Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Saksi Kebahagiaan Medina


__ADS_3

Medina mengamati gerak gerik suaminya sepanjang makan malam terakhir bersama keluarganya. Medina merasa ada yang aneh dengan Musa setelah pulang dari kondangan sore tadi.


'Apa dirinya salah karena sudah mendapatkan hari milik Mas Musa lebih dari yang seharusnya? Apakah ada yang nggak beres dengan Mas musa dan Mba Mariam?' batin Medina.


Setelah malam semakin larut satu per satu penghuni rumah mulai masuk ke peraduannya masing-masing, begitupun Medina dan Musa.


Sorot lampu teras yang terang memberikan aura temaram pada kamar Musa meskipun lampunya sudah dimatikan. Medina berbaring di sisi kanan dan Musa di sisi kiri. Musa menatap Medina yang baru saja melepas jilbabnya.


'Apa yang akan kamu lalukan kalau kamu tahu Mariam keberatan berbagi, Dek?' batin Musa sambil terus memandangi Medina.


"Mas?" panggil Medina, "Kenapa ada yang aneh dengan Medina?"


"Eng-enggak, Dek." Musa gelagapan tersadar dari pikirannya.


"Medina perhatiin, Mas banyak diem sejak pulang sore tadi. Apa ada sesuatu? Mas ketemu Mba Mariam?" tanya Medina.


"Enggak."


"Enggak ketemu Mba Mariam?" tanya Medina heran, dirinya kecewa karena Musa mulai tidak terbuka perihal hubungannya dengan isteri keduanya.


"Ketemu Dek," jawab Musa singkat, "kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?"


"Mas, Mas udah nggak adil dengan Mba Mariam. Malam yang harusnya jatah Mba Mariam Mas malah menghabiskannya denganku, Medina nggak mau berdosa. Apa Mba Mariam marah karena itu?" Medina memiringkan tubuhnya sehingga dia bisa bicara sambil menatap Musa.


"Dek, menurut kamu apa berbagi memang semudah itu?"


"Maksud Mas Musa apa?"


"Apa kamu mencintaiku, Dek?"


"Apa perlu dijawab Mas? Semua yang Medina lakukan dasarnya karena Medina mencintai Mas Musa, suami Medina. Apa yang terjadi, Mas? Kenapa tiba-tiba Mas menanyakan pertanyaan seperti ini?" Medina mulai gusar.


Musa menyentuh rambut Medina yanh terurai dan menyelipkan beberapa helainya ke belakang telinga isterinya, Medina semakin gusar karena Musa tidak segera menjawab pertanyaannya.


"Boleh Mas bertanya hal yang sensitif, Dek?"


"Tanyakan, Mas!"


"Bukankah membagi orang yang kamu cintai itu nggak mudah? Bagaimana kamu bisa tegar melakukannya?" Medina diam sejenak mencerna pertanyaan suaminya, berusaha berpikir apa penyebab suaminya tiba-tiba menanyakan perihal hatinya.


"Mas, dari awal Medina sadar Medina hanya memiliki raga Mas Musa, sementara hati Mas Musa masih menjadi milik Mba Mariam. Medina juga sadar, hati akan semakin patah jika terus dipaksakan, Medina tahu seberapa menderitanya Mas Musa karena cinta yang terpendam pada Mba Mariam. Medina nggak mau menghancurkan Mas Musa dengan cinta, Medina merelakan Mas Musa agar bisa mendapatkan cinta."


Musa tersentuh dengan jawaban Medina, kelembutan hatinya mampu menjaga rumah tangganya tetap berdiri kokoh meskipun dilanda goncangan yang hebat.

__ADS_1


"Apa kamu mendapatkan apa yang kamu mau, Dek?"


"Tentu saja Mas, kemarin Mba Mariam menceritakan bagaimana Mas Musa khawatir saat tahu Medina pergi. Mba Mariam mengatakan, andai Medina melihatnya pasti Medina tahu Mas Musa begitu mencintai Medina, apa iya Mas?" Musa mengangguk mendengar cerita isterinya, dia tidak menduga Mariam pun memperhatikan dirinya saat itu, bahkan menceritakan semuanya pada Medina.


