
"Udah, Mas! Jangan diteruskan!" ucap Mariam.
"Kamu, Mar! Lihat akibatnya sekarang, semua terjadi karena kamu nggak dengerin omongan mas! Dari dulu mas sudah ngelarang kamu berhubungan sama dia."
Lelaki itu memandang Musa penuh kebencian.
"Din, lebih baik kamu bawa suamimu pergi," ucap Mariam pada Medina yang masih nampak syok.
"Enggak, Mar!" tolak Musa.
"Aku memang harus bicara pada Mas Faisal."
Mas Faisal masih dengan kesalnya duduk di sofa di sudut ruangan.
"Duduk."
Musa hanya diam dan mengikuti perintah Mas Faisal, Medina yang bingung dan tidak mengenal lelaki itu pun mengekor di belakang suaminya.
"Dari dulu aku nggak suka kamu mendekati adikku, kami sadar siapa kamu dan siapa Mariam. Aku nggak mau Mariam diperlakukan seenaknya olehmu atau pun keluargamu," ucap Mas Faisal dengan geram, suaranya tidak lagi keras namun masih tetap sinis.
"Suami Mariam baru meninggal saja kamu langsung buru-buru nikahin dia, padahal aku sudah tenang kamu jauh dari Mariam. Mentang-mentah orang tua kami sudah tua dan miskin kamu dengan mudah bersilat lidah dan membuat ibuku setuju menikahkan kalian." Musa hanya diam, mendengar permasalahan hidupnya dari sudut Mas Faisal.
"Sekarang lihat! Seenaknya kamu membuang dia saat hamil begitu!"
Musa terdiam membiarkan sosok di depannya menumpahkan segala kekesalan di hatinya. Sadar, karena mencoba menjelaskan adalah hal yang percuma. Mas Faisal adalah kakak Mariam yang sejak dulu tidak suka ketika mereka menjalin hubungan asmara.
Dia banyak menghabiskan hidupnya merantau ke pulau lain. Sehingga kedatangannya yang tiba-tiba membuat Musa terkejut. Musa pernah menanyakan keberadaan Mas Faisal dulu saat mereka masih menjadi suami istri. Mariam hanya menjelaskan bahwa kakaknya itu berkerja di pulau X.
"Maafkan aku, Mas Faisal. Tapi ... kejadiannya nggak seperti yang Mas Faisal pikir."
"Halah! Kamu pikir keluargaku lemah? Mariam lemah? Sehingga kamu bisa seenaknya, kamu mendekati Mariam dengan berbagai cara, dan ketika dia sudah nggak berguna kamu membuangnya seperti sampah!" ucap Mas Faisal, dadanya naik turun menahan amarah.
"Mas, Berhenti!" seru Mariam.
"Istighfar Mas, Mizan benar. Ceritanya nggak kaya gitu," ucap Mariam mencoba menenangkan kakaknya.
"Din ... bawa pergi suamimu dari sini. Bawa pergi!" perintah Mariam lagi.
"Mas ... ayo kita pergi," ajak Medina setengah berbisik di telinga Musa.
"Benar! Pergi saja! Jangan ganggu Mariam dan keluarga kami lagi. Atau kau akan berhadapan denganku!" ucap Mas Faisal.
"Mas ... mungkin kesalahan pahaman kita terlalu dalam, aku juga nggak mengerti apa yang menyebabkan Mas Faisal benci sekali dengan keluargaku. Masalah ini mohon jangan dikaitkan dengan masa lalu. Aku siap menghadapi resikonya, termasuk menghadapi Mas Faisal, karena anak Mariam adalah darah dagingku. Aku bukan anak ingusan yang pengecut lagi, aku siap bertanggung jawab atas semua yang sudah terjadi."
"Ayo Dek ... kita pulang," Musa menggandeng tangan Medina dan melangkah pergi.
"Oh iya, Mariam. Maaf atas semua kesalahanku selama kita bersama, aku dan keluargaku tidak akan mempersulitmu lagi, kalau kamu minta kami pergi dari kota ini, kami akan pergi."
"Tapi ... biarkan aku bertanggung jawab pada anak itu. Jangan sungkan meminta bantuan jika kamu kesusahan atau membutuhkan darah seperti kemarin. Dan ... biaya rumah sakit ijinkan aku membayarnya. Untuk terakhir kalinya, tolong terima semua bentuk tanggung jawabku, hargai usahaku, bagaimanapun juga aku adalah ayah dari anak ada di kandunganmu."
"Assalamualaikum!"
"Lihat Mariam! Anak itu selalu menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah!" seru Mas Faisal.
__ADS_1
Medina sempat mendengar kata-katanya tapi genggaman erat dari Musa tetap menuntunnya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Mas, sudah!" ucap Mariam.
"Kenapa kamu nggak pernah ndengerin omongan masmu ini?!"
"Mas, tenang dulu. Aku meminta bantuan Mas Faisal kemari bukan untuk marah-marah begitu. Nanti Mas Faisal yang malu sendiri karena salah mengerti."
Teh Desi yang sadar posisinya segera pamit membiarkan Mariam dan Mas Faisal bicara. Sejak beberapa hari lalu, semua urusan konveksi dan toko Mas Faisallah yang menghandel. Mas Faisal sampai tidur dan menginap di ruko karena banyak sekali yang harus dikerjakan sejak Mariam sakit.
Mas Faisal mulai diam dan menahan emosinya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mas. Aku sekarang wanita dewasa yang berhak memutuskan arah hidupku sendiri."
