Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Lepaskanlah Mariam dari Pikiranmu


__ADS_3

"Enggak usah, mas nggak laper."


'Mas Musa akhir-akhir ini juga kehilangan nafsu makannya, apa yang sebenarnya telah terjadi antara kamu dan Mba Mariam, Mas?' batin Medina bertanya-tanya.


"Boleh Medina menanyakan sesuatu, Mas?" Medina memberanikan diri bertanya.


"Menanyakan apa, Dek? Kalau soal Mariam, berapa kali mas katakan nggak usah memikirkan antara mas dan Mariam, kami baik-baik aja," jawab Musa.


"Bukan, Mas. Medina ... cuma mau nanya, apa Mas Musa menjadi sumber dana usaha Mba Mariam?"tanya Medina lagi.


"Enggak Dek, sepeser pun enggak."


"Ibu? Apa Mba Mariam mendirikan usaha dengan dukungan ibumu Mas?" Medina masih saja penasaran.


"Enggak Dek, itu murni uang Mariam. Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Tanya Musa yang menilai Medina mulai aneh menanyakan sumber dana Mariam.


"Jadi benar itu usaha Mba Mariam sendiri? Artinya Mba Mariam udah melangkah terlalu jauh Mas darimu? Apa Mas Musa baik-baik aja?" tanya Medina dengan penuh rasa kasihan pada suaminya.


"Mas baik-baik aja, Dek," jawab Musa cepat.


'Kasian, Mba Mariam sudah menginjak-nginjak harga dirimu sebagai seorang suami, Mas,' batin Medina.


"Bukankah Mas selalu memberikan nafkah pada Mba Mariam? Apa yang membuatnya terlalu bernafsu begitu?" tanya Medina lagi.


"Biarkan saja, Dek, mungkin beginilah cara Mariam mengalihkan pikirannya dari kesedihan," tutur Musa yang tetap sabar menjawab setiap keingin tahuan Medina.


"Apa kehadiran Mas Musa belum cukup untuk menghapus dukanya?" tanya Medina tidak percaya.


"Dek, kita nggak tahu hati seseorang. Apakah kalau mas yang pergi kamu akan mudah melupakanku, Dek?" tanya Musa sedikit bercanda.


"Ya enggak lah," jawab Medina seketika.


"Medina gak akan menikah lagi kalau takdir mengatakan Mas Musa harus meninggal duluan. Cinta kita sampai mati," lanjut Medina dengan berapi-api.


"Begitulah Mariam, Dek. Dia masih mencintai almarhum Pak Bian," ujar Musa.


"Tapi Mba Mariam juga masih mencintai Mas Musa selama ini," ucap Medina lagi.


"Hati manusia nggak ada yang tahu, Dek. Biarkan Mariam, jangan hakimi dia. Mas sebenarnya memang sedang menjauh, tapi mas nggak bermaksud apa-apa," ujar Musa.


"Mas hanya sedang memberikan waktu untuk Mariam melakukan apa yang dia inginkan, dan membiarkan Mariam berpikir, serta mencari jawaban dari semua pertanyaannya sendiri," ungkap Musa berharap Medina mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Medina terdiam mendengar pengakuan suaminya, pertanyaan yang selama ini dia coba tanyakan dan selalu dijawab dengan ambigu. Kini suaminya menjawabnya dengan sangat enteng.


"Mariam bukanlah orang yang betah digenggam terlalu erat, kadang kita harus melonggarkan sedikit saja genggamanya agar Mariam nggak merasa terbebani. Kalau memang semua ini benar-benar mengganggu pikiranmu, sekarang kamu udah tahu jawabannya, mas harap nggak ada lagi yang mengganggu pikiranmu, Dek." Musa berusaha menenangkan hati Medina.


"Maaf Mas, Medina nggak bermaksud ikut campur," ucap Medina menyesal.


"Nggak papa, Dek. Mas paham maksudmu baik, hanya saja kalau kamu terlalu memaksakan kehendak, orang lain bisa saja menilainya salah," hibur Musa membesarkan hati isterinya.

__ADS_1


"Medina nampak memaksa ya, Mas?" tanya Medina lagi,"apa sejelas itu?"


"Sudahlah, mas nggak mau anak mas ikutan setres karena Ibunya banyak pikiran."


"Apa Medina harus minta maaf juga sama Mba Mariam?"


"Nggak perlu, Dek."


"Apa Medina bener-bener nggak boleh dateng atau menemui Mba Mariam sama sekali?"


"Bukan seperti itu, tapi--"


"Medina cuma mau silaturahmi, Mas. Menanyakan kabar, kan wajar?"


"Iya, Dek, wajar ya udah gini aja. Dateng pas Mariam lagi nggak sibuk."


"Hem ...." Medina tertunduk kecewa.


"Kenapa lagi, Dek?"


"Entah kenapa, Medina merasa bukan cuma kalian yang saling menjauh. Mas Musa justru sedang menjauhkan Medina dari Mba Mariam, dan Mba Mariam memang sengaja menjauhi Medina," ucap Medina dengan sedih.


Musa menghampiri Medina di samping ranjangnya, memeluk Medina dengan lembut, berharap Medina paham dan mengerti hal-hal yang ingin Musa sampaikan. Meskipun dalam hati Musa juga dilanda kerisauan hati tentang hal ini, tapi dia tetap berusaha menenangkan Medina.


"Apa kamu bahagia sekarang, Dek? Maaf ... kalau mas belum bisa memberikan kebahagiaan padamu," ucap Musa seraya mengusap-ngusap rambut Medina di pelukannya.


