Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Aku Harap Kamu Kembali Bersinar


__ADS_3

Mariam datang memenuhi undanganku, dia terlihat kembali dengan gaya pakaiannya, tidak seperti sebelumnya yang menyerupai Medina dengan jilbab yang besar. Perutnya nampak jelas sekarang, darah dagingku tumbuh di sana.


Ternyata kemarin Mariam merubah gaya busananya hanya untuk menutupi kehamilannya. Harusnya aku menyadari dari gerak gerik Mariam yang berbeda.


"Hem, ada apa?" tanya Mariam setelah selesai kuberitahu keberadaan Medina.


"Aku hanya ingin memberikan ini ...." Kusodrokan sebuah kartu sebagai bentuk tanggung jawabku.


"Tolong diterima ... kamu masih dalam masa iddah dan masih menjadi tanggung jawabku. Apalagi ada anak dalam kandunganmu."


Bila wanita biasa mempunyai masa iddah 3 bulan, lain halnya jika wanita yang ditalak dalam kondisi hamil, masa iddahnya adalah sampai dia melahirkan. Mariam sempat mengembalikan kartu ini sebelumnya, tapi sebenarnya dia masih berhak mendapatkan nafkah dariku.


"Aku tahu kehidupanmu sudah lebih dari cukup, tapi ijinkan aku bertanggung jawab," pintaku lagi, setelah Mariam terlihat diam dan keberatan menerima pemberianku.


"Jangan biarkan aku berdosa, Mar, karena melalaikan kewajibanku padamu, aku tahu ini nggak banyak, tapi tolong terimalah!"


"Baiklah, aku terima. Terimakasih," ucap Mariam pada akhirnya.


Mariam mengambil kartu tersebut dan memasukannya ke dalam tas.


Kemarin sebelum pulang Ibu pun menitipkan sedikit simpanannya ke dalam rekening itu. Aku mengerti, Ibu hanya ingin menebus rasa bersalah yang ada di hatinya. Ibu pun sangat prihatin dan merasa sedih dengan apa yang harus Mariam hadapi seorang diri.


Aku bersyukur Mariam mau menerimanya tanpa perdebatan lagi.


Seorang pramusaji mengantarkan jus mangga yang telah kupesan sebelumnya untuk Mariam. Canggung sekali rasanya berdua dengan Mariam tapi ada hal-hal yang harus kukatakan langsung padanya.


"Terimakasih," ucap Mariam pada Mba-mba pembawa minuman.


"Hem ... maaf meminta bertemu disini, aku--"


"Ada Mas Faisal, kan?" potong Mariam menebak kalimatku.


"Maaf ya, sikap Mas Faisal seperti itu, aku nggak bilang sikapnya pantas untuk dimaklumi atau wajar, tapi ... dia begitu karena ada luka di hatinya yang belum sembuh."


Kutarik nafas sebentar mendengar kalimat Mariam. Aku mengerti, sangat-sangat mengerti. Karena Mas Harun juga memiliki luka yang sama.


"Aku yakin suatu saat luka mereka akan sembuh, dan Mas Harun pun akan benar-benar pulang setelah lukanya sembuh," lanjut Mariam lagi seperti menebak apa yang kurasakan.


"Iya."


"Ehm ... bukan maksudku menghindari Mas Faisal tapi memang aku belum percaya diri menghadapinya, setelah aku menyakiti dan membuat hidupmu dalam posisi seperti ini, aku ... merasa bersalah padamu dan keluargamu, Mar."


"Nggak papa, aku kuat!" jawabnya singkat.


"Maafkan aku, Mar. A--ku benar-benar menyesal."


"Menyesal?!" tanya Mariam, raut wajahnya sedikit berubah, perpaduan terkejut dan kesal.


"Menyesal yang seperti apa?" lanjut Mariam tanpa membiarkanku menyela.


"Maksudku, menyesal karena telah menempatkanmu dalam keadaan yang seperti ini, andai aku bisa ... aku akan mengambil semua bebanmu dan biar aku saja yang menanggungnya."


