
Malam itu, seusai makan malam mommy dan daddy akan pergi ke rumah almarhumah bibi mommy. Besok pagi akan diadakan acara tahlilan untuk seratus hari meninggalnya bibi. Retta membantu mommy menyiapkan pakaian yang akan di bawanya. Rencananya, mommy dan daddy akan menginap selama dua hari di sana. Setelahnya, daddy akan langsung berangkat ke Singapura untuk urusan pekerjaan. Sementara mommy akan kembali lagi pulang.
Setelah selesai, mommy dan daddy segera berangkat menuju rumah almarhumah bibi. Rumahnya almarhumah bibi tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu jam perjalanan dari rumah.
Retta dan Vanno segera masuk ke dalam rumah begitu kendaraan daddy sudah keluar dari halaman rumah. Retta ke dapur untuk menemui Bi mar.
"Bi, apa masih punya tempe?" tanya Retta begitu menemukan bi Mar sedang mencuci piring.
"Ada non, sepertinya masih ada satu bungkus di dalam kulkas. Mau bibi gorengkan?" tanya bi Mar.
"Tidak usah Bi, biar aku masak sendiri saja," jawab Retta.
"Mau buat apa non, saya bantu menyiapkan bumbunya," kata bi Mar.
"Tidak usah Bi. Saya mau buat tempe mendoan kok, bahannya juga mudah. Bibi lanjutkan pekerjaan bibi saja," kata Retta.
Mendengar jawaban Retta, bi Mar mengangguk sambil tersenyum. Sementara itu, Retta segera menyiapkan semua bumbu yang diperlukan. Dia mulai mengiris tempe sesuai keinginannya. Beberapa saat kemudian, dia sudah mulai menggoreng tempe tersebut.
__ADS_1
Sementara itu, Vanno yang sudah menunggu Retta di dalam kamar menggerutu karena Retta tidak segera datang. Dia memutuskan untuk mencari Retta di dapur. Dan benar saja, Vanno mendapati Retta sedang menggoreng tempe sambil ngobrol bersama bi Mar.
"Kamu sedang apa sih Ta, lama banget," kata Vanno begitu sudah berada di samping Retta.
Retta yang kaget pun langsung memukul bahu Vanno dengan tangannya. "Apaan sih Mas, ngagetin saja" gerutu Retta. "Ini lagi goreng tempe, mas Vanno mau?" tanya Retta.
"Boleh deh. Kasih sambal sedikit saja ya," jawab Vanno. Dia kemudian berjalan menuju meja makan dan memutuskan menunggu Retta di sana sambil memainkan gadgetnya. Setelah selesai, Retta langsung membawa tempe mendoan hasil gorengannya ke meja makan dan meletakkannya di depan Vanno. Retta juga mengajak bi Mar untuk sama-sama menikmati tempe mendoan, namun segera ditolak oleh bi Mar. Bi Mar merasa sudah ngantuk, jadi bi Mar segera pamit untuk beristirahat.
Setelah bi Mar pergi, Retta segera mengambil tempe mendoan dan mencocolkannya pada sambal yang ada di depannya. Melihat itu Vanno langsung menahan tangan Retta yang hendak menyuapkannya ke dalam mulut.
"Jangan dimakan," kata Vanno sambil menahan tangan Retta.
"Itu pedas sekali Ta, cabenya banyak sampai merah-merah seperti itu. Kamu ingin anak kita kepanasan?" tanya Vanno.
Retta memikirkan perkataan Vanno sebentar. Dia sempat lupa jika saat ini dia tengah mengandung. Retta lalu mengulurkan tangannya pada mulut Vanno.
"Kalau begitu mas Vanno yang makan ini ya," pinta Retta dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Melihat Retta sangat berharap dia memakan tempe tersebut, Vanno menelan ludahnya dengan kasar. Bagaimana mungkin dia akan memakan tempe dengan sambal sepedas itu, batinnya. Membayangkannya saja dia langsung merasa mulas di perutnya. Namun, dia juga tidak ingin Retta memakannya.
Vanno mendekatkan mulutnya pada tangan Retta yang masih memegang tempe dengan sambal yang sangat banyak itu. Dia membuka mulutnya dengan lebar agar tempe tersebut bisa masuk ke dalam mulutnya.
Nyassshh. Rasa pedas sambal langsung menyambar lidahnya. Vanno benar-benar merasakan lidahnya seperti terbakar. Keringat dingin langsung keluar. Vanno bahkan tidak mengunyah tempe tersebut hingga halus. Dia langsung menelannya dan kemudian meminum air putih yang sudah disiapkan Retta.
Bukannya mereda, namun rasa panas dan pedas malah menyebar ke seluruh mulutnya. Air matanya bahkan sudah mulai keluar. Retta yang merasa kasihan melihat Vanno langsung beranjak untuk mengambilkan susu agar dapat meredakan rasa pedas yang dialami Vanno
.
.
.
.
.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungannya ya 🤗🤗