"Lihatlah Mas, dengan berbagi Medina justru mendapatkan cinta dari Mas Musa. Medina mendapatkan semua yang Medina inginkan, bahkan Medina pun hamil." Musa melihat kejujuran di mata Medina.


"Medina nggak tahu apa yang sebenarnya Mas Musa risaukan. Tapi Medina juga banyak belajar, selagi kita bahagia, untuk apa mendengarkan pendapat orang lain yang bahkan tidak mengerti kita. Kalau Mas Musa merisaukan sesuatu karena mendengar omongan orang lain, biarkan saja Mas, yang tahu perasaan kita hanya kita sendiri." Medina berusaha menenangkan hati Musa, dia menebak ada pendapat miring dari teman-temannya mengenai poligami yang dijalaninya.


"Apa kamu bahagia, Dek?"


"Bahagia, Mas."


"Yakinkan mas kalau kamu benar-benar bahagia, Dek! Mas takut kalau kebahagiaan yang sering kamu ucapkan itu palsu." Medina tersenyum mendengar ucapan Musa, Kerisauan hati suaminya ternyata hanya takut kalau dirinya tidak benar-benar bahagia.


"Demi Alloh Mas, Medina bahagia, apalagi sekarang!" Medina tidak bisa menahan embun di matanya, dia terharu dengan kenyataan bahwa Musa telah benar-benar mencintainya.


"Selama Mas Musa terus tersiksa karena Mba Mariam, Medina pun merasa tertekan dan merasa gagal menjadi seorang isteri. Medina sedih melihat Mas Musa terus-terusan mimpi buruk, berkeringat dingin, dan menyebut nama Mariam terus sepanjang malam. Medina bersyukur karena pada akhirnya kalian bisa bersama, meskipun sangat disayangkan harus mematahkan kembali hati Mba Mariam."


"Apa kamu nggak cemburu, Dek? Selayaknya perempuan pada umumnya?"


"Tentu saja Mas, Medina cemburu, sakit hati, dan merasa kecewa. Tapi melihat cinta kalian membuat Medina menyadari banyak hal, Medina juga ingin dicintai dengan dalam oleh Mas Musa, dan kalau Medina terlalu banyak cemburu justru Medina akan kehilangan semuanya. Medina harus menempuh jalan yang lain agar bisa memiliki hati Mas Musa sama seperti Mba Mariam. Jalan inilah yang Medina tempuh Mas, jalan yang akhirnya membuat Mas Musa bisa mencintai Medina dengan tulus."


"Sekarang, Mas bisa memiliki Mba Mariam, bisa menjaganya, bisa memenuhi janji-janji kalian di masa lalu, dan bisa mencintainya dengan halal. Mas mulai bahagia, tentu saja Medina bahagia."


"Medina banyak tertekan Mas, merasa bersalah karena lancang mencintai Mas Musa sementara hati Mas Musa sudah menjadi milik orang lain. Mungkin karena itulah Medina nggak bahagia, hormon Medina nggak seimbang."


"Ini bukti yang nyata kalau Medina benar-benar bahagia, hormon Medina seimbang, Medina tenang menjalani hari-hari pernikahan kita karena adanya Mba Mariam bersama Mas Musa."


"Dek, terimakasih!" Musa mencium perut Medina berkali-kali dengan haru, Medina pun mengusapkan tangannya pada rambut Musa yang sedang sibuk menciumi calon anaknya. Medina tertegun dengan pemandangan di depan matanya, kebahagiaan yang dia tunggu-tunggu selama ini, mimpi yang menjadi kenyataan.


"Medina nggak pernah ragu dengan janji Alloh tentang berbagi, apapun itu Mas! Semakin kita banyak berbagi semakin banyak pula kita menerima. Ini juga berkah karena kita menyayangi anak yatim seperti Oktavia."


