Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Medina


[Mas habis ketemu Mariam, Dek] tulis Mas Musa menjawab pertanyaanku sebelumnya.


[Ngapain, Mas? Ketemu dimana? Cuma berdua atau sama Mas Faisal juga? Harusnya Mas bawa temen, Medina takut Mas Musa diapa-apain Mas Faisal] balasku cepat.


[Ngasih kartu yang kemarin kita bahas, di cafe rame, Dek, Mariam sendirian nggak sama Mas Faisal, cuma sebentar, Mariamnya juga udah pulang]


[Semua baik-baik aja kan, Mas?] tanyaku lagi.


Tapi rasanya percuma, ada apa-apa pun Mas Musa tidak akan memberitahuku. Namun aku sedikit khawatir mengingat tabiat Mba Mariam yang kasar dan juga kakaknya yang ternyata jauh lebih frontal.


[Nggak papa, Dek. Mariam juga ngerti dan mau menerima kartu itu itu. Alhamdulillah, mas nggak berdosa lagi karena melewatkan nafkahnya]


Jadi mereka cuma berdua? Cemburu? Ada. Kunikmati sensasinya, itu artinya aku masih hidup dan masih punya hati. Aku yakin Mas Musa mampu menjaga hatinya.


[Alhamdulillah, Mas]


[Mariam menitipkan salam untukmu, Dek. Sebenarnya dia nggak tahu kalau kamu ikut ibu pulang, dia mengira kamu akan menemuinya bersamaku]


[Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, ya sudah hati-hati pulangnya, Mas]


Kita dituntut dewasa, bukan? Mungkin kalau aku kekanakan aku tidak akan sampai pada titik ini. Kutatap perut bulatku yang sudah mulai terasa kosong atasnya dan mulai merangsek kebawah.


Ah, sebentar lagi, anak yang amat sangat kutunggu-tunggu akan lahir. Penantian yang lama sampai menimbulkan rasa pesimis yang membuatku rendah diri di depan Mas Musa. Namun Mas Musa tetap mencintaiku walaupun aku tak kunjung memberinya keturunan. Hampir 5 tahun aku menunggu, sampai akhirnya cinta ini berbuah manis berkali-kali lipat.


Kembali kulihat ponsel yang yang berkedip, [Tunggu, Dek. Tiga minggu lagi].


"Aku pasti menunggumu, Mas," gumamku seorang diri.


"Kami pasti menunggumu, Bi ....," ucapku seraya menirukan suara anak kecil mewakili anakku.


Di rumah ini Bu Aini memperlakukanku layaknya seorang ratu, tidak ada pekerjaan yang boleh kupegang. Setiap pagi beliau menemaniku berjalan kaki mengelilingi kampung, sambil melihat-lihat indahnya perkebunan buah miliknya.


Bu Aini juga meminta ibuku untuk datang jika masa persalinanku sudah dekat nanti. Bahagia rasanya mampu memberikan kebahagiaan sehangat ini untuk semua. Karena tidak semua bisa dibeli dengan uang.


Waktu terus berlalu, kabar kemajuan usaha Mba Mariam pun tersebar di berbagai grup WA. Nama Toko Mariam telah mejeng di berbagai sosial media. Pantas saja Mas Musa minder sekali saat membahas nafkah untuknya, Mba Mariam melesat jauh ke depan setelah bercerai dari Mas Musa.


Aku terus menghibur diri, perlahan nama Mba Mariam tidak lagi terdengar menyakitkan. Aku masih ingat, saat pertama kali Mas Musa mengigau dan menyebut namanya. Hampir setiap malam, nama itu selalu menghantui bagaikan mimpi buruk.


Rasanya seperti biji kedondong yang tersangkut di tenggorokanku, ditelan sakit, dibairkan juga sakit, dimuntahkan juga sama sakitnya. Aku tersiksa, tapi aku tahu, Mas Musa juga sama-sama tersiksa. Hingga semua yang terjadi dan mengantarkanku sampai di titik ini. Titik dimana Mas Musa telah menyelesaikan kisahnya yang menggantung bersama Mba Mariam dengan penuh liku-liku.