Mariam nampak diam dengan penjelasanku.


"Aku tahu, keinginanmu untuk bebas sangatlah besar. Tapi ... kehadiran anak itu justru memberikan beban baru untukmu."


"Aku tidak menyesal!" tegas Mariam.

__ADS_1


"Memang awalnya aku membenci kehadiran anak ini, tapi ... sekarang aku sangat bersyukur," ucap Mariam.


"Yang aku sesali adalah kebodohanku mengulangi kisah yang seharusnya sudah selesai," lanjut Mariam.


"Maaf ... karena pernikahan itu--"


"Bukan pernikahannya, tapi ... salah hatiku yang sempat terbuka," ucap Mariam memotong kalimatku.


Mariam meminum jus yang ada di depannya dan menarik nafas dengan berat.


"Pernikahan itu di luar kuasaku, aku tidak bersalah apapun atas terjadinya ikatan itu. Tapi kesalahanku ... adalah dengan kesadaran penuh, kembali membuka hati, dan sempat berpikir bodoh kalau pernikahan ini bisa kujalani dengan ikhlas bahkan berharap akan indah," tutur Mariam, pandangannya mengambang pada minuman di depannya.


"Maksudmu, kamu menyesali malam itu?" tanyaku menebak arah pikirannya.


"Satu-satunya kesalahanku hanya itu, kan?" jawab Mariam dengan mengangkat sebelah bibirnya, serta mengiyakan apa yang menjadi dugaanku.


"Kamu juga boleh menyesalinya, dari awal memang seharusnya kita tidak begitu," lanjut Mariam semakin membuatku kecewa.


"Aku tidak menyesal, kasian anak itu kalau aku menyesalinya. Dia adalah anugrah bagiku, titipan, serta tanggung jawabku. Kamu salah kalau berpikir aku akan menyesalinya!" ucapku, ada rasa kecewa mendengar kalimat-kalimat Mariam, kalimat yang seharusnya tidak dia lontarkan sebagai ibu.


"Aku hanya menyesal karena terlambat mengetahuinya," ucapku penuh penyesalan.


"Kalau kamu keberatan dengan anak itu, biarkan aku yang merawatnya setelah dia lahir, maka pernikahan itu nggak akan meninggalkan bekas apa-apa lagi padamu, Mar," ucapku sedikit emosi.


"Aku sudah bilang aku hanya pernah menyesal, tapi kemudian aku bersyukur. Wajarlah, aku merasa begitu terpukul dengan kehamilan yang nggak aku sadari seperti itu," ucap Mariam dengan nada sedikit meninggi.


Mariam kembali diam dengan wajah masam, tangannya mengaduk-ngaduk jus dengan kasar.


"Maaf, bukan maksudku seperti itu," ucapku mengalah.


Begitulah perangai Mariam yang sekarang, berbeda dengan Mariam saat dulu. Benar. Sikap buruknya merupakan implementasi dari luka yang dia derita. Seperti Mas Faisal dan Mas Harun yang sama-sama berubah sikap setelah terluka. Tapi kita pun sama, aku, kamu dan Medina.


Aku harap waktu akan menyembuhkanmu dengan segera. Sembuhlah, Mariam! Agar berkurang rasa bersalah yang kurasakan.


"Maaf ... sejak hamil emosiku terkadang meledak-ledak," ucap Mariam.


"Kamu bukan lagi siapa-siapaku, seharusnya aku menjaga sikap," pungkas Mariam tanpa menatapku, lawan bicaranya.


"Santai aja, Mar."


"Aku cukup senang dengan respon kalian, tadinya aku pikir kamu, Medina, atau pun ibumu akan berubah pikiran dan memaksaku kembali dalam pernikahan itu karena kehadiran anak ini."


"Aku sangat takut sebelumnya, jadi ... maaf karena pikiranku yang pendek jadi ... aku terpaksa menyembunyikannya," lanjut Mariam.


