
Glek.
Al bersusah payah menelan salivanya saat melihat sesuatu yang menonjol pada dada sang istri. Entah mengapa matanya seolah terpatri pada benda yang terlihat jelas pada dada sang istri, ditambah lagi baju yang dipakai Khanza berbahan satin polos tanpa motif. Alhasil, baju tidur tersebut berhasil mencetak dua buah bel meja alami milik Khanza.
Al kembali menelan salivanya dengan susah payah. Sementara Khanza yang melihat tingkah Al langsung salah tingkah. Dia bingung harus berbuat apa.
"Ehm, ma-maaf Kak. Bukan maksudku membuat kak Al tidak nyaman. Tapi, aku hanya membawa baju tidur ini. Aku pikir ini yang paling wajar." Kata Khanza sambil menunduk malu. Dia menarik bantal dan mendekapnya di depan dada.
Al yang tersadar pun segera menatap wajah sang istri. Dia segera sadar jika tingkahnya membuat sang istri merasa tidak nyaman. Al segera meraih tangan Khanza dan menggenggamnya.
"Maafkan aku. Aku belum terbiasa dengan ini. Maafkan aku jika membuatmu takut." Kata Al sambil memberikan kecupan pada punggung tangan Khanza.
Khanza yang melihat wajah Al dipenuhi rasa tidak enak pun segera mengangsur tubuhnya mendekat ke arah Al. khanza tersenyum hangat saat menatap wajah sang suami.
"Aku tidak takut Kak. Aku hanya khawatir kakak punya pikiran aku terlalu agresif. Tapi, memang begini kebiasaanku setiap malam, dan aku juga hanya membawa baju tidur ini." Kata Khanza. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Al dan berbisik. "Aku memang tidak pernah memakai dalaman saat tidur Kak". Bisik Khanza.
Sontak saja bisikan Khanza pada telinga Al mampu membangkitkan sesuatu dari dalam sana. Bukan arwah yang bangkit dari dalam kubur lho ya. ðŸ¤
Al merasakan panas mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Dia masih bisa merasakan hembusan nafas Khanza pada telinganya. Secepat kilat dia meraih tengkuk sang istri dan membungkam bibir Khanza dengan bibirnya. Tidak ada penolakan, tidak ada usaha pencegahan dan tidak ada dorongan menjauh pada tubuh Al. Khanza ikut menikmati alur yang mulai dimainkan oleh Al. Bahkan, dengan berani Khanza menerobos masuk ke dalam kaos tidur Al dan mulai mengusap perut datarnya.
Seketika tubuh Al menegang saat tangan halus Khanza mulai menyentuh perutnya. Hah, kenapa otak ku jadi blank begini saat bersama Khanza. Dia benar-benar berhasil membuat pertahananku porak poranda. Aku harus menghentikan ini sebelum bertambah parah. Batin Al.
Al pelan-pelan melepaskan pagutan bibir keduanya. Nafas mereka ngos-ngosan karena aktivitas yang baru saja mereka lakukan. Al menempelkan dahinya pada dahi Khanza setelahnya. Nafasnya masih terlihat memburu saat menatap netra mata Khanza.
"Maaf, aku tidak bisa melakukan lebih jauh dari ini. Aku khawatir tidak bisa menahan diri nanti." Kata Al ditengah-tengah nafasnya yang masih memburu.
Khanza menangkup pipi sang suami dengan kedua tangannya. Dia tersenyum hangat sambil menatap netra mata Al.
"Maafkan aku Kak. Aku yang seharusnya menjaga diri agar tidak membuat kakak kesulitan." Kata Khanza.
Al menggeleng cepat. Dia tidak ingin sang istri berpikiran yang tidak-tidak nanti.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Seharusnya kita memang melakukan hal ini sebagai permulaan. Kita belum mengenal dekat sebelumnya kan, jadi kita bisa mulai perkenalan dulu." Kata Al.
Khanza pun mengangguk mengiyakan.
"Aku setuju Kak. Kita memang harus mulai untuk saling mengenal, luar dan dalam." Jawab Khanza sambil mengerling nakal ke arah sang suami.
