Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Bantuan untuk Sahabat


__ADS_3

Ken keluar dari ruangan daddynya sambil menggerutu kesal. Dia kesal karena sering digoda oleh daddynya itu. Ken segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan segera menuju kantornya, sebab sedari tadi Neo sudah meneleponnya. 


Hari itu, Ken lumayan sibuk. Dia harus mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kepindahannya ke kantor pusat. Daddynya sangat kewalahan menghandle semua pekerjaan sendiri, apalagi daddy Evan memutuskan untuk segera pensiun.


Sore hari saat jam pulang kantor, Ken segera melajukan kendaraannya menuju rumah. Dia harus segera menjemput sang istri untuk pindah sementara di rumah mommynya. 


Ken memarkirkan kendaraannya di depan rumah. Dia tidak memasukkan mobilnya karena yakin akan segera berangkat ke rumah mommynya, meski hanya berjarak beberapa puluh meter. Ken tidak mau bolak-balik esok hari.


Gitta yang mendengar Ken sudah pulang, segera turun. Semua barang-barang yang di akan dibawa ke rumah mommy sudah di pindahkan ke bawah. Gitta segera menghampiri sang suami yang tengah berjalan masuk ke ruang keluarga.


Setelah mengucapkan salam, Ken segera memeluk tubuh Gitta. Namun, secepat kilat Gitta langsung mendorongnya.


"Mas, kok bau banget sih. Mandi dulu gih, sudah aku siapin semuanya." Kata Gitta.


Ken yang mendapat penolakan dari Gitta hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. 


Hhhhhffttt, sabar, sabar. Demi baby. Baton Ken sambil berjalan menuju kamar tidurnya. Sementara Gitta segera menyiapkan makan malam untuk Ken. 


Ken dan Gitta segera membereskan keperluannya dan segera berangkat menuju rumah mommy Retta. Di sana, daddy dan mommy sudah sangat antusias, apalagi mommy. Dia bahkan sudah mau merenovasi kamar masa kecil Ken untuk cucu pertamanya.


"Sayang, kamu masih mau tetap ke butik?" Tanya mommy kepada Gitta saat mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.


"Aku sih terserah mas Ken, Mom. Dia ngasih ijin aku tetap ke butik atau tidak." Jawab Gitta sambil melirik ke arah sang suami.


Seketika mommy dan daddy langsung menoleh ke arah Ken. Ken yang merasa terpojok ditatap oleh tiga pasang mata tersebut hanya bisa mendengus kesal.


"Aku sih terserah kamu, Yang. Jika kamu kuat, tidak apa-apa. Tapi, jika mau di rumah pun aku lebih bahagia." Jawab Ken sambil mengusap rambut Gitta dengan lembut.


Gitta sangat senang dengan jawaban Ken. Wajahnya langsung berbinar bahagia.


"Aku akan sangat senang sekali jika boleh kembali ke butik Mas. Jika berdiam diri dirumah, aku akan sangat bosan nanti." Jawab Gitta.


Setelahnya, diputuskan jika Gitta akan tetap kembali ke butik, tapi dengan catatan dia tidak boleh terlalu capek.


Karena waktu sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk segera beristirahat. Dan, disinilah sekarang Ken berada. Dia tidur di tempat tidur barunya, terpisah dengan Gitta.


Saat sedang menunggu Gitta membersihkan diri, ponsel Ken berdering. Ken segera mengambil ponsel tersebut dan melihat id pemanggil yang sedang menghubunginya. Setelah mengetahui siapa penelepon malam-malam begini, Ken segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Hallo Al." Sapa Ken. Ya, Al sang sahabat lah yang telah menelepon Ken malam itu.


"...."


"Kapan?" Tanya Ken.


"...."


"Oh okay. Setelah makan siang kan. Dimana?" Lanjut Ken.


"...."

__ADS_1


"Okay. Tunggu gue, tapi jika gue belum sampai lo langsung saja ke lokasi. Gue susul kesana." Kata Ken.


"...."


"Okay." Tut. Ken menutuskan panggilan telepon tersebut.


Saat Ken mematikan sambungan telepon, bersamaan dengan Gitta yang juga baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Siapa Mas?" Tanya Gitta sambil beringsut menaiki tempat tidurnya.


"Al. Dia minta untuk ditemani ke rumah Vita." Jawab Ken.


"Om Andreas sudah di pindahkan ke Jakarta Mas? Kapan?" 


"Tadi siang mereka sudah tiba di rumah sakit. Sebenarnya, kata Al keadaan om Andreas sudah lumayan baik. Namun, Al masih khawatir jika papanya bakal ngedrop lagi." Jelas Ken.


Gitta yang mendengarnya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Gitta masih memandangi wajah sang suami yang tengah memainkan ponselnya. Rupanya Ken masih membalas beberapa pesan singkat dari Al. Gitta yang merasa diabaikan langsung merengut kesal.


"Mas Ken ih. Sekarang lebih menarik ponselnya ya daripada istrinya." Gerutu Gitta.


Seketika Ken menoleh menatap wajah Gitta yang tengah merengut kesal. Dia bingung harus berbuat apa.


"Sayang, bukan begitu. Aku balas chat Al ini. Kamu mau aku temani bobok?" Tanya Ken hendak beranjak dari tempat tidurnya.


Gitta mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nggak usah. Jangan dekat-dekat, mas Ken bau." Jawab Gitta sambil berbalik menarik selimut dan memeluk gulingnya.


Pagi itu, drama seperti biasa terjadi. Ken masih mengalami morning sickness. Dia sudah bolak balik ke kamar mandi sejak usai melaksanakan ibadah sholat subuhnya.


