Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Obat Lelah


__ADS_3

Malam itu ken dan Gitta kembali merebahkan diri diatas tempat tidur. Rasa capek yang mereka rasakan seolah tidak bisa ditahan lagi.


"Mas, badanku rasanya remuk semua. Bagaimana jika aku tidak ikut ke Malang besok?" Tanya Gitta beberapa saat setelah memposisikan tubuhnya yang memeluk sang suami.


Saat ini Ken dan Gitta sudah bergelung di dalam selimut dengan Gitta memeluk tubuh Ken dari samping.


"Kamu benar-benar capek?" Tanya Ken sambil menghadiahi beberapa kecupan pada pucuk kepala Gitta.


"Hhhmmm. Rasanya benar-benar capek Mas." Jawab Gitta sambil mengeratkan pelukannya.


"Baiklah, aku akan meminta Dion saja untuk berangkat ke Malang besok." Jawab Ken.


"Lhah, kok Dion sih Mas?" Tanya Gitta bingung. "Bukannya mas Ken yang akan berangkat ke Malang?" Tanya Gitta.


"Sebenarnya, aku tidak harus pergi kesana sayang, aku hanya ingin mengajakmu berlibur ke sana. Sekalian ngecheck pembangunan villa. Sambil bekerja kita bisa berlibur. Hitung-hitung honeymoon. Tapi, jika kamu tidak enak badan ya kita di rumah saja." Jawab Ken.


Gitta mendongak menatap wajah sang suami. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.


"Maaf Mas, aku merusak rencana ya." Kata Gitta sedih.


"Hhhuusssttt, jangan ngomong seperti itu lagi. Kita bisa liburan kapanpun dan di manapun kamu mau." Jawab Ken sambil membawa wajah Gitta agar semakin dekat dengan wajahnya.


Ken yang gemas dengan tingkah sang istri langsung menyambar bibir yang berada di depannya itu, hingga membuat si empunya kelabakan karena kehabisan nafas. Gitta segera mendorong tubuh sang suami agar menjauh darinya.


"Kamu mau ini ngidam banget jadi duda ya Mas? Hobi banget buat istrinya megap-megap." Gerutu Gitta.


"Iihhh, ngawur kalau ngomong. Uget-uget saja belum berhasil berkembang biak di dalam sini kok ngomong gitu." Kata Ken sambil mengusap perut Gitta.


Gitta langsung mengerucutkan bibirnya. Setelah perdebatan absurd antara Gitta dan Ken, mereka langsung menarik selimutnya dan mencoba untuk segera terlelap. Rasa lelah yang menghampiri tubuh mereka membuat mereka dapat terlelap dengan cepat.


Sementara itu, di dalam kamar Vanno dan Retta, mereka sudah terlelap sejak pukul sepuluh tadi. Rasa lelah yang mereka rasakan seakan tidak mau kompromi untuk sekedar membiarkan si empunya tubuh saling bercengkerama.


Vanno terlihat menggeliat beberapa kali dalam tidurnya. Rasa haus yang mendera tenggorokannya begitu terasa hingga membangunkannya dari tidur. Dia beranjak bangun untuk mengambil air minum yang ada di atas nakas. Vanno segera meneguk air minum tersebut hingga tandas.


Retta yang merasakan pergerakan di sampingnya langsung membuka mata. Dia melihat sang suami tengah meneguk air minum di sampingnya.

__ADS_1


"Mas, haus ya?" Tanya Retta sambil mengusap paha polos Vanno.


Vanno yang telah mengembalikan gelasnya ke atas nakas segera menoleh menatap wajah sang istri. Tanpa menjawab pertanyaan Retta, Vanno segera membalik tubuh Retta hingga terlentang.


"Hah, mau ngapain sih Mas?" Tanya Retta dengan wajah bantalnya. Bagaimana tidak, Retta masih sangat lelah dan mengantuk. Ditambah lagi saat ini saat ini masih menunjukkan pukul 01.45 dini hari. Retta masih merasa jam istirahatnya kurang.


"Mau memakanmu." Jawab Vanno sambil mulai membuka penutup harta karun milik sang istri. 


Bugh.


Retta memukul tubuh suaminya dengan bantal yang ada di sampingnya. Bagaimana tidak, suaminya ini selalu saja meminta hal-hal ajaib itu saat dirinya sudah sangat lelah.


