
Hari itu, Gitta di rumah bersama dengan Khanza dan baby Z. Mereka mengobrol tentang banyak hal. Tak terkecuali masalah kuliah. Khanza yang kini berada di semester dua pun sudah mulai merasakan tugas yang mulai menumpuk. Untung saja dirinya memiliki suami seperti Al yang bisa membantunya.
"Kak, baby Z kuat banget ya minum ASI nya." Kata Khanza saat melihat baby Z tengah menyusu pada sang mommy.
"Iya, maklum anak laki-laki." Jawab Gitta.
"Hhhmmm, jadi nggak sabar nih kak pengen punya bayi juga." Kata Khanza dengan wajah sedihnya.
Gitta menoleh menatap wajah sang adik ipar. Dia berusaha tersenyum untuk menghiburnya.
"Jangan terlalu bersedih dan terlalu dipikirkan. Yang terpenting tetap berdoa dan berusaha." Kata Gitta sambil menggusap-usap lengan sang adik ipar.
"Iya kak." Jawab Khanza sambil masih memainkan tangan baby Z.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dering ponsel Khanza. Dia segera mengambilnya dan memeriksa id penelepon. Khanza segera pamit kepada Gitta untuk mengangkat panggilan telepon tersebut. Setelah menemukan tempat yang nyaman, Khanza segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.
"Hallo Mas, sudah sampai?" Tanya Khanza begitu panggilan telepon tersebut tersambung. Ya, saat itu Al yang tengah menelepon Khanza.
"Iya, ini sudah sampai hotel, baru saja check in. Masih di rumah Gitta kan Yang?" Tanya Al.
"Iya Mas. Nanti dan besok aku kan menginap disini. Aku nggak mau tinggal sendirian di rumah." Jawab Khanza.
"Iya, maafkan aku ya Sayang. Aku harus meninggalkan kamu sendirian di rumah." Kata Al.
"Apaan sih Mas, nggak apa-apa kok. Aku ngerti itu kan urusan pekerjaan. Lagipula, disini lebih rame. Ada kak Ken, kak Gitta dan baby Z yang bisa aku jahilin. Hehehe." Kata Khanza.
Al terdengar ikut terkekeh di seberang sana. Dia cukup hafal dengan sifat sang istri yang tidak pernah bisa diam jika sedang bersama sang kakak. Selalu saja ada hal yang membuat mereka saling menjahili.
"Jangan sering-sering menjahili baby Z, kasihan nanti Gitta jadi kewalahan membujuknya." Kata Al.
"Hehehehe iya Mas, aku cuma ngajakin bermain kok. Ehm, acara dimulai jam berapa Mas?" Tanya Khanza.
"Nanti jam satu siang sampai jam delapan malam. Baru dilanjutkan besok pagi lagi." Jawab Al.
"Hhhmmm, apa seharusnya aku ikut saja ya Mas jika ada acara seperti ini?" Tanya Khanza sambil menerawang.
"Kenapa Yang? Memangnya ada apa? Kamu nggak percaya sama aku?" Tanya Al dari seberang sana.
Khanza terkejut dengan pertanyaan Al. Bukan seperti itu maksudnya.
"Eh, tidak, tidak. Bukan seperti itu maksudnya Mas. Aku ingin ikut karena nggak mau tidur sendirian tanpa kamu. Biasanya kan sebelum tidur ada rutinitas yang dapat dilakukan. Lha ini selama dua hari kan nggak ada Mas." Rajuk Khanza.
__ADS_1
Al terkekeh geli mendengar perkataan sang istri.
"Sayang, dengarkan aku. Aku di Bandung cuma dua hari. Dan itu pun juga penuh banget jadwalnya. Jika kamu ikut, aku khawatir nanti tidak bisa menenami kamu." Kata Al.
"Iya, iya Mas. Aku ngerti kok. Aku juga nggak mau mengganggu pekerjaan kamu Mas. Nanti malah nggak selesai-selesai lagi, malah semakin lama pulangnya. Aku nggak mau jika hal itu sampai terjadi." Jawab Khanza.
"Hehehe iya Sayang. Aku usahakan cepat selesai. Kirim foto dong, belum sehari aku sudah kangen nih." Pinta Al.
"Oke. Nanti aku kirim deh." Jawab Khanza.
"Thanks Honey. Aku bersih-bersih dulu, setelah ini persiapan pembukaan acara." Jawab Al.