Hari itu, Ken berangkat ke kantornya beberapa saat setelah sang daddy. Setelahnya, diikuti oleh Gitta yang berangkat ke butik bersama dengan mommy. Berhubung saat ini masih libur semester, jadi Gitta akan ikut ke butik mommy sejak pagi.


Hingga saat makan siang tiba, Ken sudah bersiap-siap untuk menemui Al. Dia juga sudah berpesan kepada Gitta agar tidak lupa makan siang dan meminum vitamin yang diberikan oleh dr. Evita.


Ken mengemudikan kendaraannya menuju sebuah restoran yang ada di dekat rumah sakit tempat om Andreas di rawat. Al, juga sudah menunggunya disana. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Ken dan Al segera berangkat menuju rumah Vita. Sebelumnya, Al memang sudah menghubungi Vita jika dia akan ke rumahnya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit, mereka akhirnya tiba di rumah Vita. Al dan Ken segera turun dari kendaraan begitu mobil mereka sudah terparkir di depan rumah Vita. 


Begitu mereka memasuki halaman rumah Vita, mereka dikejutkan oleh sesosok laki-laki yang tengah berdiri di depan pintu rumah tersebut. Ya, dia adalah Nurhadi, paman Vita. Entah ada urusan apa dia ada di rumah Vita. Apa mungkin dia merasa sebagai wakil dari keluarga Vita karena ayahnya sudah meninggal. Entahlah, Ken dan Al tidak peduli dengan hal itu. Maksud mereka datang ke sana adalah menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dan memutuskan perjodohan tersebut secara baik-baik.


"Mau apa kalian datang kesini hah?" Tanya paman Vita sok galak. Ken dan Al saling pandang saat mendapati tatapan tajam dari paman Vita.


"Kami mau bertemu dengan Vita dan ibunya." Jawab Al.


"Buat apa kamu menemui mereka? Mau membujuk untuk melanjutkan perjodohan ini hah?" Tuduhnya lagi.


Al menjadi geram dengan laki-laki yang ada di depannya ini.


"Aku tidak ada urusan dengan anda. Dan bukan menjadi sebuah keharusan untuk menjelaskan maksud kedatangan kami kemari kepada anda. Minggir." Kata Al sambil menerobos tubuh paman Vita yang menghalangi tangga menuju teras rumah Vita.

__ADS_1


Saat mereka hendak mencapai pintu rumah utama, ibu Vita ternyata sudah keluar. Beliau langsung meminta Al dan Ken untuk segera masuk. Paman Vita pun mau tidak mau mengikuti mereka.


Ibu Vita segera meminta Al dan Ken untuk duduk di ruang tamu mereka. Tidak terlalu kecil, namun juga tidak terlalu besar. Sementara paman Vita ikun duduk di sebuah single sofa di dekat jendela.


Sebelum Al dan Ken memulai menyampaikan maksud kedatangan mereka, tiba-tiba datang seorang perempuan seusia Gitta dan wanita paruh baya keluar dari ruang tengah. Disusul oleh Vita yang keluar setelah mereka. Mereka semua mengambil posisi duduk berseberangan dengan Al dan Ken.


Al dan Ken saling lirik setelahnya. Mereka sudah bisa memprediksi hal ini sebelumnya. Akhirnya, Al memulai untuk mengungkapkan maksud kedatangannya saat itu.


"Sebenarnya maksud kedatangan kami kemari.." 


"Halah, tidak usah berbelit-belit. Langsung saja katakan apa maksud kedatanganmu kemari!" Bentak paman Vita.


"Kak, tenang dulu. Biarkan nak Al menyampaikan maksud kedatangannya dulu." Kata ibu Vita.


Al dan Ken sebenarnya sudah sangat geram dengan kelakuan Nurhadi ini. Namun, mereka masih bisa sabar. Al dan Ken masih menghormati ibu Vita.


Al kembali menghirup nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.


"Sebenarnya Bu, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk mengklarifikasi bahwa perempuan kemarin yang datang kemari dan mengaku-ngaku sebagai pacar saya yang tengah mengandung adalah tidak benar. Dia bukan pacar saya, dan saya sama sekali tidak mengenalnya." Kata Al.


"Pembohong!" Bentak paman Vita. "Dasar laki-laki tidak tahu malu. Sudah menanam benih pada rahim perempuan, tapi masih tidak mau mengaku. Cuiihh. Laki-laki baj*****." Kata paman Vita.


Sontak Al yang sudah tidak bisa menahan amarahnya langsung beranjak berdiri dan menghampiri Nurhadi. Secepat kilat dia menyambar kerah baju paman Vita dan menariknya hingga dia terbangun dari posisi duduknya.


"Dengar. Aku tidak ada urusan denganmu. Kamu sudah berani macam-macam dengan orang yang salah." Geram Al.


Paman Vita yang masih kaget dengan perlakuan Al yang tiba-tiba berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Al pada kerah bajunya. Namun, usahanya gagal. Cengkraman Al sangat kuat. 


"A-apa maksudmu hah?" Kata paman Vita.


"Kau masih saja berlagak tidak tahu menahu tentang masalah ini hah. Mau aku seret sekalian kesini perempuan itu?" Tanya Al dengan mata penuh emosi.


"Kau sudah tidak waras. Perempuan yang mana maksudmu?" Tanya paman Vita.


Al yang masih dengan tatapan tajamnya segera memberikan kode kepada Ken.


"Ken!"


"Okay. It's show time." Jawab Ken.


.


.


.


.


.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Akan ada show apa ya,


__ADS_2