Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Persiapan Landasan


__ADS_3

Malam itu, Khanza dan Al tidur dengan nyenyak. Tubuh Al terasa letih sekali. Tubuhnya masih mulai menyesuaikan diri lagi dengan aktivitas pekerjaan yang dilakukannya setelah cuti kemarin. Khanza pun juga merasakan hal yang sama. Dirinya juga harus membiasakan diri untuk melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga, sekaligus mempersiapkan diri sebagai mahasiswi.


Keesokan paginya, Khanza segera membantu bi Ros untuk menyiapkan sarapan. Kata mama Al, sang suami memang terbiasa sarapan sebelum berangkat ke rumah sakit. Dia sudah menerapkan gaya hidup sehat. Seperti saat ini, setelah melaksanakan sholat subuh, Al memakai pakaian olahraganya dan melakukan lari pagi di sekitar komplek rumahnya. Meskipun hanya satu putaran, tapi sudah lumayan membuat tubuhnya berkeringat. Setelahnya, dia melakukan olahraga ringan dengan bermain bola basket di halaman depan. 


Khanza sudah selesai memasak sarapan bersama bi Ros. Dia segera membersihkan diri setelahnya. Setelah selesai, Khanza segera meminta sang suami untuk membersihkan diri dan sarapan. 


Al segera menghentikan permainan basketnya. Setelahnya, dia segera pergi untuk membersihkan diri. Sementara Khanza segera menyiapkan sarapan. Tak berapa lama kemudian, Al sudah berada di ruang makan lengkap dengan pakaian kerjanya. Sebuah tas dan jas putihnya tersampir di kursi yang berada di sebelahnya.


"Hari ini ada acara apa?" Tanya Al di sela-sela sarapannya.


"Ehm, aku mau ke butik mommy sebentar untuk mengambil beberapa baju. Boleh kan Kak?" Tanya Khanza.


Al mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya boleh. Tapi ingat, harus berhati-hati. Bilang nanti jika sudah sampai di sana." Kata Al.


Khanza tersenyum senang mendengarnya.


"Iya Kak. Nanti aku akan mengirimi kakak pesan." Jawab Khanza dengan penuh antusias. Selanjutnya, mereka sesekali ngobrol di sela-sela aktivitas sarapan mereka. 


Setelah sarapan, Al segera berangkat ke rumah sakit. Tak lupa juga, Khanza mengecup tangan sang suami yang dibalas dengan sebuah kecupan pada keningnya. Khanza mengantar Al sampai teras depan rumahnya.


Tak berapa lama kemudian, Khanza juga berangkat ke butik sang mommy. Dia ingin mempersiapkan kebutuhannya untuk nanti malam. Dia sengaja tidak memberi tahu sang suami, agar bisa memberikannya sebuah kejutan.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Khanza sudah sampai di butik sang mommy. Hari itu, kebetulan mommy juga sudah datang ke butiknya. Mommy sedang menemui klien yang sejak tadi sudah menunggunya. Khanza segera pergi ke ruang kerja mbak Arini.


"Pagi mbak." Sapa Khanza saat berdiri di depan pintu ruang kerja mbak Arini.


Mbak Arini langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya pagi itu. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat Khanza berada di sana.


"Waahh pengantin baru nih," sapa mbak Arini. "Ayo, sini masuk. Mommy kamu sedang ada tamu. Tunggu disini saja." Kata mbak Arini. Khanza mengangguk mengiyakan. Dia segera masuk ke dalam ruang kerja mbak Arini dan mendudukkan diri di atas sofa yang ada di sana.


Mereka terlibat obrolan ringan setelahnya. Tak berapa lama kemudian, Khanza mendapat sebuah pesan dari sang mommy. Dia diminta untuk segera ke ruangannya. Khanza segera pamit kepada mbak Arini untuk pergi ke ruangan sang mommy.


Khanza segera mengetuk pintu ruang kerja mommy. Dia segera membukanya saat mendengar izin untuk masuk. Khanza melihat sang mommy tengah membuat sketsa baju di atas meja kerjanya.

__ADS_1


"Pagi Sayang, tumben sudah kesini. Suami kamu sudah berangkat ke rumah sakit?" Tanya mommy.


"Sudah Mom. Tadi begitu kak Al berangkat, aku langsung kesini." Jawab Khanza sambil mendudukkan diri di depan sang mommy.


Mommy Retta masih mengamati sang putri.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya mommy.


Khanza masih menggigiti bibirnya. Dia Masih merasa malu membicarakan masalah ini dengan sang mommy. Namun, Khanza meyakinkan diri, jika dia harus membicarakan hal itu dengan mommynya.


"Eehhmm, aku boleh meminta beberap baju dari tante Ezz nggak Mom?" Tanya Khanza dengan suara lirih, namun masih bisa didengar oleh sang mommy.


Mommy Retta tersenyum setelah mendengar pertanyaan sang putri. Dia mulai paham maksud Khanza. Seketika mommy beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Tenang saja, mommy sudah menyiapkan baju-baju dari Ezz Collection untuk kamu. Tapi, mommy mau tanya dulu. Apakah kamu benar-benar sudah siap?" Tanya mommy.


Khanza menatap wajah sang mommy dan mengangguk dengan yakin. Dia tidak akan mundur kali ini. 


"Iya Mom. InsyaAllah aku sudah siap. Aku ingin menjadi istri kak Al lahir dan batin." Jawab Khanza.


Mommy tersenyum mendengarnya. Dia yakin sang putri kecilnya itu sudah dewasa.