"Aku mengerti, Mar. Sangat tidak mudah untuk ada di posisimu."


"Ibu pun sangat mengerti dan menghargai keputusan kita untuk berpisah, makanya Ibu hanya fokus bagaimana memperbaiki silaturahmi dengan keluargamu dan sama sekali tidak berpikir harus memaksamu kembali lagi."


"Dan Medina ... dia telah banyak belajar untuk menahan diri dan tidak ikut campur apapun masalahmu, Mar."


Mariam terlihat mengangguk beberapa kali mendengar penuturanku.


"Syukurlah, terimakasih kalian telah mengerti."


Semudah ini menyelesaikannya, bicara dengan hati yang sama-sama terbuka. Hal yang kupikir akan rumit justru sangat mudah menemukan titik tengahnya. Semua ikhlas dan menerima keadaan yang sudah terlanjur.


"Terimakasih, Mar, telah mengandung anakku. Aku ... akan tetap menyayanginya, aku harap kelak kamu mengijinkanku untuk tetap berhubungan baik dengannya."

__ADS_1


Mariam terdiam dan menatapku setelah mendengar ucapanku, entah bagian mana yang membuatnya tercengang sehingga menunjukan ekspresi seperti itu.


"Tentu saja." Mariam tersenyum sedikit, kemudian kembali menikmati minumannya.


"Kamu jangan khawatir, bagaimana pun juga anak ini juga anakku, jadi ... jangan merasa begitu bersalah. Aku akan menjaganya sepenuh hati."


Kami kembali diam, kubiarkan Mariam fokus menikmati minumannya. Kasian sekali melihatnya, harus menjalani masa ngidam seorang diri. Aku tahu benar bagaimana Medina bersikap dan menginginkan ini itu di jam yang terkadang tidak tepat. Aku pasti berusaha menuruti dan mencari apapun yang menjadi keinginan Medina.


Apa kamu mengalaminya, Mar? Apakah kamu mencarinya seorang diri? Memikirkannya saja sudah membuat hatiku sedih dan bersalah.


"Kenapa ngeliatin aku begitu?" tanya Mariam setelah sadar aku mengamatinya.


"Aku haus jadi aku habiskan," ucap Mariam sambil menyingkirkan gelasnya yang sudah kosong.


"Nggak papa, kamu mau lagi, Mar?" tawarku.


"Nggak usah," tolaknya.


"Hem ... kalau nggak ada hal lain lagi aku pamit duluan," ujar Mariam.


"Iya ... terimakasih udah datang," ucapku.


"Salam untuk Medina. Assalamualaikum," pamit Mariam seraya beranjak dari kursinya.


"Hem, Mar!" panggilku mencegah dia melangkah.


"Iyah?"


"Jaga dirimu, aku harap kamu hidup dengan baik," ucapku.


Aku benar-benar berharap Mariam dapat melanjutkan kehidupannya dengan baik. Setelah kedatanganku dan membuat beberapa tahunnya menjadi rusuh dan menyakitkan. Aku ingin dia kembali menjadi Mariam yang penuh keceriaan dengan senyum hangat yang mencerminkan kebahagiaan pemiliknya.


"Iya," jawab Mariam singkat.


"Kamu juga, berbahagialah dengan Medina," ucapnya, kemudian melangkah pergi.


Kutatap punggungnya yang menjauh, hatiku telah lepas dari beban-beban yang pernah menjeratku. Dia yang pernah menjadi permataku, justru memenjarakanku dalam kesalahan dan kebutaan. Saat takdir mengijinkanku memilikinya, justru sinarnya indahnya meredup karena keegoisanku. Aku menyakiti hidup dan jiwanya.


Pergilah, Mariam.


Aku harap kamu kembali bersinar.


Aku kembali duduk seorang diri, memeriksa ponselku sebentar dan membalas pesan dari Medina.


"Tunggu, Dek. Tiga minggu lagi."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2