Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Kejutan


__ADS_3

"Sebenarnya, saya melihat anda berbicara dengan dokter Rangga tadi saat saya hendak keluar dari kantin rumah sakit. Boleh saya tahu, apakah dokter Rangga menceritakan sesuatu kepada anda, dokter Al?" Tanya dokter Winar.


Al cukup terkejut mendengar perkataan dokter Winar. Dia juga bingung harus menjawab seperti apa. Namun, saat melihat wajah dokter Winar yang sedang menunggu jawaban darinya, Al merasa tidak enak hati untuk tidak menjawabnya.


"Ehm, sebenarnya dokter Rangga tadi menceritakan masalah pertunangannya dengan putri anda, Dok." Jawab Al. Dia masih merasa tidak enak hati kepada dokter Winar. "Saya baru tahu tadi jika ternyata dokter Rangga sudah bertunangan dengan putri anda. Saya kira itu hanya desas desus saja di rumah sakit. Tapi, ternyata itu benar adanya. Maaf kan saya, Dok." Lanjut Al.


Dokter Winar tersenyum tipis setelah mendengar jawaban dari Al. Dia bisa memaklumi jika Al tidak mengetahui hal itu seperti rekan sejawatnya yang lain, karena Rangga memang meminta untuk merahasiakan hal itu.


"Anda tidak harus meminta maaf dokter Al. Memang benar putri saya sudah bertunangan dengan dokter Rangga. Tapi, jangan berprasangka buruk dulu kepada saya." Kata dokter Winar.


Al yang mendengar perkataan dokter Winar mengerutkan keningnya bingung. Sementara dokter Winar yang melihat Al tengah bingung pun langsung tersenyum.


"Clarissa itu sebenarnya adalah putri angkat saya dokter Al. Saya dan istri saya lama tidak dikaruniai keturunan dulu, hingga akhirnya kami memutuskan untuk mengadopsi Clarissa. Setelah dua tahun mengadopsi Clarissa, kami sangat beruntung karena istri saya berhasil mengandung buah hati kami. Meskipun begitu, kami tetap menganggapnya putri kandung kami sendiri."


"Saat Clarissa meminta untuk dinikahkan dengan dokter Rangga, sebenarnya saya tidak enak hati mengabulkannya. Saya tahu jika dokter Rangga tidak menyukai Clarissa. Saya sadar jika Clarissa sangat manja dan egois, tapi sebagai orang tua saya tidak mungkin tidak mengabulkannya jika saya masih bisa." Kata dokter Winar.


Al mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu, apa maksud dokter memanggil saya ke sini? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Al.


Dokter Winar tersenyum sekilas sebelum menjawab pertanyaan Al. Beliau membenarkan posisi duduknya hingga membuat posisi duduknya nyaman. Dokter Winar memandang wajah Al lekat-lekat.


"Saya butuh bantuan dokter Al untuk membatalkan perjodohan dokter Rangga dengan Clarissa." Kata dokter Winar.


Deg


Al begitu terkejut dengan perkataan dokter Winar. Dia tidak bisa mencerna dengan baik pemikiran dokter paruh baya yang ada di depannya itu. Wajah Al masih terlihat terkejut.


"Apa maksud dokter?" Tanya Al. Dia masih tidak mengerti maksud dokter Winar.


Dokter Winar tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan Al.


"Saya tidak ingin memaksakan kehendak kepada dokter Rangga untuk melanjutkan pertunangan ini hingga sampai pada pernikahan dokter Al. Saya bukan orang yang setega itu." Jawab dokter Winar. "Saya tahu ini salah saya yang meminta dokter Rangga untuk menyetujui perjodohan ini. Namun, saya juga terpaksa untuk melakukannya." Kata dokter Winar.


Al semakin bingung mendengar perkataan dokter Winar. Dia masih menunggu penjelasan beliau.


"Saya akan menjelaskan kronologi permasalahannya dokter Al." Kata dokter Winar saat melihat Al masih bingung mencerna perkataannya. "Tapi, saya harap setelah anda mendengarnya, anda bisa menjaga rahasia ini dan membantu saya." Lanjut dokter Winar.


Saat Al melihat keseriusan pada wajah dokter Winar, seketika dia mengangguk mengiyakan.


Sementara di tempat lain, Gitta tengah berada di teras kamarnya bersama Khanza. Mereka tengah menonton drama korea favorit mereka bersama-sama. Mereka baru menyadari jika hari sudah menjelang petang saat Ken sudah berada di belakang mereka. 


Ken segera memeluk Gitta dari belakang sambil mengusap-usap perut Gitta yang sudah membuncit.


"Mas, kok sudah ada di sini sih. Kapan datangnya?" Tanya Gitta sambil menoleh menatap wajah suaminya yang menempel pada bahunya. 