Aku berhasil, menelan biji kedondong itu walaupun rasanya luar biasa sakit.


Tapi bukankah semua bisa saja seperti itu?


Rumah tangga yang berhasil bertahan selama bertahun-tahun dari luar memang tampak indah, tapi di dalamnya kita tidak sepenuhnya tahu. Terkadang ada istri yang yang selalu memaafkan walau wajahnya bersimbah air mata dan hatinya tercabik-cabik. Terkadang ada suami yang rela berkorban segalanya.


Bukan seberapa banyak kita menerima tapi seberapa banyak kita saling memberi. Bukan juga seberapa banyak pasangan membahagiakan kita tapi seberapa banyak kita saling membahagiakan. Mereka yang bertahan bukan orang yang tidak pernah saling menyakiti, tapi orang yang saling memaafkan.


Aku Medina Khafiza. Dulunya adalah gadis manja yang polos dan penuh keingintahuan. Aku kenyang dengan kasih sayang orang tua, semua kebutuhanku pasti terpenuhi. Hingga aku merasa hidupku sempurna.

__ADS_1


Sampai akhirnya aku bertemu Mas Musa, sosok lelaki yang berhasil membuat Medina yang manja tiba-tiba harus berjuang keras, ikhlas tersakiti, dan rela terus tersenyum dengan hati yang hancur.


Andai Mba Mariam ada disini, ingin sekali kukatakan padanya, bahwa, aku pun ikhlas dia tetap ada di hati Mas Musa.


Mas Musa selalu berusaha untuk tidak menyakitiku, dia selalu memberikan segalanya yang terbaik, dia juga sangat mencintaiku, dia selalu menyayangiku, perhatian dan juga romantis.


Aku tahu benar bagaimana usaha Mas Musa menghapus dirimu, Mba! Dan itu cukup membuatku puas dan merasa dihargai.


Tetaplah di pojok sana, Mba!


Aku tidak akan lagi mengganggumu, karena setelah sejauh ini aku baru paham bahwa kamu pun tidak pernah menggangguku. Maaf, karena butuh waktu terlalu lama bagiku untuk mengerti. Bahwa waktu yang akan menghapusmu perlahan.


Bagiku, kamu tidak salah, Mba, Mas Musa pun tidak, karena perasaan kalian memang tumbuh terlebih dahulu dari pada perasaanku. Aku hanya harus bersabar dan tidak peduli. Karena akhirnya, Mas Musa menjadi milikku sepenuhnya.


Biarlah cintamu terkikis dan menjadi kenangan, kelak aku akan tersenyum saat mengingat suamiku adalah lelaki yang pernah mencintaimu sepenuh hati. Namun aku, adalah wanita yang tidak akan pernah dilepas oleh Mas Musa.


Bagaimana pun, Mas Musa tidak pernah menyakitiku dengan sengaja. Aku terluka karena keingintahuanku sendiri yang begitu besar pada kisah usang itu.


Aku sudah berjanji untuk tidak menghubungimu terlebih dahulu, Mba. Itu bukti dari keseriusanku untuk tidak terlalu ingin tahu.


Hari ini, Mas Mas Musa akhirnya kembali. Hari-hari yang panjang telah kuhabiskan untuk introspeksi diri sambil terus mempersiapkan persalinanku.


Kusambut Mas Musa dengan senyum yang sayu, karena setiap malam aku begadang sampai lingkaran mataku jelas sekali menghitam.


"Mas usap-usap punggungnya biar kamu nyaman dan bisa tidur ya, Dek!" ucap Mas Musa melihatku kepayahan meladeni tendangan bayi dalam perutku.


"Tidurlah, Dek! Kamu terlihat kecapean."


Sejak hamil aku baru bisa tidur setelah Mas Musa mengusap punggung dan pinggangku, jadi selama kita berpisah aku kepayahan mengatasi kebiasaan manja ini. Untunglah kami kembali bersama, nampaknya aku akan tidur pulas malam ini.


