
Namun, bukannya beranjak berjalan menuju tenda, Gitta malah menubruk Ken dan memeluknya dengan sangat erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Gitta menangis terisak di dada Ken.
Astagaaaaa. Balon tiup ini. Batin Ken.
Gitta masih memeluk Ken sambil terisak. Dia sama sekali tidak menyadari tingkahnya yang bisa saja mengubah cacing menjadi python. Gitta masih saja terus terisak di dada Ken.
Ken yang kebingungan mendapat serangan tiba-tiba dari Gita bingung harus melakukan apa. Dia mengangkat tangan kanannya hingga menyentuh kepala Gitta, karena tinggi Gitta tepat sebatas bibir Ken. Semantara tangan kirinya berada pada pinggang Gitta.
"Sudah, jangan menangis lagi. Mereka sudah pergi." Kata Ken berusaha menenangkan Gitta.
Gitta yang tersadar dengan tingkahnya segera melepas pelukannya dan mundur menjauhi Ken. Dia tampak salah tingkah sambil mengusap air matanya. Ken yang terkejut dengan tingkah Gitta yang tiba-tiba hanya bisa melongo.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud apa-apa tadi." Kata Gitta sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Sudah, ayo kembali ke tenda. Kita harus istirahat." Kata Ken.
Gitta mendongak menatap wajah Ken. Dia terkejut saat melihat ada darah di salah satu sudut bibir Ken. Mendadak Gitta jadi panik.
"Da-darah. Aduuhh, bagaimana ini." Kata Gitta panik. Dia hendak menyentuh bagian bibir Ken yang terluka, namun segera di urungkannya. Gitta terlihat sangat bersalah. Ken yang melihatnya pun menjadi tidak tega.
"Hanya luka kecil. Aku bawa obat di dalam tas." Kata Ken berusaha menenangkan Gitta. "Ayo kembali ke tenda." Lanjut Ken sambil beranjak berjalan menuju tenda. Gitta mengekori Ken dari belakang.
Sesampainya di depan tenda, Ken langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah pouch kecil dari dalam tasnya yang ternyata berisi obat. Gitta masih berdiri di depan Ken sambil mengamatinya. Ken yang menyadari Gitta masih berdiri di sana segera mendongak. Ken mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa tidak istirahat?" Tanya Ken. "Masih ada cukup waktu untuk tidur. Tidurlah." Lanjut Ken.
Bukanya menjawab, Gitta malah beringsut masuk ke dalam tenda Ken. Ken terkejut mendapati Gitta yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam tendanya.
"Aku bantu obatin." Kata Gitta sambil mengambil alih obat yang tengah di bawa oleh Ken. "Bisa nyalakan senternya?" Pinta Gitta.
Ken hanya menuruti saja perintah Gitta. Dia menyalakan senter dari ponselnya untuk memberikan penerangan kepada Gitta. Gitta segera membersihkan luka Ken agar tidak infeksi. Setelahnya di beri obat agar ujung bibirnya yang robek tidak mengeluarkan darah lagi. Terakhir, Gitta menempelkan plester pada ujung bibir Ken yang terluka agar tidak terkena kotoran.
__ADS_1
Setelah selesai, Gitta membereskan peralatan obat milik Ken dan mengembalikannya ke dalam Pouch.
"Terima kasih mas Ken, tadi sudah menolong saya. Maaf juga membuat mas Ken jadi terluka seperti ini." Kata Gitta dengan mata berkaca-kaca.
Ken jadi salah tingkah menghadapi gadis di depannya ini. Selama ini dia tidak pernah berinteraksi se intens ini dengan perempuan manapun, selain keluarganya. Ken jadi bingung bagaimana bersikap.
"Tidak apa-apa. Santai saja." Jawab Ken.
"A-aku takut di marahi bu Retta nanti Mas." Lanjut Gitta sambil menunduk.
"Tenang saja. Mommy tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Mommy tidak akan memarahimu." Kata Ken. "Sudah, sekarang beristirahatlah. Masih ada waktu sekitar dua jam." Lanjut Ken.
Gitta mengangguk mengiyakan. Dia segera beranjak keluar dari tenda Ken dan berjalan menuju tendanya. Tak lupa juga Gitta melepaskan jaket yang tadi dipinjamkan oleh Ken dan mengembalikannya.
