Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Episode Terakhir


__ADS_3

MEDINA HAFIZA


Langit begitu tenang, panas tidak, mendung pun tidak, udara begitu sejuk, lembut menyapa setiap hati yang gundah dan gulana, menanggung rindu namun tak patut meminta bertemu, Mas Musa telah menanggung beban masalah Mba Mariam dan anaknya, tidak seharusnya aku menambah beban pikirannya untuk sementara ini.


Hampir terdengar seperti petir, ketika masjid di dekat rumah mengumumkan berita duka. Sempat kukorek telingaku berkali-kali berharap nama yang kudengar adalah salah. Mariam Maulida binti Maulana.


Hatiku kebas, entah bagaimana mendiskripsikan keadaannya saat ini. Kakiku gemetar, melunglai, seolah kehilangan semua tulangnya.


"Innalilahiwainnailaihi rojiun ...."


Mba Mariam adalah orang baik, aku tahu dibalik sifatnya yang keras, arogan, kasar, dan bahasanya yang kadang frontal dia sering menangis. Dia hanya sok kuat selama ini.


Sekarang ... masa Mba Mariam telah berakhir. Cintanya, kisahnya, dan perjuangannya.


Mas Musa?


Ponselnya mati membuatku cemas dan gusar, hatiku terbang berprasangka liar kesana kemari. Apa yang terjadi pada Mas Musa? Bagaimana Hatinya?


Setelah beberapa jam barulah kudengar kembali suaranya, lewat ponsel bapak mertuaku. Tidak ada yang membuatku tenang walau Mas Musa berkata dirinya baik-baik saja, aku yakin hati Mas Musa porak poranda, harus bagaimana kumenenangkannya?


Mba Mariam ...


Hadirmu sempat membuatku jatuh dalam ketidak percaya dirian yang begitu dalam. Lelaki yang kusebut suami masih menyimpanmu sebagai kisah yang tak terselesaikan dalam sudut paling gelap dan rapat, hanya saat berada di alam bawah sadar suamiku menggumamkan namamu dengan penuh kesakitan. Aku masih ingat bagaimana akhirnya kusadari kamulah wanita yang kucari, yang memenjarakan hati suamiku tanpa sengaja dalam kisah picisan kalian. Aku begitu terkejut sekaligus bahagia, karena aku berharap bisa menyelesaikan apa yang belum selesai diantara kalian.


Dan aku pun ingat, bagaimana saat dirimu kehilangan Pak Biantara. Penderitaan yang kamu sebut sebagai kematian saat menjadi seorang istri. Penderitaanmu, yang membuat Mas Musa, yang saat itu sebenarnya mulai bisa melepasmu, harus kembali terjerat oleh rasa cintanya sendiri.


Aku masih ingat, bagaimana beratnya memaksa suamiku sendiri untuk memaduku. Karena kutahu, Mas Musa takan membiarkan dirinya sendiri bahagia sebelum dirimu bahagia, Mba. Artinya, aku pun tidak akan bahagia. Aku juga ingat, bagaimana dirimu menolak dan memberontak, dengan sikap yang kasar dan jauh dari karakter awal aku mengenalmu sebagai Mama Okta. Karakter yang humbel, menyenangkan, hangat, dan senyumanmu yang membuat semua orang ikut terbawa bahagia. Ah ... aku rindu Mama Okta, dan aku kasian denganmu, Mba Mariam.


Keesokan harinya Mas Musa, Bapak, dan Pak Iwan pulang. Aku langsung lari saat mendengar suara mobil memasuki halaman, wajah Mas Musa begitu kuyu, terlihat sangat lelah, dan sedih. Namun saat menatapku, Mas Musa mengangkat kedua sudut bibirnya. Aku rindu Mas, bagaimana keadaan hatimu? Aku cemas.