"Tentu saja kamu tidak tahu kapan aku datang, lebih menarik oppa-oppa itu." Jawab Ken sambil mendengus kesal.


Gitta yang menyadari suaminya tengah ngambek hanya bisa tersenyum. Dia menarik wajah Ken dan memberikan kecupan pada bibir suaminya. Ken yang sudah merasa candu pada bibir itu pun tak tinggal diam. Dia segera meraih tengkuk sang istri dan memegangnya hingga tidak bisa bergerak kemanapun.


Namun, saat tangan Ken sudah mulai aktif, tiba-tiba pukulan bantal mendarat di punggungnya. Ken yang terkejut langsung melepaskan tangannya pada tengkuk Gitta dan menoleh menatap sang pelaku.


Ken mendelik menatap wajah Khanza yang tengah cemberut. Dia mengerucutkan bibirnya sambil mendengus kesal.


"Kak Ken apa-apaan sih. Nggak lihat tempat mau gituan. Ada aku disini Kak." Gerutu Khanza.

__ADS_1


Ken memutar bola matanya jengah setelah mendengar gerutuan Khanza.


"Salah sendiri jadi obat nyamuk disini." Jawab Ken sambil beranjak masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Dasar turunan daddy. Gesreknya sudah mendarah daging. Nggak ada obat." Kata Khanza sedikit berteriak.


Gitta hanya tersenyum mendengarnya.


"Lhah, kamu sendiri juga anak daddy. Siapa tahu nanti suamimu kabur saat malam pertama karena tahu istrinya gesrek. Hahahaha." Goda Ken.


Khanza yang tengah kesal langsung beranjak dari duduknya. Dia mengejar sang kakak dan begitu dapat, dia langsung naik atas ke punggung Ken. Kedua tangannya melingkar pada leher Ken dan ditariknya dengan kuat.


Aaarrrgghhhh. Teriak Ken.


Kedua kakak beradik itu saling menjahili hingga terdengar suara teriakan mommy dari bawah menghentikan aktivitas keduanya.


Keesokan harinya, Ken masih bergelung di balik selimut. Berhubung hari itu weekend, Ken enggan beraktivitas hari itu. Namun, ketenangannya langsung terusik tatkala Gitta menggoyang-goyangkan lengannya. Ken yang merasa terganggu langsung terbangun. Dia membuka mata sambil menggeliat.


"Ada apa sih Yang?" Tanya Ken dengan suara seraknya. 


Gitta tidak menyahuti perkataan sang suami. Dia langsung menarik selimut yang membungkus tubuh Ken hingga tubuhnya yang hanya menggunakan kaos tipis dan sarung terlihat dengan jelas.


"Bangun ih Mas, sarapan dulu. Setelah itu ehmm, aku mau minta tolong." Kata Gitta sambil menggigit bibir bawahnya. Dia merasa takut mengungkapkan keinginannya kepada sang suami.


Ken sarapan pagi itu dengan wajah di tekuknya. Sementara mommy, daddy dan Khanza yang melihatnya masih terlihat menahan tawa. Bagaimana tidak, Gitta meminta Ken membelikan daster di pasar. Gitta tidak mau memakai daster yang biasa di buat di butik sang mommy atau gerai pakaian wanita. Dia hanya ingin memakai daster yang dijual di pasar. Dan itu pun harus Ken sendiri yang membelikannya.


"Itu muka kenapa ditekuk seperti itu sih? Harusnya kamu bersyukur hanya diminta membelikan daster, bukan diminta untuk memakainya. Hahahaha." Goda daddy saat melihat Ken masih mengerucutkan bibirnya.


"Sudah, jangan cemberut begitu. Lakukan yang ikhlas demi baby. Lagian, Khanza sudah mau mengantar kamu kan," kata mommy.


Hingga menjelang siang daster yang diinginkan Gitta sudah di dapat. Tidak main-main Ken membelikan satu lusin daster dengan berbagai ukuran dan warna untuk Gitta. Sudah dipastikan ukurannya semakin besar, mengingat kehamilan Gitta juga semakin besar pula.


Saat ini, Ken dan Khanza sudah berada di dalam mobil. Khanza menoleh ke kanan dan ke kiri memperhatikan sekitarnya.


"Kak, ini arah ke warung yang jual bebek goreng itu ya, yang di dekat kantor polisi?" Tanya Khanza.


"Hhhmmm."


"Kita makan siang di sana dulu ya, laper ini Kak." Rengek Khanza.


Ken menghembuskan nafas beratnya mendengar permintaan Khanza. Namun meskipun begitu, dia tetap mengangguk mengiyakan permintaan sang adik.


Siang itu, Al dan papanya baru saja pergi ke makam mendiang istri pertama papanya Al. Sepulangnya dari makam, mereka mampir ke warung makan bebek goreng, karena sang mama minta dibelikan bebek goreng. Al dan papanya sekalian makan siang di sana.


