
"Ibumu orang yang baik Dek." Mas Musa menatap lekat-lekat padaku, dia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat. Matanya menembus jendela hatiku dengan tajam, aku masih kecewa dan tidak mengerti, padahal momen kedekatan seperti ini adalah hal yang selalu kudambakan.
"Terimakasih atas semua yang udah kamu lakukan, mas tahu kamu berusaha keras melindungi Mariam," ucap Mas Musa.
'Melindungi Mba Mariam? Jadi Mas Musa menganggap semua yang kulakukan adalah untuk melindungi Mba Mariam?' batinku bertanya-tanya.
"Tapi percayalah Dek, Ibu pasti akan mengerti tanpa harus banyak penjelasan kalau Beliau melihat sendiri bagaimana keadaan Mariam yang sebenarnya," lanjut Mas Musa dengan terus menatapku.
Aku hanya terdiam, kembali menelan kekecewaan. Andai Mas Musa tahu, aku begitu takut kalau Ibu akan memisahkan aku dengan Mas Musa. Aku tidak sedang melindungi Mba Mariam, aku sedang melindungi pernikahanku sendiri. Tapi sudut pandang Mas Musa hanya tentang Mba Mariam.
Tatapan Mas Musa selalu berhasil membuat hatiku berdebar karena cinta. Tapi saat ini, aku seperti kehilangan cara menipu diriku sendiri, debaran itu tidak ada lagi. Perkataan Melisa benar-benar menghantuiku, mereka lebih dulu menjadi sepasang kekasih, lantas apa gunanya menjadi istri pertama?
"Mas ...," ucapku kelu, aku harus bertanya, sudahkah dia mencintaiku setelah semua yang kukorbankan?
Tiba-tiba Mas Musa kembali memelukku, "Dek, terimakasih karena selalu melakukan yang terbaik, menyaksikan sendiri caramu mencintaiku, melayaniku sebagai seorang istri, dan mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaanku, sudah mencerminkan bagaimana didikan orang tuamu, bagaimana didikan ibumu sehingga tercipta seorang Medina yang bagitu baik dan sholihah."
Aku terhenyak hingga tak mampu mengucapkan satu kata pun. Mas Musa melepaskan pelukannya dan tangannya beralih menyelipkan rambut ke telingaku. Aku hanya tertunduk menghindari tatapannya, meskipun bebanku begitu berat tapi perlakuannya berhasil membuatku tersipu.
"Seorang istri berhati malaikat sepertimu pastilah berasal dari seorang Ibu dengan hati yang sangat mulia Dek," imbuhnya.
Sesempurna itu diriku di depan matanya, aku sempurna dengan semua pengorbananku. Caraku mencintai adalah dengan berkorban, dan Mas Musa mencintaiku karena pengorbananku. Aku tersenyum menahan sakit.
"Terimakasih Mas," ucapku pada akhirnya.
🍁🍁🍁
Sayup-sayup lantunan Adzan Subuh membuatku terbangun, aku melihat Mas Musa masih bersimpuh di atas sajadahnya. Percakapan semalam membuatku sulit tidur, pastilah aku baru nyenyak menjelang Subuh ini, sehingga aku tidak menyadari Mas Musa yang terbangun lebih dahulu.
Aku beranjak dari tempat tidurku dengan layu, kepalaku seperti menopang beban yang berat hingga membuat leherku sakit. Aku menuju kamar mandi, udara yang sangat dingin menusuk hingga ketulang lebih dingin dari biasanya, mungkin saja hatiku yang dingin sehingga menular kemana-mana.
Kupilih air hangat untuk menyegarkan badanku, berharap semua rasa sakit ini ikut mengalir bersama air, dan menguapkan semua kekecewaan serta kesedihan yang tak mampu Mas Musa saksikan.
"Cieee keramaaas ...," ucap Melisa yang telah menungguku di depan kamar mandi.
"Huuusst ... kamu ini Mel," sergahku terkejut karena kemunculannya yang tiba-tiba.
