Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Tentang Mas Faisal


__ADS_3

"Mah, Okta mau sama Abi sama Eyang," rengek Okta.


"Anakmu, Mar. Kenapa kamu biarin dia terlalu deket sama keluarga itu?" protes Mas Faisal.


Aku terhenyak, memang salahku.


Aku jarang pulang ke kampung halaman sehingga Okta tidak terlalu dekat dengan orang tuaku, Okta lebih dekat dengan keluarga mertuaku, orang tua Mas Bian.


"Okta nanti eyang akan kesini," ucapku menenangkannya.


Aku berencana memboyong orangtuaku kemari untuk beberapa waktu, aku berhutang penjelasan pada mereka. Okta menurut dan kembali fokus pada jalanan walaupun hatinya sedikit kesal. Untunglah dia adalah tipe penurut, semua berkat kesabaran Mas Bian yang telaten mengadapi tantrumnya pada masa terrible two hingga akhirnya Okta lulus tantrum dengan mudah.


Aku merindukanmu, Mas.


Hatiku sudah mati, logikaku berjalan lebih cepat dari pada rasa, tidak seperti kebanyakan wanita. Aku harus bertarung dengan kehidupan hingga terkadang naluri sebagai ibu sering terabaikan.


Aku lega, Bu Aini tidak bisa mengambil Oktavia, bahkan anak ini yang jelas-jelas cucu kandungnya pun tidak dia minta dengan halus. Aku beruntung, Mas Faisal datang tepat waktu. Meskipun Mas Faisal terus menerus membahas kesalahanku dan mengatakan pernikahan itu bodoh dengan sangat menyebalkan, tapi memang begitulah dia, terkadang jahat di mulut sebagai saudara, tapi hatinya tetap baik.


Mas Faisal pernah berkeluarga, konon katanya wanita itu adalah wanita yang juga dicintai oleh Mas Harun. Di titik itulah persahabatan mereka berantakan dan masih belum ada penyelesaian diantara mereka sampai saat ini.


Hanya hitungan bulan Mas Faisal terpaksa bercerai karena keluarga wanita itu selalu menginginkan lebih dan lebih. Sang wanita lebih berat ke Mas Faisal sementara keluarganya lebih memilih Mas Harun. Sadar status keluarga kami saat itu masih rendah, tidak berada, apalagi tersohor. Perceraiannya itu menyebabkan Mas Faisal berubah dan menjadi pekerja keras, dengan modal membeli beberapa motor bekas kemudian dijual lagi, hingga usahanya berkembang dan saat ini memiliki showroom jual beli mobil yang tersebar di 4 kota besar.


Mas Harun yang patah hati memilih belajar ke Kairo, bekerja di sana, bahkan membina rumah tangga di sana. Sesaat sebelum pernikahanku dengan Mizan, itulah pertama kalinya dia pulang walau hanya sebentar.


"Hey jangan melamun!" tegur Mas Faisal.


"Kenapa? Menyesal berpisah dengan lelaki itu?" sindir Mas Faisal.


"Enggak," jawabku jengkel.


"Tolong jangan bahas dia lagi, Mas," ucapku kesal.


"Mariam ... Mariam, mas pikir kamu udah sadar pas nikah sama Bian eh ... kecemplung lagi sama adik si Harun itu pas Bian meninggal," sindir Mas Faisal.


"Mas ... jangan diterusin!"


Mas Faisal akhirnya diam, tanpa terasa mobil telah sampai di halaman rukoku. Aku merindukan tempat ini.


Aku segera menuntun Oktavia masuk, beberapa pegawai menyapaku dengan ramah. Mas Faisal langsung naik ke lantai atas untuk melihat bagian produksi. Sementara aku masuk ke ruangan kecil milikku, tempat dimana kepiluanku bisa menguap.


Tak lama kemudian Teh Desi datang menghampiriku, mungkin dia tahu kedatanganku dari Mas Faisal sehingga dia langsung turun meninggalkan sejenak pekerjaannya.


"Mba Mariam udah sehat?" sapanya seraya mendekat dan memelukku.


"Alhamdulillah, Teh. Udah. Makasih ya Teh atas bantuannya kemarin," ucapku.


"Jangan sungkan Mba, teteh malah pengen bantu lebih tapi teteh ngga tahu mau ngapain. Tapi kakak Mba Mariam hebat tau, dia banyak ngasih aturan baru dan sistem baru."


"Kakakku hebat kan, Teh?" ucapku.


"Iya, langsung jadi inceran anak-anak toko, katanya duren masuk kulkas, hehehe ...."


"Hah? Masuk kulkas?" ucapku heran.


"Iya, Mas Faisal kan cool, keren, dingin-dingin gimana gitu, tegas, rapih, pinter, pokoknya idaman."

__ADS_1


"Hebatlah kalau ada yang bisa naklukin dia."


"Boleh nih, Mba Mariam? Anak-anak konveksi juga pada nanyain soalnya."


"Silahkan, bebas, ahaha ...."


Kami berdua tertawa lepas. Inilah yang kurindukan dari bekerja, bersenda gurau sejenak melupakan hatiku yang porak poranda. Mengejar deadline, target, melayani customer, rebutan bahan baku dengan pengusaha lain, semuanya membuatku tenggelam dan lupa pada takdir bodoh yang menjeratku setelah kepergian Mas Bian.


"Selamat ya Mba, sekarang Mba Mariam nggak perlu lagi ngumpetin kehamilan ini."


"Iya Teh, lega rasanya ... bebas berpenampilan ala diriku sendiri, bukan lagi baju kebesaran yang bukan gayaku."


