
[Assalamualaikum, Mas doakan Medina, Medina akan melamar Mba Mariam bersama Ibu]
Aku tidak menyangka Medina begitu nekat mendatangi Mariam, apalagi dengan membawa Ibuku. Tanpa menunggu lagi, aku segera meninggalkan pekerjaanku dan bergegas pulang. Aku harus mencegah Medina melakukan hal bodoh. Pantas saja aku merasa janggal dengan kedatangan ibu yang tiba-tiba.
"Assalamualaikum ...!"
Sepertinya aku terlambat, mata Mariam sudah basah. Ibuku, dan Medina terlihat syok, dan Ibunya Mariam terlihat panik melihat kondisi putrinya.
"Dek, kita sudah sepakat untuk tidak melakukan ini, kenapa kamu nekat?"
"Mas, tapi ...,"
"Dan kamu melibatkan Ibu dalam masalah ini, mas sama sekali nggak ngerti sama jalan pikiranmu Dek, berkali-kali mas mengatakan tidak, tapi kenapa kamu menangkapnya lain?" Aku begitu emosi melihat tindakan gegabah Medina.
Jujur, aku tidak tahan melihat Mariam terpuruk seperti ini. Sakit di hatinya seakan menembus sampai ke hatiku. Cahaya matanya telah hilang, wajahnya sayu, matanya menghitam, dengan wajah yang semakin tirus dan badan yang kurus. Namun perasaanku seolah tumbuh berkali-kali lipat dari yang sebelumnya.
"Mariaam ... !" seruku ketika melihatnya tubuhnya limbung.
Hampir saja tangan ini lancang menyentuhnya, andai Ibuku tidak menepis dan menyadarkanku.
"Mba ... bangun Mba, Ya Alloh kuatkan anakku!"
"Saya mengerti maksud baik Ibu Aini sekeluarga, tapi sepertinya anak saya belum benar-benar lepas dari duka. Mohon dimengerti Bu ... Mba ... Mas ... !" ucap Ibunya Mariam.
"Saya minta maaf ya Bu ...," ucap Ibuku sambil membantu memberikan wewangian di hidung Mariam.
Mariam pun akhirnya kembali merespon, Ibuku segera memberikan teh yang belum sempat dia sentuh kepada Mariam.
Sekilas kulirik pada Medina yang hanya menunduk, mungkin dia menyesal atau tetap kekeh dengan poligami ini.
"Ibu minta maaf ya Mba Mariam, Ibu benar-benar menyesal!" ucap Ibuku.
"Din ... !" panggil Mariam.
"I-iya Mba,"
__ADS_1
"Apa kamu tidak berempati sedikit pun ... atas kepergian suamiku?" tanya Mariam lemah.
Lagi, Medina hanya mampu diam.
"Sedikit saja ... ?" lanjut Mariam.
"Mba ... aku hanya berpikir untuk mengurangi bebanmu Mba, demi Alloh aku menemukan petunjuk dalam Istihkarahku Mba ... maaf kalau niatku salah di mata Mba Mariam."
"Kau menghinaku ... ! Menginjak-injak pernikahanku ... !" ucap Mariam pelan namun dengan penuh tekanan yang menunjukan dia sangat marah.
"Memang benar, aku pernah sangat mencintai suamimu, tapi ... itu dulu!"
"Bukan berarti, kamu bisa menganggap remeh cinta yang Mas Bian berikan padaku."
Mariam kembali meneteskan air mata, dia nampak sangat kesulitan bernafas karena menahan sesak di hatinya. Mariam, melihatmu seperti ini membuat diriku ikut hancur.
"Bahkan ... tanah kuburannya masih merah, dan kamu tega memintaku untuk menikahi suamimu?"
Meski ucapannya ditunjukan untuk Medina, tapi hatiku merasa tercabik-cabik. Ibuku ikut menangis, menyesali keputusannya menuruti keinginan menantunya.
"Mizan?" Mariam mengalihkan pandangannya padaku, "Beginikah caramu mendidik isterimu?"
"Benar ... maafkan aku yang tidak becus mendidik isteriku!" Aku menangis, air mata yang tulus untuk orang yang benar-benar kucintai.