"Hah? Lihat hidupmu, Mar! Apa ini langkah wanita dewasa? Hamil dan dicerai suaminya?"
"Cukup, Mas! Ini memang pilihanku. Seburuk apapun orang lain menilai, ini tetap pilihan yang terbaik bagiku dan anak-anakku. Aku kecewa Mas Faisal tidak mendukungku, Mas malah menghakimiku seperti orang lain."
"Hhhhh ... baiklah-baiklah. Tapi mas puas sudah memberi dia satu pukulan, biar dia sadar, tidak semua orang miskin itu lemah dan tidak berdaya," ucap Mas Faisal mengalah pada adiknya.
"Mas ... Mizan nggak sepenuhnya salah, dan berhenti membencinya hanya karena Mas Faisal pernah bermasalah dengan Mas Harun, kenapa merembet kemana-mana?"
"Hey, mas membelamu, Mar!"
"Emangnya aku nggak bisa menilai? Mas nggak sepenuhnya membelaku."
"Hahh, sudahlah!"
"Iya, tapi tetap saja kasih tahu ibu sama bapak kalau kamu itu sedang hamil."
"Pasti, Mas!"
"Mengenai konveksi biar mas yang urus, mas membuka lowongan untuk posisi-posisi penting biar kamu nggak kewalahan mengurus semuanya seorang diri. Prospek bisnis kamu cukup besar, Mar. Jangan sampai salah melangkah."
"Terimakasih, Mas!"
🍀🍀🍀
"Mas, apa masih sakit?" tanya Medina melihat sebuah tanda kebiruan di sudut bibir Musa.
"Nggak papa, Dek. Mas pantas menerimanya, setidaknya rasa bersalah mas pada Mariam sedikit berkurang walaupun sakit ini belum seberapa dibanding penderitaan Mariam."
"Lelaki itu tadi? Kakak kandung Mba Mariam?" tanya Medina setelah memendam rasa penasarannya sedari tadi.
"Iya, Mariam hanya dua bersaudara."
"Kenapa dia begitu membencimu, Mas?"
"Entahlah, Dek. Mas Faisal awalnya teman dekat Mas Harun, entah apa yang terjadi diantara mereka, sepertinya kesalahpahaman mereka berlarut-larut."
"Oh, begitu? Menyeramkan sekali Mas Faisal itu, tapi pantas sih kalau mereka kakak beradik, Mba Mariam pun kalau lagi marah kata-katanya sadis, mirip kakaknya."
"Kamu bisa aja, Dek. Oh iya, kamu nggak papa?" tanya Musa sambil mengusap lembut perut Medina.
__ADS_1
"Nggak papa, Mas. Tadi sempet tegang aja karena kaget."
"Syukurlah, terimakasih Dek. Kalian berdua telah menjadi sumber kekuatan bagi mas untuk menghadapi masalah ini."
"Sama-sama, Mas."
"Mas hanya mencoba melaksanakan tanggung jawab mas sebaik-baiknya. Mas harap kamu nggak salah paham, kamu adalah satu-satunya yang akan menjadi ratu di hati mas, Dek."
"Medina paham, Mas. Medina memang sempat takut kalau Mas Musa akan kembali pada Mba Mariam karena keberadaan anak itu, tapi sepertinya perceraian kalian memang jalan terbaik."
"Terimakasih, Dek. Kesabaranmu membuat cinta di hati mas tumbuh semakin besar dan kuat. Mas sangat beruntung mendapatkan istri sebaik dirimu." Wajah Medina bersemu merah mendengarnya.
"Benarkah, Mas?" tanya Medina.
"Benar, Dek. Semua yang mas ucapkan tulus dari hati, mas. Mas memang melewatkan Mariam, tapi mas nggak akan pernah melewatkanmu."
"Cinta Mas Musa untuk Mba Mariam dulu sangatlah besar, Medina bertekat menanam cinta yang sama, walau butuh waktu lama akhirnya Medina berhasil. Hati Mas Musa tak ubahnya seperti bongkahan batu, saat Medina memberinya setetes air setiap hari batu itu akan pecah juga pada akhirnya."
"Masya Alloh, Dek. Begitu besar dan tulus kasih sayang dan cintamu. Maaf karena harus membiarkanmu melalui jalan yang sulit selama ini."
"Medina ikhlas, Mas. Medina yakin, sesuatu yang Medina dapatkan dengan susah payah pada akhirnya tidak akan lepas dengan mudah."
"Mas yakin, bidadari surga pun akan cemburu pada istri mas yang cantik ini."
"Hem, nanti Medina GeeR."
"Sudah janji Alloh untuk istri yang sabar dan sholehah sepertimu."
"Aamiin, ya Mas. Nanti kita bisa sehidup sesurga bersama."
"Aamiin."
"Sudah, Mas. Medina nggak mau menambah beban pikiran Mas Musa, Medina percaya kok kalau Mas Musa sudah benar-benar mengikhlaskan Mba Mariam. Jadi jangan sungkan sama Medina."
"Apapun yang Mas Musa lakukan sekarang hanya untuk anak itu, Medina sepenuhnya menerima anak itu juga. Mas Musa fokus saja pada anak itu dan sekarang kita masih punya PR besar, yaitu memberi tahu ibu." Medina terus berusaha membesarkan hati Musa.
"Terimakasih, Dek."
"Ayo kita beritahu Ibu!"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1