Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Mengetik


__ADS_3

Setelah perdebatan cukup panjang, akhirnya Gitta dan Ken memilih warna baju yang senada, hitam.




Ken dan Gitta berangkat saat menjelang makan siang hari itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di tempat acara. Sebuah restoran yang menerapkan konsep outdoor dipilih oleh penyelenggara acara. Ken segera memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang tersedia. Gitta mengamati sekeliling sebelum beranjak turun.


"Mas, katanya acara ini untuk para pengusaha muda. Ini kok banyak om-om dan opa-opa ya?" Tanya Gitta sambil masih memandang sekeliling.


Ken menoleh menatap wajah sang istri. "Sebenarnya, acara ini untuk perkenalan para pengusaha muda yang masih merintis karir mereka. Namun, banyak juga para pengusaha senior yang diundang ke sini. Buktinya, daddy juga dapat undangan kan." Jawab Ken. "Sudah, ayo keluar." Lanjut Ken sambil membuka pintu mobilnya.


Gitta mengangguk dan mengikuti sang suami untuk segera keluar dari kendaraan. Ken segera menghampiri sang istri dan menggandeng tangannya dengan erat. Gitta masih memperhatikan tangannya yang di genggam erat dan di tarik oleh Ken.


"Mas, ini kenapa pakai gandengan tangan segala sih. Memangnya mau menyeberang jalan?" Tanya Gitta.


"Hhhmmm."


Gitta hanya mendengus kesal jika penyakit suaminya sudah kambuh. Namun, dia tidak menolak genggaman tangan suaminya. Dia justru semakin mengeratkan pegangan tangannya. Bagi Gitta, ini adalah pengalaman baru baginya. Jadi, sebisa mungkin dia tidak akan membuat kesalahan atau membuat malu suami atau keluarganya.


Ken membawa Gitta menuju bagian utara tempat tersebut, karena banyak pohon besar yang cukup banyak di sana. Beruntung cuaca tidak terlalu panas siang ini. 


"Mau minum?" Tanya Ken saat sudah sampai pada sepasang kursi kosong yang ada di sana.


"Iya, boleh Mas." Jawab Gitta.


"Aku ambilkan dulu. Tunggu disini." Kata Ken yang langsung pergi mengambilkan minuman untuk Gitta.


Gita segera duduk di kursi yang menghadap panggung utama. Dia segera membuka tas dan mengeluarkan ponselnya. Dia ingin menghubungi mommy untuk mengetahui keadaan adik iparnya, Khanza.


"Assalamualaikum Mom." Sapa Gitta begitu panggilan tersambung.


"Waalaikumsalam sayang. Bagaimana, sudah sampai di Bandung?" Tanya mommy.


"Iya Mom. Ini baru sampai di tempat acara." Jawab Gitta. "Bagaimana keadaan Khanza Mom?" 


"Alhamdulillah Khanza sudah baik-baik saja. Ada retakan di tangan kirinya dan sudah ditangani oleh dokter ahli. Sekarang dia bahkan sudah bisa tidur." Kata mommy.


"Alhamdulillah jika semua sudah baik-baik saja Mom." Jawab Gitta. Gitta segera menutup panggilan telepon tersebut saat ada yang menepuk bahunya.


Gitta menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat paman angkatnya beserta istri dan anaknya. Mereka cukup terkejut saat melihat Gitta yang berada di sana. Pasalnya, acara itu hanya mengundang pengusaha dari perusahaan yang sudah lumayan besar. Exa Pratama? Ya, semenjak diakuisisi oleh GC perkembangannya sangat pesat. Bahkan, sudah mulai dikenal di Singapura dan Malaysia.


Lantas, kenapa Gunawan Wicaksono, paman angkat Gitta masih bekerja di sana? Hal itu karena GC memang masih mempekerjakan dia disana. Bukan sebagai pemimpin tertinggi, tapi sebagai manager pelaksana. Gitta mengetahui hal itu dari Ken setelah pertemuannya dengan sang bibi waktu itu.


"Ngapain kamu di sini hah?" Tanya Salsa dengan angkuh.


Gitta hanya mencebikkan bibirnya. Dia bahkan tidak menyapa paman dan bibinya. Biar saja dianggap tidak sopan. Mereka saja selalu merendahkan orang lain. Batin Gitta.


"Bukanya menjawab malah diam saja. Heh, anak pungut, seharusnya kamu tahu diri. Ini acara besar, untuk orang-orang besar. Tidak seharusnya kamu di sini." Kata bibinya.


Gitta sudah cukup kebal saat mereka selalu menyebutnya anak pungut. 

__ADS_1


"Kalian sendiri, mengapa ada di sini?" Tanya Gitta.


"Tentu saja kami menghadiri acara ini. Kami dapat undangan." Kata Salsa dengan sombongnya.


Gitta hanya memutar bola matanya jengah saat mendengarnya.


"Aku pemilik Exa Pratama yang sudah go internasional. Tentu saja aku harus hadir." Kata paman Gitta dengan bangganya.


Gitta hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari dua orang yang ada di depannya ini. Ternyata mereka tidak pernah berubah. Dari dulu selalu membanggakan apa-apa yang bukan miliknya. Bahkan, sejak sang ibu angkat masih hidup.


"Dengar ya Git, sebaiknya kamu segera pergi dari tempat ini. Kamu nggak seharusnya berada di sini. Jangan mempermalukan diri sendiri dengan berada di tempat orang-orang besar seperti ini." Kata bibinya.