Mendapat kerlingan nakal dari sang istri, dada Al terasa bergemuruh. Belum sempat dia menyahuti perkataan sang istri, tubuhnya langsung oleng setelah ditabrak oleh Khanza. Al begitu terkejut dengan tindakan tiba-tiba Khanza.
Saat ini, Al tengah terbaring diatas tempat tidurnya dengan Khanza duduk di atas perut Al. Dengan cepatnya Khanza langsung mel*um*at bibir Al. Al yang tak mau tinggal diam langsung mengarahkan kedua tangannya pada punggung Khanza dan tengkuknya.
Al tidak bisa membiarkan Khanza mengambil alih kendali. Dengan cepat dia menggulingkan tubuh Khanza tanpa melepas pagutannya. Kini, Al sudah berada di atas tubuh Khanza. Tanpa sadar kedua tangan Al sudah mulai melucuti kancing baju tidur Khanza. Hingga kini terbukalah baju tidur Khanza.
Al begitu terkejut saat melihat sesuatu yang terpampang nyata di depannya. Netra matanya bahkan tak berkedip sedikitpun saat menatap pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya secara langsung.
"Astaga, bel meja. Besar sekali." Kata Al tanpa sadar dengan mata masih menatap benda di depannya tersebut.
Khanza yang gemas dengan reaksi Al langsung menarik kepala Al dan menenggelamkannya di sana.
"Aduuuhhh, bellmmpphh meejjaaammphh." Kata Al saat mulutnya tertahan sesuatu.
Tak berapa lama kemudian, Al keluar dari kamar mandi setelah menuntaskan hajatnya. Khanza yang sudah merapikan diri menunggu Al di atas tempat tidur. Wajahnya menunduk tak berani memandang wajah sang suami.
Al segera naik ke atas tempat tidur dan mendudukkan diri di samping sang istri. Dia melihat Khanza yang masih menundukkan kepalanya.
"Hei, kenapa menunduk begitu?" Tanya Al sambil menyentuh pipi Khanza.
Mau tidak mau wajah Khanza pun kini menatap wajah Al. Tatapan kedua mata mereka saling bertemu.
"Maafkan aku Kak. Aku tidak bisa membantu kakak." Kata Khanza.
"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak marah, oke. Aku justru sangat berterima kasih kepadamu karena sudah mau memulai ini. Alu tidak akan menuntut lebih dari ini. Aku akan menunggu kamu siap." Kata Al berusaha menenangkan sang istri.
__ADS_1
"Ta-tapi kak Al pasti merasa tidak nyaman. Seharusnya aku tidak melakukannya tadi. Aku tadi hanya berpikir bagaimana cara membiasakan diri dengan aktivitas suami istri, itu saja." Kata Khanza.
Al tersenyum mendengar pemikiran istrinya itu. Tapi, dia cukup bisa memahami maksud sang istri. Dia juga tidak merasa keberatan dengan apa yang baru saja mereka lakukan.
Al dapat memahami jika Khanza berpikiran jika mereka benar-benar harus mulai untuk melakukan hal itu. Mengingat mereka tidak kenal dekat sebelumnya. Benar kata mamanya Al, mereka bisa pacaran setelah menikah. Mereka juga bisa menambah bumbu-bumbu pacaran dengan melakukan sesuatu yang halal bagi mereka.
"Aku sama sekali tidak merasa keberatan. Aku baik-baik saja kok. Bahkan, aku sangat senang sekali kita bisa saling terbuka seperti ini." Kata Al sambil tersenyum melihat wajah sang istri.
Seketika wajah Khanza berbinar bahagia. Dia langsung tersenyum setelah mendengar perkataan suaminya. Khanza beringsut mendekat ke arah Al dan memeluknya dengan erat.
"Berarti kita bisa buka-bukaan lagi dong setelah ini?"Â
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Itu si Khanza nurun siapa sih, othor sampai gedheg-gedheg 🙄
Jangan lupa dukungannya ya, like, komen dan vote. Beri tips dan hadiah juga boleh kok 🤗🤗
*Edisi_ngarepðŸ¤
Sambil menunggu up, silahkan mampir ke ceritaku satunya "the ceo's proposal"
__ADS_1
Untuk informasi up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor di @keenandra_winda
Thank you 🤗