Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Melepas


__ADS_3

"Astaghfirullloh ... jadi Mas Musa dan Mba Mariam udah cerai beneran, Mba Din? " tanya Mba Lastri terkejut saat Medina memberitahunya perihal rumah tangga mantan madunya.


"Iya ... tapi Mba Lastri jangan kasih tahu siapa-siapa, termasuk Bu Aini." Mba Lastri masih saja terkejut sehingga tangannya berusaha menutupi mulutnya yang ternganga.


"Iya Mba Din," jawab Mba Lastri.


"Nanti Bu Aini kecewa karena tahu dari orang lain, biar nanti Mas Musa sendiri yang bilang."


"Bu Aini pasti terkejut dan sedih Mba," ucap Mba Lastri menebak.


"Iya, tapi semua udah keputusan mereka berdua, dan Mba Mariam yang meminta agar keluarga jangan ada yang tahu dulu. Takutnya justru memperlambat persidangan, Bu Aini pasti nggak akan tinggal diam."


"Kok Mba Mariam aneh ya, kenapa tiba-tiba meminta cerai?"


"Sepertinya Mba Mariam nggak bisa menerima Mas Musa sebagai suaminya, Mba Mariam masih mencintai almarhum suaminya," tutur Medina.


"Bagaimana bisa? Jelas-jelas malam itu mereka terlihat mesra dan saling bernostalgia," gumam Mba Lastri.


"Malam itu? Kapan?" tanya Medina yang ternyata mendengar gumaman Mba Lastri.


"Ehh ... anu Mba!"


"Nggak papa Mba, bilang aja." Medina menatap Mba Lastri dan berusaha meyakinkannya untuk bicara.


"Ehm, waktu itu mba nggak sengaja ngeliat Mba Mariam lagi sama Mas Musa, mba nggak denger banyak cuma ya mereka intinya bahagia. Jadi, mba kaget waktu Mba Medina bilang kalau Mba Mariam nggak bisa menerima Mas Musa," tutur Mba Lastri.


"Malam kapan itu, Mba?"


"Ehm ... malam waktu di rumah Bu Aini."


'Oh iya pernah satu malam Mas Musa menghilang dari kamar waktu aku mual-mual dini hari, dan ... hah?!' batin Medina mengingat-ngingat.


'Sebenarnya mereka sudah pernah tidur bersama?' tebak Medina dalam hati.


"Maaf Mba Din, mba Lastri nggak bermaksud ngomong semua, mba cuma berpikir kirain Mba Medina tahu."


"Iya, nggak papa Mba Lastri. Medina cuma heran aja, kirain hubungan mereka sedingin es, ternyata ...."


"Haduh ... mba nggak salah ngomong, kan?" ucap Mba Lastri dengan cemas.


"Enggak Mba, Medina udah belajar untuk diam dan nggak ikut campur urusan mereka lagi. Lagian wajar, kan? Mba Mariam juga isteri Mas Musa waktu itu." Mba Lastri manggut-manggut mendengar ucapan Medina.


🍀🍀🍀


"Jadi benar Mba Mariam dan Pak Musa mau cerai?" tanya Heru pada Teh Desi lantai 3 ruang konveksi.


"Iya, tapi kamu diem aja, Her!" ucap Teh Desi.


"Lagian anak-anak udah pada tahu, Teh. Kabar menyebar begitu cepat," ujar Heru.


"Jadi Mba Mariam kemarin sakit gara-gara dicerai Pak Musa?" tanya Heru lagi.


"Ya enggak kalo itu mah!"


"Kan bisa aja, saking sedihnya Mba Mariam sampe kepikiran terus ngedrop," timpal Heru.


"Yang minta ditalak itu Mba Mariam, jadi ngapain Mba Mariam harus sedih. Dia memutuskan untuk meminta talak pasti udah memprediksi resikonya," ungkap Teh Desi.


"Oh gitu? Tapi bukannya Mba Mariam masih cinta ya sama Pak Musa? Kenapa harus minta cerai?"


"Hati perempuan nggak sedangkal itu Her, cinta juga nggak harus memiliki, dan permasalahan hidup bukan cuma sekedar cinta."