Gitta hanya mencebikkan bibirnya. "Oh, berarti acara ini hanya untuk orang-orang besar seperti paman dan bibi? Memang berat badan paman dan bibi berapa sih sekarang? 80 atau 90 kilogram?" Kata Gitta.


Seketika Salsa yang mendengar perkataan Gitta menjadi semakin geram. 


"Hheeehh, kamu semakin berani ya, dasar simpanan om-om." Kata Salsa.


Ken yang sudah sejak tadi memperhatikan mereka dari dekat pohon, segera berjalan mendekat. Dia pura-pura tidak mengenal siapa mereka.


"Ada apa ini?" Tanya Ken sambil memberikan air minum pada Gitta.


Gitta yang melihatnya langsung menerima minuman tersebut.


"Terima kasih." Kata Gitta.


Ketiga orang yang berada di depan Gitta pun masih memperhatikan interaksi Ken dan Gitta. Terlebih, Salsa. Dia sama sekali tidak berkedip melihat laki-laki yang sama dengan beberapa waktu yang lalu bersama dengan Gitta.


"Kami yang seharusnya bertanya. Siapa kamu?" Tanya paman Gitta.


Paman Gitta menyambut uluran tangan paman Gitta. "Gunawan Wicaksoni, pemilik Exa Pratama." Jawabnya pongah. "Dan, ini istri beserta putriku." Lanjutnya sambil memperkenalkan istri dan putrinya. Namun, Ken sama sekali tidak melihat ke arah bibi Gitta dan Salsa. 


"Kamu siapanya Gitta?" Tanya paman.


Ken menoleh menatap Gitta yang di jawab Gitta sambil mengendikkan bahu. 


"Aku teman Gitta, teman ranjangnya." Jawab Ken dengan santainya.


Ketiga orang tersebut sontak terkejut. Mereka langsung menatap Gitta dengan tatapan menuduh. Mereka berpikir jika Gitta benar-benar telah menjadi simpanan om-om. Ya kali omnya masih muda gitu. 😂


Belum sempat mereka menjawab, terdengar suara pembawa acara hendak memulai acara. Paman dan bibi Gitta segera berlalu dari sana. Sementara Ken dan Gitta memutuskan untuk tetap berada di sana.


"Mas, beneran mereka di undang di acara ini? Kok bisa?" Tanya Gitta.


"Mungkin mewakili om Rudi." Jawab Ken. Ya, setelah diakuisisi, memang perusahaan itu dibawah pimpinan Fahrudi, orang kepercayaan papa Evan. Mungkin om Rudi berhalangan hadir, jadi meminta paman Gitta untuk menghadirinya. Pikir Ken.


Acara sambutan dari berbagai pihak pun segera di gelar. Suara riuh tepuk tangan pun tak berhenti terdengar saat beberapa pengusaha muda tengah memperkenalkan diri di atas panggung. Kebanyakan dari mereka berusia dua puluh lima sampai tiga puluh tahunan. Pengusaha muda yang sangat suamiable. Begitu pikiran para putri pengusaha yang juga turut hadir di sana. Banyak di antara mereka yang terang-terangan berkenalan dengan para pengusaha muda tersebut, tak terkecuali Salsa.


Hal itu pun tak luput dari perhatian Gitta.


"Mas, kenal dengan beberapa orang itu?" Tunjuk Gitta pada sekelompok orang tempat Salsa berkumpul. Ken menoleh menatap arah yang dituju Gitta. 

__ADS_1


"Kenal. Mereka pengusah muda yang bergerak dibidang transportasi dan media." Jawab Ken.


"Hhhmmm pantas saja langsung gercep." Kata Gitta.


Ken menoleh menatap Gitta. "Apa maksudnya?"


"Itu lho Mas, lihat deh ada Salsa di sana. Dia pasti cari gebetan lah. Mereka kan suamiable." Jawab Gitta.


Ken mengerutkan dahinya mendengar jawaban Gitta.


"Kalau aku, suamiable tidak?" Tanya Ken sambil tersenyum ke arah Gitta.


Gitta menoleh menatap wajah Ken, kemudian menggelengkan kepalanya. Ken mendelik saat melihat Gitta menggeleng, sedangkan Gitta langsung tertawa melihat perubahan ekspresi sang suami.


"Kamu itu bukan hanya suamiable Mas, tapi juga pelukable, ciumable, dan yang terpenting daddyable." Jawab Gitta sambil mengusap pipi Ken sambil tersenyum.


Seketika Ken tersenyum lebar mendengarnya. Dia menyambar tangan Gitta dan mengecupnya.


"Sudah berani menggoda ya sekarang, awas saja jika nanti malam lupa." Kata Ken.


Gitta menarik tangannya sambil mengerucutkan bibirnya. Bisa-bisanya dia masih saja ingat tentang hal itu. Batin Gitta.


"Nanti malam apaan sih Mas?" Tanya Gitta pura-pura tidak tahu.


"Tentu saja memanjakan Kj. Sudah dua hari dia dianggurin." Jawab Ken dengan entengnya.


"Aku kan sedang datang bulan Mas, bagaimana sih." Gerutu Gitta.


"Ya, mengetik dong." Jawab Ken sambil melihat ponselnya.


"Mengetik? Maksudnya?" 


Ken mendongak menatap wajah sang istri. "Kamu biasanya mengetik pakai apa sih?" Tanyanya.


"Ya pakai …." 🙄


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Kalau mengetik pakai apa ya? 🙄


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote

__ADS_1


Sambil nunggu up, bisa mampir di ceritaku satunya ya, "the ceo's proposal"


Thank you 🤗


__ADS_2