Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Apa kamu punya pacar?


__ADS_3

Bugh.


Tiba-tiba Retta datang dan memukul bahu Vanno saat mendengar dia membicarakan squishy. Retta yang sudah sangat hafal dengan kelakuan suaminya merasa sangat geram. Bisa-bisanya membicarakan hal yang aneh-aneh pada Ken.


"Aduh sayang, suka banget sih melakukan KDRT. Aku ini suamimu lho. Nggak takut apa kalau aku terluka nantinya." Kata Vanno dengan mode manja bin ngalemnya yang sedang kambuh.


"Embuh Mas, Embuuhhhh. Sak karepmu Mas, lak ngomong. Sak karepmu!" (Terserah Mas, terserah kamu ngomong apa. Terserah). Kata Retta sambil mendelik menatap suaminya.


Ken yang sudah biasa melihat tingkah kedua orang tuanya hanya menghela napas panjang. Dia tidak habis pikir dengan daddynya. Daddy yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi pada pekerjaannya, namun, ketika dirumah dia bisa menanggalkan itu semua dan berubah menjadi sosok yang "sangat jinak" pada mommynya. 


Daddynya akan berubah menjadi sosok ayah yang bisa menjadi teman buat anak-anaknya. Sedangkan saat bersama sang mommy, dia bisa berubah menjadi salah satu spesies bucin tingkat akut. Bahkan, tanpa malu daddynya itu akan berubah menjadi sangat manja pada mommynya. 


Vanno yang melihat sang istri tengah memanyunkan bibirnya menjadi sangat gemas. Ditariknya istrinya hingga menempel pada tubuhnya.


"Iihh, lepas Mas. Kamu mau apa sih?" Tanya Retta kesal sambil berusaha melepaskan diri.


"Nggak mau." Jawab Vanno sambil mengeratkan pelukannya.


"Aduh Mas, ini lagi di klinik. Jangan macam-macam ih. Kamu mau ngapain sih Mas?" Geram Retta.


"Mau peyyuukk." Jawab Vanno dengan nada andalannya, manja bin ngalem.


"Geli Mas, geli. Nggak malu apa sudah mau punya cucu juga kelakuan masih absurd seperti ini." Protes Retta.


"Biarin, sama istri sendiri ini." Jawab Vanno dengan entengnya.


Retta hanya memutar bola matanya dengan jengah mendengar perkataan sang suami. Bagaimana tidak, setiap hari jika di rumah pasti ada saja keusilan yang akan dilakukan oleh Vanno. Retta hanya berharap jika sifat Vanno ini tidak akan menurun pada Ken. #eh 🙄


Setelahnya, Retta meminta Ken untuk menemani Gitta yang berada di dalam ruang perawatan. Retta akan menelepon mertua dan kedua orang tuanya untuk menceritakan kejadian yang dialami oleh Ken. Retta juga meminta kepada mereka untuk datang ke Jakarta, karena besuk Ken dan Gitta akan mendaftarkan pernikahannya secara resmi di mata hukum negara. 


Sementara Vanno, segera menelepon Tora untuk menyiapkan segala keperluan yang diperlukan untuk mendaftarkan pernikahan sang putra.


Ken berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Gitta. Dilihatnya Gitta tengah berbaring dengan hanya ditutupi oleh selimut. Kemeja yang tadi dipakainya sudah dilepaskan untuk membantu mengobati luka bekas sengatan pada tubuhnya.


Ken yang melihat hal itu hanya bisa menelan salivanya dengan keras. Selama ini dia belum pernah melihat secara langsung hal-hal terkait balon tiup atau aset perempuan lainnya. Jantungnya mendadak tidak sehat. Namun, Ken memberanikan diri berjalan mendekat ke arah Gitta.


Gitta yang tersadar ada orang yang mendekat ke arahnya pun segera membuka matanya. Dia sedikit terkejut saat mendapati Ken, yang saat ini sudah menjadi suaminya berada di sana. Gitta hendak beranjak dari tidurnya, namun segera tersadar karena saat ini bagian atas tubuhnya tengah polos hanya tertutupi oleh selimut. Ken yang sadar dengan maksud Gitta pun segera melarangnya. 

__ADS_1


“Tidak usah bangun, tidur saja.” kata Ken saat berhenti di samping bangkar tidur Gitta. Sementara Gitta hanya mengangguk mengiyakan.


Gitta dan Ken merasa canggung. Saat ini adalah saat pertama kali bagi mereka untuk berbicara berdua setelah menyandang status sebagai suami istri. Ken memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.


"Eehhmm maaf." Kata Ken kemudian.


Gitta yang mendengar permintaan maaf Ken hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung.


"Maaf untuk apa?" Tanya Gitta.


