Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Aku yang Bersalah


__ADS_3

Mas Musa pergi sesegera mungkin, dia berangkat bersama Bapak dan Pak Iwan, sementara Ibu menemaniku di rumah. Kulihat bibir ibu mertuaku tidak berhenti merapalkan dzikir. Entah segenting apa keadaan Mba Mariam, preeklamsia?


Kupeluk Sabira yang tertidur di gendonganku, aku pun berdoa untuk keselamatan adik Sabira dan juga ibunya. Aku mengkhawatirkan keadaan Mas Musa seandainya terjadi sesuatu pada Mba Mariam, akankah dia kembali menyalahkan dirinya sendiri?


"Sabira bobo, Nduk?" tanya Bu Aini menghampiriku di kamar.


"Iya, Bu."


Bu Aini menciumi pipi dan kening Sabira yang terlelap di gendonganku. Aku menangkap kegundahan di wajahnya, kasihan ibu, harus jungkir balik menjaga keseimbangan dan keharmonisan keluarga ini dan keluarga Mba Mariam. Seandainya mereka bukan tetangga satu kampung mungkin akan lebih mudah.


"Mizan beruntung mendapatkan istri sepertimu, Nduk," ucap Bu Aini dengan wajah rentanya yang tetap ayu.


"Terimakasih, Nduk, sudah begitu legowo menerima cobaan-cobaan yang terus saja menguji pernikahan kalian."


Entah mengapa kutangkap nada bersalah dari ucapan Beliau. Apakah Ibu sedang menyalahkan dirinya sendiri perihal pernikahan Mas Musa dan Mba Mariam? Harusnya aku yang paling bersalah, karena pikiranku yang pendek saat itu hingga meminta bantuan ibu untuk meyakinkan Mas Musa dan Mba Mariam untuk menikah dengan berbagai cara.


"Entah bagaimana jadinya kalau bukan kamu yang menjadi istri Mizan," pungkasnya.


Ah Ibu, andai engkau tahu hatiku begitu merasa bersalah pada Mba Mariam dan Mas Musa. Andai aku tidak memaksa mereka bersatu. Tapi ... apa mungkin Mas Musa bisa ikhlas melepas Mba Mariam seandainya pernikahan itu tidak terjadi? Mungkinkah Mas Musa bisa mencintaiku seperti sekarang? Bahkan Sabira mungkin tidak akan ada di gendonganku sekarang. Mungkin aku akan hidup dengan seorang suami yang hatinya mati, maaf Mba ... aku merasa seperti menumbalkan dirimu untuk kebahagiaanku. Berjuanglah, Mba!


"Ibu ... sekarang Medina paham kenapa Mas Musa bisa seperti sekarang ini, kalau kata ibu Mas Musa beruntung memiliki Medina, semua karena Mas Musa memiliki ibu yang luar biasa, dengan doa-doa yang tidak pernah berhenti untuknya, membuat hidup Mas Musa beruntung, Mas Musa juga beruntung karena pernah dicintai dan mencintai Mba Mariam, karena bagaimanapun juga Mba Mariamlah pondasi semangat Mas Musa meraih semua cita-citanya."


"Kita doakan Mba Mariam sama-sama, Nduk!"


Aku mengangguk, Bu Aini pun beranjak pergi dari kamarku.


"Ibu ...," panggilku sebelum Bu Aini melangkah keluar, "Medina juga beruntung bisa menjadi istri Mas Musa dan menjadi menantu ibu."


Ibu tersenyum, kemudian melanjutkan langkahnya.


Tiba-tiba rasa takut menyusup dan membuat hatiku menciut. Mba Mariam benar, sejak kedatanganku dalam hidupnya, sejak aku tahu identitasnya sebagai Mba Mariam bukan lagi Mama Okta, kesedihan dan kemalangan selalu menimpanya.


Pertama kepergian Mas Biantara yang mendadak dan menghancurkan Mba Mariam, kemudian berlanjut depresi, selanjutnya pernikahan poligami yang kupaksa walaupun Mba Mariam menolaknya, kemudian perceraian dengan Mas Musa, kemudian kehamilannya yang membuat kesehatannya bermasalah. Mba, berjuanglah ... aku yakin kamu pantas bahagia selepas ini.


"Ampuni aku, Ya Alloh!" gumamku sendiri.