"Hihihi ... jadi pengen cepet-cepet nikah Deh," imbuhnya sambil terus meledekku.
"Anak kecil kok ngomongnya nikah mulu, selesein dulu kuliah," ucapku sambil berlalu.
Aku tersenyum karena ejekan Melisa, andai dia tahu aku keramas karena kesakitan bukan karena dijamah, apakah dia masih ingin buru-buru menikah? Tapi rasanya seperti dejavu, teringat saat Mas Harun memergoki Mas Musa yang habis mandi keramas dan mengejeknya dengan suara keras sampai ayah dan ibunya mendengar, bahkan Mba Mariam pun mendengar.
Aku menghela nafas panjang, karena itu adalah ingatan manis di hari yang pahit, meskipun sedikit memalukan.
"Kenapa Dek? Senyum-senyum sendiri?" tanya Mas Musa, aku sendiri saja tidak menyadari ada senyuman di bibirku karena mengingat momen itu.
"Hem ... itu, Melisa hampir terpeleset," jawabku asal.
"Ayo kita jamaah!" ajak Mas Musa, aku segera meraih mukenaku dan memposisikan diri di belakang Mas Musa.
🍁🍁🍁
Benar saja setelah Mas Musa berangkat Ibu kembali pada keinginannya untuk menemui Mba Mariam. Aku hanya memikirkan beberapa kemungkinan, apakah Ibu akan menyakiti Mba Mariam dengan kata-katanya? Atau Ibu akan menyuruhku meninggalkan Mas Musa?
"Baik Bu, ayo kita ke rumah Mba Mariam." Ibu yang sangat penasaran tampak senang dengan jawabanku.
"Nah gitu dong, apa susahnya sih?" gerutu ibuku.
"Tapi Bu, jangan sampai menyinggung kepergian almarhum suami Mba Mariam, cuma itu permintaanku Bu."
__ADS_1
"Lha Ibu cuma pengen tau, orang seperti apa dia! Kenapa kamu yang ketakutan, Nak?" ucap ibuku meninggi.
"Baiklah Bu, maafin Medina ya ... Medina tau Ibu melakukan semua ini karena khawatir sama Medina," ucapku dengan rasa bersalah karena selama ini Ibu jarang sekali meninggikan nada suaranya.
"Hhhh ...," Ibu menghembuskan nafas panjang sambil berlalu, "Ibu siap-siap dulu," imbuhnya.
Aku dan Melisa langsung mengikuti Ibu untuk bersiap-siap. Setelah siap, aku memilih mengantar Melisa terlebih dahulu barulah nanti kembali dan menjemput Ibu. Kendaraan yang ada hanyalah satu sepeda motor, walaupun dekat tidak mungkin kubiarkan Ibu jalan kaki.
"Mel, ayo masuk," ajakku pada Melisa.
"Assalamualaikum ...." Aku mengetuk pintu bercat coklat itu beberapa kali.
"Waalaikumsalam," jawab seseorang dari dalam, "Eh ... Tante Medina, silahkan masuk, Mama Oktanya di dalam," sapa Teh Desi ramah.
"Kenapa Teh Desi di sini sepagi ini? Apa Mba Mariam udah buka jahitannya lagi?" tanyaku heran.
"Oh ... belum Tante, tapi semoga secepatnya. Aku cuma nemenin Mama Okta," jawab Teh Desi.
"Apa Mas Musa yang memintanya, Teh?" tanyaku lagi.
"Bukan Tante, Mama Okta yang minta," jawabnya lagi, aku manggut-manggut mengerti.
"Oh iya Teh, titip adikku sebentar yah, namanya Melisa. Soalnya aku harus jemput ibuku dulu," pamitku terburu-buru.
"Eh, Mba ...," cegah Melisa yang belum nyaman dengan orang baru.
"Oh siap Tante Medina, ayo masuk dulu Mba Melisa," ajak Teh Desi pada Melisa terdengar sayup-sayup di telingaku, aku bergegas pergi untuk menjemput Ibu.