"Tapi ...," tentu saja ada yang mengganjal di pikiranku.


"Gosip di tetangga semakin liar ya, Teh?"


"Ya begitulah manusia, Mba. Mereka banyak menghujat Pak Musa karena menceraikan Mba Mariam dalam keadaan hamil," tutur Teh Desi.


"Sudah Mba, biarin aja, kalo udah bosen juga berhenti sendiri. Anggep aja mereka lagi ngurang-ngurangin dosa Mba Mariam."


"Iya sih, Teh. Tapi aku takutnya semua gosip ini berdampak juga ke Okta, juga ke tokoku."


"Ada Lisa yang jaga Okta, Mba. Kalau ada yang berani ganggu Okta pasti Lisa lapor ke teteh," ucap Teh Desi.


Tentu saja, aku mengetahui gosip-gosip itu pun dari mulut Lisa.


"Untuk toko Mba Mariam jangan khawatir, penjualan online kita semakin pesat, omsetnya naik berkali-kali lipat, bahkan Mas Faisal udah membuat sistem downline-downline dan reseller di berbagai kota. Kemarin Mas Faisal udah ngerekrut karyawan khusus packing, bayangkan aja, sehari hampir rata-rata 500 sampe 1000 paket itu enggak mati, Mba. Mana bisa anak toko ngerjain semua itu, anak konveksi juga udah mulai keteteran."


"Alhamdulillah ...."


Aku takjub pada rezeki-MU Ya Alloh, setelah Kau cabut semua nikmat batinku dan memaksaku melawan kodrat sebagai wanita yang ingin berlindung di bawah naungan suami, Engkau memberiku rezeki sedahsyat ini.


"Doain ya, Teh. Semoga bisa berkembang sepesat mungkin, lumayan bisa mengurangi angka pengangguran."


"Pasti Mba Mariam, oh iya gaji saya dinaikin sama Mas Faisal, tapi katanya saya harus lebih rajin dan bertanggung jawab ngatur anak-anak konveksi," tutur Teh Desi dengan senang.


"Alhamdulillah, aku ikut seneng dengernya, Teh Desi pantes kok dapet semua itu."


"Terimakasih ya Mba, ekonomi keluarga saya membaik sejak Mba membuka usaha ini, saya doakan biar Mba Mariam selalu sehat, dan sesegera mungkin bisa bahagia."


"Aamiin."


Kehadiran Mas Faisal benar-benar menjadi penolongku, namun sifatnya yang gila kerja membuatku sedikit khawatir, aku ingin dia juga bahagia mempunyai istri dan keluarga. Sedih rasanya melihatnya betah menduda sekian lama karena patah hati, tapi patah hati itulah yang membuatnya bangkit dan menjelma menjadi 'orang'.


Seharian ini aku kembali larut dalam pekerjaan, lebih tepatnya mengawasi. Mas Faisal benar-benar mengatur semuanya dengan baik. Oktavia telah pulang bersama Lisa, dia harus sekolah Bimba dan Madin.


Sebuah dering panggilan masuk ke ponselku. Nampak di layarnya, 4 panggilan tak terjawab sebelumnya.


"Mizan?"


"Kenapa dia?" gumamku.


Dering berikutnya keputuskan mengangkat panggilannya, mungkin ada sesuatu yang mendesak atau penting.


"Halo ... assalamualaikum," sapaku.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Mar," jawabnya dari seberang.


"Ada apa, Zan?"


"Hem, bisakah kita ketemu? Ada sesuatu yang harus berikan."


"Apa?"


"Nanti juga tahu, bagaimana? Bisa? Kita ketemu di cafe xxx," ucapnya lagi dengan sedikit gugup.


"Hem ... baiklah."


Cafe yang disebutkan Mizan lokasinya cukup jauh, aku bisa menduga kalau gosip itu pun telah sampai ke telinganya. Sehingga dia meminta bertemu di lokasi yang seharusnya tidak banyak orang mengenali kami, apalagi menggosipkan kami.


Aku berpamitan hendak jalan-jalan pada Mas Faisal, tidak mungkin aku jujur padanya, pasti dia melarang atau kembali marah-marah.


Kulajukan mobilku membelah kota, dan bertanya-tanya apa yang hendak Mizan berikan. Keadaanku yang tidak perlu lagi disembunyikan membuat hatiku ringan dan percaya diri untuk bertemu dengannya.


Sampainya di depan pintu masuk cafe, Mizan melambaikan tangannya dari salah satu meja. Aku terkejut mendapatinya sendirian, aku pikir dia akan datang bersama Medina. Dengan ragu aku mendatanginya, dan saat hendak menarik kursi dengan sigap Mizan menariknya untukku, dan mempersilahkan aku duduk.


"Terimakasih," ucapku singkat.


"Aku senang melihatmu sehat, Mar. Kamu terlihat lebih segar dari kemarin," ucapnya.


"Aku pikir kamu mengajak Medina."


"Medina ikut ibu pulang tadi pagi," jawabnya.


"Ohh ...." Agak risih rasanya menemuinya tanpa Medina.


"Hem, ada apa?" tanyaku berharap pertemuan ini tidaklah lama.


"Aku hanya ingin memberikan ini ...."


Mizan menyodorkan sebuah kartu kecil, kartu yang telah kukembalikan sebelumnya melalui perantara Teh Desi.


"Tolong diterima ... kamu masih dalam masa iddah dan masih menjadi tanggung jawabku. Apalagi ada anak dalam kandunganmu."


Cukup lama aku terdiam memandang kartu itu.


"Aku tahu hidupmu lebih dari cukup, tapi ijinkan aku bertanggung jawab."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2