
Brugh
Al menarik lengan Khanza dengan sedikit keras, sehingga dia langsung menabrak dada bidang Al yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar. Dalam sekejab, Khanza sudah berada di dalam pelukan Al.
Deg
Deg
Deg
Kedua insan yang baru hari ini telah resmi sebagai suami istri itu bisa saling merasakan degub jantung masing-masing yang berpacu sangat cepat. Bahkan kini, Khanza menempelkan pipinya pada pada dada Al dengan kedua tangannya mencengkeram pinggang Al. Dia masih terkejut dengan perlakuan Al yang tiba-tiba itu.
"Ma-maaf mengejutkanmu. Aku hanya tidak sabar untuk bisa memelukmu." Kata Al sambil memberikan kecupan pada pucuk kepala Khanza.
Deg
Jantung Khanza berdegub semakin hebat. Apakah itu bibir kak Al yang baru saja menempel pada pucuk kepalaku? Kak Al menciumku? Batin Khanza. Entah mengapa tubuhnya terasa lemas setelahnya.
Khanza berusaha mempertahankan otaknya agar tidak travelling kemana-mana dulu. Dia memberanikan diri menggeser kedua tangannya hingga ke belakang punggung Al. Sementara tangan Al mengusap punggung Khanza dengan lembut. Cukup lama mereka berada diposisi itu. Hingga Khanza memberanikan diri mendongak menatap wajah Al.
"Ka-kak Al, aku capek." Kata Khanza. Memang benar kakinya sudah terasa sangat lelah sejak tadi siang.
Al yang mendengar perkataan Khanza langsung melepaskan pelukannya.
"Ah, maaf honey. Aku lupa jika masih berada di depan pintu." Jawab Al sambil terkekeh geli. Belum sempat Khanza menjawab, Al sudah menggendong Khanza dan membawanya ke atas tempat tidur.
Aaarrgghh. Teriak Khanza karena kaget. Namun, seketika dia menghentikan teriakannya dan mengalungkan kedua tangannya pada leher Al. Al menurunkan Khanza pelan-pelan di atas tempat tidur. Setelahnya, dia juga ikut berbaring di sampingnya. Kedua netra mereka saling mengunci satu sama lain.
"Ka-kak, maaf aku belum bisa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri." Kata Khanza sambil menatap wajah Al.
Al yang masih menatap wajah Khanza langsung mengangkat tangannya dan membelai pipi kiri Khanza. Al memberikan senyuman pada Khanza.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kok. Lagipula, aku tidak mau terburu-buru melakukannya. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap." Jawab Al.
Khanza yang mendengarnya menjadi sangat tersanjung. Dia merasa dihargai sekali oleh suaminya itu.
"Terima kasih Kak. Terima kasih sudah mau menungguku. Terima kasih sudah mau menikah denganku. Terima kas…" belum sempat Khanza menyelesaikan perkataannya, lengan kanannya sudah ditarik oleh Al. Tubuhnya sudah berada di dalam dekapan Al.
"Jangan terlalu banyak bicara. Tidurlah. Aku tahu kamu capek." Kata Al sambil mengusap-usap punggung Khanza.
Khanza yang merasakan nyaman dalam dekapan Al pun langsung memejamkan matanya. Dia benar-benar merasa capek. Seluruh tubuhnya sangat letih. Tak berapa lama pun mereka tertidur dengan lelap.
__ADS_1
Pagi itu, semua anggota inti keluarga sedang melakukan sarapan bersama. Ada daddy Vanno, mommy Retta, Ken, Gitta, Al, Khanza dan kedua orang tua Al juga turut bergabung untuk sarapan bersama.
"Oh ya Al, apa yang buat lo suka sama Khanza? Bukannya dulu lo risih banget digangguin terus sama adik gue." Tanya Ken di sela-sela aktivitas sarapannya.
Hampir semua orang menoleh menatap Ken. Namun, dalam hati masing-masing juga ingin mengetahui jawaban Al.
"Entahlah. Memang dulu gue risih banget saat Khanza gangguin gue. Tapi, saat dia sudah mulai sibuk di hotel, gue merasa kesepian. Tidak ada lagi orang yang selalu ngerecokin gue dengan pesan-pesan nggak jelasnya." Jawab Al sambil terkekeh geli dan melirik ke arah Khanza. Sedangkan Khanza yang duduk di samping Al hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.
"Oh, jadi sejak saat itu lo mulai menyadari perasaan lo buat Khanza?" Tanya Ken.
"Sepertinya begitu." Jawab Al.
"Hhmm, bener-bener witing tresno jalaran soko ngglibet." Kata Al.
Puk
Mommy mendaratkam pukulan pada lengan Ken. Sontak si empunya langsung mengaduh.
