
Beberapa saat kemudian, Ken dan Gitta sudah sampai di rumah. Ken segera memarkirkan mobilnya di garasi. Setelahnya, mereka segera masuk ke dalam rumah utama.
Gitta mengedarkan pandangannya mencari keberadaan baby Z. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan sang putra.
"Kemana Zee, Mas?" Tanya Gitta sambil menoleh menatap Ken. "Rumah kok sepi, kemana semua orang?" Lanjut Gitta.
Ken segera mengedarkan pandangannya, namun dia juga tidak menemukan siapapun di sana.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Coba aku hubungi mommy." Kata Ken sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Namun, belum juga Ken mengetikkan nomor ponsel sang mommy, terdengar suara asisten rumah tangga mereka.
"Sudah pulang, Den?" Tanya mbak Min, asisten rumah tangga.
Ken dan Gitta menoleh menatap mbak Min yang sudah ada di dekat mereka.
"Ah, iya Mbak. Mommy dan Zee kemana ya Mbak?" Kali ini Gitta yang bertanya.
"Oh, nyonya dan tuan pergi ke mall bersama tuan kecil Non, tadi tuan memaksa nyonya mengajak jalan-jalan ke mall." Jawab mbak Min.
Gitta dan Ken saling pandang. Mereka hanya bisa menghembuskan napas berat setelah mendengar perkataan mbak Min.
"Coba aku telepon mommy deh. Jika tidak di telepon, bisa dipastikan mereka akan menginap lagi di hotel seperti waktu itu." Kata Ken sambil menekan beberapa nomor pada ponselnya.
Tuuut tuuut tuuuutt.
Pada dering ketiga panggilan tersebut tersambung. Namun, kali ini bukan mommy yang mengangkatnya, melainkan sang daddy.
"Hallo Ken. Ada apa?" Tanya daddy di seberang sana.
"Lho, kok daddy yang angkat teleponnya. Mommy kemana?" Tanya Ken.
"Itu mommy kamu sedang gantiin baju Zee."
"Lalu, sekarang daddy dimana?"
"Oh, ini baru belanja baju couple sama Zee." Jawab daddy.
"Astaga, Dad. Itu baju couple punya daddy dan mommy masih numpuk, belum juga dipakai semua, ngapain beli lagi sih." Gerutu Ken.
"Zee sudah nggak muat Ken. Ya, ngapain juga mommy sama daddy kamu pakai baju couple tanpa Zee. Memangnya mau dipakaikan ke siapa lagi bajunya Zee yang sudah nggak muat?" Tanya daddy.
"Nyedit, pakaikan ke Nyedit saja." Ketus Ken.
"Idiiihh ogah. Mending kamu buatin daddy cucu lagi biar muat nanti bajunya." Jawab daddy dengan santainya.
Sementara Ken yang mendengarnya masih melongo. Ada ya, ini orang minta cucu hanya agar baju couplenya lengkap. Dasar daddy, gerutu Ken.
Karena lama tidak ada suara, daddy Vanno pun kembali bersuara.
"Ada apa kamu telepon, Ken?" Tanya daddy memecah lamunan Ken. Seketika Ken tersadar dan berdehem.
"Ada yang harus kita bicarakan Dad. Daddy langsung pulang saja habis gini." Kata Ken.
"Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya daddy.
"Tidak ada, Dad. Tapi ada yang harus kita lakukan segera."
"Baiklah, baiklah. Nanti daddy bilang ke mommy kamu." Jawab daddy.
__ADS_1
Setelahnya, daddy segera menutup panggilan teleponnya. Saat daddy berbalik, bertepatan dengan mommy yang sudah selesai menggantikan baju couple untuk Zee.
Zee yang berada pada gendongan mommy pun langsung mengulurkan tangannya agar digendong oleh daddy
"Uuuwwhhh cucu papa sudah cakep ih, turunan siapa sih ini." Kata daddy sambil menciumi pipi gembul Zee.
"Kyaaa..pa..paaa...yiii..yiii." celoteh Zee.
"Udah ih, Mas. Sekarang kemana lagi?" Tanya mommy sambil meletakkan belanjaannya pada bagian belakang stroller baby Z.
Daddy Vanno menoleh menatap wajah mommy sekilas sebelum menjawab.
"Pulang." Jawab daddy. "Tadi Ken menelepon. Katanya ada sesuatu yang harus dibicarakan." Lanjutnya.
"Apa ada masalah, Mas?" Tanya mommy sedikit khawatir.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi, sebaiknya kita segera pulang." Kata daddy sambil berjalan. Zee yang berada di dalam gendongan daddy masih berceloteh ria sambil memainkan jarinya.
Mommy mengangguk sambil berjalan mengekori daddy. Mereka segera berjalan menuju tempat parkir dan berniat langsung segera pulang. Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarai daddy pun sudah memasuki halaman rumah. Daddy langsung memasukkan mobilnya ke garasi.
Mereka sampai rumah bertepatan dengan suara adzan maghrib berkumandang. Gitta yang mendengar kedatangan mommy dan daddy segera beranjak turun di ikuti oleh Ken dibelakangnya.
"Mom.. mom.. mom… iiccuuu cu cu cu." Sorak baby Z saat melihat sang mommy.
Gitta langsung berjalan mendekat ke arah mommy dan segera mengambil alih baby Z dari gendongan sang mertua.
"Zee nggak rewel kan, Mom?" Tanya Gitta sambil mencium pipi gembul sang putra.
"Enggak kok. Dia exited banget jika diajak pergi ke tempat baru." Jawab mommy.
Gitta mengangguk sambil membawa Zee ke kamarnya karena sang putra sudah mulai merengek tidak sabar.
"Nggak ada sih, Mom. Tapi ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Jawab Ken.
