
Ruangan Mariam begitu dingin, bau obat-obatan menyeruak di hidungku, sama seperti saar mengunjungi Sabiru, aku pun harus memakai baju khusus untuk bisa menemui Mariam. Kulihat Mariam masih terbaring tak berdaya, namun beberapa alat yang semula menempel pada tubuhnya kini sudah tidak ada.
Bu Sri akhirnya memberiku izin untuk melihat Mariam, aku harus memastikan apa yang dia inginkan setelah semua yang terjadi. Aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli pada keadaannya, bukan? Meskipun kami bukan lagi siapa-siapa, tapi dia tetap ibu dari anakku.
"Assalamualaikuk, Mar," ucapku menyapa, walaupun aku tahu Mariam tidak mungkin menjawabnya. Kubuang nafas dengan berat merasakan betapa memprihatinkannya keadaan Mariam.
"Aku ... bersyukur akhirnya kamu berhasil melewati masa kritis dan komamu, aku ... merasa sangat bersalah, karena melihatmu seperti ini, semua salahku, Mar!" suaraku tercekat, sesak yang memenuhi rongga dadaku berdesakan keluar hingga membuatku susah bernafas.
"Terimaksih telah melahirkan anakku, dia ... bayi yang sehat yang kelak akan menjadi lelaki yang selalu melindungimu, namanya Sabiru Muhammad Ahza ...."
"Bangunlah, Mar. Sabiru menunggumu ... dia ingin digendong oleh ibunya, seorang ibu yang begitu hebat dan tegar menghadapi cobaan hidupnya. Aku yakin Sabiru pun akan menjadi hebat di tanganmu," ucapku terus bicara pada Mariam yang membisu.
"Katakan aku harus bagaimana, Mar? Semua memang salahku, tapi aku ingin memperbaikinya, bangunlah, Mar! Kamu berhutang bahagia padaku, kamu harus hidup bahagia agar semua rasa bersalahku bisa hilang."
"Bila kamu terlalu lama begini, aku akan menganggapmu ingkar janji, kamu--"
"--Zan!"
Suara Mariam membuatku terkejut, matanya yang terpejam tiba-tiba terbuka.
"Mar? Kamu ... su-dah bangun?"
"Kamu terus menyuruhku bangun ... dan sangat berisik, kamu ... mengganggu tidurku!" ucap Mariam dengan lemah.
"Alhamdulillah, senang rasanya bisa mendengar suaramu lagi," ucapku lega seraya menyeka airmata yang tadi sempat keluar.
"Bagaimana keadaanmu, Mar? Apa yang sakit?" tanyaku.
Mariam hanya mengerjapkan matanya, keadaannya masih nampak lemah.
"Zan?"
"Iya, Mar?"
"Jawab pertanyaanku," pintanya.
"Tanyakan saja, Mar."
"Kalau saja ... aku ... mati, apakah aku ... akan kembali bersatu di alam sana ... dengan Mas Biantara?" tanya Mariam berusaha mengumpulkan tenaganya, aku tercekat dengan pertanyaan Mariam, rasanya seperti batu besar jatuh diatas hatiku.
"Sementara ... kamu, pernah mengikrarkan ijab ... dan qobul padaku, apakah ... artinya ... ikatanku dengan Mas Biantara juga terputus?" Mariam memandangku penuh harap, pertanyaanmu membuatku semakin bersalah, Mar.
"Wallohu'alam, Mar. Semua tergantung jodoh kalian," jawabku pada pertanyaan yang tidak bisa kupastikan jawabannya.
"Aku ... tidak rela Mas Biantara ... bersama bidadari surga, aku ... ingin bersama lagi dengan Mas Bian," ucapnya sambil menahan isak, bulir bening meluncur dari sudut matanya yang sayu.
Sesuatu dalam hatiku hancur berkeping-keping mendengar ucapan Mariam. Menurut sebuah hadits Nabi, seorang wanita akan bersatu lagi dengan suaminya yang telah meninggal apabila dia tidak menikah lagi, apabila dia menikah lagi maka dia menjadi istri bagi suaminya yang terakhir.
