
"Waalaikumsalam." Kulihat wajah Mba Mariam menatapku dengan tersenyum, senyum yang selalu membuat waktu terasa berhenti. Mba Mariam yang dulu sudahkah kembali? Seketika aku terkesima, rasanya nafasku juga berhenti.
"Mb-mba Mariam?"
"Assalamualaikum Tante Medina?" sapa Oktavia membuyarkan pikiranku.
"Waalaikumsalam cantik, ayo masuk!" ajakku, seketika gadis kecil itu melesat masuk ke dalam menghambur ke pangkuan Mas Musa.
"Abi Musa ... !"
"Hey, cantik!"
"Maaf Din, aku dengar ibumu mau pulang jadi aku kemari sekalian Okta minta main kemari terus," ucap Mba Mariam, terlihat satu kardus kecil ditenteng di tangannya.
"Ayo Mba, masuk dulu! Masih 2 jam lagi kita bisa ngobrol-ngobrol dulu," ajakku.
Ibu terlihat masih tidak nyaman dengan kedatangan Mba Mariam, senyum di bibirnya terlihat terpaksa. Mungkin saja tidak ada yang nyaman saat ini, apalagi hatiku, yang sangat tertampar oleh senyum Mba Mariam.
Hanya Okta dan Mas Musa yang mampu menghidupkan keceriaan disini. Tidak butuh waktu lama Mas Musa terlihat luwes menjalankan perannya sebagai orangtua sambung bagi gadis kecil itu. Diam-diam Ibu memperhatikan gelak tawa Oktavia saat bermain dengan Mas Musa, dengan tatapan sedih. Sepertinya bukan hanya aku yang menginginkan kehadiran seorang anak, ibuku pun sudah sangat ingin menimang cucunya.
Aku tersenyum getir menatap raut wajah mereka semua, harapan yang entah kenapa masih menjadi mimpi bagiku. Sekarang aku menyebut diriku sebagai pejuang garis dua.
"Bawa apa Mba Mariam ini repot-repot?" ucap Ibu berbasa-basi.
"Cuma sedikit Bu, denger-denger Ibu pakai travel, pasti Medina udah nyiapin banyak, saya cuma nambahin sedikit."
"Iya, Medina emang udah bawain banyak, sekarang tambah banyak aja, terimakasih Mba Mariam, padahal Ibu datang nggak bawa apa-apa."
"Saya juga minta maaf atas situasi yang kurang menyenangkan saat Ibu datang ke rumah, mudah-mudahan lain kali kita bisa bertemu dengan keadaan yang lebih baik,"
"Sudahlah, Ibu tahu keadaan kamu juga belum baik dan Ibu datang dengan sudut pandang yang salah."
Mba Mariam tahu Ibu pulang menggunakan travel, padahal kemarin aku sama sekali tidak membahas itu dengannya. Harusnya aku bahagia, kenapa hatiku sesak? Mungkin saja komunikasi Mba Mariam dan mas Musa sudah bagus. Ah, bukankah rumah tangga mereka bukan urusanku? Apalagi hati mereka!
"Ibu cuma mau minta tolong," lanjut Ibu, tangannya meraih tangan Mba Mariam yang kebetulan duduk di sampingnya, "Medina sangatlah bodoh dan naif, dia begitu polos, dengan mudahnya membagi suaminya sendiri sama Mba Mariam ...." Kami bertiga lantas diam dan menatap Ibu.
"Hati Ibu mana yang enggak sedih dan khawatir, tapi semua udah terlanjur, ibu bisa apa? Marah pun percuma. Dan Mba Mariam lebih tua daripada anak saya, lebih berpengalaman, lebih dewasa. Tentu saja banyak kelebihannya dan anak saya masihlah banyak kekurangan. Ibu ... enggak minta banyak, hanya saja ibu memohon pada kalian agar tetap menghargai Medina, bagaimanapun juga, karena keputusan bodoh anak ibu yang naif itu kalian jadi bisa menikah," ucap Ibu dengan begitu sedih.
Ucapan Ibu yang merendahkanku lebih terdengar seperti peringatan untuk Mba Mariam dan Mas Musa. Kulirik wajah Mas Musa dan Mba Mariam, sepertinya mereka menangkap maksud lain dari ucapan Ibu sama denganku.
"Bu ... saya nggak akan meminta maaf karena telah hadir diantara anak ibu dan suaminya. Seandainya saya bisa memilih pun, saya nggak akan mau terikat seperti ini, bahkan saya lebih memilih untuk tidak bertemu dengan mereka, agar takdir kami tidak seperti ini." Mba Mariam membalas sentuhan tangan ibuku dan memandang dalam ke matanya.
