Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Kenalan


__ADS_3

"Eehhmm, nanti kita coba kebiasaan baru lagi ya." Kata Ken sambil mengedipkan matanya ke arah Gitta.


Deg.


Jantung Gitta tiba-tiba seolah berhenti berdetak, kemudian berdegub sangat kencang. Apa maksudnya memulai kebiasaan baru itu? Apa seperti yang dilakukannya semalam? Batin Gitta. Pikiran Gitta benar-benar sudah mulai terkontaminasi dengan hal-hal iya-iya hanya dengan mendengar perkataan Ken barusan. Gitta segera menggelengkan kepalanya dan berjalan cepat-cepat untuk mengikuti Ken menuju rumah. 


Setelah sampai rumah, Ken melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena harus membantu daddynya mencari kucing sang mommy. Di dalam dapur masih terdengar rajukan daddy kepada mommynya.


"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali lupa tadi." Rajuk Vanno pada istrinya.


"Hhuuuhhh. Sudah berapa kali sih Mas kamu lupa menutup kandang Nyedit. Untung dia sudah hafal rumah dan pemiliknya, jadi bisa pulang. Jika ilang beneran bagaimana? Mas Vanno mau gantiin isi kandang Nyedit." Ketus Retta.


"Ya jangan sampai hilang dong." Kata Vanno sambil mengekori Retta yang hendak berjalan menuju kamar.


"Mas Vanno ngapain ikut ke kamar?" Tanya Retta sambil berbalik dan mendelik menatap Vanno.


"Ya mau ikut tidur dong, ngantuk ini." Jawab Vanno sambil nyengir.


"Tidur di luar ih." Kata Retta sambil merengut kesal.


"Nggak mau, di luar dingin sayang. Aku mau yang anget-anget sambil mainan tombol ajaib." Kata Vanno sambil menaik turunkan alisnya.


"Iihhh, geli Mas gelii. Kamu itu sudah punya menantu, kelakuan jangan gitu ih. Malu sama Ken dan Gitta." Kata Retta sambil beranjak menuju kamar.


"Biarain, itu Ken saja nggak masalah lihat mommy dan daddynya. Iya nggak Ken?" Tanya Vanno yang saat itu sedang melewati sang putra di ruang tengah.


Ken menoleh sebentar menatap mommy dan daddynya, lalu melanjutkan pekerjaannya. "Mau protes ya sudah akut Dad, jadi ya terpaksa diam saja." Jawab Ken tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.


Retta kembali mendengus kesal sambil melanjutkan langkah kakinya menuju kamar. Vanno, jangan ditanya lagi. Dia sudah seperti anak ayam yang mengekori induknya, Retta. Namun, saat sampai pada kaki tangga, Vanno kembali berbalik dan menghampiri Ken.


"Boy, ingat. Jadilah laki-laki yang bisa jadi sutradara. Semakin kamu bisa membuat berisik istrimu, semakin hebat. Jika istrimu hanya diam saja, berarti kamu payah. Hahahahaha." Kata Vanno. "Selamat membuka jalan tol." Lanjut Vanno sambil melanjutkan langkahnya.


Ken mendengus kesal mendengar perkataan daddynya. Namun, dia seketika teringat dengan kebiasaan baru yang harus segera dimulai. Buru-buru Ken segera membereskan pekerjaannya dan beranjak ke kamarnya. 


Ceklek.


Ken membuka pintu kamarnya dan berbalik untuk menguncinya. Saat itu juga bersamaan dengan Gitta yang tengah keluar dari ruang ganti sambil memeluk bantal di depan dadanya. Ken mengernyitkan dahinya bingung.


"Ada apa?" Tanya Ken. "Kenapa bawa-bawa bantal segala?" Lanjut Ken tak mengalihkan pandangan matanya pada Gitta.


Gitta semakin salah tingkah saat Ken menatapnya dengan intens. 


"Eh, it-itu anu Mas. Ak-aku hanya malu." Jawab Gitta sambil mengeratkan pelukan pada bantalnya.

__ADS_1


"Hhaahh, malu kenapa?" Tanya Ken bingung.


"Eh, itu. Mommy memberikan beberapa baju tadi. Aku kan tidak bawa baju ke sini Mas. Tapi, aku tidak tahu jika baju yang diberikan mommy begini." Jawab Gitta sambil berusaha menarik-narik turun bajunya.


"Memangnya kenapa?"


"Eh, itu. Ba-bajunya semua bisa membuat masuk angin Mas." Jawab Gitta sambil menunduk malu.


"Hahh, mana ada baju yang seperti itu?" Tanya Ken yang masih tidak paham dengan maksud Gitta.


Gitta mengerucutkan bibirnya. Dia berpikir untuk menunjukkannya pada Ken, toh sekarang dia sudah menjadi suaminya. Gitta menurunkan bantal yang sejak tadi dipeluknya secara pelan-pelan. Dia tidak berani menatap wajah Ken. Dan, benar saja. Betapa terkejutnya Ken saat melihat Gitta berdiri tak jauh di depannya dengan menggunakan baju yang bisa membuat masuk angin. 


Bagian atas gaun tidur itu sangat rendah, panjangnya juga hanya sebatas tengah paha Gitta. Dan, yang lebih membuat Ken tidak bisa berkedip adalah balon tiup Gitta yang sudah sangat menantang dibaliknya. Sudah siap di ajaknya gelut. Bahkan, Ken bisa dengan jelas melihat bentuknya karena gaun itu, benar-benar gaun tidur yang bisa membuat para laki-laki sangat menderita.


