
Empat bulan berlalu, kini usia baby Z sudah menginjak usia sepuluh bulan. Pagi itu, daddy Vanno tengah berolahraga di depan rumah Ken yang memang berjarak beberapa puluh meter dari rumah utama. Daddy Vanno melihat baby Z yang tengah menemani sang daddy berolahraga. Baby Z tengah bermain air di dalam sebuah bak mandi sementara Ken tengah bermain basket di dekatnya.
"Waahh, cucu papa main air sendiri nih." Kata daddy Vanno sambil berjalan mendekati sang cucu.
Baby Z yang melihat kedatangan sang kakek langsung merentangkan kedua tangannya minta digendong.
"Pa-pa-pa-pa." Celoteh baby Z sambil melonjak-lonjakkan tubuhnya.
Daddy Vanno yang melihat sang cucu tengah merentangkan tangan ke arahnya, langsung meraupnya ke dalam gendongan. Pipi gembul baby Z langsung mendapat ciuman bertubi-tubi dari sang kakek. Baby Z yang merasa geli hanya bisa tertawa sambil mendorong wajah sang kakek agar sedikit menjauhi wajahnya.
"Ata-ta-ta pa-pa-pa." Celoteh baby Z.
Ken yang melihat sang daddy dan putranya tengah bercengkrama langsung menghentikan olahraganya. Dia berjalan mendekati sang daddy.
"Tumben pagi-pagi sudah keluar rumah Dad. Mommy kemana?" Tanya Ken. Dia sudah sangat hafal dengan tingkah sang daddy.
"Mommy kamu ngambek sama daddy. Semalaman daddy di kunci di luar kamar sama Nyedit." Kata daddy Vanno sambil menghembuskan napas beratnya.
"Pppfffttt, hahahahaha. Makanya daddy jangan godain mommy. Tau rasa sekarang. Hahahaha." Kata Ken.
Bukanya prihatin Ken malah menertawakan kemalangan daddynya. Dasar anak oring alias otak miring. Gerutu daddy Vanno.
"Memangnya kenapa mommy ngambek sama daddy? Daddy buat ulah apalagi?" Tanya Ken.
Daddy Vanno terlihat menghembuskan napas beratnya sebelum menjawab pertanyaan sang putra.
"Daddy ketahuan beli motor lagi oleh mommymu." Jawab daddy Vanno dengan lemas.
"Hahahaha. Kalau itu daddy sudah tahu resikonya malah ditabrak. Sudah tahu jika mommy paling tidak suka jika suami dan anaknya main motor, daddy malah beli motor." Cibir Ken.
Daddy Vanno malah semakin mendengus kesal mendengar perkataan sang putra.
"Halah kamu sendiri juga mainan motor gedhe. Awas saja jika sampai mommy dan istri kamu tahu, bisa di ulet sampai lembut." Gantian daddy Vanno yang menyindir sang putra.
Sontak Ken langsung tersedak. Bagaimana sang daddy bisa tahu hal itu, dia sudah menyembunyikan hal itu dari keluarganya. Bahkan, dia juga tidak membawa pulang motornya. Ken lebih memilih meninggalkan motornya di tempat sahabatnya, mas Ega.
"Ba-bagaimana daddy bisa tahu?" Tanya Ken. Dia sedikit khawatir jika daddynya akan memberitahukan hal itu kepada mommy dan istrinya. Bisa-bisa dia akan bernasib sama dengan sang daddy.
Mommy dan Gitta memang sama-sama tidak suka jika suaminya bermain motor.
Daddy Vanno tersenyum mengejek sang putra sambil masih menciumi baby Z yang tengah berada di dalam gendongannya.
"Apa sih yang tidak daddy ketahui. Hahahaha." Jawab daddy Vanno.
__ADS_1
Ken mendengus kesal mendengar jawaban sang daddy. Dia memang masih belum bisa mengalahkan daddy nya dalam hal itu.
"Memangnya daddy beli motor apa?" Tanya Ken.
Tanpa menjawab pertanyaan Ken, daddy Vanno mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Ken. Sudah ada foto sebuah motor besar berwarna merah di sana. Sontak Ken membulatkan mata dan mulutnya.
"I-ini Ducati superleggera V4 Dad?" Tanya Ken hampir berteriak. Namun, dia masih bisa menahan teriakannya. "Ini versi limited edition, hanya diproduksi sebanyak 500 unit di dunia. Bagaimana daddy bisa mendapatkannya?" Tanya Ken penuh antusias.
Daddy Vanno masih tidak menggubris omongan sang putra. Dia masih saja sibuk menciumi perut sang cucu sambil mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Ken yang merasa kesal karena diabaikan oleh sang daddy pun langsung mendengus kesal.
"Dad?!"
"Apa sih Ken?" Tanya daddy Vanno pura-pura tidak mengerti.
