta setelah panggilan telepon tersambung.


"Hallo Git, Ken dimana? Khanza kecelakaan. Hiks hiks hiks."


Deg.


"Apa?!" 


Gitta benar-benar terkejut hingga langsung duduk. Kepala Ken kesakitan karena mendadak Gitta duduk sehingga kepalanya membentur dadu Gitta. Mereka sama-sama terduduk dengan kesakitan pada kepala dan dagunya.


"Innalillahi, bagaimana keadaannya Ma?" Lanjut Gitta.


Ken yang terkejut langsung meminta ponsel Gitta. Kali ini mama menjelaskannya kepada Ken.


"Iya Ma. Kami ke rumah mama sekarang." Jawab Ken sambil menutup ponselnya sebelum menatap wajah cemas sang istri. "Kita ke rumah mama sekarang." Kata Ken sambil beranjak berdiri dari tempat tidur.


Gitta yang tengah terkejut dan khawatir segera beranjak mengikuti sang suami. Dia ikut mengekori sang suami hingga mencapai pintu kamar. Seketika Ken menoleh dan menatap sang istri.


"Kamu mau pamer balon tiup ke tetangga hah?" Tanya Ken.


Seketika Gitta menunduk dan menatap tubuh atasnya yang masih polos. 


"Assalamualaikum, Mom, Dad?" Panggil Ken saat mulai memasuki rumah mommy.


"Waalaikumsalam." Jawab daddy yang berada di ruang tengah sambil menelepon seseorang. 


"Bagaimana keadaan Khanza Dad? Mommy dimana?" Tanya Ken begitu melihat sang daddy sudah menutup sambungan teleponnya.


"Alhamdulillah tidak begitu parah, tapi ada retakan di tangan kirinya, dan harus segera di operasi." Jawab daddy. "Git, naiklah ke atas. Mommymu ada di atas." Kata Daddy yang segera di angguki oleh Gitta.


"Ken, daddy harus ke Surabaya bersama mommy kamu. Daddy minta tolong kamu gantikan daddy ke Bandung besok siang. Ada undangan untuk mengisi acara bagi para pengusaha muda di sana. Datanglah bersama Gitta." Kata daddy. Ken segera mengangguk mengiyakan.


Beberapa saat kemudian, daddy dan mommy segera berangkat ke bandara untuk menuju Surabaya. Ken dan Gitta pun kembali ke rumah mereka dan melupakan aktivitas mereka sementara.


Keesokan paginya, Ken dan Gitta tengah bersiap-siap untuk pergi ke Bandung.


Mereka berangkat setelah subuh agar tidak terkena macet yang parah. Mereka sempat berhenti untuk sarapan sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.


"Acaranya jam berapa Mas?" Tanya Gitta saat Kendaraan sudah memasuki wilayah Bandung.


"Jam satu siang ini." Jawab Ken.

__ADS_1


Gitta melirik jam di dashboard mobil yang menunjukkan pukul 09.20.


"Acaranya formal Mas?" Tanya Gitta lagi.


"Semi formal sih sepertinya." Jawab Ken.


Gitta menganggukkan kepalanya. "Nanti jadi mampir ke De'Buttons ya Mas. Kita nggak siap baju kan tadi." Jawab Gitta.


Ken langsung mengarahkan mobilnya menuju De'Buttons, cabang butik mommy yang berada di Bandung. Sekitar dua puluh lima menit kemudian, Ken dan Gitta sudah sampai di butik. Mereka langsung disambut oleh tante Karina, sahabat mommy yang mengelola butik tersebut.


"MasyaAllah Ken, tante benar-benar nggak nyangka jika Gitta akan jadi istri kamu." Kata tante Karin sambil memeluk Gitta. Ya, tante Karin memang sudah mengenal Gitta. Mereka sudah beberapa kali bertemu dan bekerja sama.


"Jangankan tante, Ken sendiri juga tidak menyangka." Jawab Ken. Sementara Gitta masih tersenyum mendengarkan mereka berbicara.


Setelahnya, tante Karin mengajak Ken dan Gitta untuk memilih baju yang akan dipakai untuk acara nanti siang. Gitta mencoba beberapa baju yang menurutnya bagus. Namun, Ken selalu saja menolaknya. Ada saja alasan yang diberikan. Terlalu seksi lah, terlalu pendek lah, terlalu terbuka lah, terlalu mencolok lah. Hingga membuat Gitta lumayan kesal. Dia langsung memanyunkan bibirnya sambil membawa baju terakhir yang dibawa karyawan butik.


"Jika mas Ken tidak suka yang ini, lebih baik aku pakai mukena saja atau tidak ikut sekalian." Kata Gitta sambil beranjak menuju kamar ganti. 


Ken masih mengekori Gitta di belakangnya. Karena dia selalu ikut masuk ke dalam kamar ganti Gitta. 🙄


"Ya sudah, aku akan pakai baju koko dan sarung kalau begitu." Jawab Ken.


Gitta berhenti melangkah dan memandang wajah suaminya. 


"Mau ikut khitan masal?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih ada yang nungguin nggak?


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote.


Thank you 🤗

__ADS_1


__ADS_2