🍀🍀🍀


Musa Hamizan


Mobil melaju cukup kencang, bibirku tak pernah berhenti mendoakan keselamatan Mariam dan anakku dalam kandungannya. Aku berusaha tenang namun sebenarnya hatiku takut dan resah. Aku begitu menikmati kebahagiaanku menjadi seorang ayah sampai-sampai aku lupa dan membiarkan darah dagingku yang lain berjuang sendiri. Aku menyesal, seharusnya aku tetap menanyakan kabarnya sesekali.


"Zan? Tenang ...," ucap Bapak menangkap ke kacauan pikiranku.


"Iya, Pak."


Ya Alloh, selamatkan Mariam dan anakku.


Butuh sekitar 5 jam sampai akhirnya mobil tiba di rumah sakit tempat Mariam di tangani. Untuk beberapa saat kupikir takan menginjakan kaki lagi di kota ini, namun akhirnya aku kembali untuk anakku.


Setelah selesai menjamak sholat Maghrib dan Isya serta membersihkan diri di mushola rumah sakit, aku bergegas menuju ruang ICU dimana Mariam masih di rawat. Tampak Bu Sri dan Pak Maulana, --orang tua Mariam--, dan Mas Faisal di depan ruangan.


Mereka menyadari kehadiran kami bertiga, Pak Maulanalah yang pertama-tama menyambut kami, sementara Bu Sri mengikuti di belakangnya dengan wajah yang sangat cemas.


"Assalamualaikum," ucap Bapak menyalami Pak Maulana.


"Waalaikumsalam," jawab Pak Maulana, mantan mertuaku.


"Maaf kami terlambat," ucap Bapak, kali ini Pak Maulana bergeser menyalamiku kemudian Pak Iwan.

__ADS_1


"Nggak papa, kami juga baru beberapa jam lalu sampai."


Sekilas kulihat keengganan di mata Bu Sri dan Mas Faisal saat menatapku. Bencikah mereka?


"Bagaimana keadaan Mariam, Pak?" tanyaku pada Pak Maulana.


"Hem ... masih kritis pasca operasi tadi, semoga saja Mariam cepat melewati masa kritisnya."


"Jadi, Mariam sudah melahirkan?"


"Sudah, selamat Mas Mizan, anakmu laki-laki," ucap Pak Maulana.


"Alhamdulillah," ucapku dan Bapak bersamaan.


"Sal? Antar Mas Mizan melihat bayinya, kalau Mariam masih belum boleh dijenguk."


Mas Faisal mengikuti perintah orang tuanya dengan malas. Dia berjalan melewatiku dengan pandangan benci.


"Monggo Mas, ruangan bayi ada di sebelah sana," ucap Pak Maulana menyuruhku mengikuti Mas Faisal.


Kuhela nafas dengan berat sambil mengikuti langkah Mas Faisal dari belakang. Setelah melewati sebuah lorong yang cukup panjang, langkah Mas Faisal berhenti. Kutengok kanan kiri mencari ruangan bayi yang dimaksud, tapi tidak ada.


Bbuggggkkk!!!


"Astaghfirulloh!" pekikku.


Dengan cepat Mas Faisal melayangkan tinjunya dan tepat mengenai rahang kananku, nyeri. Sedetik kemudian Mas Faisal kembali melayangkan tinjunya mengarah pada rahang kiriku, aku sadar dan sangat mampu menghindari pukulannya yang kedua, tapi rasa bersalah membuatku merasa tak pantas untuk menghindar.


Bbuuugggkkk!!!


Kali ini aku jatuh tersungkur kebelakang, pandanganku sekilas berkunang-kunang.


"Lanjutkan, Mas! Aku layak mendapatkan pukulan yang lebih keras lagi."


"Kenapa kamu selalu membawa nasib buruk untuk Mariam?!" ucapnya pelan namun menusuk.


"Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Mariam!" lanjut Mas Faisal penuh kesungguhan.


Aku tidak mampu menjawab apa-apa.


"Harusnya dari awal kamu tidak usah datang lagi di kehidupan Mariam!"


"Harusnya kamu sakiti saja hatinya, tanpa perlu membuat adikku hamil dan harus mengalami kesusahan begini! Kakak adik sama saja! Pembawa petaka!" umpat Mas Faisal.


"Maaf!" Hanya itu yang bisa terucap dari bibirku, aku memang layak mendapatkannya. Apakah penyesalanku sekarang bisa memperbaiki sesuatu? Sepertinya tidak.


Mas Faisal kembali melanjutkan langkahnya, aku bangkit dan kembali mengikutinya.


Setelah sampai di ujung lorong tampak sebuah ruangan bayi dengan kaca besar sebagai dindingnya. Mas Faisal terlihat berbincang dengan perawat yang berjaga. Aku sibuk melihat dan mengira yang mana bayiku.