Ken menelan salivanya dengan susah payah. Segera dia mengerjab-ngerjabkan matanya dan berusaha menarik pikirannya agar kembali dari travellingnya. Dia sudah bertekad tidak akan membuka jalan tol dirumah mommynya. Bisa-bisa bukannya berhasil membuka jalan tol nanti, tapi justru malah membuat dirinya menelurkan album solo nanti.


Gittta yang merasa sangat malu segera melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan segera beringsut masuk ke dalam selimut. Dia menenggelamkan dirinya di dalamnya. Entah mengapa dia bisa semalu itu. Mungkin karena masih belum terbiasa. Jika nanti sudah terbiasa pasti tidak secanggung ini rasanya. #eh


Ken yang menyadari pythonnya mulai aktif hanya bisa menghembuskan napas beratnya.


Sabar-sabar, kamu harus bisa bersabar beberapa hari lagi. Jangan langsung seruduk, kasihan gawangnya kaget karena belum kenalan. Batin Ken sambil berjalan menuju kamar mandi untuk, ah sudahlah.


Gitta yang sudah sangat mengantuk, berusaha untuk memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, Ken sudah terlihat kembali dari kamar mandi. Dia juga sudah mengganti bajunya dengan kolor dan kaos favoritnya untuk tidur. Ken berjalan menuju tempat tidur dan beringsut masuk ke dalam selimut.


"Sudah tidur?" Terdengar suara Ken dari belakang Gitta.


Gitta segera berbalik dan menoleh menatap Ken.


"Belum sih Mas. Ada apa?" Tanya Gitta sambil berusaha menahan matanya agar tidak merem. Dia tahu suaminya ingin menyampaikan sesuatu.


"Ehmm, it-itu mengenai kebiasaan baru." Kata Ken sambil menggaruk tengkuknya. Dia bingung cara memulai ngomongnya.


"Ma-maksudnya bagaimana Mas?" Tanya Gitta.


"Ehhmm, kita kan belum saling mengenal, mungkin kita bisa mulai belajar saling mengenal dulu. Semuanya." Kata Ken.


Gitta mencoba untuk memahami maksud perkataan Ken. "Iya Mas. Sebaiknya memang seperti itu. Kita bisa belajar saling terbuka untuk hal-hal yang kita suka atau tidak kita sukai. Tentang kebiasaan sehari-hari, bahkan tentang aktivitas harian kita." Kata Gitta menyetujui.


Ken tersenyum mendengar jawaban Gitta. Dia semakin beringsut mendekat ke arah Gitta. Melihat Ken yang semakin mendekat, Gitta seketika membulatkan matanya dan melupakan rasa kantuknya.


"Untuk hal-hal yang disukai dan tidak disukai, kebiasaan kita, aktivitas dan jadwal harian lainnya, kita bisa membicarakannya di luar kamar. Tapi, jika di dalam kamar, kita bisa mencoba untuk buka-bukaan hal lain." Kata Ken sambil menyingkap selimut Gitta.


Gitta semakin membelalakkan matanya mendapati Ken sudah berhasil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.

__ADS_1


"Ap-apa itu Mas?" Tanya Gitta panik.


"Itu, yang kamu sembunyikan di dalam gaun tidurmu." Jawab Ken sambil merebahkan diri di samping Gitta dan menarik tubuh Gitta hingga saat ini saling menempel.


"Ma-mas." Kata Gitta panik.


"Tenanglah, jangan panik. Aku hanya ingin belajar membiasakan ini." Kata Ken sambil menelusupkan tangannya menjelajah apa yang ada di pikiran para reader semua 🤭


Seketika Gitta menahan napas dan menggigit bibir bawahnya agar tidak bersuara. Ken juga sama, dia terlihat sedang menahan gejolak hebat yang ingin segera disalurkan.


Entah insting dari mana Ken sudah terasa sangat ahli bagi Gitta. Dia begitu menikmati perlakuan Ken sehingga tubuhnya menggelinjang-gelinjang menahan gejolaknya.


"Maass..." Kata Gitta mulai kehilangan kesadaran.


Ken berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya. Dia tetap tidak ingin membuka jalan tol di rumah mommynya. Namun, otaknya ingin mencoba berkenalan dengan sesuatu di balik gaun tidur Gitta. Ken mendekatkan bibirnya pada telinga Gitta. 


"Kenapa bisa sebesar ini balon tiupnya? Aku jadi takut." Kata Ken.


Gitta menatap wajah Ken dengan tatapan sayunya. "Takut kenapa?" Tanya Gitta.


"Takut tidak bisa berhenti." Jawab Ken sambil terkekeh. "Aku tidak akan melakukannya disini, takut diganggu mommy dan daddy." Lanjut Ken.


Seketika Gitta menoleh ke arah Ken. Dia memberanikan diri mengecup pipi Ken sambil berbisik. 


"Besok pagi-pagi sekali kita pindah dari sini ya Mas."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Nah nah nah, itu bagaimana ceritanya ya 🤔


Maaf telat upnya, lagi banyak kerjaan 🙏🙏


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote

__ADS_1


Thank you 🤗


__ADS_2