Setelahnya, mereka mengakhiri obrolan melalui teleponnya. Al kembali melanjutkan aktivitasnya, sementara Khanza kembali bergabung dengan baby Z dan Gitta. Hari itu, mereka lalui dengan banyak bercerita.
Malam harinya, Ken, Gitta dan Khanza makan malam bersama. Baby Z sudah tidur karena lelah bermain seharian dengan sang aunty.
"Berapa hari Al di Bandung Za?" Tanya Ken saat makan malam bersama.
"Jadwalnya sih dua hari Kak. Semoga tidak mundur lagi." Jawab Khanza.
"Hhhmmm. Lalu, bagaimana kuliah kamu?"
"Alhamdulillah lancar. Bulan depan juga sudah ujian akhir semester." Jawab Khanza.
Khanza mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelah makan malam selesai, mereka segera pergi beraktivitas masing-masing. Gitta pergi menemani baby Z, Khanza pergi ke kamarnya, sedangkan Ken memeriksa materi meeting besok sebentar. Hari itu, mereka lalui dengan aktivitas seperti biasa.
Dua hari sudah berlalu, sore ini Al akan menjemput Khanza di rumah Ken. Dia sudah mengirimkan pesan singkat kepada sang istri agar segera bersiap-siap. Sekitar tiga puluh menit lagi dia akan tiba di rumah Ken.
Karena hari itu weekend, Ken tentu saja ada di rumah. Dia lebih memilih menghabiskan waktu dengan sang putra, baby Z yang sedang aktif-aktifnya.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara sebuah mobil berhenti di depan rumah. Khanza yang sudah sangat hafal dengan suara mobil tersebut langsung keluar untuk menyambut sang suami.
Ceklek
Khanza membuka pintu utama rumah Ken. Al yang sudah berada di depan pintu, langsung tersenyum lebar saat mengetahui sang istri yang membukakan pintunya.
"Ahh, aku kangen banget Mas." Kata Khanza sambil memeluk tubuh Al dengan sangat erat. Al juga langsung membalas pelukan sang istri sambil memberikan beberapa kecupan pada pipi Khanza. Cukup lama mereka berada di depan pintu rumah Ken. Hingga sebuah suara mengagetkan mereka.
"Ccckkk, masa iya mau dilanjut di depan pintu itu. Kalau mau ngadon di dalam sono." Kata Ken yang berada tak jauh di belakang Khanza sambil menggendong baby Z.
Seketika Khanza dan Al langsung melepaskan pelukannya. Mereka berdiri kikuk di depan Ken yang tengah menggendong baby Z dan menatap mereka dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
"Aiisshhh, kak Ken apaan sih. Nggak tahu orang lagi kangen apa." Gerutu Khanza sambil menarik lengan Al untuk memasuki rumah Ken.
"Yeee, tapi nggak di depan pintu juga kali. Kalau dilihat orang kan mereka jadi iri." Jawab Ken.
Khanza langsung mendengus kesal menatap wajah sang kakak. Setelah menggoda baby Z dia langsung berlalu ke dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Sementara Al bergabung dengan Ken di ruang tengah setelah membersihkan diri.
"Aaiiihhh, baby Z sudah besar ih. Sini uncle gendong." Kata Al sambil merentangkan kedua tangannya. Baby Z yang melihat hal itu langsung merangkak ke arah Al. Dia tidak takut dengan Al, karena sudah sering datang ke rumah Ken bersama Khanza.
Hap. Al langsung menggendong baby Z dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Terdengar suara kekehan kecil dari bayi gemoy tersebut.
"Gimana kerjaan lo Al?" Tanya Ken yang baru saja mengembalikan botol susu milik baby Z.
"Alhamdulillah sejauh ini lancar. Gue beruntung sekali om Yudith bantu gue. Sedikit-sedikit belajar tentang mengurus rumah sakit." Jawab Al.
"Baguslah. Gue harap lo bisa betah disana." Kata Ken.
"Pastinya. Hanya saja, gue sedikit tidak nyaman dengan beberapa dokter disana." Kata Al.
"Maksud lo?"
"Ehm, itu anu…" belum sempat Al menjelaskan maksudnya, Khanza sudah datang sambil membawakan botol susu untuk baby Z.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Yakin nggak mau cium daddynya baby Z? 🤭🤭
Mohon dukungannya ya, like, komen dan vote.
Ada beberapa pertanyaan terkait kelanjutan cerita ini di ig othor ya kak, bisa follow @keenandra_winda.
__ADS_1
Thank you