"Aku capek Mas. Kesel puoollll. Rasane logrek kabeh belungku Mas (Rasanya patah semua tulangku Mas)." Kata Retta.


Vanno yang melihatnya menjadi kasihan. Direbahkannya tubuhnya disamping sang istri dan di bawanya tubuh itu kedalam pelukannya.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak akan memaksamu jika kamu lelah." Jawab Vanno sambil memberikan beberapa kecupan pada pucuk kepala Retta.


"Maaf Mas, aku benar-benar letih sekali." Jawab Retta sambil membalas pelukan sang suami. Namun, matanya masih belum bisa terpejam.


"Mas, kira-kira siapa yang merencanakan semua hal yang terjadi pada Al?" Tanya Retta. "Aku tidak yakin Al melakukan hal itu. Dia itu sebelas dua belas dengan Ken. Lagi pula, jika dia benar-benar melakukannya, dia sudah pasti akan kena hukuman dari papanya." Lanjut Retta.


Seketika Retta mendonggakkan kepalanya. Dia menatap wajah sang suami sambil mengernyitkan dahinya bingung.


"Maksudnya difitnah bagaimana Mas?" Tanya Retta. "Mas Vanno sudah tahu jika Al hanya korban fitnah?" Lanjut Retta penasaran.


"Belum tahu juga sih, Yang. Tapi, jika dilihat dari foto yang di berikan oleh perempuan yang mengaku-ngaku sebagai pacar Al dan sudah mengandung anaknya itu, sepertinya dia bukan Al." Jawab Vanno.


"Hhhaaa, mas Vanno yahkin?" Tanya Retta.


"Ya, kalau yakin seratus persen sih tidak, Yang. Tapi, setidaknya delapan puluh persen aku yakin jika itu bukan Al. Mungkin ada kemiripan dari mereka. Tapi, pasti ada hal yang tidak dimiliki oleh salah satu dari mereka kan." Jawab Vanno.


Retta yang mendengar jawaban sang suami hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia yakin Arya, sahabat suaminya bisa melakukan penyelidikan terkait hal itu.


"Aku hanya kasihan sama pak Andreas Mas. Beliau yang sudah berusia segitu mungkin sangat ingin memiliki cucu dari Al, putra satu-satunya." Kata Retta.

__ADS_1


"Iya, kamu benar sayang. Jika dilihat dari cerita masa lalunya, mungkin dia khawatir jika Al akan mengalami hal yang sama dengan beliau." Jawab Vanno.


"Benar Mas. Mungkin itu juga yang menjadi alasan bagi pak Andreas dan bu Dewi untuk menjodohkan Al dengan Vita, selain juga karena ayah Vita juga sudah mendonorkan ginjalnya buat beliau." Kata Retta.


"Iya. Tapi, tidak selamanya perjodohan itu berhasil, Sayang." Kata Vanno.


Retta kembali menatap wajah sang suami sambil tersenyum.


"Tapi aku bersyukur Mas, perjodohan dadakan kita berhasil." Jawab Retta sambil mengeratkan pelukannya.


"Benar, bahkan sudah menghasilkan dua kecebong. Hahahaha." Kata Vanno.


"Kecebong apaan. Kecebong mah kecil Mas, itu Ken dan Khanza sudah sebesar itu." Gerutu Retta.


"Hehehe, maksudku dua kecebongku yang berhasil." Jawab Vanno sambil kembali memeluk erat sang istri.


Setelahnya, mereka kembali tidur terlelap.


Pagi itu, aktivitas di rumah papa Evan cukup ramai. Berhubung hari ini minggu, jadi mereka terlihat masih santai di rumah. Setelah sarapan, Vanno, Retta, Ken dan Gitta memutuskan untuk membereskan barang-barangnya. Mereka ingin kembali ke Jakarta siang itu. Sementara Khanza, masih akan tinggal sementara di Surabaya.


Menjelang maghrib, Vanno dan Retta tiba di rumah. Begitu juga dengan Ken dan Gitta. Mereka langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Mas, apa sudah ada kabar tentang perempuan yang mengaku-ngaku sebagai pacar kak Al?" Tanya Gitta saat melihat sang suami tengah mengotak atik ponselnya.


"Ada, dan kamu akan terkejut mendengarnya."


.


.


.


.


.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Lanjutnya masih mengetik ya, sabar dl 🤗


__ADS_2