"Saya sepenuhnya sadar posisi saya dan sekuat yang saya bisa, saya pernah menolak semua ini. Bahkan kesedihan saya seharusnya tetaplah menjadi urusan saya, tidak seharusnya orang lain ikut campur apalagi merasa bertanggungjawab untuk menghapuskan kesedihan saya saat itu."
"Saya juga tidak menyalahkan keputusan putri ibu yang ibu sendiri menganggapnya bodoh, asal ibu tahu, rasanya seperti putri ibu telah menaburkan garam di luka baru yang masih menganga lebar di dalam hidup saya. Saya berjanji akan tetap menghargai putri ibu, sebagaimana saya tidak akan bisa melupakan apa yang sudah putri ibu lakukan."
Mba Mariam mengungkapkan kesedihannya dengan kalimat yang menakutkan. Mungkin dia memang telah bangkit tapi dia bukanlah Mba Mariam yang sama lagi. Apakah wanita yang dicintai suamiku semengerikan ini?
"Ehm ...." Ibuku menarik mundur tangan yang sebelumnya digenggam Mba Mariam, aku tahu perasaannya tidak nyaman sekarang, seolah serangannya dibalas Mba Mariam dengan telak.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Kamu harus hati-hati Nak, wanita itu bukan lawanmu. Ibu harap kamu segera hamil agar wanita itu paham kalau kamu juga sempurna."
Kembali terngiang-ngiang ucapan Ibu sebelum pergi. Kini mobil travel telah melesat ke ujung gang, dan untuk pertama kalinya setelah pernikahan itu, kami bertiga berkumpul dalam satu tempat.
Kupandang Mba Mariam yang berdiri di sampingku, dia masih menatap punggung travel yang belum menghilang dibelokan. Apakah kesedihan telah membuat Mba Mariam menjadi mengerikan? Apakah dia dendam karena mendapat predikat isteri kedua dengan segala kejelekannya? Apakah dia sangat marah karena pernikahan ini? Bukankah harusnya dia bahagia?
Aku terkejut saat tiba-tiba Mba Mariam menatap ke arahku. Kupaksakan diri untuk tersenyum.
"Kenapa, Din?" tanya Mba Mariam.
"Ehm ... en-enggak papa, Mba."
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Harusnya kamu tahu semua pro dan kontra ini pasti terjadi sebagai konsekuensi atas apa yang sudah kamu pilih. Kamu hanya harus mengatasinya, dan terus berpura-pura bahagia dan baik-baik saja seperti keahlianmu selama ini."
"Maaf Mba, aku memang bodoh."
"Aku sudah mengalah, untuk tidak menyentuh suamimu, entahlah sampai kapan. Gunakan kesempatan itu untuk program kehamilanmu, bukankah itu keinginan ibumu?"
"Mba!" Aku merasa tersinggung dengan ucapan Mba Mariam.
"Mari berjanji untuk tidak mencampuri rumah tangga masing-masing. Mba tetap bisa melayani Mas Musa selayaknya suami isteri, berikan hak Mas Musa yang sudah seharusnya, dan untuk program kehamilanku biar menjadi urusanku dengan Mas Musa."
"Iya, memang seharusnya seperti itu. Dan aku harap kamu berhenti ikut campur dengan kesedihanku yang selalu kamu obok-obok sesuka hatimu. Fokuslah pada kebahagiaanmu, berhenti menjadikanku alasan dari semua pengorbananmu." Mba Mariam berjalan melewatiku, dan menghampiri Mas Musa dan Oktavia yang bermain di teras.
Sepertinya aku telah membangunkan harimau yang sedang tertidur. Semua kata-kata Mba Mariam telah menamparku, seolah semua yang sudah kulakukan hanyalah kesalahan.
"Dek," panggil Mas Musa tepat sebelum kakiku melangkah ke dalam rumah.
"Medina beres-beres dulu Mas sebentar," tolakku halus, padahal semua sudah dibereskan oleh Melisa sebelum pergi, hanya tersisa 2 cangkir teh di meja. Aku segera meraihnya dan membawanya ke dapur sebagai alasan.
Kunyalakan keran air, dan kusabuni 2 cangkir tadi berulang-ulang. Hatiku kesal sekali, Mba Mariam terus saja menyalahkanku. Padahal aku melakukan semua ini agar dia dan suamiku bisa bahagia.
"Dek, masa nyuci dua cangkir sabunnya habis sebungkus." Tiba-tiba suara Mas Musa menyadarkanku, sepertinya dia memperhatikan tingkah bodohku.
Segera kuhempaskan spons pencuci piring ke tempatnya, dan kubilas kedua cangkir yang sudah menjadi pelampiasanku.
"Mas tahu kamu kesal." Mas Musa melingkarkan tangannya ke pinggangku dan meletakkan dagunya di pundakku. "Kenapa, Dek?"
