
Sesampainya di sekolah, Ken diantar oleh Vanno dan Retta menuju ruang kelasnya. Mereka menemui wali kelas Ken dahulu dan tak lupa juga menitipkan Ken.
"Sayang, sekarang masuk kelas ya. Ada bu Nita juga nanti yang mengajar di kelas Ken. Mommy dan daddy berangkat bekerja dulu, nanti pulang sekolah mommy jemput," kata Retta sambil berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan tubuh Ken.
Ken mengangguk dengan wajah sedikit ditekuk. Bagaimanapun juga dia sedikit takut. Mengingat hari ini adalah hari pertama dia masuk di sekolah baru. Ken masih merasa takut dengan lingkungan barunya.
Melihat Ken masih kelihatan belum rela untuk ditinggal, Retta pun menjadi tidak tega. Retta menoleh menatap Vanno sebentar untuk meminta pendapat dan Vanno pun mengangguk mengiyakan.
"Apa Ken mau mommy temani dulu?" Tanya Retta karena tidak tega melihat Ken yang masih belum rela ditinggal.
Seketika wajah Ken langsung berbinar bahagia. "Iya. Temani Ken sebentar ya Mom. Nanti kalau Ken sudah punya teman mommy boleh pergi," jawab Ken sambil menggoyang-goyangkan lengan Retta.
Retta merasa lega ketika melihat wajah Ken yang berbinar bahagia. Dia mengangguk dan menoleh menatap Vanno.
"Mas Vanno berangkat duluan saja, nanti aku bisa minta tolong Arini untuk menjemput sekalian ke butik mommy," kata Retta pada Vanno.
Vanno mengangguk mengiyakan. Dia menoleh menatap Ken. "Belajar yang rajin ya jagoannya daddy. Jangan takut lagi. Cowok itu harus berani, dan jangan cengeng lagi ya," kata Vanno sambil mengecup puncak kepala Ken.
Ken mengangguk mengiyakan perkataan sang daddy. Setelahnya Vanno benar-benar berangkat ke kantor. Sedangkan Retta segera mengajak Ken menuju ruang kelasnya. Dilihatnya banyak juga para orang tua yang tengah mengantarkan putra-putri mereka berada di dalam kelas.
Retta melihat meja yang masih kosong berada di sebelah kiri barisan paling depan tepat di depan meja guru.
"Sayang, mau duduk di sana?" Tunjuk Retta pada meja tersebut.
Ken mengangguk mengiyakan. Retta membawa Ken menuju meja tersebut. Di ruang kelas Ken terdapat meja untuk dua orang, jadi teman sebangku Ken memang belum ada. Setelah duduk, Ken segera meletakkan tas dan peralatan sekolahnya pada laci yang ada pada mejanya.
Tak berapa lama kemudian datanglah seorang anak laki-laki yang berdiri di depan meja Ken.
"Putranya?" Tanya seorang wanita di samping anak laki-laki tersebut kepada Retta.
Retta pun mendongak. "Iya Bu," jawab Retta sambil tersenyum.
"Boleh putra saya duduk di sini, dia tidak punya teman di sekolah ini. Kami baru saja pindah ke kota ini," tanya wanita itu sambil mengulas senyumannya juga
Retta mengangguk dan meminta Ken untuk berkenalan dengan teman barunya.
"Hallo, namaku Keenan Alexander. Nama kamu siapa?" Kata Ken sambil mengulurkan tangannya.
Anak laki-laki yang tengah berdiri di depan meja itu pun menyambutnya. "Namaku Alfaro Nathan Pradika" jawab anak laki-laki itu. Setelahnya dia langsung beranjak menuju kursinya di samping Ken.
Melihat sang putra sudah mendapat teman baru, Retta segera bertanya.
"Sayang, sekarang sudah punya teman baru. Apa mommy boleh pergi?" Tanya Retta sambil mengulas senyumnya.
"Tunggu sebentar lagi ya Mom," jawab Ken sambil mengerjap-ngerjapkan matanya pertanda merajuk.
Retta yang sudah sangat hafal tingkah sang putra hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Baiklah, mommy tunggu sebenar lagi. Tapi mommy tunggu diluar ya, ibu guru sudah mau mulai itu," kata Retta yang di angguki Ken. Retta segera keluar ruang kelas.
__ADS_1
Retta menunggu di kursi taman di depan kelas, sehingga Ken yang duduk di bangku paling depan masih bisa melihatnya. Wanita yang tadi tiba-tiba mengikuti Retta dan duduk di sebelahnya.
"Kita belum berkenalan, perkenalkan nama saya Dewi Anita," kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
Retta menyambutnya sambil memperkenalkan diri. "Saya Retta Bu, senang berkenalan dengan Ibu," jawab Retta sambil mengulas senyumannya.