"Aduuhh, apa-apaan sih Mom. Sakit ini." Gerutu Ken sambil mengusap-usap lengannya bekas pukulan sang mommy.
"Kamu itu ngomongnya suka ngadi-ngadi. Mana ada itu pepatah jawa 'witing tresno jalaran soko ngglibet' yang ada juga 'witing tresno jalaran soko kulino'." Kata mommy.
Witing tresno jalaran soko kulino (cinta ada karena terbiasa).
"Iya, itu kalau mereka terbiasa ketemu, terbiasa bersama, Mom. Lha ini kan enggak. Mereka ketemu juga jarang, apalagi jalan bersama. Khanza terus ngrecoki Al terus dari dulu lewat pesan dan tingkah ajaibnya kalau nggak sengaja ketemu." Jawab Ken.
Khanza yang mendengar perkataan Ken hanya bisa menundukkan kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Dia merasa kesal dengan sang kakak yang selalu menggodanya. Ken yang menyadari sang adik tengah kesal pun tambah bersemangat menggodanya.
"Ciee bibirnya dimonyong-monyongkan seperti itu minta ditampol sama bibirnya Al ya?" Goda Ken. Sontak semua orang terkekeh geli melihat reaksi Khanza yang langsung merapat ke arah Al.
Khanza yang serba salah pun semakin malu digoda oleh anggota keluarganya.
"Ciiee, yang sudah nempel-nempel sama Al." Lagi-lagi Ken menggoda sang adik.
Khanza semakin kesal dengan tingkah sang kakak. Dia pun menoleh menatap wajah Gitta untuk meminta tolong. Gitta yang paham maksud sang adik ipar lun langsung mencubit paha Ken.
"Aduuhh, sakit Yang. Kenapa dicubit sih." Gerutu Ken sambil mengusap-usap pahanya bekas cubitan sang istri.
"Berisik." Kata Gitta lirih tapi masih dapat di dengar oleh semua anggota keluarga yang lainnya.
Ken bersungut-sungut kesal mendapat polototan mata tajam dari sang istri. Ken menoleh menatap Khanza dan Al yang saling duduk menempel.
__ADS_1
"Ci…" Ken hendak menggoda sang adik dan adik iparnya mendadak menghentikan perkataannya saat melihat Gitta mengacungkan garpu dan pisau makan ke arahnya.
"Bilang cie cie sekali lagi, aku pastikan si python akan ku tusuk garpu ini dan ku iris-iris tipis, kemudian aku cincang dan di beri bumbu kluwak." Geram Gitta.
Gleg
Ken menelan salivanya dengan keras saat Gitta sudah mengarahkan dua senjata yang dipegangnya pada python andalannya. Para anggota keluarga yang melihat tingkah Ken dan Gitta hanya bisa menggelengkan kepalanya. Setelah itu, mereka melanjutkan sarapannya.
Setelah sarapan, semua anggota keluarga bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun, tidak untuk Al dan Khanza. Mereka akan berangkat ke Bali untuk berlibur siang itu, catat bukan honeymoon. Begitu kata Khanza dan Al. Karena ya, mereka kesana hanya ingin jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama-sama agar seperti orang-orang yang tengah berpacaran. Selain itu, mereka juga belum bisa melakukan kegiatan iya-iya karena Khanza masih kebanjiran.
Pesawat Khanza dan Al take off ke Bali pukul satu siang. Dengan membawa barang-barang yang sudah di siapkan oleh sang mommy, mereka berangkat dengan diantar oleh sopir hotel ke bandara. Khanza dan Al cukup menikmati perjalanan pertama mereka setelah menikah itu.
Sesaat sebelum makan malam, mereka sudah sampai di hotel. Khanza dan Al memutuskan makan malam terlebih dahulu sebelum pergi ke kamar mereka. Setelah cukup kenyang, mereka segera beranjak untuk menuju kamar yang sudah disiapkan oleh mommy.
Al dan Khanza segera membersihkan diri setelah meletakkan barang-barangnya di dalam kamar tersebut. Setelah selesai membersihkan diri, Al dan Khanza hendak pergi ke jalan-jalan di sekitar hotel untuk menikmati udara malam di Bali. Namun, saat Khanza melewati Al yang tengah berdiri di depan lemari baju, Al langsung menarik tubuhnya mendekat ke arahnya.
"Eh," Khanza kaget dengan tindakan Al yang tiba-tiba.
"I want to taste these lips." Kata Al sambil memeluk pinggang Khanza
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan baper-jangan baper
Mohon tetap dukungannya ya, like, comment dan vote.
__ADS_1
Silahkan juga follow ig othor di @keenandra_winda untuk mengetahui informasi terbaru up dan karya
Thank you 🤗