"Mba Mariam nggak mau dimadu pasti," tebak Heru.


"Salah satunya itu, tapi ... persoalannya nggak segampang itu, sih. Soalnya ini masalah hati jadi ya rumit memang," ucap Teh Desi.


"Kenapa dibikin rumit, sih? Kalau cinta ya udah cinta aja, kan?"


"Nggak segampang itu kali Her, cinta aja buat perempuan itu nggak cukup. Kalau pun cinta tapi nggak bikin bahagia ya perempuan mana yang betah?"


"Ah pusing!"


"Hem, kamu Her! Makanya nikah biar tahu!"


"Kalo rumit begini sih aku nggak mau," ucap Heri.

__ADS_1


"Hati-hati ngomong tuh, ntar jadi doa kapok kamu!"


"Eh ... jangan naudzubillahimindalik!"


"Teh Desi!" panggil Novi yang baru datang dari bawah.


"Iya, kenapa Nov?"


"Di cariin Bu Mariam."


"Wah, panjang umur banget Mba Mariam," ucap Heru.


"Panas kupingnya kamu omongin, sih!" ucap Teh Desi menimpali.


"Haduh, jangan-jangan ada cctv," ucap Heru panik.


Teh Desi segera pergi ke bawah dan menemui Mariam di ruangannya.


"Mba Mariam nyari saya?" tanya Teh Desi begitu memasuki ruangan Mariam.


"Iya, sini Teh!"


Mariam meminta Teh Desi untuk duduk di depannya.


"Teh ... kayaknya aku butuh orang buat memperluas pemasaran produk-produk kita, apa Teteh punya usul?" tanya Mariam.


"Kriterianya apa Mba?" tanya Teh Desi.


"Gesit di dunia maya, paham marketplace, yang kaya gitu lah Teh ... nggak bisa muluk-muluk sih nyarinya, diseimbangin sama kemampuan kita ngasih gaji dulu."


"Dari pada nyari, mending pake yang udah ada disini Mba, Novi bisa."


"Novi?"


"Iya, Novi. Dia baik, rajin, jadi kita tinggal nambah karyawan tokonya aja."


"Hem ... oke deh. Teteh tolong kasih tahu Novi ya jobdesknya dia apa aja."


"Siap Mba."


"Maaf Teh, kerjaan Teh Desi jadi banyak."


Mariam tersenyum mendengar semangat rekan kerja sekaligus orang yang sudah menemaninya selama ini.


"Makasih ya, Teh."


"Jangan sungkan Mba, Mba Mariam juga yang ngajarin kami untuk berusaha sama-sama, bukan sekedar antar pemilik sama pegawai. Cara Mba memperlakukan semua orang disini juga menumbuhkan rasa memiliki dan rasa ingin berjuang yang sama."


"Makasih Teh, aku terharu." Mariam berucap sambil berkaca-kaca.


"Mba Mariam harus semangat, ada kami disini yang akan terus berusaha dan berjuang menjaga dan mewujudkan mimpi Mba Mariam, karena ini juga mimpi kami semua. Apapun yang terjadi pada hidup Mba Mariam, kami akan selalu ada."


"Ah, kenapa aku cengeng sekali sekarang," seloroh Mariam sambil menyeka air matanya.


"Tetap semangat, Mba!" ucap Teh Desi sambil tersenyum. Mariam tertawa dengan perlakuannya walaupun relung hatinya menyimpan pilu.


🍀🍀🍀


Medina menemani suaminya bersantap malam, sesekali Musa pun memandang ke arahnya dan tersenyum pada Medina yang perutnya sudah kian membesar.


Setelah perpisahan suaminya dengan Mba madunya, Medina merasa hubungan mereka semakin hangat dan romantis. Ditambah semakin dekatnya masa-masa persalinannya, Musa semakin perhatian dan seluruh waktu hanya tercurah untuk Medina.


"Kenapa ngeliatinnya begitu, Dek?" tanya Musa pada Medina yang tersenyum-senyum memandanginya.