Tidak perlu waktu lama aku sudah sampai kembali dan membawa Ibu. Pikiranku melayang kemana-mana, menebak-nebak apa yang akan terjadi. Kuremas dulu tanganku sebelum mengajak Ibu masuk.
'Bismillahrrohmanirrohim,' ucapku dalam hati.
Tampak Melisa sudah duduk menunggu kami di sofa, dan Mba Mariam duduk di sebelahnya, sementara Oktavia dan Teh Desi duduk di karpet depan televisi.
"Waalaikumsalam," jawab Mba Mariam dan Melisa bersamaan.
"Mba ... hem, perkenalkan ini Ibu dan adikku, kebetulan mereka sedang mengunjungiku jadi sekalian ingin berkenalan dengan Mba Mariam." Aku mencoba menyederhanakan keadaan.
Mba Mariam mendekati Ibu dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Ibu menerimanya namun ketika Mba Mariam hendak menciumnya tiba-tiba Ibu bergegas menarik tangannya.
Raut wajah Mba Mariam sangat terkejut, dia berusaha menutupinya dengan mempersilahkan kami semua untuk duduk. Aku merasa tidak enak hati pada Mba Mariam, sebenarnya dia juga belum menerima pernikahan yang telah kupaksakan.
"Ehem, jadi kamu yang sudah jadi madu di pernikahan anakkku?" ucap Ibu membuka keheningan.
"Ibu." Aku menepuk pelan tangan ibuku yang terlipat di pangkuannya, aku terkejut mendapati tangannya yang gemetar.
"Benar, tepatnya Medina yang menjadikanku madunya," jawab Mba Mariam.
"Dia melakukan itu pasti ada sebabnya," timpal Ibu kemudian.
"Terus Ibu mau tau sebabnya? Ibu bisa langsung tanyakan sendiri ke anak Ibu," ucap Mba Mariam tegas.
"Kamu pasti sudah menggoda suaminya, sampai akhirnya anakku merelakan kalian untuk menikah agar tidak terjadi zina!" tuduh Ibu, Mba Mariam terlihat marah sementara aku tidak berdaya karena kecepatan dialog mereka.
"Jadi itu jawaban kamu, Din?" Mba Mariam balik bertanya padaku.
"Nggak begitu maksudku, Mbak!" sergahku.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, lebih baik kalian pergi dari pada kalian datang hanya untuk membuat keributan disini," usir Mba Mariam, dia bahkan tidak lagi memandang ke arah kami.
__ADS_1
"Angkuh sekali kamu!" maki Ibu.
"Angkuh?!" ulang Mba Mariam.
"Mba, sudah Mba, ayo Bu, lebih baik kita pulang!" Aku berdiri dan hendak menarik tangan ibuku.
"Tunggu!" cegah Mba Mariam, "Kamu pikir kamu bisa datang dan pergi seenaknya untuk menghinaku?"
"Dengar Bu, selama ini putrimu itu terus saja mengejarku, dia memintaku untuk menemui suaminya dan membicarakan kisah cinta kami yang sudah kubuang jauh, bahkan suamiku sampai terbawa permainannya dan ikut-ikutan memintaku untuk menyetujui keinginan putrimu, dia melukai dirinya sendiri dengan mengusik kehidupanku," ungkap Mba Mariam dengan Marah.
"Mba ...," cegahku.
"Bahkan ketika tanah kuburan suamiku masih merah, dia dengan lancang membawa Ibu mertuanya untuk melamarku, ketika kesedihanku belum pulih, ketika luka di jiwaku masih menganga, ketika aku masih mencoba mencerna kenyataan pedih ini, dia ... putrimu kembali melakukan segala cara untuk menjadikanku madunya!"
Suara Mba Mariam bergetar namun tegas menyiratkan dukanya. Meski marah dia berhasil menelanjangiku dengan kata-katanya. Air mataku mengalir begitu saja, hatiku sakit sekali menyadari kenyataan diriku sendiri lewat Mba Mariam. Ibu tidak kalah terkejut, namun sepertinya dia kehabisan kata-kata untuk membalas Mba Mariam.
