
"Haahhh. Mak-maksud mas Vanno apa?" tanya Retta.
"Aku mau nyusu sampai pagi"
Bughh. Retta memukul perut Vanno dengan bantal. Aduuhh. Teriak Vanno pura-pura kesakitan.
"Kamu ini Mas, sudah sakit pikirannya masih saja ngeres. Mau di cuci itu pikiran biar tidak kotor terus." kata Retta dengan ketus.
Vanno mencebik. "Memangnya kenapa, biasanya juga gitu di rumah. Jangankan pegang, tiap malam juga biasa merasakannya." Kata Vanno sambil menunjuk dada Retta dengan kepalanya.
Retta semakin pusing menanggapi kelakuan mesum suaminya dari hari ke hari. Dia sama sekali tidak pernah berpikir jika suaminya adalah orang yang mesum.
"Dasar gesrek!" Ketus Retta sambil merebahkan diri di samping Vanno.
"Ta, kok tidur sih. Ini nggak jadi apa?" tanya Vanno dengan tatapan memelas.
"Nggak," kata Retta sambil menarik selimut. Vanno menghela napas berat sebelum kembali terlelap di samping Retta.
*****
Pagi itu, mommy dan daddy sudah sampai di rumah sakit. Mommy membawakan semua keperluan Retta. Daddy juga sudah memberitahu pihak sekolah Vanno terkait kecelakaan yang menimpanya. Sementara Retta, dia hanya akan ijin tidak masuk hari itu saja, kebetulan hari itu adalah hari Jum'at. Sedangkan besoknya, sudah tidak ada jadwal bimbel karena sudah mendekati ujian nasional.
Ketika sedang ngobrol dengan Retta dan Vanno, mommy mendapat kabar jika bibinya meninggal dunia. Mommy sangat terkejut, mengingat bibinya itu sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri. Mommy dan daddy segera pergi ke rumah bibinya, sementara Retta akan menjaga Vanno.
Setelah jum'atan, dokter melakukan kunjungan pasien, Axcell dan Neo juga datang mengunjungi Vanno setelah pulang sekolah. Sementara para sahabat Vanno yang lainnya tengah mengikuti bimbel oleh guru kelasnya masing-masing.
Siang itu, Vanno merasakan badannya sangat lengket. Gerah rasanya. Dia ingin mandi. Namun, perban sehabis operasi tidak memungkinkan jika terkena air.
__ADS_1
"Tidak boleh Mas, perban ini tidak boleh terkena air." Kata Retta sambil terus menyuapi Vanno. "Mandinya di tunda dulu sampai dirumah ya," pinta Retta.
"Lengket Ta. Ini rasanya tidak nyaman sekali. Badanku bau. Rasanya juga gatal di selangkanganku." kata Vanno sambil bergerak-gerak.
Retta mendengus kesal. Vanno memang sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian, tapi mengingat kondisinya saat ini, tidak memungkinkan baginya untuk mandi. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Vanno mau hanya dibilas pakai air.
"Baik kalau begitu, aku akan memanggilkan perawat laki-laki untuk meminta tolong membilas tubuh mas Vanno." kata Retta sambil beranjak berdiri untuk meminta bantuan perawat laki-laki.
"Tidak mau!" teriak Vanno.
Retta segera menghentikan langkahnya dan berbalik. "Memangnya kenapa?" Retta gagal memahami maksud Vanno. " Mas Vanno mau di bantu perawat perempuan?" tanyan Retta sambil mendelik.
Vanno mendengus kesal. "Tentu saja tidak!" jawabnya.
"Lalu, kenapa mas Vanno tidak mau dibantu oleh perawat laki-laki?" Retta kembali bertanya sambil mendekat.
"Kamu kan istriku, kenapa harus minta tolong orang lain sih," ketus Vanno. "Lagipula, aku tidak mau ada laki-laki yang menggerayangi tubuhku. Membayangkan saja sudah membuat tubuhku merinding. Hhiii." Vanno bergidik.
"A-aku ti-tidak bisa Mas," kata Retta gelagapan. Dia merasa malu dan canggung. "Akan sangat memalukan jika aku sendiri yang melakukannya" lanjut Retta.
"Kenapa mesti malu. Kita sudah menikah. Sudah menjadi kewajiban istri kan jika mengurus suami yang sedang sakit?" tanya Vanno.
Retta menghembuskan napas berat. Setelah perdebatan yang cukup lama, akhirnya Retta bersedia membersihkan tubuh Vanno.
"I-ini celana panjangnya saja yang dilepas ya Mas, yang dalam tidak usah." Kata Retta sambil meletakkan baskom berisi air hangat di samping tempat tidur.
"Tidak mau!" kata Vanno seketika. "Ini gatal sekali. Rasanya pengap dan lembab. Ukurannya terlalu kecil. Kasihan Vj jika dia terus merasa sesak." kata Vanno sambil menggerakkan kakinya.
__ADS_1
"Vj?, apa itu?" tanya Retta dengan polosnya.
"Selang alamiku." Jawab Vanno sambil tersenyum smirk.
Retta semakin mengerutkan dahinya, bingung. Entah apa maksud Vanno. Dia segera memasang selimut sampai pinggang Vanno sebelum membantu Vanno membuka celananya.
Vanno membantu Retta mengangkat pinggulnya ketika Retta menarik celananya dari dalam selimut. Entah karena terlalu cepat atau karena kesulitan, selimut Vanno tersingkap ke samping.
Seketika pandangan Retta tak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
"Astaga. Paralon air!" teriaknya.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Kasih dukungan dong… 🤭🤭
Minggu" nyempetin up..
__ADS_1
Jika berkenan, silahkan mampir di cerita othor yang lain.