"Ini bagaimana cara daddy mendapatkannya? Apalagi dengan harga sekitar 1,4 M, pasti bukan dari orang sembarangan kan?" Tanya Ken.
Daddy Vanno memutar tubuhnya hingga menghadap sang putra. Dia kembali memindahkan sang cucu ke dalam gendongannya.
"Untuk masalah itu, tidak terlalu sulit bagi daddy. Daddy punya banyak kolega untuk masalah pemesanan barang limited edition seperti itu. Yang jadi masalah sekarang, daddy tidak bisa membawa motor itu pulang. Mommy kamu pasti akan semakin uring-uringan nanti. Daddy butuh bantuanmu Ken." Kata daddy Vanno.
Ken berpikir sejenak. Dia mengetuk-ngetukkan ponsel sang daddy pada dagunya. Bibirnya terlihat menyunggingkan senyuman setelah sebuah rencana muncul di benaknya. Ken langsung menoleh menatap wajah sang daddy.
Daddy Vanno langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan Ken. Dia sudah bisa memprediksi hal itu.
"Kamu itu selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menurun dari siapa sih sifatmu itu." Gerutu daddy Vanno.
"Ya dari daddy lah, memangnya dari siapa lagi. Mommy kan nggak mungkin mewariskan bibit gesrek. Hahahaha." Jawab Ken.
Daddy Vanno yang mendengarnya langsung mendengus.
"Apa yang kamu mau?" Tanya daddy Vanno.
Seketika Ken tersenyum senang setelah mendengar jawaban sang daddy.
"Jika daddy punya motor besar, aku juga mau satu. Tapi, aku tidak mau seperti punya daddy. Itu terlalu mahal buatku. Aku mau yang lain." Kata Ken.
"Ccckkk, cari perkara. Satu saja sudah buat mommy kamu uring-uringan, apalagi dua. Bisa disunat ndadak kabeh Ken. Daddy nggak mau. Enak saja, gini saja masih kurang." Kata daddy Vanno.
Ken mencebikkan bibirnya. Dia bisa melihat daddynya belum mengerti maksud Ken.
"Begini Dad, kalau dipikir-pikir, mommy dan Gitta tidak suka jika kita main motor sport karena mereka khawatir kita akan kebut-kebutan dengan motor itu. Tapi, bukan seperti itu kan. Kita hanya butuh untuk refresing, butuh untuk pelampiasan rasa penat. Jika kita masing-masing punya motor, kita bisa mengajak mommy dan Gitta jalan bareng. Kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa tidak selamanya motor sport itu untuk balapan. Bagaimana?" Tanya Ken sambil tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Daddy Vanno terlihat memikirkan perkataan Ken. Beberapa saat kemudian, dia terlihat tersenyum. Daddy setuju dengan ide yang Ken berikan.
"Baiklah, daddy setuju. Sepertinya itu ide yang bagus." Jawab daddy Vanno. "Lalu, motor apa yang kamu inginkan?" Tanya daddy.
Ken tersenyum mendengarnya. Sebenarnya sudah lama dia ingin memiliki motor sport tersebut. Bukan masalah harga, namun dia kesulitan mendapatkan izin dari sang istri dan juga mommynya. Jika sekarang sang daddy juga memiliki masalah yang sama, mengapa tidak sekalian saja mereka bekerja sama. Susah senang ditanggung bersama, hehehehe. Begitu pikir Ken.
"Aku mau Honda CBR1000RR-R." Jawab Ken.
Daddy menoleh menatap sang putra. Dia langsung mendelik menatapnya.
"Ccckkk. Tidak mau terlalu mahal apanya. Itu harganya juga hampir sama dengan punya daddy, hanya beda beberapa ratus juta." Gerutu daddy Vanno.
Mendengar gerutuan sang daddy, Ken hanya bisa nyengir kuda. Namun, dia tahu jika sang daddy pasti akan mengabulkan permintaannya.
"Daddy akan meminta teman daddy untuk mengirimkan motor tersebut ke Surabaya. Akhir bulan ini, kita akan tinggal sementara di sana. Ada proyek yang harus kita tangani di beberapa Kabupaten di sana." Kata daddy Vanno.
Ken yang sudah mengetahui hal itu dari Dion, sang asisten, hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Baiklah. Lagipula, Gitta juga masih cuti kuliah." Jawab Ken.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kali ini, Khanza dan Al tidak muncul ya, nanti gantian. Tapi, othor tidak bisa menceritakan detail Khanza dan Al disini. Hanya garis besarnya saja.
Di Jawa Timur nanti, akan dijelaskan asal usul Gitta.
Othor tetap mohon dukungannya ya, like, komen dan vote.
Untuk mengetahui kapan up dan karya terbaru, bisa follow ig othor @keenandra_winda
Terima kasih
__ADS_1