"Apa Mas marah kalau aku kesal dengan Mba Mariam? Apa Mas akan membelanya?" tanyaku memberanikan diri.
"Enggak Dek, Mas tahu kata-kata Mariam memang sedikit keterlaluan, maafkan dia yah? Nanti Mas juga akan mencoba bicara padanya."
Kulepaskan tangan Mas Musa dan berbalik memandangnya.
"Apakah yang sudah Medina lakukan adalah sebuah kebodohan, Mas?"
Mas Musa hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.
__ADS_1
"Ibu dan Mba Mariam sama-sama mengatakan pengorbananku adalah kebodohan. Bahkan, aku masih bisa merasakan kemarahan Mba Mariam."
"Lalu apa perasaanmu, Dek?" tanya Mas Musa.
"Aku merasa nggak dihargai, Mas." Sengaja kuselipkan kemarahan dalam ucapanku.
"Lalu, sebenarnya apa benar yang kamu lakukan adalah pengorbanan?" tanya Mas Musa lagi dengan terus tersenyum.
"Tentu saja Mas." Airmataku kembali mengalir karena Mas Musa juga menanyakannya.
Mas Musa menghapus airmata di wajahku dengan kedua tangannya, dengan lembut dia menyusuri pipiku. Kemudian Mas Musa memelukku dengan erat.
"Dek, mas sepenuhnya tahu semua yang kamu lakukan adalah hal yang mulia. Hanya saja, pengorbanan kamu seutuhnya dilakukan hanya untukku, bukan untuk yang lain atau untuk Mariam. Jadi, yang bisa merasakan ketulusannya juga hanya aku, Dek!"
Mas Musa melepaskan pelukannya dan mencoba menenangkanku dengan tatapannya.
"Kita, tidak bisa memaksa orang untuk melihat dari sudut pandang kita, kaca mata orang berbeda-beda. Cukup yakini apa yang sudah kamu lakukan Dek, pegang teguh niatmu, sehingga apapun yang terjadi tidak akan bisa menggoyahkan keyakinanmu. Sudut pandang kita berdua dan Mariam atau pun Ibu, pastilah berbeda. Namun apalah artinya kalau kita benar-benar ikhlas melakukan semua ini, Dek."
"Dek, tahukah kamu? Terlalu banyak penjelasan hanya akan menunjukan kerapuhan dari diri kamu yang sebenarnya. Biarkan saja, dan tunjukan keteguhan hatimu pada setiap mereka yang ragu."
"Jadi Medina harus diam saja?"
"Butuh waktu untuk membuat orang lain mengerti, Dek. Bukankah yang paling penting Mas paham dan mengerti? Apakah masih butuh orang lain, Dek?" tanya Mas Musa.
Benar. Hanya butuh suamiku memahaminya, hanya butuh aku dan Mas Musa yang mengerti, dan Mas Musa memang sangat menghargai apa yang sudah kukorbankan untuknya. Cinta pun sudah mulai kudapatkan. Aku tidak butuh penghargaan dari yang lain, bahkan Mba Mariam sekalipun.
Sekali lagi, kegalauanku yang besar mampu dihempaskan dengan mudah oleh Mas Musa. Masalah yang kupikir menghancurkan segalanya, telah dibuang oleh senyuman dan kata-kata Mas Musa. Sesuatu yang menurutku berat ternyata hanyalah sesuatu yang sepele.
"Mas ... apa Mas tahu? Medina sangat mencintai Mas Musa. Medina melakukan semua ini agar Mas bahagia, Medina tidak keberatan berbagi. Medina tidak egois menginginkan Mas Musa untuk Medina sepenuhnya, karena Medina tahu Mas nggak akan bahagia."
"Mas tahu itu Dek, Mas merasa beruntung ditemukan oleh wanita sebaik dan semulia dirimu. Yang tetap menghargai suaminya sepenuhnya meski hatinya masih terjebak di masa lalu." Aku tersipu mendengarnya, hal yang dulu membuatku sangat terluka, kini berbalik menjadi pujian untukku.
"Kini Medina nggak cemburu lagi, selain takdir Mas Musa dan Mba Mariam yang akhirnya bisa bersatu, Medina dan Mas Musa juga memiliki takdir untuk saling bertemu dan menemukan dalam kondisi yang tidak sempurna menjadi saling menyempurnakan."
"Cemburu itu fitrah Dek, Mas akan berusaha adil pada kalian sesuai porsi dan kebutuhan masing-masing. Fokus pada dirimu, Dek! Jangan terlalu memikirkan yang lain, apalagi menjadikannya beban."
"Abii ...." Terdengar panggilan dari Oktavia, sepertinya kami terlalu lama bicara di depan tempat cuci piring.
"Ayo kedepan Dek!" ajak Mas Musa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.