Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Mas Musa akhirnya pergi meninggalkanku


__ADS_3

Mendadak aku merasa sedih, sepertinya aku akan segera kehilangan tanpa sebuah kepergian. Mas Musa datang ke rumah sakit bukan semata-mata karena Pak Bian, tapi karena kekhawatirannya pada Mba Mariam. Ya Alloh ... haruskah aku kembali iri pada Mba Mariam? Dia tidak memiliki suamiku tapi dia memiliki seluruh hati dan jiwanya. Lalu, aku ini apa?


Pak Bian yang menjadi alasan terbesar Mas Musa untuk ikhlas, kini sudah tidak ada. Tiba-tiba aku merasa terbentang jurang, yang akan segera memisahkan aku dan Mas Musa, meluluh lantakkan semua perjuanganku untuk mendapat tempat di hati Mas Musa.


Apa ini rencana-Mu Ya Alloh? Mempertemukan kami dengan Mariam dalam keadaan bahagia, namun dalam sekejap mengambil kebahagiaan Mariam saat Mas Musa sudah mulai berusaha mencintaiku. Tidak akan mudah bagi Mas Musa menutup mata pada kesedihan Mba Mariam, buktinya dia segera datang ke rumah sakit untuk Mba Mariam.


Astaghfirulloal'adzim .... Aku telah su'udzon pada takdir-Mu Ya Alloh, ampuni aku!


Rombongan keluarga dari kampung halaman Pak Bian dan Mba Mariam mulai berdatangan, kemungkinan besar keluarga Mba Mariam ada yang mengenal Mas Musa, bukankah mereka berasal dari daerah yang sama? Sebuah kota dekat kaki gunung Merapi. Semua larut dalam suasanya yang mengharu biru, kepergian Pak Bian yang tiba-tiba menyisakan banyak sekali duka.


Aku tidak mempunyai banyak kesempatan untuk mendekati Mba Mariam atau pun Oktavia, banyak sekali yang datang hanya untuk sekedar meminjamkan pundak mereka untuk tempat Mariam menangis, baik Mba Mariam ataupun Pak Bian sepertinya bergaul dengan sangat baik kepada tetangga dan lingkungan sekitar, sehingga banyak sekali yang bersimpati dan ikut berduka.


'Semoga Pak Biantara husnul khotimah, Aamiin!'


Dari tempatku, aku melihat Mas Musa yang membaur dengan pelayat laki-laki lainnya, Mas Musa terus saja mencuri pandang ke arah Mba Mariam sambil sesekali menyeka air matanya sendiri. Mba Mariam terus saja menangis dan terkadang pingsan, Oktavia kecil yang terus menangis dan menjerit, hingga akhirnya tertidur karena lelah. Siapapun yang menyaksikannya akan ikut merasa sedih, tapi Mas Musa sepertinya lebih dari sedih, apa kamu merasakan sakitnya Mba Mariam, Mas?


Aku, istri yang mengejar cinta pertama suamiku demi mendapat cinta yang sama darinya. Aku tidak menyangka pernikahan yang kuharapkan bahagia akan sesakit ini.


Setelah pemakaman selesai aku menghampiri Mas Musa dan mengajaknya pulang. Sudah hampir malam, aku yakin Mas Musa belum makan. Mas Musa banyak mendiamkanku, bahkan tawaran untuk makan ditolak dengan halus oleh Mas Musa, Mas Musa seolah sibuk dengan batinnya sendiri.


Selesai sholat Mas Musa memanjangkan Dzikirnya, Mas Musa kembali menangis di dalam doa-doanya, doa yang panjang dan penuh kesedihan. Aku merasa tidak berguna sebagai seorang istri, seolah keberadaanku sama sekali tidak bermakna apa-apa.


Badanku sangat lelah, begitu juga batinku. Kurebahkan tubuhku mencoba mencari kekuatan baru. Dengungan doa Mas Musa masih bisa terdengar di kepalaku, pada akhirnya, aku mulai terbiasa dengan doa Mas Musa yang bukan untukku. Biarlah. Aku lelah.

__ADS_1


"Mas Musa .... !" Aku berteriak dengan terengah-engah dan badanku penuh dengan keringat dingin.


"Istighfar Dek ... Istighfar!" Mas Musa sudah berada di sampingku dengan wajah panik dan khawatir, mimik wajah yang baru pertama kali kulihat.