"Mas ... !" Medina beringsut dari kursinya dan ikut bersimpuh dan menangis di sampingku. Aku dan Medina seperti sedang meminta pengampunan dari Mariam.
"Andai aku mau, aku bisa saja mengambil Mizan sepenuhnya dari tanganmu, kamu tahu? Aku bukanlah orang yang suka berbagi, apalagi suami."
Medina terkejut dengan ucapan Mariam, dia semakin tergugu dan memegang erat ujung gamisnya.
"Jawab! Apa kamu akan menyerahkan suamimu sepenuhnya padaku?" Medina tidak mampu menjawab, sementara kami semua membisu dalam derai air mata masing-masing hanya Mariam yang berbicara.
"Niat baik jangan setengah-setengah, jangan bagi suamimu denganku, serahkan dia seutuhnya! Tunjukan kalau niatmu itu memang baik!" desak Mariam.
"Sudah Mba ... jangan diteruskan," sela ibu Mariam.
__ADS_1
"Ibu ... lihat, mereka datang hanya untuk menghinaku, mereka menghina suamiku, Bu!" Mariam kembali meledakan tangisnya di pelukan sang Ibu.
"Aku akan berikan!" seru Medina, tangannya mengepal.
"Istighfar Dek!" ucapku setengah membentak
"Kenapa Mas? Aku hanya isteri yang tidak dicintai, aku tidak punya alasan untuk bertahan," Medina mulai kesulitan mengatur nafasnya.
"Dan Mas Musa tidak bisa menutupi kalau Mas masih sangat mencintai Mba Mariam, semanis apapun perlakuan Mas Musa padaku, hati Mas Musa tetap tidak berpaling dari Mba Mariam. Aku hanya penghalang."
"Asal Mas bahagia, aku rela ... !"
Aku tidak mengerti jalan pikiran Medina, aku kecewa padanya. Dari sekian banyak usahaku untuk mencintainya dia tidak menghargainya. Jujur, aku sudah mulai mencintai Medina walaupun belum sebesar perasaanku pada Mariam. Apa dia sama sekali tidak merasakannya?! Aku kecewa.
Mariam menatap tajam ke arah Medina, aku tahu dia hanya mengancam, dia tidak benar-benar menginginkan hal seperti ini terjadi.
"Istighfar kamu Nduk!" Ibuku ikut menimpali, "Jangan ngomong sembarangan, apalagi dalam kondisi hati dan pikiran yang enggak setabil!"
"Ibu enggak datang ke sini untuk hal ini Nduk, sudah-sudah kalau memang Mba Mariam menolak, kita harus hargai, memang kita yang salah, datang tidak di waktu yang tepat," lanjut Ibuku.
"Maafin Ibu ya Mba Mariam, Ibu menyesal dan merasa bersalah, Ibu malu karena bertindak gegabah." Ibuku kembali memeluk Mariam dan Ibunya.
"Mba Mariam masih shok Bu Aini, maafkan anak saya!" timpal ibu Mariam.
"Ibu ... Medina mohon! Hargai pengorbanan Medina untuk Mas Musa, sekali ini saja ... biarkan Mas Musa memutuskan, Medina ikhlas kalau Mas Musa mau menikahi Mba Mariam."
Ucapan Medina kembali membawa kebisuan pada ruangan ini. Semua menyayangkan ucapan Medina.
"Katakan Mas, ini kesempatan untuk menghalalkan perasaan yang selama ini menyiksa batinmu Mas," desak Medina.
Hatiku kecewa pada tingkah Medina akhir-akhir ini, apalagi tindakannya yang keterlaluan, sampai dia harus melibatkan Ibuku. Padahal sudah sering kita membahas bahwa aku tidak akan menikahi Mariam.
Dia benar-benar sibuk menghitung apa yang dia tidak punya, sampai dia tidak menyadari kehadiran cinta yang mulai kuberikan padanya.
Aku menatap Mariam dan Medina bergantian, hatiku ingin sekali membawa tubuhku terbang mendatangi Mariam dan memeluknya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menikahi Mariam!"
.....