Khanza mengangguk mengerti. Cukup lama mereka berbicara tentang banyak hal. Mommy juga memberikan banyak nasehat untuk sang putri. Hingga menjelang makan siang, Khanza mengajak mommynya untuk memesan seblak yang ada di depan butiknya. Dia sudah lama sekali tidak makan makanan tersebut.


Khanza dan mommy Retta menikmati makanan itu bersama dengan mbak Arini dan beberapa karyawan lainnya. Mereka juga asik bercengkrama satu sama lain. Hingga menjelang sore, Khanza berniat untuk segera pulang.


"Ini, mommy sudah menyiapkan semua barang yang kamu butuhkan. Ada beberapa baju dari Ezz Collection, dan ada beberapa aromaterapi. Mommy yakin, kemarin kamu pasti sudah beri bocoran oleh kakak ipar kamu kan?" Goda mommy.


Seketika wajah Khanza langsung merona. Dia merasa malu dengan pertanyaan sang mommy. Tak berapa lama kemudian, Khanza segera pulang. Dia akan menyiapkan semuanya untuk nanti malam.


Saat melewati toko kue, Khanza berhenti sebentar untuk membeli beberapa kue. Tadi Al sempat memberitahukan jika nanti malam habis Isya' ada acara kumpul-kumpul di pos ronda. Dia ingin berpartisipasi untuk saling mengenal dengan warga sekitar. Jadi, Khanza membelikan kue agar bisa di bawa sang suami nanti malam.


Tak berapa lama kemudian, Khanza sudah sampai di rumah. Dia segera membersihkan diri dan membantu bi Ros untuk menyiapkan makan malam.


Menjelang Maghrib, Al sudah pulang. Khanza segera menyambut sang suami dan menyiapkan baju ganti untuknya. Setelah semua selesai, Khanza dan Al segera makan malam bersama. Mereka mengobrol banyak hal tentang kegiatan hari itu. Khanza masih tidak memberitahukan kepada sang suami tentang kejutannya malam itu. Dia ingin menyimpannya hingga malam nanti tiba.

__ADS_1


Setelah makan malam, Khanza segera menyiapkan kue yang akan dibawa oleh Al ke pos ronda. Tak berapa lama kemudian, Al segera berangkat ke sana. 


Setelah Al berangkat, Khanza segera menyiapkan semua keperluannya. Dia memasang aromaterapi yang sudah diberikan oleh sang mommy. Dia juga segera membersihkan diri dan memakai beberapa aromaterapi tersebut pada tempat-tempat tertentu pada tubuhnya yang menurut Gitta, akan sangat disukai oleh Al.


Tak lupa juga Khanza memilih baju tidur yang cukup berani malam itu. Dia mengesampingkan rasa malunya demi sang suami. Khanza memilih baju tidur berwarna merah menyala yang hanya menutupi dua asetnya di bagian atas, bahkan baju tidur itu hanya ditopang oleh tali tipis yang menahannya pada bagian leher. Dibagian bawahnya menjuntai kain tipis transparan yang sama sekali tidak menutupi apapun dibaliknya.


Pada bagian bawah tubuhnya, hanya tertutupi oleh selapis kain dengan ikatan pada pinggang kanan kirinya. Bisa dipastikan jika ikatan tersebut ditarik, penutup bawah tersebut akan langsung terlepas.


Khanza juga memoles wajahnya dengan make up tipis. Rambutnya dibiarkan tergerai indah pada punggungnya yang terekspos secara sempurna. Khanza juga sudah mengganti seprai dan selimutnya dengan yang baru. Dia juga mengatur suhu pendingin ruangan di kamarnya menjadi lebih dingin. Khanza hanya bisa berharap agar mereka tidak terlalu kepanasan.


Setelah semua dirasa siap, Khanza segera naik ke atas tempat tidur. Dia segera berpose sedemikian rupa sehingga menampilkan bagian-bagian tubuhnya. Khanza mengambil beberapa gambar selfie setelahnya. Dia segera memilih beberapa foto yang terlihat bagus dan segera mengirimkannya kepada sang suami. Khanza ingin mengetahui bagaimana reaksi Al setelah membaca pesannya tersebut.


Sementara di pos ronda, Al tengah bercengkrama dengan delapan bapak-bapak yang merupakan tetangganya. Dia duduk pada bangku kayu paling ujung menghadap kerumunan para bapak yang tengah menikmati kue yang dibawanya.


Seketika Al merasakan getaran dari ponselnya yang berada di saku celana pendeknya. Al segera merogoh ponsel tersebut dan memeriksa pesan yang masuk.


Betapa terkejutnya Al saat melihat beberapa foto yang dikirim sang istri yang tengah berpose menantang di atas tempat tidurnya. Seketika tubuhnya langsung menegang. Keringat dingin langsung keluar begitu saja pada kedua pelipisnya. Nafasnya terasa memburu. Ada gemuruh hebat di dadanya, tapi bukan gemuruh di langit. Al merasakan sesuatu di bagian bawahnya sudah mulai menggeliat. 


Dengan tangan gemetar, Al menggeser foto-foto itu ke bawah. Hingga netra matanya menatap pesan di bagian bawah foto tersebut.


Landasan sudah siap untuk mendarat. Aku menunggumu di atas ranjang. ~ Tulis Khanza.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Satu lagi belum selesai ngetiknya ya, mau digabung jadi satu takutnya lama nanti. Semoga nanti malam bisa up lagi.

__ADS_1


Maafkeun othor msh ada kerjaan deadline hr ini, jadi ngetiknya di sambi-sambi.


Tadi juga sudah diinfokan di ig othor. Semoga bisa memaklumi 🙏


__ADS_2