"Dedek ... jangan nakal ya sama Uma, kasian Uma kesakitan dan nggak bisa bobo, mainnya besok lagi ya sayang," ucap Mas Musa sambil meraba perutku yang terlihat lancip seperti di tendang dengan lutut dari dalam.


Aku tersenyum melihatnya, karena setelah diusap oleh Mas Musa, perutku kembali seperti semula.


"Apa selalu kaya gini, Dek?" tanya Mas Musa, aku pun mengangguk.


"Si dedek udah nggak sabar pengen main sama Abinya," ucapku.


"Sabar ya, Abi udah siap siaga di sini nunggu Dedek."


Benar saja, tidak sampai 5 menit usapan ajaib Mas Musa berhasil membuatku nyaman dan terlelap. Sepanjang malam bisa kurasakan Mas Musa tidak melepas pelukannya padaku.


Saat fajar menyingsih tubuhku telah terasa segar karena tidur pulas semalaman, kubalik badan menghadap Mas Musa yang masih terlelap. Cahaya lampu remang-remang menyinari wajahnya, mungkin dia lelah hingga melewatkan sholat malamnya.


Bayangan masa lalu saat wajah Mas Musa menangis dalam tidurnya kembali berputar di otakku, berbeda sekali dengan rautnya yang sekarang, terlihat damai dan tenang. Aku tersenyum menatapnya, kuamati keningnya, alisnya, matanya yang terpejam, hidungnya, pipinya hingga bibirnya. Rupa yang dulu membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan setelah menikah, dirinya membuatku jatuh cinta setiap hari.


"Kamu udah bangun, Dek?" tanya Mas Musa tiba-tiba, membuatku terperanjat dan salah tingkah karena ketahuan mengamati wajahnya.


Mas Musa tersenyum dan membuka matanya perlahan, dia meledekku rupanya.


"Kenapa ngeliatin mas kaya gitu?" ledek Mas Musa.

__ADS_1


"Biar anakku nanti ada mirip-miripnya sedikit sama Mas Musa," ucapku malu.


"Yakin? Bukan kangen?"


"Ehm ... gimana yah?"


"Mas yang kangen, tapi kamu tidurnya pules banget semaleman ini," ucap Mas Musa.


Tangannya menyibakan rambutku yang terurai kebelakang telinga, mengusap puncak kepalaku beberapa kali, kemudian Mas Musa sedikit memiringkan tubuhnya dan mendorongku kembali.


"Mas ... udah mau subuh," ucapku.


"Tapi Mas rindu, emangnya kamu enggak, Dek?"


Dalam remang cahaya lampu yang menerobos masuk ke kamar ini, sorot Mas Musa benar-benar hangat, siapa yang tidak meleleh dengan tatapan seperti itu, aku pun terus merasa candu.


Mas Musa mencium keningku, lama.


"Medina juga rindu, Mas. Maaf ya Medina tidurnya lelap banget."


Mas Musa tidak menjawab.


"Bissmillahirohmanirohim ...."


Mas Musa mencium bibirku dan menautnya, hatiku berdebar seolah ini ciuman pertama. Detak jantung Mas Musa pun bisa kurasakan dengan jelas, yang semakin lama semakin terasa cepat mengimbangi ledakan rasa rindu kami berdua.


Aku berusaha mengimbangi Mas Musa, memuaskan rasa yang selama ini kutahan di hati. Semua penderitaan, pengorbanan, air mata, kesakitan, dan cemburu kukikis habis semua dengan cinta. Kuraba kehadiran Mas Musa dengan nyata, cintanya, jiwanya, raganya, semuanya milikku.


Cintanya nyata, tidak lagi menyerupai bayangan yang membuatku tersiksa. Sudah aku bilang, aku menang.


Kurasakan hembusan nafas Mas Musa dengan semua indra perasa di tubuhku. Kuyakinkan diri berkali-kali, cinta yang nyata ini.


Kami melayang dan mencandu menyelami surga dunia, dengan rasa sayang yang benar-benar telah di tempa menjadi suatu rasa yang benar-benar suci. Bukan karena status, bukan karena selembar kertas, bukan pula karena kewajiban dan hak. Tapi, cinta.


Aku mencintaimu, Mas!


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2