Musa berhenti setelah puas mencium calon buah hati mereka, dia menatap Medina, isteri yang akan membuat bidadari surga cemburu karena kesholehahannya.


"Apa kamu pernah meragukanku, Dek?"


"Terkadang Mas, tapi Medina tidak pernah meragukan diri Medina sendiri. Medina Percaya, tidak ada yang sia-sia, semua yang kita tanam akan kembali ke diri kita sendiri. Sebelum Medina mendapatkan cinta yang besar dari Mas Musa, Medina harus memberikan cinta yang besar dulu pada Mas Musa. Medina tidak pernah menyerah dengan keyakinan itu, Medina tidak mau menyesal karena tidak berusaha sebaik-baiknya."


Musa memeluk isterinya, mereka larut dalam keharuan. Musa bersyukur karena ketidak sempurnaan hatinya justru diterima Medina dengan lapang dada, dan secara ajaib menyempurnakannya.


Musa menciumi puncak kepala Medina, dimana doa selepas ijab qobul dia lafadzkan diatasnya. Dan secara naluri turun ke kening, kemudian berganti ke pipi Medina menyusuri jejak-jejak sungai airmata, buliran permata yang menjadi saksi kebahagiaan Medina. Ciumannya bermuara pada bibir Medina, dimana kata-kata yang selalu berhasil menenangkan hatinya keluar dari sana.


Musa secara sadar menghentikan aktifitasnya, ketika dia merasa Medina sudah memburu dan hatinya berdebar-debar.

__ADS_1


"Bissmillahirohmanirohim!" Musa menarik selimut dan menutupi mereka berdua.


🍀🍀🍀


Sementara itu di tempat lain, Mariam bermimpi dalam tidurnya. Nuansa putih memenuhi segala penjuru, Mariam berjalan dengan kaki telanjang menyusuri sepanjang setapak berbatu yang menanjak. Sesuatu di atas sana memancing rasa penasaran untuk melihatnya.


Mariam berhenti setelah lelah mendaki, seseorang berdiri menantang cahaya matahari yang hangat di tengah padang rumput di atas bukit. Mariam berjalan mendekat sambil memanggil-manggil seseorang yang sangat dia kenali punggungnya.


"Mas Bian ...." Suaranya tercekat walau dia berusaha kuat berteriak. Langkahnya tertahan tak bisa mendekati sosok di hadapannya. Mariam kehabisan kekuatan, suaranya tak kunjung keluar dan langkahnya tak kunjung maju. Tubuhnya limbung dan jatuh.


Sosok itu berbalik saat Mariam menyerah, wajahnya yang bahagia diterpa cahaya matahari yang indah. Dia mendekat dengan begitu mudahnya, tidak seperti Mariam yang terkunci di tempatnya.


Tangan hangatnya menyentuh pundak Mariam. Mariam ingin membalas tapi tubuhnya kaku, dia hanya bisa mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah yang dirindukannya.


"Jangan pernah merasa kurang, aku akan tetap mencintaimu."


Lalu cahaya itu semakin terang dan terang, hingga Mariam merasa tidak kuat lagi karena silaunya.


"Mariam ... Mariam! Bangun!"


Mariam terbangun karena guncangan dari ibunya yang berusaha membangunkannya. Dia membuka mata dan menemukan wajah khawatir ibunya, bukan wajah Mas Bian yang menyilaukan seperti dalam mimpinya.


"Istighfar, Nak!"


"Maaf Bu," ucap Mariam dengan nafas yang masih memburu.


"Nggak papa Bu, tidur aja lagi, Mariam hanya mimpi."


"Mimpi almarhum suamimu? Itu tandanya dia minta didoakan," ucap ibunya seraya beranjak pergi.


Mariam menatap ibunya yang menghilang di balik pintu. Mariam duduk dan menyandarkan tubuhnya, dia memegang pundaknya, dimana masih terasa dengan nyata bekas tangan Mas Bian di sana.


"Apa yang berusaha kamu sampaikan, Mas?" gumam Mariam.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2