Melissa mencoba menenangkanku, sementara Teh Desi yang menyadari keributan ini bergegas memboyong Oktavia keluar dari rumah. Air mata juga menghiasi wajah Mba Mariam, sedalam itukah cintanya pada almarhum suaminya? Benarkah aku telah gegabah? Bukankah mereka harusnya bahagia karena akhirnya bisa berjodoh? Apa pengorbananku justru menimbulkan penderitaan baru untuk Mba Mariam?
Aku semakin tergugu menyadari ketidak mampuanku melihat cinta Mba Mariam yang besar untuk almarhum suaminya hingga akhirnya memaksakan pernikahan itu. Tidak ada lagi suara, hanya tangisku dan isak Mba Mariam yang bersahutan.
"Ibu sudah puas?" tanya Mba Mariam, namun Ibu hanya melengos berusaha menghindari tatapan Mba Mariam.
"Aku masih berduka dan anak Ibu telah menaburkan garam di setiap lukaku, dan lihat sekarang! Bahkan dia membawa keluarganya untuk ikut menaburkan garam dan membuatku semakin menderita."
"Cukup, Mba! Aku mohon!" ucapku mengiba, "Aku minta maaf atas semua kesalahanku, tapi Demi Alloh, bukan maksudku membuat Mba menderita, semua yang Mba ucapkan memang benar, aku tidak membantah, aku memang melakukan semuanya, tapi maksudku baik tidak seperti yang Mba tuduhkan," ucapku mencoba membela diri.
"Lantas kenapa keluargamu menuduhku telah menggoda suamimu?" tanya Mba Mariam geram.
"Itu hanya salah paham, Mba!"
"Sudah, sudah!" sela ibuku, aku dan Mba Mariam kompak beralih menatap Ibu.
"Sekarang sudah jelas semuanya, Medina yang telah memaksa pernikahan itu dan kamu sendiri tidak menginginkannya, bukan?" ucap Ibu memperjelas situasi.
"Karena pernikahan itu tidak diinginkan, akan lebih baik kalian segera bercerai!" lanjut Ibu.
"Astaghfirullohaladzim ... Bu! Jangan seperti ini," ucapku terkejut, Mba Mariam pun sama terkejutnya denganku, namun dia tidak berkata apapun.
"Apalagi yang ingin dipertahankan? Jelas-jelas madumu itu menolak, dan kamu bisa kembali bahagia dengan pernikahanmu yang tanpa duri," ucap Ibu.
"Nggak seperti itu Bu, walaupun Mba Mariam menolaknya tapi bagaimanapun juga Mas Musa mencintai Mba Mariam, aku melakukan semua ini untuk kebahagiaan suamiku, bagaimana pernikahanku bisa bahagia kalau Mas Musa saja tidak bahagia?" ucapku panik sehingga terlalu banyak mengatakan hal yang seharusnya kusimpan.
"Coba jelaskan!" pinta Ibu, aku segera menyadari kesalahan bicaraku.
"Bu ... ridhoi pernikahan ini, suatu saat Ibu akan mengerti apa yang sudah kulakukan, ridhoi rumah tangga kami Bu, restui pilihanku," ucapku memohon.
Ibu dan Melisa memandangku dengan iba. Sejak awal akulah yang mendatangi Mas Musa yang sudah tertusuk duri. Bahkan ketika duri itu terus menyakiti Mas Musa, dia tetap menyayanginya. Mba Mariam telah menancapkan cintanya seperti duri, walaupun akhirnya dia harus terluka karena kehilangan cinta yang lain. Tapi, dia telah lama menggerogoti Mas Musa dengan cintanya.
"Jadi, suamimu memang sudah kecantol sama dia?" tanya ibuku lagi.
"Bukan begitu, Bu!"
"Sudah! Biar Medina yang meminta suaminya untuk menceraikanku!" ucap Mba Mariam mengambut keinginan ibuku.
.
.
.
__ADS_1