"Medina bahagia Mas, tapi ... melihat Mas Musa sedih karena memikirkan Mba Mariam membuat Medina nggak bisa tinggal diam," jawab Medina.


"Kenapa, Mas?" Medina menegakkan kepalanya sehingga wajah keduanya saling bertemu dengan jarak yang tipis.


"Nggak perlu ditanya, Medina sangat mencintai Mas Musa, Mas Musa adalah detak jantung Medina kalau Mas Musa murung dan sedih, Medina pun bisa merasakannya," ucap Medina penuh kesungguhan hati.


Musa mencium kening Medina dalam waktu yang lama sebelum akhirnya keduanya kembali saling pandang.


"Mas ... Medina mohon, jangan membuat Medina merasa terasing diantara kalian," pinta Medina, sementara Musa terus berpikir keras mencari celah agar Medina melepaskan Mariam dari pikirannya.


"Dek, sejujurnya mas bukan orang yang bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitu pula padamu ...." Mata keduanya tetap saling memandang satu sama lain, saling mencoba membaca hati lawan bicara lewat jendela hati yang terbuka.


"Pernikahan kita terjadi secara cepat dan dengan proses ta'aruf, benarkan?" Medina mengangguk.


"Butuh waktu bagiku untuk bisa benar-benar menerimamu secara hati, bukan hanya kehadiranmu secara fisik di sisiku, jadi ... dengarkan mas baik-baik," ujar Musa berusaha memfokuskan perhatian Medina, tatapan keduanya tidak pernah lepas satu sama lain.


"Dengan atau tanpa Mariam dalam hidup kita, mas tetaplah butuh waktu untuk bisa mencintaimu. Semua itu butuh proses sampai akhirnya mas bisa benar-benar nyaman dan membuka hati."


"Apa yang sedang berusaha kamu sampaikan, Mas?"


"Mas minta maaf, bila selama ini mas telah banyak menyakiti hatimu, Dek. Mas hanyalah orang bodoh yang terkadang membaca hati sendiri pun masih salah dan keliru."


"Mas ... jangan seperti itu!" Medina mencoba menyelah ucapan Musa.

__ADS_1


"Dek, mengertilah sekali, lagi hati suamimu ini yang masih penuh kekurangan dan kekhilafan. Dan percayalah ... memang hatiku butuh waktu untuk bisa mencintaimu, dengan atau tanpa Mariam!" ucap Musa dengan penuh penekanan untuk menegaskan setiap kata-katanya.


"Mas ... apa lagi ini?" tanya Medina penuh ketidak mengertian. Musa meraih tangan Medina dan meletakannya di dadanya.


"Dek, lepaskanlah Mariam dari pikiranmu, dan sekarang percayalah! Kamu telah ada di dalam sini, karena cinta yang kamu pancarkan selama ini. Bukan karena Mariam," ungkap Musa.


"Apapun yang terjadi antara aku dan Mariam, kamu akan tetap berada di dalam sini, di hatiku, Dek." Musa berusaha meyakinkan Medina tentang hatinya.


"Mas ...." Medina menatap suaminya dengan berkaca-kaca.


"Lepaskan dirimu sendiri, buang beban yang ada di hatimu, jangan jadikan Mariam sebagai tolak ukur kebahagiaanmu. Rumah tangga kita boleh saja terbagi, tapi percayalah, cinta kita, cintaku padamu, takan terpengaruh lagi oleh apapun."


"Aku hanyalah lelaki yang penuh kekurangan, tapi cintamu dan kerelaanmu untuk menerimaku apa adanya telah membuatku merasa sempurna," lanjut Musa.


"Mas ... kamu ingin Medina bagaimana?"


"Mas ingin Medina berhenti mengejar Mariam." Bulir bening mulai jatuh dari sudut mata Medina.


"Mas ingin Medina bahagia karena kita, bukan karena Mariam atau karena yang lain. Berdiri di atas kakimu sendiri Dek, percayalah dengan cintaku sekarang, cinta yang nggak akan pernah meninggalkan kamu, cinta yang tulus dari hatiku, Dek."


"Benarkah?" Medina meletakan tangannya pada pipi suaminya.


"Benarkah Mas Musa mencintai Medina dengan tulus?" tanya Medina mengharap kepastian.


"Tentu saja, Dek. Kesabaranmu memupuk benih cinta dan terus menyiraminya dengan ketulusan dan pengorbanan, membuat cinta dalam hati lelaki yang bodoh ini tumbuh dan tertanam dengan akar yang kuat."


"Tapi Mba Mariam--"


"Berhenti mengungkit yang lain, Dek. Kamu nggak butuh Mariam lagi untuk membuktikan cinta dan kesungguhan dalam dirimu. Percayalah dengan cintamu sendiri, percayalah, Dek!"


"Dulu mas pernah berjanji, bahwa suatu saat mas akan mencintaimu melebihi cintaku pada Mariam. Percayalah, mulai hari ini dan seterusnya, cintaku padamu telah lebih dalam dan semakin dalam dari cintaku pada Mariam."


Medina tidak bisa menahan tangis bahagianya. Musa kembali mencium puncak kepala Medina, berharap isterinya tidak lagi terobsesi pada apa yang tidak seharusnya.


Ciumannya perlahan turun ke kening Medina, menyusuri hidung, dan kedua pipi Medina, menyesap jejak air mata keharuan, hingga bermuara di bibir isterinya.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2