"Al, kamu kan sudah berjanji dengan papa dan mama untuk membawa calon istri kamu. Dua hari lagi sudah genap satu bulan. Dan kamu juga sudah berjanji, jika dalam waktu satu bulan belum membawa calon istri kamu, kamu mau dijodohkan dengan anak teman papa." Kata papanya Al.


Al menghembuskan nafas beratnya. Benar kata sang papa. Dia memang sudah berjanji tentang hal itu. Dia tengah berpikir keras. Apalagi, jika sampai dokter Winar benar-benar ingin menjalankan rencananya, bisa dipastikan dia akan makan hati seumur hidup.


Flashback on.


Saat Al diajak ke ruangan dokter Winar beberapa hari yang lalu, dia diminta untuk membantu dokter Winar agar menggagalkan pertunangan dokter Clarissa dengan dokter Rangga.


"Apa yang bisa saya bantu Dok?" Tanya Al.


Dokter Winar tersenyum sekilas sebelum menjawab pertanyaan Al.

__ADS_1


"Saya minta anda membantu saya untuk mendekatkan Clarissa dengan Davindra, mantan pacarnya dulu." Kata dokter Winar.


Al mengernyitkan keningnya. Dia seperti pernah mendengar nama Davindra.


"Davindra? Apa maksud Dokter itu, Davindra Hutama?" Tanya Al.


Dokter Winar tersenyum sambil mengangguk mengiyakan. Sementara Al masih bingung apa hubungan Davin dengan dokter Clarissa.


"Dokter Al tidak usah bingung. Sebenarnya, saya sudah berniat menjodohkan Clarissa dengan Davin sejak dulu. Dia adalah putra dari salah seorang sahabat saya. Mereka sebenarnya sempat berpacaran dulu waktu awal-awal kuliah. Namun, karena kesalahpahaman, Clarissa memutuskan hubungan dengan Davin. Sejak saat itu, Clarissa sangat membenci Davin."


Sejak dia berkenalan dengan dokter Rangga, dia jadi sangat tertarik dengannya. Sebenarnya, saya dan istri saya sangat tahu jika Clarissa masih sangat menyukai Davin. Hanya saja, dia takut kecewa lagi. Dia bahkan sering bersikap posesif kepada dokter Rangga hanya karena khawatir dia terluka lagi." Kata dokter Winar.


"Lalu, apa hubungannya dengan saya Dok?" Tanya Al.


"Saya tahu jika anda bersahabat baik dengan Davin. Saya juga tahu kalian membuka usaha bersama. Saya pikir, akan lebih mudah jika dokter Al berusaha mendekatkan mereka lagi." Jawab dokter Winar penuh harap.


"Tapi, saya sama sekali tidak mengenal dokter Clarissa dengan dekat Dok. Kami hanya sebatas rekan kerja. Akan sangat mencurigakan nanti jika saya terlihat mendekati dokter Clarissa dan mengajaknya untuk berteman dengan tiba-tiba bukan?" Jelas Al.


Dokter Winar terlihat menimang sesuatu sebelum akhirnya memutuskan sesuatu.


"Saya kira itu tidak apa-apa. Jika tidak bisa menikah dengan Davin, mungkin bisa menikah dengan anda dokter Al. Anda masih single kan?" Kata dokter Winar sambil tersenyum.


Al begitu terkejut mendengarnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran dokter paruh baya yang ada di depannya itu.


Enak saja kalau ngomong. Emang dikira aku tidak laku apa. Gerutu Al dalam hati. Setelahnya, Al segera pamit untuk kembali ke IGD. Dia masih belum memutuskan untuk membantu dokter Winar atau tidak.


Flashback off.


Papanya Al langsung menepuk bahu sang putra saat melihatnya melamun. Al segera menoleh menatap wajah sang papa sambil menghembuskan nafas beratnya.


Pada saat bersamaan, Ken dan Khanza terlihat berjalan memasuki warung makan yang menjual bebek goreng tersebut. Mereka masih berdiri di ujung warung sambil mengedarkan pandangan untuk mencari tempat yang kosong. 


Seketika mata Al menatap dua sosok yang tengah berdiri di dekat pintu masuk. Kedua matanya bertemu dengan netra mata Ken dan Khanza yang memang berdiri dengan jarak tiga meter darinya.


Saat Khanza mengangkat tangan hendak menyapa Al dan papanya, Al sudah lebih dulu bersuara.


"Aku sudah menemukan tulang rusukku yang akan menjadi makmumku, Pa. Aku siap menghalalkannya minggu depan."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan bilang sedikit lagi ya, ini sudah seribu tujuh ratusan kata lebih lho. Othor e gembengan nanti 🥺🥺


Mohon dukungannya juga agar othor e semangat up.


Jangan lupa like, comment dan vote. Rank nya terjun bebas 🥺

__ADS_1


__ADS_2