"Ikuti Mba itu!" ucap Mas Faisal menyuruhku mengikuti seorang perawat.


Aku diberi pakaian khusus, topi, dan juga masker, baru kemudian aku diizinkan masuk.


"Silahkan, Pak!" ucap perawat saat berhenti disebuah inkubator.


Sesosok bayi laki-laki dengan tubuh yang ... sangat kecil, di tubuh mungilnya terpasang berbagai alat yang entah apa saja. Berbeda dengan Sabira yang terlahir dengan berat badan yang cukup, anakku dari Mariam hampir seperti tulang yang berbalut kulit.


Air mataku menetes tanpa bisa kutahan, rasanya seperti pukulan keras mengenai hati dan jantungku, berkali-kali lipat lebih sakit dari pukulan Mas Faisal tadi. Nafasku sesak dan tercekat.

__ADS_1


"Subhanalloh," gumamku.


"Bayi Bapak termasuk sehat untuk ukuran bayi yang harus lahir sebelum waktunya, beratnya 1500 gram, jenis kelaminnya laki-laki," terang perawat.


"Bolehkah saya mengadzaninya?" tanyaku.


"Silahkan."


Kemudian perawat membukakan sebuah lubang agar suaraku sampai ke dalam sana, kuulurkan tanganku dan perlahan mengusap wajah dan tubuh yang sangat ringkih itu. Bila saat Sabira lahir hatiku begitu terharu dan dipenuhi kegembiraan, tapi kali ini hatiku seperti tercabik-cabik dan hancur.


"Bertahanlah, Nak! Abi yakin kamu bisa!" bisikku pada bayi mungil nan merah di depanku.


Sangat-sangat pantas Mas Faisal dan Bu Sri menatapku dengan pandangan benci seperti tadi. Bukan hanya Mariam yang harus diambang kematian tapi anakku sendiri harus berjuang keras untuk kehidupannya.


"Maafkan abimu ini, Nak! Maafkan!"


Perawat kembali menghampiriku yang sepertinya mulai mengganggu di ruangan tersebut karena tangis penyesalanku.


"Maaf, Pak. Tidak boleh lama-lama," ucapnya kemudian menyuruhku untuk pergi.


Mas Faisal sudah tidak ada di tempatnya, seandainya aku tidak datang bersama Bapak mungkin Pak Maulana pun akan enggan melihatku. Aku kembali ke depan ruang ICU dimana semua orang berkumpul.


Tampak Mas Faisal duduk menyendiri sambil memainkan ponselnya, sementara Bu Sri duduk tanpa tertarik dengan perbincangan Bapak, Pak Iwan, dan Pak Maulana.


Aku memilih mendekati Bu Sri, bersimpuh di kakinya. Tampak Bu Sri sedikit terkejut dengan apa yang aku lakukan, begitu pula Bapak dan Pak Maulana. Hanya Mas Faisal yang memandangku dengan sinis.


"Maafkan saya, Bu!"


"Sudahlah! Ibu yang salah, harusnya ibu menuruti Mariam dan tidak menerima lamaran kalian," ucap Bu Sri dengan lirih, aku yakin hatinya sebagai seorang ibu yang anaknya harus diambang kematian seperti ini sangat cemas dan sedih.


"Sudah-sudah, Bu, jangan dibahas lagi yang dulu-dulu. Siapa yang akan tahu akan seperti ini, niat ibu baik ingin Mariam dan Okta ada yang melindungi, kita fokus Mariam dan anaknya saja, Bu!" ucap Pak Maulana menimpali.


Nampaknya bukan hanya ibuku atau Medina yang merasa bersalah, Bu Sri juga merasakan hal yang sama, dan sama-sama mengklaim dirinyalah yang paling bersalah. Hatiku semakin terbebani, karena semua berawal dariku.


Pak Maulana berusaha menenangkan Bu Sri, aku bangkit dan mencoba melihat keadaan Mariam dari kaca.


"Innalilahi ... Astagfirullohaladzim," gumamku.


Hanya nampak alat-alat yang menjadi penunjang hidup Mariam, tidak ada tanda kehidupan selain lampu-lampu dari mesin di samping Mariam. Betapa menyedihkan keadaan Mariam saat ini.


"Aku melepasmu untuk bahagia, tapi ikatan yang pernah ada justru membuatmu harus mengalami penderitaan seperti ini, aku tidak tahu, masih pantaskah untuk mendapatkan pengampunan darimu dan keluargamu, cintaku justru membuatmu menderita."


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2