"Astaghfirullohal'adzim ... !"


Mas Musa turun dari ranjang dengan terburu-buru, aku hanya melihat punggungnya yang menghilang di balik pintu. Aku sibuk menenangkan jantungku yang berdebar-debar tidak karuan, Ya Alloh aku mimpi buruk, di waktu dan keadaan yang hampir sama dengan saat Mas Musa memimpikan Mariam. Kuseka keringat yang membasahi wajah dengan lengan bajuku.


Mas Musa datang tergopoh-gopoh dengan membawa segelas air putih. Dia mendekat dan membimbingku untuk meminumnya.


"Bissmillah Dek," tuntun Mas Musa.


Aku sungguh bermimpi Mas Musa akhirnya pergi meninggalkanku dan memilih pergi bersama Mba Mariam, pikiran buruk yang memang selalu menghantuiku, tapi tidak menyangka ketakutan itu akhirnya datang dengan nyata dalam wujud mimpi.


Di detik itulah, aku tersadar, aku sudah jatuh terlalu dalam, aku begitu takut kehilangan ... Mas Musa. Aku menyesal telah mengusik masa lalu yang kini terasa seperti ancaman, andai waktu bisa diulang, aku takan mengejar Mba Mariam.


Aku membalas pelukan suamiku seiring dengan tangisku yang meledak.


"Jangan tinggalin aku, Mas!" ucapku memohon.


"Tenang Dek, nggak ada yang mau ninggalin kamu sayang!"


Sayang? Benarkah Mas Musa menyebutku sayang?

__ADS_1


"Sudah ya, mungkin tadi sebelum tidur Adek lupa nggak berdoa." Mas Musa menenangkanku yang menangis seperti anak kecil yang takut bonekanya direbut.


"Berjanjilah, Mas! Jangan tinggalin Medina!"


"Iya sayang, mas janji nggak akan ninggalin kamu, Dek." Senang rasanya mendengarnya, biarpun aku tahu butuh lebih dari sekedar janji, tapi aku ingin bahagia walau hanya dengan sebuah janji.


"Tenanglah Dek, itu hanya mimpi buruk, ayo istirhat lagi! Kamu keliatan lelah," ucap Mas Musa, dia kembali membimbingku untuk tidur.


Namun aku tidak mau melepas pelukanku pada Mas Musa, aku tidak mau kehilangannya.


"Boleh Medina minta tidur sambil dipeluk?"


"Iya, tenanglah, sekarang tidur dulu ya."


Aku mengangguk pelan, Menikmati pelukan ini, rasa aman dan nyaman membuatku ingin memiliki Mas Musa seutuhnya, hati dan juga jiwanya. Aroma tubuh Mas Musa yang sangat kusukai, bahkan sorot mata khawatir yang untuk pertama kali dia berikan padaku. Aku akan lebih gila dari Mba Mariam, seandainya aku harus kehilangan Mas Musa.


Sayup-sayup aku mendengar lantunan sholawat dari bibir Mas Musa, sambil terus mengusap kepalaku dengan lembut. Suaranya yang merdu menyusup perlahan sampai ke jiwaku. Perlakuan romantis yang sederhana, yang selalu membuatku meleleh dan pasrah menikmatinya. Sikap yang membuatku tidak pernah bisa membenci apa yang ada di dalam hati Mas Musa, sikap yang membuatku menyesal karena belum mampu memberikan kebahagiaan dan juga keturunan.


Jika Mas Musa belum mampu melupakan Mba Mariam, itu sepenuhnya adalah kesalahanku.


Seketika mengalir rasa hangat ke dalam hatiku, kehangatan yang seharian ini hilang. Sikap Mas Musa memberi efek tenang yang luar biasa, meredam semua kegelisahan dan ketakutan. Seperti air sejuk yang meredakan dahaga dan seperti obat yang menyembuhkan sayatan-sayatan pada luka hatiku.


Tidak lagi kurisaukan sikapnya pada Mba Mariam yang selalu membuatku iri dan cemburu. Sikapnya padaku sekarang ini pun cukup membuatku merasa seperti di surga. Cinta yang menenangkan. Aku tidak peduli lagi pada separuh hati Mas Musa yang berisikan Mba Mariam.

__ADS_1


....


__ADS_2