Aku menghambur kepelukannya, tidak peduli lagi dengan keberadaan Bapak, Ibu, dan beberapa karyawan yang sedang beraktifitas. Kutenggelamkan diriku pada dada bidang Mas Musa, kurasakan detak jantungnya yang kutebak berirama sedih itu.


Tanpa bisa kutahan, aku menangis sesenggukan di pelukannya, Mba Mariam ... aku sedih kehilanganmu dengan cara seperti ini. Mas Musa membalas pelukanku dan dengan lembut menepuk-nepuk punggungku untuk memberiku keleluasaan menumpahkan segala kesedihan.


"Menangislah, Dek!" ucap Mas Musa.


Demi Alloh, aku tidak membencimu, Mba. Semua yang terjadi diantara kita adalah suratan takdir, semua sikapmu yang menyebalkan adalah tanda betapa tersakitinya dirimu. Maafkan aku, Mba.


Setelah lega beban hatiku, setelah normal kembali pernafasanku, setelah longgar semua sesak yang menghimpit rongga dadaku, kulepaskan pelukan Mas Musa. Sadar diri, bebannya pun tidak ringan, lukanya pun tidak sedikit.


"Maaf, Mas Musa pasti capek, ayo masuk!"


Kugandeng tangan Mas Musa masuk, dan Mas Musa bergegas mandi membersihkan diri dan membuang lelahnya. Ada banyak yang ingin kutanyakan padanya.

__ADS_1


Aku dan Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaan Bapak dan Mas Musa. Kami begitu menantikan kepulangan mereka dengan penuh rindu serta kesedihan. Setelah membersihkan badan kami makan bersama, Bapak dan Mas Musa makan begitu lahap. Namun aku heran, Mas Musa tidak seperti yang aku khawatirkan.


Sikap Mas Musa menambah panjang daftar pertanyaanku, namun aku masih harus menahannya karena setelah makan Mas Musa langsung menghampiri Sabira yang sedari tadi kutitipkan pada Mba Lastri.


Masih kuamati dari jauh sambil membereskan meja makan, bagaimana bibir Mas Musa tidak berhenti mengulum senyum. Ditimang-timangnya Sabira penuh kasih sayang dan kerinduan.


"Din ...!" Panggilan Ibu membuyarkan lamunanku.


"Kenapa?" tanya Ibu sambil mengikuti pandanganku ke arah Mas Musa dan Sabira.


"Bu ... Mas Musa aneh nggak sih? Medina pikir Mas Musa akan sedih setelah kematian Mba Mariam, tapi ...."


"Sudahlah, Din! Bagaimana anak ibu mau sedih kalau ngeliat Sabira yang cantik dan sehat begitu. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Nanti selepas Ashar ada pengajian untuk Mba Mariam lebih baik kamu ikut, jangan lagi mencari hubungan dari orang yang sudah pergi dengan orang yang masih hidup," ucap Ibu seraya pergi, meninggalkanku yang masih saja merasa janggal.


Segera kuselesaikan pekerjaanku dan menghampiri Mas Musa. Sudah waktunya memberi ASI pasa Sabira.


"Mas ... Bira mau ***** dulu," ucapku menghampiri, benar saja Sabira langsung mengulurkan kedua tangannya padaku.


Kuambil Sabira dari gendongan Mas Musa dan membawanya ke kamar, Mas Musa tampak mengikutiku dari belakang. Mas Musa ikut merebahkan badannya ketika kususui Sabira. Mungkin ini saatnya aku bertanya.


"Bagaimana keadaan Sabiru, Mas?" tanyaku memberanikan diri.


"Masih lebih beruntung Sabira, Dek. Tubuhnya sangat kurus, nafasnya harus dibantu dengan alat-alat, Sabiru pun tidak mendapatkan Asi, tapi Sabiru punya paman, kakek dan nenek yang sangat mencintainya."


Aku terdiam mendengar cerita Mas Musa.