Gara-gara pernikahan itu, apakah jodoh Mariam dan Pak Biantara akan terputus? Wallohu'alam ... Ya Alloh, aku bersalah.
"Aku berdoa semoga kalian tetap akan berjodoh, Mar!" ucapku berusaha menghibur Mariam.
Tiba-tiba Mariam terlihat kesakitan, keringat dingin membanjiri keningnya. Aku panik dan berteriak memanggil perawat ataupun dokter. Siapapun yang bisa menolong.
Seorang perawat datang dan melihat keadaan Mariam.
"Bapak membuatnya menangis?" tanyanya penuh selidik.
__ADS_1
"Pasti pasien merasa kesakitan di bekas oprasi secarnya karena menangis, lebih baik Bapak keluar dulu," ucap perawat itu menyuruhku pergi.
Bu Sri langsung menghampiri dan mengintrogasiku.
"Mariam kenapa, Mas?"
"Mariam kesakitan, Bu."
"Cukup Mas Musa, ibu mohon ... pergi saja dari kehidupan anak saya," ucap Bu Sri sambil meluruh di kakiku.
Sontak aku panik dan bergegas menangkap Bu Sri yang menangis meraung-raung di kakiku.
"Bu--"
"Ibu mohon ... pergi dan jauhi anak ibu, kami janji tidak akan menagih apapun pada keluarga kalian, cukup tinggalkan anak ibu ...."
"Jangan temui Mariam lagi, biarkan dia tenang, Mariam sudah banyak menanggung penderitaan lahir dan batin. Kasihani anak ibu, Mas, kasihani Mariam. Ibu mohon ... pergi saja," ucap Bu Sri disela raungannya.
Hatiku hancur berulang kali, sakit, sesak, merasa sangat bersalah, dan merasa begitu hina.
"Pergilah, Mas. Sebelum Faisal datang dan tahu kalau ibu mengijinkan Mas Musa menemui Mariam!"
Aku hanya bisa diam, suara-suara di hati dan otakku bersahut-sahutan, entah mana yang harus kudengarkan. Kutatap kesibukan para perawat dan dokter di ruangan Mariam, dengan pandangan yang kosong.
"Mariam!" gumamku.
Bu Sri terus mendorongku menjauh, seolah aku adalah nasib sial yang harus segera disingkirkan dari Mariam. Aku mengalah dan akhirnya pergi, meski hatiku begitu khawatir pada keadaan Mariam.
Dengan pikiran yang tak tentu, kulangkahkan kakiku ke depan ruangan untuk bayi. Aku termenung dalam kesedihan yang luar biasa.
"Ya Alloh ... hanya Engkau yang tahu, niatku baik namun yang terjadi justru seperti ini," gumamku sedih.
Sebenarnya aku masih betah menatap Sabiru, namun pesan dari Bapak menanyakan keberadaanku membuatku harus beranjak dari tempat ini. Sebelum pergi aku berniat melihat suasana di depan kamar Mariam sebentar, setidaknya untuk memastikan dia baik-baik saja setelah kejadian tadi. Namun dari kejauhan kulihat Mas Faisal tengah berjaga, membuat langkahku berbalik mundur.
"Hey!!!"
Terlambat, Mas Faisal sudah memergokiku. Terdengar suara langkahnya mendekat di balik punggungku.
"Bissmillahirohmanirohim," kubalik badan dan Mas Faisal sudah ada di depanku.
Mas Faisal mengulurkan tangannya, sebuah kartu yang pernah kuberikan pada Mariam ada di genggamannya.
"Ambil!" perintahnya.
"Keluargaku nggak mau berhutang apapun padamu, kami masih mampu membayar semua biaya rumah sakit dan biaya lain-lainnya."
"Ta-tapi, Mas ...."
"Jangan jadikan anak itu sebagai alasan untuk terus mengganggu Mariam, kami nggak mau berhubungan lagi denganmu, dengan keluargamu, apapun alasannya!" ucap Mas Faisal dengan penuh penekanan di kalimat terakhir.
"Jangan khawatir, kami masih mampu membesarkan anakmu, jangan takut dia terlantar atau kelaparan, aku yang menjamin. Jadi ... jauhi Mariam!" ucap Mas Faisal dengan sinis.
