Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 5


__ADS_3

Engkau lentera yang dikirimkan Sang Maha Pemberi untuk kami, Keenan Alexander Geraldy.



*****


Vanno dan Retta saling pandang. Mereka bingung bagaimana menjelaskan kepada putranya. Sementara sang putra hanya menoleh ke arah Vanno dan Retta secara bergantian untuk menunggu jawaban dari keduanya.


"Bukan sembunyi sayang," jawab Retta. "Dulu, sebelum adik lahir dan sebesar ini, adik juga sembunyi kok di dalam perut mommy" lanjutnya.


Wajah Ken berbinar bahagia. Dia berulang kali mengerjapkan matanya sambil tersenyum.


"Benalkah mommy, duyu adik pelnah cembunyi di dayam peyut mommy, cepelti mbak Acih?" Tanya Ken memastikan. Retta dan Vanno segera mengangguk bersamaan. 


Ken bersorak bahagia. Dia merasa senang dengan penjelasan Retta.


"Nanti ain agi ya mommy," kata Ken begitu menyelesaikan sarapannya. "Ain cama teddy uga" lanjutnya.


Retta membalikkan badannya dan memandang sang putra yang tengah berjalan mendekati Vanno.


"Adik mau main air lagi sama daddy?" Tanya Retta.


Mendengar pertanyaan Retta, Ken segera menggelengkan kepalanya. "Indak, adik indak au ain ail agi mommy," jawab Ken sambil bergelayut manja pada leher Vanno.


"Lalu, adik mau main apa?" Tanya Retta kembali.


"Adik au ain cembunyi-cembunyian cama teddy di peyut mommy," jawab Ken dengan wajah bahagianya.


Sontak Vanno dan Retta membulatkan mata dan mulutnya. Entah apa yang ada di pikiran kedua orang tua muda tersebut setelah mendengar pertanyaan sang buah hati. 


Retta segera mengalihkan pandangan untuk menatap Vanno. Dilihatnya suaminya tengah tersenyum smirk menatapnya. Retta mendengus kesal menandang Vanno dengan tatapan tajam. Namun, yang dilihat masih saja nyengir. Retta menghembuskan napas beratnya sebelum beralih kepada sang buah hati. Didekatinya sang putra sambil mencondongkan tubuhnya.


"Adik sekarang kan sudah besar, sudah tidak bisa sembunyi di dalam perut mommy, tidak muat" kata Retta


"Indak uat?" Tanya Ken kebingungan


"Tidak cukup sayang. Sekarang adik sudah besar, sudah bisa jalan dan berlari. Dulu ketika adik masih bayi, adik bisa sembunyi di perut mommy. Tapi, sekarang sudah tidak bisa," kata Retta menjelaskan.


Ken merengut kesal memandang Vanno. Vanno yang paham putranya tengah kesal segera berdiri sambil menggendong Ken.

__ADS_1


"Sudah, adik jangan sedih lagi. Nanti, biar daddy yang menggantikan adik main sembunyi-sembunyian sama mommy," kata Vanno sambil mengerling ke arah Retta. "Sekarang, mau ke taman bareng daddy?" Tanya Vanno sambil mengalihkan perhatian Ken.


Dan, benar saja Ken langsung tertarik. Dia melonjak-lonjak dalam gendongan Vanno. Retta yang melihatnya hanya mendengus kesal. Melihat Retta yang cemberut, Vanno langsung tertawa lebar sambil membawa Ken berjalan menuju garasi motornya.


Vanno membawa Ken ke taman dekat rumahnya. Pagi itu memang weekend, jadi bisa dipastikan taman itu ramai dengan anak kecil yang juga sedang menikmati liburan weekend bersama keluarganya.


Vanno segera memarkirkan motornya dan mengajak Ken untuk memasuki area taman tersebut. Ken begitu antusias melihat banyak anak seusianya sedang bermain pasir mainan. Mereka membuat berbagai bentuk dari pasir tersebut.


Ken yang melihat anak-anak tersebut sangat tertarik. Dia menarik-narik tangan Vanno menuju anak-anak tersebut. Vanno segera menuruti keinginan sang putra.


"Teddy ao ain tu," kata Ken sambil menunjuk kumpulan anak-anak yang sedang asik bermain.


Vanno mengangguk sambil mengikuti sang putra berjalan menuju kumpulan anak-anak tersebut. Seketika matanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia melihat tidak ada satu pun laki-laki yang ada di antara kerumunan orang tua yang tengah menunggui anak-anak mereka tersebut.