"Baiklah, kita sholat dulu setelah itu makan malam. Kita bicarakan lagi nanti setelah makan malam." Kata daddy.
Ken segera mengangguk mengiyakan. Daddy dan mommy langsung beranjak menuju kamar mereka. Ken juga segera beranjak menuju kamarnya menyusul istri dan anaknya.
Ken, mommy dan daddy sudah berkumpul di ruang tengah rumah itu. Sementara Gitta masih menidurkan baby Z. Ken sudah menceritakan semua yang di dengarnya dari pak Wisnu kepada daddy dan mommy.
Daddy dan mommy begitu terkejut setelah mendengar cerita Ken. Mereka benar-benar tidak menyangka jika ceritanya akan menjadi seperti itu. Tak lama kemudian, Gitta terlihat keluar dari kamar tidurnya. Dia berjalan menemui keluarganya di ruang keluarga. Gitta segera duduk di dekat sang mommy.
"Lalu, apa rencana kamu Ken?" Tanya daddy.
"Pulang ke Jakarta, Dad. Kita harus memastikan kebenarannya kan." Jawab Ken.
Daddy dan mommy mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mereka juga setuju dengan rencana Ken.
"Baiklah. Kita harus bersiap-siap malam ini. Besok kita kembali ke Jakarta. Semakin cepat kita mengurus masalah ini, semakin baik kan." Kata daddy.
Gitta menoleh menatap wajah keluarganya bergantian. Air mata yang sudah dibendungnya sejak tadi tidak bisa ditahan lagi. Air mata tersebut langsung luruh saat mendengar perkataan sang daddy.
Mommy yang melihatnya langsung memeluk Gitta dan menghapus air matanya yang mengenai pipi.
"Ssshhh, jangan menangis. Jangan bersedih." Kata mommy sambil mengusap-usah bahu Gitta.
"Tidak, Mom. Aku sangat bahagia memiliki keluarga yang sangat baik. Aku berterima kasih, Mom. Hiks hiks hiks." Kata Gitta sambil terisak.
"Sayang, justru mommy yang harus berterima kasih kepada kamu. Kamu sudah hadir di keluarga ini. Kamu sudah hadir untuk Ken dan memberikan cucu yang gemoy untuk mommy dan daddy. Kami yang seharusnya berterima kasih." Kata mommy.
__ADS_1
Gitta masih terisak setelahnya. Mommy membiarkan Gitta hingga dirinya bisa tenang kembali. Setelah Gitta tenang, mommy meminta Gitta dan Ken untuk segera bersiap-siap dan beristirahat. Mommy dan daddy pun juga melakukan hal yang sama.
"Mas, kira-kira apa yang akan terjadi nanti setelah pak Abi dan bu Risma mendengar cerita Ken dan Gitta?" Tanya mommy Retta saat sedang menunggu daddy berganti baju.
"Entahlah. Tapi aku yakin pak Abi akan sangat terbuka menerima segala informasi. Beliau orang yang baik dan sangat jujur. Beliau juga bukan orang yang penuh ambisi. Aku kira, beliau dan istri bisa menyikapi hal ini dengan kepala dingin." Jawab daddy sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.
"Hhhmm aku juga berharap seperti itu, Mas. Semoga mereka mau mendengarkan semua cerita Ken dan Gitta dulu sampai selesai dengan kepala dingin sebelum memutuskan segala sesuatunya." Kata mommy sambil hendak menarik selimut.
Namun, belum sempat mommy menarik seluruh selimutnya, tangan daddy sudah menariknya kembali. Mommy menoleh menatap wajah sang daddy sambil membulatkan matanya.
"Apaan sih Mas, jangan aneh-aneh." Kata mommy sambil merengut kesal.
"Aneh-aneh gimana sih, Yank. Bantu mendinginkan yang sudah panas dong." Kata Daddy sambil menggeser tubuhnya hingga menempel pada lengan mommy.
"Apaan sih yang panas, Mas? Kompor?" Pura-pura tidak mengerti.
Daddy yang sudah sangat kepanasan karena baju pancingan yang dipakai mommy pun segera beraksi. Daddy langsung menarik baju mommy hingga bagian atasnya benar-benar robek.
"Maasss!" Teriak mommy. "Tuman kamu ih. Capek tau bolak-balik kirim baju tidur terus. Tiap malam kamu rusak terus." Gerutu mommy.
"Bagus dong. Mulai besok nggak usah pakai baju saja." Kata daddy sambil melucuti semua penutup yang menutupi tubuh mommy.
"Adem, Mas. Njebeber." Kata mommy sambil mengerucutkan bibirnya.
"Nggak apa-apa. Nanti aku siapin kayu bakarnya." Goda daddy sambil mulai menjelajah ke bagian-bagian favoritnya.
"Ssshhhhh, kok kiro pawonan opo to Massshhhh (kamu kira tungku perapian, Mas)." Kata mommy menahan sesuatu.
"Ho oh."
"Maasshhh, eeuuggghhhh aauughhhh jangan lama-lama ih."
"Lama-lama apa sih, Yang?" Goda daddy.
"Eemmmppphhh, auuuwwwhhh gaspolll Mashhh, kesuweeennhhh." Kata mommy sambil bergerak-gerak gelisah.
"Baiklah, baiklah. Empat ronde tapi nanti." Kata daddy sambil memulai aksinya.
"Biiyuuhhh, ceklek boyokku Mas (patah punggungku Mas)."
"Tenang, nggak bakal patah. Hhhh hhhh hhh."
"Auugghhh jangan banyak ngomonghh. Cepetiiinnn." Kata mommy sambil menggigit bibirnya.
"As you wish honey."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Langsung geser ya, double up nih
__ADS_1