
Setelah mendapat telepon dari sang Daddy, Ken segera beranjak menuju rumah kedua orang tuanya. Sebelumnya, Ken sudah berpamitan kepada Gitta yang sedang menidurkan Zee.
Tak butuh waktu lama bagi Ken untuk sampai di rumah orang tuanya. Dia segera masuk dan mencari keberadaan sang daddy atau mommynya.
Mendengar suara orang sedang mengobrol dari arah dapur, Ken segera berjalan menghampiri kedua orang tuanya tersebut.
"Mommy dan Daddy lagi buat apa? Jangan bilang mau buat adik lagi untukku?" ucap Ken sambil mendudukkan diri di kursi yang berada di dekat mini bar di dapur tersebut.
Seketika mommy Retta dan daddy Vanno yang tadi membelakangi Ken, langsung menoleh. Kedua orang tua tersebut langsung mendengus kesal setelah mendengar perkataan Ken.
"Jika bisa buatkan adik lagi untukmu, sudah sejak dulu Mommy lakukan, Ken. Tanya tuh Daddy Kamu. Dia selalu melarang Mommy hamil lagi setelah Khanza lahir." Mommy Retta masih mengerucutkan bibir sambil menatap wajah daddy Vanno.
Daddy Vanno yang mendengar gerutuan mommy Retta hanya bisa tersenyum nyengir. "Aku kan nggak mau kamu kesusahan lagi, Yang. Apalagi, kesakitan saat melahirkan. Aku tuh nggak tegaan, Yang. Beneran deh." Daddy Vanno berkata seolah-olah memang benar demikian.
Mommy Retta hanya mencebikkan bibirnya. "Cckk, nggak tegaan apanya. Setiap malam saja saat aku sudah benar-benar capek, kamu masih saja semangat bergoyang, Mas. Aku minta berhenti pun tidak di gubris," lagi-lagi mommy Retta hanya bisa menggerutu tidak jelas.
Belum sempat daddy Vanno menjawab perkataan mommy Retta, Ken sudah lebih dulu bersuara. "Kalau itu sih bukan karena tidak tega Mommy kesusahan atau kesakitan, Dad. Tapi, Daddy memang tidak tahan untuk berbagi pabrik nutrisi dengan anak-anaknya." Cibir Ken.
__ADS_1
Seketika daddy Vanno menoleh ke arah Ken sambil menatap tajam putranya tersebut. Bisa-bisanya Ken membuka rahasia yang hanya diketahui oleh para reader, gerutu daddy Vanno dalam hati.
"Halah, kamu sendiri juga sama saja, Ken. Kamu tidak mau mengalah sama anak kamu sendiri. Awas saja jika sampai cucu Daddy kekurangan nutrisi gara-gara kamu sabotase. Daddy pastikan, Gitta akan 'menyapih' kamu selamanya."
Sontak saja kedua bola mata Ken membulat dengan sempurna. Dia benar-benar tidak mau mengalami hal itu.
"Nggak usah aneh-aneh deh, Dad. Aku kan masih mau berbagi," cebik Ken.
Mommy Retta langsung menghentikan perdebatan absurd kedua orang laki-laki tersebut. "Sudah, sudah. Jangan ribut melulu. Heran deh, kalian ini laki-laki masih saja lemes mulutnya. Seperti punya banyak mulut saja." Gerutu mommy Retta sambil berjalan melewati daddy Vanno dan Ken yang masih berdiri di dekat mini bar.
"Cckkk, mentang-mentang punya banyak mulut," ucap daddy Vanno.
"Eh, jangan dong, Yang. Musim dingin ini." Daddy Vanno langsung beranjak membujuk sang istri.
Ken hanya bisa menghembuskan napas beratnya melihat tingkah kedua orang tuanya tersebut. Setelah itu, dia mengikuti kedua orang tuanya menuju ruang tengah. Dia melihat box paketan yang dikatakan daddy Vanno tadi.
"Ini paketannya, Dad?" Tanya Ken sambil meraih box tersebut.
__ADS_1
"Iya. Coba saja kamu buka dan lihat apa isinya." Perintah daddy Vanno.
Ken segera mengangguk. Dia mulai membuka tutup box tersebut. Dan, kedua bola bola matanya membulat dengan sempurna. Dia melihat banyak perlengkapan bayi di sana. Mulai dari baju, kaos kaki, sepatu, topi, bahkan mainan pun juga ada.
Namun, yang membuat Ken terkejut adalah semua perlengkapan bayi tersebut berwarna pink. Sudah jelas semua perlengkapan bayi tersebut untuk anak perempuan. Ken menoleh ke arah mommy dan daddynya.
"Ini buat siapa, Dad?" Tanya Ken bingung.
"Tuh lihat sendiri alamat yang tertera di box nya. Buat kamu dan Gitta."
"Buat kami? Untuk apa? Anak kami kan laki-laki, Dad. Masa iya pakai baju serba pink begini. Lagian, siapa sih yang ngirim ginian? Mana salah lagi," Ken masih membolak balik box tersebut.
"Mana kami tahu, Ken. Kami sempat penasaran tadi karena ada getar-getar gitu. Setelah kami buka, ternyata putaran mainan itu nyangkut jadi bereaksi." Ucap mommy Retta.
"Biarin saja Ken. Buat persiapan adiknya Zee," kali ini daddy Vanno yang bersuara.
Ken mencebikkan bibirnya. "Zee saja sudah daftar mau memonopoli Gitta selama dua tahun, jika tambah lagi, ngalamat lebih lama lagi Gitta dimonopoli, Dad."
__ADS_1
"Astaga, jadi itu yang ada dipikiran kalian?!"