Aku terdiam menahan diri, percuma mendebat Mas Faisal. Sudut pandang keluarga Mariam sedang sempit padaku, rasa sakit, kecewa, dan putus asa yang mereka rasakan semakin membuat mereka merasa berhak membenci dan menyalahkanku. Tanpa ada yang tahu, hatiku juga hancur.
"Baiklah." Kuambil kartu dari tangan Mas Faisal.
Mas Faisal tersenyum puas lalu berbalik hendak meninggalkanku.
__ADS_1
"Mas!" cegahku, Mas Faisal pun menahan langkahnya dan hanya menengokan kepalanya.
"Aku harap suatu saat nanti kalau suasana sudah lebih baik kita bisa bermusyawarah lagi, aku ... tidak ingin masalahku berlarut-larut seperti masalahmu dan Mas Harun."
Mas Faisal membalas dengan tatapan tak suka.
"Sekarang aku akan pergi dan menjauh, tapi Alloh-lah yang akan memberi jalan. Masalah ini akan selesai dengan baik dan kekeluargaan."
"Keras kepala!" umpatnya.
Aku segera pergi, mungkin untuk saat ini menjauh adalah yang terbaik untuk Mariam dan Sabiruku. Aku merasa begitu hina dan begitu pantas disalahkan. Mungkin ini adalah titik terendah dalam hidupku.
Kulangkahkan kaki menjauh, membawa semua runtuhan hati dan segala niat baikku. Kutitipkan Sabiru pada Alloh, aku hanya bisa menjaganya dalam doa. Dan Mariam ... hhh aku harap dia segera sembuh dan suatu saat nanti dia bisa memamerkan kebahagiaan serta kesuksesannya padaku.
"Assalamualaikum," ucapku lemas pada Bapak dan Pak Iwan.
"Waalaikumsalam, bagaimana keadaan Mariam dan cucuku?" tanya Bapak.
"Bapak baru mau menyusul," lanjutnya.
Sering berada dan berjaga di rumah sakit tentu sangat tidak baik untuk kesehatan Bapak, aku melarang Bapak untuk tidak terlalu sering datang.
"Sudahlah, Pak. Kita ... pulang saja, ayok Pak Iwan, siapkan mobil, kita pulang sekarang juga," ucapku tanpa menjawab pertanyaan bapak.
"Pulang?"
"Mereka mengusirmu lagi, Zan?"
"Enggak, Pak. Kita sudah cukup lama berada disini, sudah saatnya kita pulang. Kita disini juga nggak bisa berbuat apa-apa, percuma. Kita doakan saja mereka agar kuat dan tabah, serta Mariam dan anakku agar cepat pulih."
Bapak saling bertatapan dengan Pak Iwan, sebelum akhirnya mengiyakan ajakanku untuk pulang.
"Bersabarlah, Zan. Jangan sampai keadaan ini membuatmu su'udzon sama Gusti Alloh, pasti ada hikmahnya, berusahalah untuk memaafkan dirimu sendiri terlebih dahulu, semua yang terjadi jauh di luar kuasamu," ucap Bapak berusaha menghiburku.
"Memaafkan diri sendiri?" gumamku.
"Kita hanya manusia, tugas kita hanya ikhlas menjalani suratan serta takdir dari Gusti Alloh, jika keadaan sedang susah kita harus bersabar, jika keadaan sedang menyenangkan kita harus bersyukur."
Sulit sekali mencerna nasehat Bapak dalam situasi seperti ini. Sepanjang perjalanan pikiranku tidak bisa lepas dari Mariam dan Sabiru, keadaan terakhir Mariam membuatku tidak tenang dan begitu khawatir.
Aku juga tidak bisa membawa kesedihan ini pulang, aku tidak boleh membaginya dengan Medina dan juga Sabira. Aku terus beristighfar sepanjang jalan hingga akhirnya aku tertidur.
"Innalilahi wa innailaihirojiun ...." Lamat-lamat kudengar Bapak mengucap kalimat tarji, ah ... aku pasti bermimpi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.