"Medina dan dedek lagi bersyukur atas kehadiran Mas Musa dalam hidup kita," jawab Medina membuat Musa tersipu.


"Alhamdulillah, mas juga sangat bersyukur atas kehadiran kamu dan dedek kita," ucap Musa sambil beranjak dan mengangkat piring bekas makannya.


"Biar Medina aja, Mas!"


"Nggak usah, mas sekalian cuci tangan, kamu duduk aja." Musa memang memiliki kebiasaan makan menggunakan tangan.


"Mas, Medina hampir nggak percaya kalau akhirnya Mas Musa menjadi milik Medina seutuhnya," ucap Medina ketika Musa kembali.


"Mas yang salah, karena terlalu diperbudak perasaan sampai kamu harus berkorban sedemikian rupa, mas minta maaf ya, Dek! Karena nggak bisa melihat hati kamu seutuhnya saat itu."

__ADS_1


"Nggak Mas, saat itu Medina memang ikhlas dan berniat ibadah. Mas nggak perlu minta maaf," ucap Medina lagi.


"Mas berjanji akan membahagiakanmu, Dek! Terimakasih telah menemaniku berproses menjadi suami yang lebih baik, terimakasih atas kesabaran dan kelapangan hatimu selama ini."


"Mas bikin Medina terharu," ucap Medina sambil berkaca-kaca, Musa segera menghampirinya dan memeluk Medina manja.


"Mas serius," ulang Musa.


"Kalau begitu sekarang jangan bahas masalah itu lagi, kita fokus sama masa depan ya, Mas."


"Iya, Dek!"


"Tapi, apa Mas dengar isu-isu yang beredar di sekitar sini?"


"Biarin aja, Dek. Mereka nggak tahu keadaan kita," jawab Musa santai.


"Benar, dulu Mas Musa dicibir karena menikahi Mba Mariam dan sekarang dicibir lagi karena tiba-tiba menceraikannya."


"Jangan sampai semua itu mempengaruhi kandunganmu, Dek!" ucap Musa sambil membelai perut Medina yang usianya sudah 7 bulan.


"Iya Mas, Medina sudah belajar untuk bodo amat. Lagian semua orang tahu bagimana pesatnya kemajuan usaha Mba Mariam, kemarin dia habis merekrut beberapa pegawai lagi. Mereka bilang Mba Mariam janda muda yang sukses."


"Kita nggak bisa mengontrol pendapat orang lain, Dek."


"Iya Mas, tapi Mba Mariam memang berhasil membuktikan dirinya."


"Sudahlah, Mas merasa lega setelah melepas Mariam, apalagi setelah ketuk palu kemarin, segala tentangnya bukan urusan kita lagi."


"Jadi semua udah benar-benar selesai?" tanya Medina.


"Sudah Dek, tinggal menunggu akta cerai bisa 4 sampai 6 bulan."


"Bagaimana hatimu, Mas? Apa sudah benar-benar selesai?" tanya Medina memastikan.


"Insha Alloh sudah, Dek!" Medina tersenyum lega mendengar pengakuan suaminya.


"Ibumu Bagaimana, Mas?" tanya Medina lagi.


"Mas udah memberitahu beliau kemarin, Dek!"


"Apa beliau baik-baik aja?"


"Nanti, pasti baik-baik aja." Medina merasa jawaban suaminya sedikit ragu.


Tepat saat mereka selesai mematikan lampu hendak istirahat, sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah mereka.


"Mas, seperti suara mobil? Siapa yang datang malam-malam begini?" ucap Medina.


Belum sempat Musa menjawab suara bel pintu sudah terdengar. Medina kembali meraih jilbab yang sudah ditanggalkannya.


"Biar Mas aja yang ngecek," ucap Musa sambil berjalan ke luar kamar.


"Assalamualaikum."


"Ibu?!" gumam Musa mengenali suara dibalik pintu.


"Waalaikumsalam," serunya sambil tergopoh-gopoh membukakan pintu.


"Ibu?" ucap Musa menyadari kehadiran ibunya di susul pak Iwan sang supir di belakang.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2