Setelahnya, Gitta masuk ke dalam tendanya dan berusaha merebahkan diri. Dia ingin beristirahat sebentar lagi. Gitta mengatur alarm agar bisa bangun saat subuh dan mulai bersiap-siap untuk melakukan pekerjaannya.
Pagi ini setelah semua siap, Ken dan Gitta sedang menunggu calon pengantin untuk bersiap-siap. Sejak pagi Gitta sudah membantu para calon pengantin itu untuk memakai baju dari butik Retta.
Acara foto yang di ambil saat matahari terbit pun sudah di lakukan. Bahkan, Ken mengarahkan beberapa pose dengan angle yang sangat bagus. Para calon pengantin itu merasa sangat puas dengan hasil kerja Ken dan Gitta.
Siang itu, Ken mengajak Gitta makan siang tak jauh dari bumi perkemahan tersebut. Sebenarnya, Ken tidak terbiasa makan berdua dengan seorang perempuan. Tapi, mengingat Gitta tidak ada temannya, jadi terpaksa dia mengajaknya. Mereka memilih makan siang dengan menu ikan bakar dengan sambal ijo kesukaan Ken.
Setelah selesai makan siang, Ken dan Gitta segera kembali untuk melakukan sesi kedua pemotretan. Kedua calon pengantin tersebut sangat puas dengan hasil kerja Ken dan Gitta.
"Kami senang sekali dengan hasil kerja kalian. Kami akan memberikan review yang bagus untuk butik nyonya Retta." Kata calon mempelai wanita.
"Terima kasih Kak, kami sangat senang sekali." Jawab Gitta sambil tersenyum bahagia. Setelahnya, mereka segera berpamitan.
Ken dan Gitta segera membereskan barang-barang mereka untuk segera pulang. Saat ini sudah menjelang pukul delapan malam. Ken dan Gitta bahkan belum sempat makan malam. Mereka memutuskan untuk mampir mencari rumah makan dulu. Akhirnya, mereka menemukan rumah makan sederhana tak jauh dari tempat mereka makan siang tadi. Ken dan Gitta segera mengisi perut mereka yang sudah mulai keroncongan.
Hingga hampir pukul sepuluh malam mereka sudah selesai. Ken dan Gitta memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Karena besok siang, Ken sudah ada janji untuk bertemu dengan klien yang menggunakan jasanya untuk mendesign bangunan kantor barunya. Ken dan Gitta segera menuju mobil setelah selesai dari rumah makan tersebut.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit perjalanan selepas dari rumah makan tersebut, Ken baru menyadari jika tangki bahan bakar mobilnya sudah hampir habis. Dia harus segera menemukan tempat pengisian bahan bakar sebelum tangki mobilnya benar-benar kosong. Namun, sayangnya saat ini mereka masih berada di daerah pegunungan. Tak jauh dari bumi perkemahan.
Hujan gerimis mengiringi perjalan mereka. Ken hendak mencoba mencari lokasi pengisian bahan bakar melalui aplikasi di ponselnya, namun ponselnya juga sudah kehabisan daya. Ponsel Gitta bahkan sudah mati sejak sore hari tadi.
"Bagaimana ini?" Tanya Gitta cemas.
"Tenang saja, semoga masih bisa sampai di tempat pengisian bahan bakar." Jawab Ken berusahan menenangkan Gitta, padahal dirinya juga tak kalah paniknya.
Baru saja Ken berhenti berbicara, tiba-tiba mobilnya terasa oleng. Ternyata ban bagian belakang mobilnya pecah. Ken mengumpat dengan kasar kali ini. Gitta yang mendengarnya menjadi semakin takut. Ken menepikan mobilnya di tepi jalan tak jauh dari perbatasan desa. Ken masih bisa melihat sekitar kurang lebih seratus meter di depannya ada sebuah perkampungan, karena banyak lampu yang menyala dari rumah-rumah penduduk.
Ken beranjak turun untuk memeriksa ban mobilnya yang kempes. Dia mengambil jaketnya dan memakainya untuk menutupi kepalanya dari gerimis hujan. Setelah memastikan ban mobilnya benar-benar kempes, Ken berniat untuk menggantinya. Namun, saat Ken hendak berjalan ke bagian belakang mobilnya, terdengar suara Gitta tengah berteriak-teriak dari dalam mobil.
"Aaarrggghhhh."
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Nah lho, ada apa dengan Gitta?
Masih ada yang menunggu kah?
🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote nya ya, biar author e ndk gembeng lagi
Thank you 🤗