Vanno mendengus kesal. Dia lupa jika hari ini weekend. Taman mesti ramai dengan ibu-ibu yang tengah mengajak anak-anak mereka bermain. Namun, Vanno tetap melanjutkan langkah kakinya menuju kerumunan anak-anak yang tengah bermain tersebut.


Ken langsung bergabung bersama para anak-anak seusianya bermain pasir buatan. Sementara Vanno, langsung mendudukkan diri di kursi tunggu yang ada di samping kerumunan anak-anak tersebut.


Seoran ibu muda yang mamakai pakaian sangat terbuka berjalan mendekati Vanno. Tanpa aba-aba dia langsung mendudukkan diri disamping Vanno.


"Warga baru di sini ya?" Tanya perempuan itu sambil menoleh dan tersenyum ke arah Vanno.


Cccckkk, mau cari mangsa ini, batin Vanno.


"Bukan," jawab Vanno sambil fokus kembali pada ponselnya.


"Kok nggak pernah lihat ya, padahal aku tinggal di perumahan itu" kata perempuan itu sambil menunjuk komplek perumahan yang ada di dekat taman.


Vanno mendongak sebentar sambil mengangguk pelan sebagai tanggapan kepada perempuan tersebut. Merasa kurang mendapat respon, perempuan tersebut bergeser mendekat ke arah Vanno. 


"Kenalkan, aku Anggi, Anggita Rosanna Jayadi. Aku anak dari Pramudi Jayadi" katanya bangga sambil mengulurkan tangannya ke arah Vanno.


Vanno menoleh menatap uluran tangan Anggi. Dia berfikir sebentar mengingat-ingat nama yang baru saja di sebutkan perempuan yang tengah duduk di sampingnya tersebut. Dan, klik. Vanno mengingat nama Pram Jayadi. Ya, dia adalah kepala bagian yang menangani proyek properti di anak perusahaan daddynya. Vanno sendiri sudah beberapa kali mengadakan rapat dan survey lokasi dengannya.


Vanno mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Anggi.


"Vanno," jawabnya singkat sambil melepaskan tangannya.


Anggi terswnyum bahagia mengetahui nama laki-laki yang ada di sebelahnya. "Kamu sedang menemani adik kamu?" Tanya Anggi. "Yang mana adik kamu?" Lanjutnya.

__ADS_1


"Bukan, aku mene…." Belum sempat Vanno menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama Anggi. 


Vanno menoleh ke arah suara tersebut. Seorang laki-laki tengah berjalan ke arah mereka dengan menampakkan wajah kesal. Vanno mengernyitkan dahinya bingung. Setelah sampai di dekat Vanno dan Anggi, laki-laki itu segera menarik lengan Anggi hingga dia berdiri dari duduknya.


"Kamu apa-apaan sih dekat-dekat dengan laki-laki ini," tanya laki-laki itu dengan nada tinggi. Matanya segera mengarah kepada Vanno dengan tatapan membunuh. "Jangan dekati cewek gue. Atau lo akan terima akibatnya jika lo macam-macam," bentak laki-laki itu.


Vanno yang masih memperhatikan laki-laki itu mendengus kesal. Dia menoleh kanan kirinya dan mendapati para ibu-ibu tengah menatap interaksi mereka. 


Ccckkkk. Gue jadi tontonan ini, batin Vanno kesal.


"Gue nggak godain cewek lo. Cewek lo aja yang tadi datang nyamperin gue," kata Vanno. "Lagian, gue nggak tertarik sama cewek modelan dia," lanjut Vanno sambil beranjak berdiri. 


Dia langsung berjalan mendekati sang putra dan segera membujuknya untuk peegi dari sana meski dengan rayuan andalannya.


"Sayang, ayo kita pulang sekarang. Mau di ajak mommy ke rumah titi. Adik mau ikut?" Tanya Vanno.


Seketika Ken meletakkan mainannya dan berdiri dari tempat duduknya. "Au teddy. Adik au itut" jawab Ken dengan antusias.


Vanno segera menggendong Ken beranjak dari tempat bermain anak tersebut. Ketika melewati pasangan tadi, Vanno berhenti di depan mereka.


"Gue sudah punya anak dan istri. Dan istri gue jauh lebih cantik dari cewek lo. Sorry gue nggak tertarik," kata Vanno sambil berjalan menjauhi laki-laki tersebut.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mau bener-bener end ini ceritanya ya.


New story "The CEO's Proposal" is cooming soon. 


Mohon dukungannya ya 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2