"Kita ... akan memulai hidup baru, Dek. Sabiru akan lebih layak bersama keluarga Mar-- " Mas Musa menunduk dan menelan salivanya, "Bersama pamannya, Mas Faisal dan kakek neneknya tentunya." Mas Musa kembali tersenyum, aku tahu dia menahan lara.


"Mas ... Medina siap dengerin cerita Mas Musa, Mba Mariam sudah tenang, jadi Mas Musa juga harus mengikhlaskannya dan jangan menyalahkan diri Mas sendiri." Kutatap mata Mas Musa berharap dia membagi lukanya.


"Mas ikhlas, Dek. Benar, Mariam sudah bahagia. Jadi, mari kita fokus pada jalan kita, Dek."


Aku menunduk kecewa, tampaknya aku harus bersabar untuk bisa membuat Mas Musa bercerita.


"Dek ... sudah, jangan dipikirkan, cukup kita doakan," ucap Mas Musa melihatku terdiam.


"Iya, Mas. Tapi ... serasa masih ada yang mengganjal, tapi Medina nggak tahu itu apa," ucapku jujur.


"Tenang, Dek. Mas sudah benar-benar melepaskan Mariam, Mariam itu ibarat bunga, yang akan indah jika dirawat oleh orang yang tepat."


"Di tangan Pak Bian, dia begitu indah, tapi tidak di tangan mas, dia layu bahkan mati."


"Sekarang bunga itu sudah kembali ke tempat yang seharusnya, di tangan yang tepat yang mampu membuatnya kembali indah. Tidak ada alasan bagi mas untuk menyesali apa saja yang sudah terjadi, semua ... adalah pembelajaran yang begitu besar untuk kita semua dari cinta Mariam dan Biantara."

__ADS_1


"Mas hanya ingin fokus pada kalian, dan jika jodoh berkata lain Sabiru pasti akan datang pada kita."


"Maksud, Mas? Keluarga Mba Mariam melarang Mas menemui Sabiru?"


"Wajar, Dek. Suatu saat luka mereka pasti sembuh, dan Alloh akan menggerakan hati mereka untuk mempertemukan Sabiru dengan ayah kandungnya. Kita ... berdoa saja untuk kesehatan dan perkembangannya, Sabiru baik-baik saja bagi mas sudah lebih dari cukup."


Kuraih dan kugenggam tangan Mas Musa, sementara Sabira sudah terlelap dan kenyang.


"Mas pasti lelah, istirahatlah, Mas!"


Mas Musa mengangguk dan tidak berselang lama terdengar dengkuran halus darinya. Kupandangi wajah Mas Musa yang terlelap dalam sekejap. Bisa kubayangkan jiwa dan raganya yang kelelahan.


Aku cukup lega mendengar semua penuturan Mas Musa, tampak benar dan apa adanya. Biarlah ... suatu saat pasti Mas Musa akan bercerita bagaimana dirinya menggapai keikhlasan seperti itu.


Mba Mariam?


Berkatmu, aku dan Mas Musa memiliki kisah cinta sehebat ini. Berkatmu dapat kunikmati perjalanan hidup yang luar biasa.


Selamat jalan, Mba. Semoga Alloh menerima semua amal ibadahmu dan mengampuni semua dosa-dosamu.


Aku bersaksi, kamu orang baik.


TAMAT.


.


.


.


.


.


Maaf terlalu lama untuk episode terakhirnya, saya minta doanya saya lagi kena Covid dan rasanya ternyata aduhai sekali ....


Buat temen-temen, inget pesan Ibu, tetep jaga prokesnya, dan tetep jaga imun tubuhnya.


Maaf kalau ada salah-salah kata, semoga kisah ini bermanfaat, ambil baiknya dan buang buruknya, adapun kesalahan-kesalahan dalam cerbung ini semua kesalahan saya yang baru belajar. Harap maklum.


Sekali lagi, doakan saya cepat pulih dari covid ini.


Sampai jumpa.

__ADS_1


Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.


🍀🍀🍀


__ADS_2