"Maaf untuk semuanya. Maaf jika kejadiannya harus menjadi seperti ini." Kata Ken.


Gita berusaha mengerti maksud dari perkataan Ken. Dia berpikir jika Ken terpaksa harus menikah dengannya. Gitta berpikir, Ken sudah mempunyai kekasih atau pilihan sendiri. Dia menjadi merasa sangat bersalah.


"Bukan salah mas Ken. Aku yang bersalah disini. Jika saja saat itu aku tidak berteriak-teriak, mungkin para warga desa tidak akan menggerebek kita." Kata Gitta. "Maafkan aku Mas, jika keadaannya menjadi seperti ini." Lanjut Gitta.


Ken merasa tidak enak pada Gitta. Dia berpikir jika Gitta telah menyesal karena menikah dengannya. Ken berpikir jika Gitta telah memiliki kekasih. 


Ya elah ini dua orang pakai punya pikiran macem-macem aje, pingin author cubit dah pipi daddynya. Gemeesshhh 🙄🙄


"Bukan salah kamu juga, mungkin memang ini sudah garisnya." Jawab Ken. "Eehhmm, apa kamu sudah punya kekasih?" Tanya Ken.


"Eh, maksudku, kita kan menikah dadakan, meski itu sah masih secara agama belum di daftarkan secara hukum, kita bisa memikirkan langkah selanjutnya." Kata Ken. "Aku tidak akan mengambil masa depanmu jika kamu memang sudah memiliki kekasih." Lanjut Ken.


Gitta sudah mulai sedikit memahami maksud Ken langsung menggelangkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak mempunyai pacar." Jawab Gitta. "Lalu, bagaimana dengan mas Ken sendiri? Aku tidak mau pernikahan ini dilakukan atas dasar keterpaksaan karena ketidaksengajaan Mas. Awalnya memang pernikahan ini sangat terpaksa, tapi, aku berharap kedepannya akan menjadi sukarela." Lanjut Gitta.


Ken menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku juga tidak punya pacar." Jawabnya. 


Gitta dan Ken kembali terdiam setelahnya. Mereka sibuk menyelami pikiran masing-masing. Hingga suara Retta membuyarkan pikiran mereka.


"Ken, kamu bantu istrimu bersiap dulu ya, mommy akan menemani daddy mengurus administrasi dulu. Kita pulang setelah ini." Kata Retta sambil mengusap kepala Gitta dengan lembut. Retta memang sengaja melakukan hal itu agar putranya bisa sedikit lebih mengenal istrinya. Dia tahu jika Ken dan Gitta masih sama-sama canggung.


Ken sangat terkejut saat mommynya meminta dirinya untuk membantu Gitta bersiap-siap. Bagaimana mungkin dia akan melakukannya. Ken benar-benar frustasi memikirkannya.


Gitta tak kalah paniknya. Dia bingung harus melakukan apa. Gitta memberanikan diri untuk meminta tolong Ken memanggil perawat perempuan saja agar membantunya bersiap-siap. Ken pun segera mengangguk mengiyakan. Dia segera pergi beranjak ke pos jaga untuk memanggilkan perawat perempuan.


Namun, beberapa menit kemudian, Ken sudah terlihat kembali sambil menekuk wajahnya. Gitta yang merasa bingung segera bertanya.

__ADS_1


"Ada apa Mas? Mana perawatnya?" Tanya Gitta.


"Tidak ada perawat perempuan." Jawab Ken datar.


"Mana mungkin tidak ada, tadi ada perawat perempuan kok yang membantu melepas bajuku." Kata Gitta tidak terima.


Ken mendengus kesal mendengar perkataan Gitta. "Iya ada. Tapi dia sedang memandikan bayi di ruang bayi. Hanya tinggal dua orang perawat laki-laki yang sedang berjaga. Apa kamu mau dibantu oleh perawat laki-laki?" Jawab Ken.


Gitta pun tersentak kaget. Bagaimana mungkin dia akan dibantu oleh perawat laki-laki. Dia akan sangat malu nantinya. Gitta menggelangkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ya sudah, mas Ken keluar saja. Aku akan berusaha sendiri." Kata Gitta sambil berusaha mengeratkan selimutnya agar tidak melorot dan berusaha untuk duduk.


Ken yang melihat Gitta sangat kesusahan bergerak karena bengkak pada tengkuknya menjadi tidak tega. 


"Akan aku bantu."


Tiuuunnngggggg


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Yah yah yah… ini modus apa bukan sih Ken. 🙄


Masih mau lanjutkah?


Mohon dukungannya ya, like komen dan vote


Biar authornya ndak merasa sendiri an

__ADS_1


thank you 🤗


__ADS_2