Bu Dewi membalas dengan senyuman tak kalah hangatnya. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya, sepertinya wajah Ibu tidak asing bagi saya," tanya bu Dewi.
Retta mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu dengan bu Dewi sebelumnya. Namun, dia sama sekali tidak mengingatnya.
"Maaf Bu, saya lupa. Saya sama sekali tidak bisa mengingat," jawab Retta sambil tersenyum.
"Ah, tidak apa-apa. Mungkin juga saya yang lupa. Saya baru pindah ke kota ini sekitar dua bulan yang lalu. Suami saya dipindah tugaskan di sini. Jadi saya dan anak saya ikut pindah," kata bu Dewi menjelaskan.
Retta mengangguk mengiyakan. "Suami ibu tugas dimana?" Tanya Retta.
"Di polsek sini," jawab bu Dewi.
"Jadi, anda istri pak Andreas Pradika?" Tanya Retta sedikit terkejut.
"Iya, bagaimana anda bisa tahu?" Tanya bu Dewi bingung.
Retta tersenyum semakin lebar. Pantas saja bu Dewi mengingat wajahnya. Bulan kemarin pak Andreas beserta istri menghadiri acara ulang tahun pernikahan mommy dan daddy Vanno. Retta menjelaskan hal itu kepada bu Dewi.
"MasyaAllah, jadi anda menantu bu Nadia," kata bu Dewi. "Pantas saja sepertinya wajah anda tidak begitu asing," lanjutnya.
Retta dan Arini langsung menuju butik mommy yang sekarang di handle oleh Retta. Meskipun begitu, Retta tidak terlalu ikut campur dalam urusan design pakaian, dia masih belum bisa mendesign pakaian.
Pukul sebelas ketika Retta hendak menjemput Ken, Vanno tiba-tiba menelepon.
"Sudah berangkat?" Tanya Vanno begitu teleponnya tersambung.
"Belum mas, ini mau memesan taksi. Tadi kan tidak bawa mobil," jawab Retta.
"Ini sudah hampir dekat butik mommy. Aku jemput sekarang. Kita jemput Ken bersama-sama," kata Vanno.
"Lho, tidak jadi menemui pak Hendrawan?" tanya Retta.
"Ini baru dari kantor beliau. Aku sudah sampai, turunlah" kata Vanno.
Retta segera menutup panggilan Vanno. Dia berpamitan pada Arini dan segera turun untuk menemui Vanno. Begitu melihat mobil Vanno, Retta segera masuk dan memasang seatbeltnya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Retta begitu Vanno sudah menjalankan kembali mobilnya.
"Alhamdulillah beres. Pembangunan hotel juga bisa segera di mulai," jawab Vanno. Retta turut senang jika proyek ketiga suaminya ini akan segera di mulai.
Ketika melewati polisi tidur di depan rumah makan padang, Retta meringis kesakitan.
"Kenapa?" Tanya Vanno.
__ADS_1
"Aku lupa membawa pompa asiku Mas," jawab Retta. "Ini rasanya penuh sakit sekali," jawabnya.
Vanno melirik sebentar pada squishy idolanya. Ting. Seketika pikirannya mendapat pencerahan. Senyum terbersit pada bibirnya.
"Mau aku bantu, aku iklhas membantu lho," kata Vanno sambil menaik turunkan alisnya.
"Mau bantu bagaimana, beli di apotek juga lama Mas, harus putar balik. Apotek ada belokan sana tadi," jawab Retta sambil menunjuk arah yang di maksud.
Vanno mendengus kesal. "Buat apa beli, di sini juga ada," jawab Vanno.
Retta menoleh celingan celinguk mencari pompa asi di mobil Vanno. "Mana pompa asinya?" Tanyanya ketika tidak berhasil menemukan benda yang dicarinya.
"Siapa bilang ada pompa asi," jawab Vanno. "Ini nih bibirku, aku bantu pakai mulutku," lanjut Vanno tanpa dosa.
Puk. Retta memukul bahu Vanno.
"Dasar kamu Mas. Anak sudah dua masih saja gesrek. Bukannya sembuh, malah semakin menjadi-jadi," ketus Retta sambil meringis menahan sakit.
"Habis squishy kamu saat hamil dan menyusui benar-benar menggoda sekali sayang. Seperti menantang untuk adu lemas," jawab Vanno seolah tanpa dosa.
"Enak saja dibilang menantang, yang ada rasanya sakit tahu. Kudu njebrot Mas rasane," ketus Retta.
"Hhhaaaahh gembrot?"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih minta dukungannya ya buat baby Ken, like, comment dan vote.
Nanti Ken peyuk dan kecup online deh aunty dan uncle yang sudah kasih dukungannya 🥰🥰🤗🤗
Jangan lupa juga follow authornya ya, biar ndk gembengan lagi 🤗🤗
Peyuk dan kecup online dari Ken
Eemuuuaahhh
__ADS_1